Senin, 09 Februari 2009

OBSESSIVE COMPULSIVE DISORDER (OCD)

Sesuai dengan janjiku dalam artikel sebelumnya yang berjudul "MEMBACA DAN MENULIS" aku akan menulis artikel tentang Obsessive Compulsive Disorder. Berikut ini tulisan tentang hal tersebut.

Menurut J.P. Chaplin, Phd. Obsession-compulsice neurosis adalah psikoneurosis yang ditandai oleh sering dan menetapnya suatu ide-ide yang sebetulnya tidak diinginkan dan impuls yang mendorong perilaku kompulsi bersifat irasional dan stereotype serta ritualistik. Hal ini sebagai reaksi terhadap suatu kecemasan atau mengatasi rasa bersalah. Sebagai suatu contoh tindakan mencuci tangan secara berulang-ulang merupakan refleksi dari kecemasan dan rasa bersalah akibat melakukan masturbasi.

Sedangkan menurut James C. Coleman Obsessive-compulsive neurosis adalah gangguan yang ditandai oleh adanya dorongan, pikiran dan tindakan yang mengganggu dan menetap namun sebetulnya tidak diinginkan.

Ada juga yang disebut denga Obsessive-compulsive personality, yaitu gangguan kepribadian yang ditandai oleh adanya perhatian yang berlebihan yang melekat pada diri seseorang terhadap suatu nilai-nilai etis tertentu.

Ciri-ciri umum :
1.Orang OCD menderita karena ada suatu gangguan dari suatu obsesi atau kompulsi yang menetap. Obsesi atau kompulsi adalah suatu hal (ide maupun aktivitas) yang mengganggu, menyita waktu dan terjadi berulang-ulang dalam kegiatan sehari-hari.
2.Obsesi mengacu pada pikiran, perasaan, ide, imaji atau impuls yang menyerang kesadarn seseorang. Obsesi adalah suatu bentuk gangguan yang bersifat absurd dan irasional dan berbeda dengan rasa kuatir pada umumnya akibat adanya masalah yang nyata.
3.Meskipun demikian biasanya orang merasakan obsesi sebagai sesuatu yang tidak masuk diakal, namun meereka mengalami suatu rasa cemas yang dahsyat. Untuk mengatasi kecemasannya tersebut mereka melakukan aktivitas yang bersifat ritualistik atau tindakan mental yang berulang. Kegiatan ini dikenal sebagai kompulsi.
4.Sebagian besar orang dengan OCD mencoba bertahan dengan sikap kompulsinya meskipun kelihat bodoh dan menggelikan atau tidak berhubungan dengan suatu upaya untuk mencegahnya. Sekalipun demikian orang yang menderita OCD melalui kegiatan kompulsinya merasa mamupu mengatasi kecemasan atau minimal menguranginya.

Gejala OCD yang dapat diamati :
1.Obsesi meliputi pikiran tentang adanya kontaminasi/keracunan, merasa digagahi, kecelakaan atau kehilangan sehingga mereka butuh upaya untukmengatasinya.
2.Kompulsi biasanya terdiri dari 3 kegiatan yaitu mencuci, menghitung dan memeriksa. Mencuci dilakukan secara berulang-ulang karena merasa terkontaminasi oleh kuman atau racun tertentu. Menghitung berulang-ulang dilakukan terhadap suatu objek, frekuensi atau menghitung jumlah suatu kegiatan. Memeriksa berulang-ulang seperti memeriksa pintu apakah sudah terkunci, jendela, ban mobil, untuk mengetahui apakah sesuatu sudah aman. Hal ini dilakukan karena merasa mengalami kecemasan akibat kelupaan untuk melakukan sesuatu yang dapat berdampak merugikan atau berbahaya bagi dirinya.
3.Kompulsi lainnya dapat terlihat dalam bentuk berdoa yang berlebihan, meraba, memakai suatu atribut pakaian tertentu, melakukan hal-hal lain yang tidak biasanya seperti mengumpulkan suatu benda tertentu dan berbagai variasi dari kegiatan ritual yang tidak biasanya. Kegiatan ini kadang-kadang bercampur dengan perilaku yang dianggap sebagai “tahyul.”
4.Sebagian penderita depresi mengalami OCD pula.
5.Memiliki kepedulian tinggi terhadap diri, sebagian besar penderita OCD tidak menampilkan perilaku kompulsi sebelum adanya serangan penyakit.

Suatu contoh OCD, seorang wanita merasa selalu ada pecahan kaca didalam makanannya sehingga setiap akan makan ia selalu memeriksa makanannya apakah didalamnya ada pecahan kaca atau tidak. Seorang pria selalu mengalami ketakutan saat meminum kopi karena merasa adanya jarum didalam gelas. Setiap akan minum ia harus memeriksa ulang gelasa dengan menuangkan airnya sampai 4 kali untuk memastikan bahwa tidak ada jarum didalam gelasnya.

Kadang obsesi ini muncul sedemikian kuatnya sehingga penderita merasa sedemikian terganggu. Seorang pria harus memeriksa pintu rumahnya berkali-kali setiap malam. Ia mengganjal pintu dengan kursi dan melakukan kegiatan pengamanan lain yang berlebihan. Saat ditanya mengapa ia melakukan itu, ia tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan.

Bentuk lain adalah kleptomania dimana adanya dorongan yang tidak terkendalikan untuk mencuri. Perilaku kleptomania berbeda dengan pencurian biasanya karena dilakukan tanpa alasan yang jelas, seperti orang kaya yang mencuri barang-barang yang sebetulnya mampu ia beli. Ketika ditanya kenapa mencuri ia tidak dapat menjawabnya dan hanya mengatakan saya tidak tahu, tidak dapat menjelaskan, dan saya hanya merasa adanya dorongan untuk melakukan itu dan saya lakukan.

Bentuk lainnya ialah pyromania, yaitu dorongan untuk melakukan pembakaran. Perilaku ini sangat membahayakan orang lain. Namun, pelakunya tidak memiliki alasan yang jelas, ia hanya merasa adanya dorongan membakar maka iapun melakukannya.

Teori Obsesi Kompulsi (George W. Kisker)

Saat ini OCD dianggap sebagai suatu bentuk pola-pola reaksi yang dipelajari. Hal ini merupakan bentuk untuk mencari pemenuhan terhadap kebutuhan individu. Pemuasan ini dilakukan secara berulang dan memperkuat perilakunya untuk terus mempertahankan perilaku tersebut. Pada saat kognisi dan lingkungan diasosiasikan dengan perilaku tersebut, kemungkinan perilaku menjadi adaptif secara substansial semakin meningkat.

Penjelasan tersebut dapat dicontohkan dengan obsesi-kompusi pyromania (pembakaran). Perilaku ini digambarkan sebagai suatu bentuk reaksi pembalasan yang muncul akibat kebutuhan untuk memuaskan pikiran merusak atau sikap agresif. Kepuasan setalah melakukan pembakaran merupakan fakto penguat untuk memunculkan perilaku membakar secara berulang. Tindakan balas dendam melalui pembakaran tersebut merupakan generalisasi dari sikapnya karena merasa disakiti orang lain atau akibat dari situasi tertentu. Setting pembakaran kemudian menjadi pola reaksi yang melekat dalam dirinya.

Elemen kognitif dalam beberapa bentuk perilaku obsesi kompulsi sedikit ditemukan. Orang peragu dan memiliki perasan yang kurang mantap terkadang dapat memunculkan perilaku kompulsif dan mengganggu interaksinya dengan orang lain. Suatu contoh seorang suami dan ayah seorang anak merasa bahwa anaknya tersebut bukanlah berasal darinya dan ini terus berkembang. Ia ragu bahwa anaknya tersebut bukan keturunannya sehingga mempengaruhi interaksinya dengan istri maupun anaknya tersebut. Ia selalu merasa cemas dan was-was.

Pendekatan psikodinamika melihat OCD sebagai suatu gejala seseorang yang mencoba mengatasi masalah konflik bawah sadar dari permasalahan seksual dan agresifitas. Sebagai contoh seorang pria yang menyetir mobilnya terobsesi untuk selalu mengarahkan mobil untuk keluar dari pembatas jalan sehingga dapat membahaykan dirinya, begitu ia sadar maka ia berusaha meminggirkan kenderaannya dan istirahat sejenak untuk menenangkan diri. Interpretasi psikoanalitis menjelaskan bahwa ini diakibatkan adanya dorongan bawah sadar dalam diri pria tersebut yang bersifat destruktif dan agresif yaitu ingin membunuh dirinya sendiri akibat dari suatu konflik-konflik bawah sadar tertentu yang terkait dengan unsur agresifitas dan ketidaksukaan terhadap diri sendiri akibat adanya suatu perasaan bersalah dan membenci diri sendiri. Ini merupakan refleksi dari konflik yang terjadi didalam diri pria tersebut.

Faktor Penyebab OCD :

1.Subtitusi pikiran dan tindakan.
2.Rasa bersalah dan ketakutan akan hukuman.
3.Kebutuhan akan keteraturan dan predictability.

Subtitusi pikiran dan tindakan merupakan bentuk pertahanan dari serangan rasa cemas. Subtitusi ini dapat muncul dalam bentuk perilaku yang kompleks seperti bentuk mekanisme pertahanan diri yaitu munculnya reaksi formasi. Dalam kondisi ini individu bertindak bertentagan dengan apa yang seharusnya ia lakukan. Misalnya seorang wanita sangat membenci ayahnya (padahal seharusnya menyayanginya) karena alam bawah sadarnya menginginkan ayahnya mati agar ia dapat menikah dengan pemuda idamannya. Atau seorang bawahan sangat ketakutan dengan atasannya karena ancaman pemecatan maka ia mengembangkan perilaku sangat memuji atasannya secara berlebihan untuk mengatasi rasa cemasnya.

Contoh akibat adanya rasa bersalah dan ketakutan akan hukuman, tampak pada penderita OCD yang setelah melakukan pembunuhan merasa ketakutan kemudian ia selalu mencuci tangannya secara berulang-ulang untuk mengatasi rasa cemasnya. Atau seorang pria yang setelah berselingkuh selalu mencuci secara berulang-ulang alat kelaminnya sebagai refleksi dari upayanya untuk membersihkan diri.

Sedangkan OCD akibat kebutuhan akan keteraturan dan predictability merupakan gambaran kebutuhan akan kepastian sehingga ia selalu melakukan kegiatan secara berulang-ulang untuk memastikan sesuatu telah berjalan dengan seharusnya dan merupakan refleksi untuk mengatasi kecemasan dan rasa tidak amannya.
Sebagian besar penderita OCD mengalami gejala tersebut sebelum usia 35. Mereka kadang-kadang mengalami OCD setelah mengalami suatu peristiwa yang cukup menekan dirinya. Bagi sebagian yang lainnya gejala OCD berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun. Gangguan ini bersifat kronis. Tindakan psikoterapi biasanya behavioral diperlukan untuk menanganinya dan sebaiknya bersama-sama dengan tindakan medis.

Penanganan

Secara umum pananganannya meliputi 3 strategi dasar, yaitu :

1.Membantukan individu untuk membedakan antara pikiran dengan tindakan. Menerima segala sesuatu seperti “pantangannya” sebagaimana orang lainnya dan mengintegrasikannya kedalam struktur pribadi.
2.Membantu individu untuk membedakan antara bahaya yang memang riil dengan bahaya yang hanya bersifat bayangan saja/pikiran dan berespon secara tepat terhadap bahaya yang dirasakan (misal tidak perlu memeriksan kunci pintu berkali-kali atau mencuci tangan berulang-ulang).
3.Memblock perilaku ritual OC dengan cara memberikan ganjaran yang setimpal bagi Ybs. saat ia berhasil menghibdari dari perilaku keurotic (OC) tersebut.

Keseluruhan strategi tersebut bertujuan untuk mengurangi defense neurotic dan membantu individu untuk bertindak secara wajar dan normal. Namun, upaya ini membutuhkan waktu sampai dengan OC tersebut benar-benar hilang. Sebagai contoh dalan suatu kasus seorang wanita sebelum memakai baju baik untuk dirinya maupun untuk anaknya selalu memeriksa baju tersebut sampai dengan 3 kali baik bagian luar maupun bagian dalamnya, kemudian menyibak/menggoyangkan baju tersebut 3 kali dan mencuci serta menyetrika sampai dengan 3 kali. Saat melakukan konsultasi psikologi diketahui bahwa wanita tersebut mengalami ketakutan yang berlebihan terhadap kuman dan penyakit sehingga obsesi terkontaminasi terefleksikan dalam bentuk perilaku kompulsi (memeriksa, mencuci, menyetrika 3 kali). Program penanganannya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

1.Membantu ia membedakan secara objektif hal-hal yang kotor dan tidak steril dan mengurangi ketakutan berlebihan yang tidak perlu serta menolongnya membuat keputusan yang realistis tentang standar kebersihan yang umumnya dilakukan oleh orang lain.
2.Memberikan penguatan perilaku yang konsisten saat ia mampu menghindari perilaku ritualnya tersebut.
3.Menggunakan pengarahan verbal yang dilakukan oleh psikolog untuk mencegah pengulangan perilaku tersebut.

Dibutuhkan waktu 9 bulan untuk menghilangkan perilaku OC yang dialami oleh wanita tersebut.

Kompulsi yang terjadi dalam OCD berbeda dengan kompulsi yang terjadi pada gangguan lain seperti gangguan makan atau gangguan seksual. Demikian pula harus dibedakan gangguan kompulsi yang terjadi pada penderita depresi dan schizophrenia.

4 komentar:

Shazana mengatakan...

Hello di sana, saya baru sahaja membaca tulisan saudari tentang OCD - dan sangat mengharapkan jika saudari dapat memberi harapan bahawa penderitaan yang dihadapi pesakit OCD dapat ditamatkan.

Saya rasa saya mempunyai OCD dan sudah berputus asa dengan para psikitari di malaysia yang melihatkan pil sebagai pemulih segalanya.

Zil mengatakan...

Hallo juga, bisa jelaskan problem anda secara spesifik? anda bisa email ke : zilmahram@gmail.com

Sofie Eimor mengatakan...

Hi... nice article...

Sofie Eimor mengatakan...

hi... nice article...