Jumat, 30 Mei 2008

DISKUSI DENGAN KETUA MUI JAWA BARAT BPK. K.H. HAFIZD USMAN

Siang ini Jumat 31 Mei 2008, setelah selesai shalat Jumat saya dan beberapa teman diundang oleh Ketua MUI Jawa Barat K.H. Hafizd Usman, biasa kami panggil Pak Kiyai untuk makan siang di Kantor MUI Jawa Barat Jl RE. Martadinata Bandung. Kami datang berempat ada Pak Haji Rudi, Pak Haji Iskandar (Syariah Mandiri) dan Pak Haji Awang (BNI). Dulu kami pada tahun 2006 naik haji bersama-sama dengan rombongan Yahdi dan di Madinah, Mekkah dan Jeddah kami satu kamar. Sekaligus ini pertemuan sesama Ketua, yaitu Pak Kiyai sebagai Ketua MUI dan aku sebagai Ketua Himpsi (Himpunan Psikogi Indonesia) Jawa Barat merangkap ketua Alumni Haji juga.

Pak Kiyai ditemani beberapa Pengurus MUI. Topik pembicaraan cukup beragam. Mulai sejarah berdirinya MUI, masalah Ahmadiyah, Blue Energi, Multi Project Achmad Zaini Suparta, cerita kejayaan Islam, masalah halal-haram, kasus batu tulis Said Agil Munawar, cerita tentang Gus Dur, NU, PKB, masalah Yahudi, dsbnya.

Aku baru tahu MUI itu awal berdirinya di Jawa Barat dan di Aceh. Di Jawa Barat namanya MU sedangkan di Aceh namanya MPU. Pak Kiyai menceritakan sejarah awalnya berdiri MUI. Setelah dikedua daerah tersebut mendirikan MU/MPU, baru kemudian MU/MPU berubah menjadi MUI dan berpusat di Jakarta dengan cabang di setiap Provinsi. MU Jabar sendiri pada awalnya pernah dipimpin oleh seorang Jenderal yang juga Pangdam Siliwangi yaitu Mayjen HR. Dharsono, sebagai Ketua MU Jabar yang kedua.

Cerita tentang kejayaan Islam yang kemudian Islam jatuh karena para pemimpinnya banyak yang bergelimang kemewahan, hidup berfoya-foya dan asyik masyuk dalam kehidupan harem. Sementara kehidupan rakyat banyak terbengkalai, urusan pemerintahan juga tidak ditata dengan baik.

Cerita Ahmadiyah dibahas juga. Menurut Pak Kiyai didaerah asalnya Pakistan, Ahmadiyah dianggap agama tersendiri bukan bagian dari Islam. Mereka dibiarkan hidup tapi dengan sistem keagamaan tersendiri.

Gus Dur dianggap orang yang cerdas, hanya saja cara berpikir dan bertindaknya sulit dipahami oleh orang lain. Beliau diberi kekuatan berpikir dan kemampuan melihat apa yang terjadi didepan. Ada guyonan kenapa Gus Dur memecat Muhaimin Iskandar, katanya sudah lama Gus Dur tidak memecat orang (dulu pernah memecat SBY, Jusuf Kalla, Agum Gumelar, Yusril Ihza Mahendra, Matori Abdul Djalil, Alwi Shihab), karena sudah lama tidak memecat Gus Dur harus mencari siapa yang dipecat, kebetulan ada Muhaimin yah dipecatlah beliau ( he he he ... inikatanya bercanda).

Masalah Yahudi juga dibahas. Menurut Kiyai permusuhan dengan Yahudi bersifat temporer. Tergantung sikap mereka, jadi tidak selamanya harus bermusuhan dengan Yahudi. Dalam kerangka kemanusiaan bisa saja kita bekerja sama dengan mereka.

Pada kesempatan itu aku melaporkan juga tentang kegiatan reuni haji (maklum aku didaulat teman-teman sebagai Ketua Alumni Haji) pada tanggal 25 Mei 2008 di rumah Sandi di Setra Duta. Rencana berikutnya reuni haji tanggal 3 Agustus 2008 dirumah Pak Endin di Cimahi. Memang kelompok haji kami berupaya bertemu secara reguler untuk terus bersilaturahmi.
Pada saat pulang kami berempat diberikan buku yang cukup banyak ada sekitar 10 buku untuk masing-masing orang dan aku pun menyerahkan ke beliau buku tentang cerita Pahlawan Aceh Teuku Raja Angkasah yang kebetulan juga kakekku sendiri. memang ketemu Kiyai ada berkahnya, didoakan, diberi makan dan diberi buku. Terima kasih Pak Kiyai, semoga sehat selalu dan dapat terus berkiprah demi umat.


Pak Kiyai orang yang mudah akrab, ramah namun juga cukup tegas.

Jumat, 23 Mei 2008

Kearifan Hari Ini

PROVERB

Ø Without a strategy the organization is like a ship without a rudder, going around in circles (Joel Ross & Michael Kami).

Ø Management’s job is not to see the company as it is ……. But as it can become (John W. Teets, CEO Greyhound Corporation).

Ø Analysis is the critical starting point of strategic thinking (Kenichi Ohmae).

Ø The greatest mistake managers make when evaluating their resources is failing to assess them relative to competitors (David J. Collis & Cynthia A. Montgomery).

Ø You do not choose to become global, the market choose for you, it forces your hand (Alain Gomes, CEO Thomson S.A).

Ø …… to acquire or not to acquire, that is the question (Robert J. Terry).

Ø If you want people motivated to do a good job, give them a good job to do (Frederick Herzberg).

Ø Weak leadership can wreck the soundest strategy; forceful execution of even a poor plan can often bring victory (Sun Zi).

Ø …… A leader lives in the field with his troops. (H. Ross Perot)

Ø Ethics is the moral courage to do what we know is right, and not to do what we know is wrong (C.J. Silas, CEO Philips Petroleum).

Ø It is a poor manager who start manage before knowing what the goal is (no name).

Ø Leadership and learning are indispensable to each other (John F. Kennedy).

Ø The journey of a thousand miles starts with a single step (Chinese Proverb).

Ø A single conversation across the table with a wise man is worth a month’s study of books (Chinese Proverb)

Rabu, 21 Mei 2008

JIKA HIDUP ADALAH LAUT, MAKA SAKIT DAN MUSIBAH ADALAH RIAK & GELOMBANGNYA


1. Setiap orang membawa kecenderungan alami untuk menderita suatu penyakit, namun ada yang dapat menghindarinya dengan keyakinan kuat bahwa ia dapat mengatasi penyakit tersebut. Demikian pula musibah terkadang menjadi bagian hidup kita.
2. Dapat terjadi orang hidup terus bersama penyakitnya (atau musibahnya), ia mampu hidup normal sekalipun menderita suatu penyakit dan dalam lilitan permasalahan.
3. Tubuh ini bagaikan alam, alam suatu saat dapat mengalami banjir, gempa bumi, kekeringan, namun setelah itu kehidupan menjadi normal kembali, demikian pula halnya dengan tubuh dan kehidupan kita.
4. Penyakit dan musibah memiliki hikmah yang tersembunyi yang barangkali kita sendiri tidak mengetahuinya.
5. Kita sering lupa bahwa hanya satu atau beberapa bagian tubuh yang sakit diantara sedemikian banyak bagian tubuh yang sehat, mengapa kita terpaku pada bagian kecil yang sakit bukankah lebih baik mensyukuri bagian besar lainnya yang sehat ? atau mengapa kita terpaku pada suatu musibah padahal kita masih menerima nikmat lain yang begitu banyak dari Allah?
.................................................................................
Jadikan diri anda setangguh karang ditengah samudera ...
Yakinkan, anda pasti bisa ...

Minggu, 18 Mei 2008

HB X RAJA YANG MERAKYAT : Calon Presiden?




Sri Sultan Hamengkubuwono X, adalah seorang Raja Jawa yang masih diakui hingga saat ini. Aku bertemu ia pada tanggal 19 April 2008 di Hotel Horison Bandung pada acara Fomaja. Ia seorang yang sederhana, ramah namun juga sekaligus tegas. Sangat menghormati orang lain dengan berbagai budaya. Termasuk sangat menghormati orang Aceh. Bahkan di Yogya ia cukup dekat dengan komunitas Aceh.

Dalam kegiatan keseharian ia menjauhi sikap protokoler. Pada saat ke Bandung ia tidak ingin dikawal. Ia datang hanya dengan driver, tanpa ajudan. Aku sering menyambut dan menemani berbagai petinggi dan pejabat lainnya, biasanya pengikut mereka seabreg. HB X tidak demikian, ia mengatakan bahwa dirinya cukup merasa nyaman dengan pergi tanpa harus dikawal.

Visi kerakyatan beliau cukup kuat, tidak terlihat sikap seorang feodal pada diri beliau. Mungkinkah Sri Sultan Hamengkubuwono X akan menjadi Calon Presiden RI berikutnya? Waktulah mungkin yang akan menentukan. Ketika ditanya wartawan tentang hal tersebut, beliau tidak bersedia menjawabnya, ini teka teki buat kita semua. Pada saat makan siang aku duduk mendampinginya, aku coba mengusulkan jika Ngarso Dalem (panggilan Sultan) jadi Calon Presiden bagaimana kalau Wakil Presidennya dari Aceh? beliau hanya tersenyum ..... senyum yang mengundang tanya.

Ayo siapa orang Aceh yang siap menjadi Wakil Presiden?

FAKTOR APA YG DPT MENGUBAH SESEORANG?


Judul dengan pertanyaan di atas bagiku menarik. Fator apa yang dapat mengubah seorang manusia?

Menurut seorang Trainer handal Tung Desem Waringin yang membentuk/mengubah seorang manusia ada 2 faktor yaitu apa yang masuk kedalam pikirannya dan dengan siapa dia bergaul (siapa yang dia kenal). Aku menambah satu faktor lagi yaitu "apa yang masuk kedalam hati seseorang" mampu membentuk/mengubah diri seseorang. Ini adalah dimensi spiritual dalam mengubah kepribadian seseorang.

Dalam sesi sharing kemarin sabtu 17 Mei 2008, sebagai Komisaris Utama Klite FM Radio, dihadapan para karyawan, Direktur dan Komisaris aku menyampaikan hal tersebut, semoga itu bisa memotivasi mereka agar berkarya lebih baik. Memang persaingan radio siaran di Bandung sekarang luar biasa ketat. Kue iklan diperebutkan banyak media, ya cetak ya elektronik ya online, semua berebut kue yang segitu-gitu aja. Aku memiliki tanggung jawab sebagai Komisaris yang mewakili kepentingan Owner untuk dapat mendorong Klite agar eksis dipercaturan persaingan radio swasta di Bandung.

Demikian juga Radio Zora FM (aku juga Komisaris Utama di Radio ini). Pada saat aku masuk diawal tahun 2007 Radio ini masih merugi. Alhamdulillah tutup buku 2007 Radio ini sudah untung. Kuncinya satu yaitu SDM. Ditopang oleh adanya TRUST & TEAMWORK.

Satu lagi aku ingat seperti tulisan ku sebelumnya dalam RENUNGAN PAGI. Kebetulan pada hari Jumat 16 Mei 2008 aku sempat ketemu Menneg BUMN Bpk Sofyan A. Djalil dikantornya Merdeka Selatan. Ia mengatakan kalau ingin suksesnya kita harus meniru orang China. Mereka tangguh, ulet, efisien sekaligus efektif dan yang terpenting mereka memiliki kemampuan membangun jaringan. Jaringan atau di Islam silaturrahim ini memang penting, karena ada rejeki yang luar biasa di balik itu semua.

Jadi kalau anda mau mengubah diri anda dan menjadi orang sukses, lakukanlah hal-hal ini :

1. Masukkan hal-hal yang bermanfaat dalam pikiran anda.
2. Tanamkan aspek spiritual dalam hati anda.
3. Bergaulah sebanyak-banyaknya, terutama bergaulah dengan orang-orang sukses dan bangunlah jaringan.

Jadi tunggu apa lagi go ... go ... go ... perbanyak komunitas ... perbanyak aksi dan jangan berdiam diri.

RENUNGAN PAGI



















Pagi ini minggu 18 Mei 2008. Aku bangun dengan badan pegal-pegal, linu, kepala sedikit berat. Semingguan ini aktivitas aku memang luar biasa. Bolak-balik Bandung-Jakarta. Puncaknya pada hari Jumat ketemu Menneg BUMN Bpk. Sofyan A. Djalil. Beliau orang yang ramah, berbicara pelan dan teratur. Kita ketemu dikantornya Merdeka Selatan mulai jam 09.15 s/d 10.15.Pembicaraan dengan Pak Sofyan dengan topik berbagai macam mulai dari masalah pengembangan SDM, pembangunan dan perdamaian Aceh, pengembangan BUMN, CSR, gagasan Sekolah Semai Benih Bangsa (SBB) yang dikelola istrinya dsbnya, dsbnya.Ada suatu yang menarik beliau mengatakan Eksekutif BUMN kita harus seperti orang China. Maksudnya apa Pak? (aku menelusuri) ..... Yah mereka harus tangguh, ulet, efisien dan efektif. Dan yang terpenting lagi mereka mampu membangun jaringan yang solid. Jaringan yang solid? apakah ini dalam bahasa Islam silaturahmi? hhmmm ...... aku kira benar kita harus membangun jaringan yang luas ... silaturrahim.Kembali ke Bandung hari sabtu aku harus ke Radio KLite. Tugasku sebagai Komisaris Utama Radio KLite (merangkap juga sbg Komisaris Utama Radio Zora) tersebut mewajibkan diriku untuk mengawasinya. Tambah satu lagi aku harus mampu memotivasi mereka. Aku berikan semacam teambuilding, jadi aku harus presentasi lebih kurang 3 jam, dari jam 9 s/d 12 di Radio Klite didepan para manajer, karyawan, anggota konisaris yang lain dan Direktur. Hasilnya mereka membuat komitmen dan minggu depan harus aku cek.Pulang dari Radio Klite aku menjenguk anakku di Asrama Darul Hikam, dia minta dibawakan kamus elektrnik AlfaLink yang tertinggal dirumah. Dia sudah 2minggu di asrama mestinya bisa pulang kerumah tapi katanya sedang ujian harus belajar dengan teman-teman, yah aku harus merelakan dia tetap diasrama minggu ini.Berikutnya aku harus mencari stabilizer. di BEC, Banceuy, seorang teman menyarankan cari aja di Plaza Ahmad Yani. Woops badanku terasa letih, apalagi Bandung di hari sabtu macetnya minta ampun.Aku punya kewajiban lagi malamnya harus menghadiri undangan KM-PAN (Komite Mahasiswa dan Pemuda Aceh Nusantara) sebagai Sekjen KAMABA rasanya aku harus hadir, tapi badanku letih sekali. Aku sampai dirumah sekitar jam 16.15. Shalat ashar kemudian langsung buka laptop. Aku buka Portal Telkom langsung Cek diposisiku Senior Manager HR Career Development. Wow nota dinas menumpuk, surat-surat yang harus diapprove menumpuk, belum lagi buka email, mulai dari email Telkom, Gmail, Yahoo, ratusan posting yang masuk. Aku juga punya proyek untuk menyelesaikan penulisan buku .... wow wow ya Allah berikanlah aku kekuatan, kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan ini semua. Dalam keadaan letih aku mulai mengapprove surat satu per satu, beberapa surat harus dibaca dengan teliti agar tidak keliru dalam keputusan.Maghrib tiba, surat-surat belum selesai. Aku shalat maghrib melanjutkan kerja didepan komputer. Istriku mengingat agar segera makan malam. Aku minta diambilin aja nanti aku makan didepan komputer, ia menolak harus makan bersama di meja makan. Aku beranjak ke meja makan, makan malam bersama istri sambil ngobrol tentang anak dan berbagai hal.Aku teringat ada undangan KM-PAN, tapi tugas belum selesai dan badan sangat letih. Aku cek, ternyata Ketua Umum hadir, Bendahara juga hadir, Pengurus yang lain juga hadir. Aku berat hati minta ijin untuk tidak hadir.Nah pagi ini juga ada agenda aku dan istriku, padahal banyak tugas yang belum selesai. Jam 10 ada undangan pengajian di Jl. Tamblong, rasanya sebagai Pengurus KAMABA aku juga harus hadir.Aku bersyukur memperoleh kepercayaan dari berbagai pihak untuk terlibat dalam berbagai organisasi dan berbagai kegiatan. Tapi lama-lama aku merasakan juga waktu semakin terbatas. Aku beberapa kali sempat tidak menghadiri kegiatan masyarakat dikompleks, padahal aku rasa ini sangat perlu.Kegiatan olahraga semakin ditinggalkan. Bahayakan untuk kebugaran tubuh. Nih kaki sudah mulai pegal lagi, apakah harus di bekam? Padahal waktu untuk bekam sabtu dan minggu, tapi di dua hari ini juga banyak kewajiban yang harus dilakukan. Mana sempat?Tapi aku yakin seluruh kegiatan yang aku jalani ini memberikan pengayaan pribadi yang luar biasa .. dan tentu untuk itu semua diperlukan pengorbanan.Hidup hanya sekali jadikan itu berarti ...Hidup ada akhirnya ... jadikan itu akhir yang indah ...Hidup hanya sementara ... jadikan ia bermakna ...

Rabu, 07 Mei 2008

SEJATI (Semedi Membangun Jati Diri)


SEJATI (Semedi Membangun Jati Diri) adalah bentuk komtemplasi untuk membangun kekuatan jiwa. Ini juga merupakan pendekatan dalam PANDU JIWA. Digunakan dengan pendekatan ALAM HATI-ALAM PIKIR-ALAM FISIK. Setiap pendekatan tersebut digunakan dalam setiap langkah sebagai berikut :

1. Membangun Keheningan
2. Meniadakan Diri
3. Melebur dengan alam
4. Membiarkan diri dalam pergerakan nadi Illahi
5. Menggiring diri menuju terowongan keabadian
6. Menghayati alam keabadian
7. Menyatu dengan kehendak alam

Langkah-langkah kegiatan tersebut diatas merupakan suatu siklus yang dilakukan secara berulang dan pada tahapan tertentu akan menimbulkan suatu enerji mental yang mampu memandu jiwa (dan juga mental dan fisik) seseorang.

Selasa, 06 Mei 2008

PERTEMPURAN BAKONGAN ACEH SELATAN





TEUKU RAJA ANGKASAH, inilah tokoh pertempuran di Bakongan Aceh. Sang Tokoh pemberani ini tiada lain adalah Kakek Kandungku sendiri, beliau sahid dalam usia sangat muda 28 tahun dalam pertempuran menghadapi kaphee Belanda di Bukit Gading Bakongan Aceh pada pertengahan tahun 1928. Siapakah dia?

Alkisah pada akhir tahun 1790-an berangkatlah sekelompok saudagar dari Hadralmaut Yaman Selatan yang dipimpin oleh seorang yang bernama Habib Abdurachman, beliau berangkat bersama 11 orang saudaranya menuju suatu negeri timur yang saat itu dikenal dengan daerah nusantara (mungkin orang lain mengatakannya Hindia Belanda).

Perjalanan dari Yaman menuju Nusantara dilakukan selama berbulan-bulan dengan singgah di berbagai tempat, Gujarat, India, Srilangka. Setelah menempuh perjalanan sekian lama, sampailah rombongan ini dipantai ujung barat pulau Sumatera, yaitu di Negeri Aceh di pelabuhan yang menawan Ulelheu (Olele). Habib Abdurachman (HA) bersama saudaranya berlabuh dan menetap di Ulelheu. Beberapa saudara HA yang lain setelah singgah di Ulelheu melanjutkan perjalanan dan menyebar diseluruh Aceh, mulai pesisir Pidie, Krueng Mane Aceh Utara sampai dengan Peureulak Aceh Timur, bahkan ada yang ke Tanjung Pura dan Asahan di Sumatera Utara.

HA selain berdagang juga menyampaikan risalah Islam, karena kedermawanannya dan kemampuannya dalam memimpin, HA ditokohkan oleh masyarakat setempat sehingga ditabalkan namanya menjadi LAHUDA POLI atau NAKHUDA PO LHEU (Nakhoda Olele). Beliau mempersunting gadis Aceh dari Lamteungoh atau Kampung Teungoh Olele. Melihat kemampuannya dan ketokohannya di Masyarakat oleh Sultan Aceh beliau diberi gelar Teuku, sejak itu nama beliau menjadi Teuku Abdurrachman. Setelah sekian tahun menetap di Olele, Teuku Abdurachman mulai menjelajah lagi, perjalanannya kali ini menyusuri pantai Selatan Aceh sehingga sampailah kenegeri Bakongan. Wilayah ini masih sepi. Teuku Abdurachman melihat tempat ini menarik dan bisa dikembangkan. Kemudian ia sempat kembali lagi ke Aceh Besar dan melaporkan ke Sultan Aceh hasil dari perjalanannya tersebut. Oleh Sultan Aceh ia diminta menetap di Bakongan dan membangun negeri tersebut sebagai bagian dari Kesultanan Aceh. Oleh Sultan Aceh kemudian Teuku Abdurachman diangkat sebagai penguasa atau UleBalang / Hulubalang Bakongan.

Singkat cerita Teuku Abdurachman menjadi Raja di Bakongan, kemudian melahirkan beberapa anak diantaranya Teuku Raja Lahat. Teuku Raja Lahat mempunyai anaka Teuku Samaun. Teuku Samaun memiliki anak Teuku Abdurachman (Junior), kemudian Teuku Abdurachman Jr. memiliki anak TEUKU RAJA ANGKASAH.

Sebelum menceritakan Perang Teuku Raja Angkasah (TRA) di Bakongan, ada baiknya menceritakan sedikit tentang ayahnya yaitu Teuku Abdurachman Jr. Teuku Abdurachman Jr (TA) adalah anak Raja Bakongan yaitu Teuku Samaun, beliau memiliki beberapa saudara laki-laki. Sifat beliau sangat keras sehingga sangat dibenci oleh Belanda dan antek-anteknya. Dikisahkan TA memiliki rambut yang panjang yang menjuntai hingga kaki namun sering digulung kedalam surban. Rambut beliau tidak bisa dipotong karena kebal, hanya beliau sendirilah atau adik perempuannya yang mampu memotong rambut tersebut. Dalam beberapa kesempatan adik perempuannya meminta rambut tersebut dipotong, namun oleh TA tidak diperbolehkan. TA dan pengikutnya menetap di Tunong (pedalaman gunung Bakongan). Dalam kehidupan sehari-hari TA sering berselisih dengan Belanda dan antek-anteknya.

Mengingat sikap keras TA, Belanda mencari akal bagaimana bisa melenyapkan TA dengan cara membunuhnya. Tetapi beliau kebal dan ini memusingkan Belanda dan tidak ada satu orang pun di Bakongan yang berani melakukannya. Kemudian muncullah tipu muslihat. Belanda mulai mengumpulkan antek-anteknya dan tokoh masyarakat pro Belanda dan diantaranya termasuk sanak famili TA yang pro Belanda. Perlu diketahui pula mengingat sifat keras dan konfrontatif TA, Belanda tidak mau mengakui TA sebagai Raja Bakongan bahkan mengangkat saudara laki-lakinya sebagai Raja Bakongan (Politik Pecah Belah). Rapat tipu muslihat Belanda dihadiri oleh antek-anteknya. Dalam rapat tersebut muncul suatu usulan untuk menjebak TA, yaitu dengan cara mengundangnya dalam acara Maulud Nabi di Masjid. Tetapi tetap muncul masalah bagaimana cara membunuhnya apakah ditikam? padahal dia kebal, apakah diracun? bukankah TA sakti bagaimana kalau dia tahu makanan minumannya sudah diracun? tentu timbul masalah lagi. Akhirnya muncul usulan untuk meminta bantuan orang sakti kebal lainnya diluar negeri Bakongan. Munculah nama Guru Kanak seorang kebal sakti dari Singkil. Saat dihubungi pada awalnya Guru Kanak sempat ragu, namun ia bersedia apabila dibantu sejumlah tokoh di Bakongan diantaranya Datuk Bendahara dan juga dibantu oleh saudara TA sendiri yaitu Raja Bakongan versi Belanda. Menurut cerita kekebalan TA dapat diatasi apabila ia disentuh langsung oleh saudaranya, jadi disusun rencana agar Guru Kanak mampu menikam TA saat ditikam TA harus dipegang oleh saudaranya dan kemudian dibantu oleh Datuk Bendahara. Kemudian dibuatlah undangan kepada TA agar menghadiri kenduri Maulid Nabi di Masjid Keudee Bakongan. Pada satu hari sebelum hari H undangan, TA memanggil adik perempuannya dan meminta ia untuk memotong rambutnya karena orang lain tidak bisa memotong rambutnya. Adik perempuannya kaget "wah aneh kok Cutbang minta dipotong rambut padahal selama ini tidak bersedia kalo diminta potong rambut?" TA menjawab bahwa sekarang sudah saatnya rambutnya dipotong dan hanya dia selaku adik perempuannya yang dapat memotong rambutnya, orang lain tiada satu orang pun yang mampu melakukannya (seolah-olah ia sudah mendapat firasat bahwa ia sudah waktunya menghadap Allah Swt). Kemudian dipotonglah rambut TA oleh adiknya.

Pada ke-esokan harinya TA bersama pengikutnya turun gunung dari Tunong ke Keudee Bakongan menuju Masjid untuk menghadiri undangan Maulud Nabi. Meski sedikit curiga namun ia coba tepis karena melihat saudaranya juga turut mengundang. Di pintu gerbang Masjid sudah menunggu sejumlah tokoh masyarakat Bakongan, Guru Kanak, Datuk Bendahara dan Adik Laki-Laki TA (yang diangkat Raja oleh Belanda). Pada saat mendekati pintu gerbang masjid adik laki-laki TA menyongsong dan menggandeng tangannya, tangan satu lagi dipegang oleh Datuk Bendahara, sehingga kedua tangan TA diapit dan tokoh-tokoh lainnya mengerubuti TA, pejabat Belanda sendiri bersembunyi jauh karena takut dicurigai oleh TA. Pada saat kedua tangannya diapit, dikerubungi oleh tokoh-tokoh yang merupakan antek-antek Belanda, maka pada saat bersamaan Guru Kanak yakin TA sudah tidak kebal karena dipegang oleh saudaranya, pada detik-detik yang cepat itu sesegera mungkin Guru Kanak menghunjamkan belatinya tepat didada kiri menusuk jantung TA ....... TA menjerit "kureung haja, Beulanda paleh kah dipeungeut lon, ya Allah pe ampon deusa lon" pada saat yang bersamaan TA rubuh sahid ditangan antek-antek Belanda. Gugurlah sang pemberani musuh Belanda ini ditangan antek-anteknya.

TA syahid dengan meninggalkan istri dan seorang anak laki-laki yaitu TEUKU RAJA ANGKASAH (TRA). TRA sebetulnya adalah pewaris syah dari Raja Bakongan, namun karena politik pecah belah Belanda, maka yang diakui sebagai Raja Bakongan adalah sepupunya yaitu anak dari pamannya yang memang dekat dengan Belanda. Terbunuhnya sang ayah memberikan luka yang dalam bagi TRA. Ia pun merasa Belanda telah mengadu domba keluarganya dan mengobok-obok masyarakat Bakongan. Ia sangat sedih untuk menghadapi Belanda maka ia harus menghadapi saudara-saudaranya juga, ini menumbuhkan luka dalam hatinya. Tetapi ia bertekad tetap ingin menghancurkan Belanda dan mengenyahkannya dari bumi Bakongan ...... mengenyahkannya dari tanah Aceh.

Teuku Raja Angkasah mulai menanam tekad dalam dirinya. Ia harus memiliki kekuatan untuk menjalankan misinya. Secara fisik ia berlatih berbagai ilmu bela diri dan ilmu kebal. Secara mental ia menempa dengan ilmu agama. Ia sering menjauhkan diri kepedalam hutan dan bukit disekitar Bakongan dan sampai ke kaki Gunung Leuser.

Batin TRA bergolak, apakah ia akan melawan kesewenang-wenangan ini atau berdiam diri saja karena ia pun sebetulnya dibujuk oleh Kumpeni Belanda untuk mendukung mereka. Dalam proses pergolakan batin tersebut TRA diiming-imingi oleh Belanda dengan diberikan santunan karena ia dianggap keturunan Raja. Ia diberikan hak untuk menerima Rp.25,- (Duapuluhlima Rupiah) oleh Belanda. Saat itu tahun 1925 jumlah uang tersebut sangatlah besar. Jadi dengan berdian diri saja sebetulnya TRA telah dapat menikmati hidup sejahtera meskipun tanpa kekuasaan. Namun, hati TRA tetap berkecamuk, dalam benaknya yang terlintas adalah bagaimana segera mengenyahkan Belanda dari bumi Bakongan Aceh. Pada suatu saat datanglah utusan Belanda mengantarkan uang santunan tersebut. TRA sangat tersinggung ia langsung melemparkan uang santunan dari Belanda tersebut kepada utusan tersebut. Dengan geram TRA berkata "Beulanda paleh keuneuk jak jok peng hareum ku trimong." Utusan Belanda segera kembali ke markasnya dan melaporkan apa yang terjadi. Hal ini menimbulkan kegusaran bagi pembesar-pembesar Belanda di Bakongan. Mereka mencoba mengantisipasi apa yang bakal terjadi dan berusaha memikirkan cara melunakkan hati TRA. Mereka pun mengundang TRA untuk datang ke markas .................... tentu saja undangan ini ditolak mentah-mentah oleh TRA, bahkan ia menantang kalau mau bertemu silahkan bertemu di hutan tunong Bakongan ... silahkan tuan-tuan bawa serdadu sebanyak mungkin ... saya akan tunggu untuk memisahkan kepala dan badan serdadu-serdadu tuan. Tantangan TRA ini menimbulkan kemarahan bagi Belanda. Setelah berkoordinasi dengan Kutaraja (Banda Aceh) Komandan Pasukan Belanda di Bakongan mulai mengumpulkan serdadunya untuk memburu TRA di hutan tunong Bakongan. Puluhan orang serdadu dikirim. Dalam perjalanan menuju tunong Bakongan dipertengahan jalan rombongan serdadu Belanda ini disergap oleh TRA dan pengikutnya, puluhan serdadu Belanda tersebut tewas ................. beberapa orang melarikan diri dapat dihabisi dan hanya sekitar beberapa orang yang berhasil kembali ke markas di Keudee Bakongan. Laporan segera dibuat ke Kutaraja untuk segera menambah pasukan. Pasukan tambahan dikirimkan dari Banda Aceh le Bakongan dengan menggunakan Kapal Putih. Pasukan inipun menemukan naasnya. Beberapa kali kapal putih ini bolak-balik Kutaraja-Bakongan dan dihitung-hitung sudah lebih dari seratus orang Serdadu Belanda yang tewas.

Biasanya dari Kutaraja ke Bakongan Kapal Putih membawa serdadu Belanda yang segar bugar. Namun, dari Bakongan ke Kutaraja membawa mayat-mayat serdadu yang kaku yang tewas dalam menghadapi TRA dan pasukannya. Dalam suatu kesempatan istri TRA (Nyak Mah) pernah dibawa pula oleh Belanda ke Kutaraja menggunakan kapal putih ini. Istri TRA dibawa menghadap pembesar Belanda di Kutaraja dan diminta untuk dapat membujuk TRA agar menyerahkan diri, apabila bersedia maka kedudukannya sebagai Raja Bakongan akan dipulihkan dan diakui Belanda dan kemudian akan diberikan berbagai fasilitas serta bantuan keuangan.

Menurut penuturan Nyak Mah saat dibawa ke Kutaraja dengan menggunakan kapal putih ia menyaksikan banyak mayat serdadu yang terkubur kaku dan komandan kapal mengatakan mereka mati akibat perbuatan suaminya. Ia menatap garang kepada komandan kapal dan mengatakan silakan kirim serdadu lebih banyak lagi ke Bakongan dan suaminya tidak akan pernah menyerah.

TRA dan Nyak Mah memiliki 3 orang anak, yang pertama laki-laki Teuku Ramli Angkasah, kedua putri Cut Putroe dan ketiga putri Cut Bungsu. Saat berjuang dipedalaman Bakongan TRA meninggalkan istri dan ketiga anaknya yang masih kecil umur 6 tahun, 4 tahun dan 2 tahun. Rumah TRA di Keudee Bakongan sering diamati oleh kumpeni Belanda untuk mengawasi siapa tahu TRA sewaktu-waktu pulang. TRA memang sering pulang terutama dimalam hari, tetapi tidak pernah diketahui oleh Belanda, menurut sebagian cerita penduduk TRA menggunakan ilmu peurabon (menghilangkan diri dari pandangan orang). Pada suatu kesempatan TRA sangat rindu kepada keluarganya dan ia pulang kerumah. Saat bertemu dengan istrinya ia berkata tidak bisa terlalu lama berada dirumah karena harus ke Buket Gadeng tempat pasukan/pengikutnya berada, namun untuk menghilangkan rindunya ia ingin membawa anak lelakinya Teuku Ramli Angkasah, istrinya Nyak Mah tidak bisa berkata apa-apa. Pada saat itu kebetulan ada mertuanya (ibu istrinya). Ibu mertuanya berkata dengan bijak sebaiknya jangan membawa anak lelakinya ke pedalaman Buket Gadeng karena sangat mungkin terjadi pertempuran yang dapat mencedari anak tersebut. TRA akhirnya tidak membawa anak lelakinya tersebut, padahal anak tersebut diharapkan dapat menjadi pengobat rindunya di tengah hutan dipedalaman Buket Gadeng.

Diantara rekan seperjuangan TRA adalah Teuku Cut Ali (TCA) dan Datuk Raja Lelo (DRL). TCA usianya lebih tua dari TRA sehingga TRA memanggilnya Ayahcut. Mereka berjuang bahu membahu. TRA berjuang disekitar Bakongan. TCA disekitar Trumon dan DRL disekitar Kandang.

Pertempuran demi pertempuran terus berlangsung. Mengingat persenjataan dipihak Belanda lebih kuat maka TRA dan pasukannya sering melakukan serangan mendadak ditengah patroli pasukan Belanda. Kemudian pasukan TRA sering membuat jebakan/perangkap dari tali. Pada saat patroli Belanda melintas maka mereka dibiarkan berjalan sampai dengan ujung sehingga semua pasukan Belanda masuk dalam jangkauan seluruh tali. Kemudian tari ditarik sehingga Belanda berjatuhan. Pada saat bersamaan TRA dan pasukannya yang menunggu dipinggir jalan langsung menghayunkan kelewang dan rencongnya sehingga banyak pasukan Belanda yang tewas.

Mengingat banyaknya pasukan Belanda yang tewas kemudian dikirimlah pasukan Marsose, yaitu pasukan khusus Belanda. Bersamaan dengan itu dibangun markas Marsose di Bakongan. Saat itu diseluruh Aceh hanya ada 6 markas Marsose yaitu di Indrapuri Aceh Besar, Jeuram Aceh Barat, Tangse Aceh Pidie, di Peureulak Aceh Timur, di Takengon Gayo dan Bakongan Aceh Selatan.

Namun, pengiriman Marsoses ini pun belum berhasil menaklukkan TRA, bahkan korban dipihak Marsose pun berguguran. TRA mempunyai satu cara unik dalam bertempur yaitu selalu membuat undangan terbuka ke pihak Belanda dengan menyebutkan waktu dan tempat untuk bertempur. Biasanya dalam kesempatan ini TRA selalu mengajak duel satu lawan satu dengan Komandan Pasukan Belanda. Dalam beberapa kesempatan komandan Belanda langsung terbunuh dalam duel satu lawan satu tersebut. Dalam kesempatan yang lain komandan Belanda terluka parah dan oleh TRA dipesilahkan dibawa pulang kembali oleh pasukan Belanda untuk dirawat sampai sembuh dan kemudian diberi kesempatan lagi untuk bertempur satu lawan satu menghadapi dirinya. Sikap ksatria yang ditunjukkan TRA ini menimbulkan rasa hormat di pihak Belanda. Namun, disamping rasa hormat dan kagum timbul pula kegusaran di pihak Belanda dan mereka mulai memikirkan siapa komnadan pasukan yang cukup handal yang perlu dipertarungkan dengan TRA.

Belanda berpikir keras dan berkoordinasi dengan Kutaraja bahkan sampai dengan Batavia. Kemudian muncullah suatu nama seorang komandan pasukan yang cukup handal yang dikenal sebagai Singa Afrika yaitu Kapten Paris. Kapten Paris sang Singa Afrika dikenal reputasinya dalam pertempuran terutama di medan tempur Afrika Selatan. Namanya cukup disegani dikalangan pasukan Belanda. Belanda menganggap ini adalah lawan yang sepadan bagi Harimau Sumatera Teuku Raja Angkasah (TRA). Kedua-duanya memiliki keahlian bermain pedang, sama-sama jago dalam pertempuran satu lawan satu .

Kapten Paris seorang bertubuh atletis dengan badan tinggi besar. Dia seorang petarung ulung yang berpengalaman dalam berbagai medan pertempuran. Reputasinya dalam mengatasi pergolakan di Afrika Selatan membuat dia dijuluki sebagai Sang Singa Afrika. Pasukan Marsose sekarang membutuhkan Singa Afrika untuk diterjunkan dalam pergolakan Aceh menghadapi Harimau Sumatera yang juga dikenal kegarangannya. Yah Harimau Sumatera itu siapa lagi kalau bukan Sang Panglima Bakongan Teuku Raja Angkasah (TRA). TRA dikenal akan kesukaannya untuk menantang komandan pasukan musuh dalam pertempuran satu lawan satu, duel dengan menggunakan pedang. Banyak komandan pasukan Marsose yang sudah menjadi korban tebasan pedang TRA. Ia butuh lawan seimbang. Kapten Paris si Singa Afrika adalah lawan yang pas untuk Harimau Sumatera ini.

Akhirnya Pemerintah Kolonial Belanda memanggil Kapten Paris (KP) dari Afrika Selatan ke Batavia. Di Jakarta KP sempat memperoleh penjelasan mengenai situasi pada umumnya dan misinya untuk mengatasi perlawanan di Bakongan. Sebelum menuju Aceh KP diminta ke Cimahi suatu Garnizun Militer Belanda dan tempat pelatihan Marsose. KP diminta memilih langsung pasukan Marsose yang akan mendampingi dirinya untuk bertempur di Bakongan Aceh. Sesegera mungkin KP menuju Cimahi. Sesampainya di Cimahi Jawa Barat, KP minta syarat anggota Marsose yang mengikuti dia harus sudah memiliki pengalaman pertempuran khususnya pertempuran jarak dekat dan terbiasa bertempur satu lawan satu serta terampil dalam menggunakan pedang, kelewang dan belati. Dikumpulkanlah sejumlah Marsose sesuai keinginan KP, kemudian mereka diuji langsung oleh KP dengan pertempuran jarak dekat, dilihat kemahiran mereka dalam menggunakan pedang dan bagaimana cara mereka mengayunkan kelewang serta menggunakan belati. Sebagian dari mereka adalah yang sudah berpengalaman dalam pertempuran Aceh lainnya. Setelah memilih pasukan Marsose terbaik, KP memberikan briefing khusus yang intinya bahwa mereka nantinya akan bertempur dalam medan pertempuran Bakongan Aceh, sifat pertempuran satu lawan satu, sering dilakukan dalam jarak dekat dan yang mereka hadapi adalah seorang Harimau Sumatera Teuku Raja Angkasah (TRA) yang ayahnya juga terbunuh oleh Belanda. TRA dan pengikutnya adalah petarung-petarung yang tidak takut mati, bahkan mendambakan syahid sebagai yang tertera dalam Hikayat Perang Sabil yang terkenal tersebut. Mereka sebagaimana umumnya pejuang Aceh sangat membenci kaphee Belanda dan bahkan bangga apabila gugur dalam pertempuran. Puncak kebahagiaan mereka adalah mati syahid, semboyan mereka adalah udeep saree matee syahed. Sejarah kepahlawanan dan kejuangan mereka telah dikenal sejak jaman mereka bertempur melawan Portugis, Inggris dan kini Belanda.

KP menjelaskan secara panjang lebar tentang misi mereka ke Bakongan Aceh. Mereka diminta komitmen untuk mampu bertempur habis-habisan demi kejayaan Belanda dan Ratu. Marsose sebagai pasukan khusus dipilih dari prajurit-prajurit terbaik dan hidup mereka didedikasikan untuk bertarung dari satu medan pertempuran ke medan pertempuran berikutnya. Pekerjaan mereka adalah membunuh, derajat mereka ditentukan oleh tingkat kebengisan mereka, prestasi mereka ditorehkan berdasarkan jumlah jasad yang mampu mereka tumbangkan. Kebanggaan mereka ada pada kemampuan menumpas habis pemberontak.

Tapi yang dihadapi Marsose saat ini bukan sembarang medan pertempuran. Ini adalah medan pertempuran yang penuh darah para syuhada, medan pertempuran yang telah mampu membungkam para agressor, medan pertempuran yang telah mampu mencabut nyawa para jenderal penyerang. Yang dihadapi mereka adalah petarung-petarung tangguh, pejuang-pejuang yang telah mendedikasikan hidupnya di jalan Allah dan mendambakan syahid, yang terampil memegang rencong, pedang dan kelewang. Mereka menghadapi pejuang-pejuang yang mengganggap kematian dalam pertempuran sebagai gerbang menuju syurga, yang percaya bahwa meregang nyawa dalam perang sabil adalah jalan untuk menggapai bidadari, yang percaya darah kematian mereka seharum bau kasturi, belum pernah mereka mendapati medan perjuangan yang begitu berat, Aceh adalah daerah yang menggetarkan. Jiwa Marsose mereka ibarat diguncang saat mendengar Aceh adalah arena pertempuran mereka. Namun, kontrak telah ditandatangani, tekad telah ditorehkan, penugasan tidak mungkin diabaikan ........ walaupun mereka merasakan debaran jantungnya yang berdetak keras ... apakah aku akan kembali lagi dengan utuh atau tetap membawa nyawa? atau aku akan terkapar dalam sengitnya pertarungan di Aceh?

KP memandangi satu per satu pasukan pilihannya, langsung pandangannya menusuk mata prajurit Marsose pilihan tersebut. Ia memberikan kesempatan terakhir bagi yang tidak siap silahkan mundur segera ......... tentu gengsi seorang Marsoses mencegah mereka untuk mundur .. terkilas dalam bayangan mereka berbagai medan pertempuran yang pernah dihadapi, tiada keganasan yang melebihi keganasan pertempuran di Aceh .... ego seorang Marsose membuat mereka membusungkan dada menjawab ajakan KP untuk berangkat bertempur di Aceh.

Pada saat yang telah ditentukan akhirnya KP dan prajurit Marsose pilihan berangkatlah ke Aceh menuju salah satu Markas Marsose di Aceh yaitu Bakongan. Sesampainya di Bakongan, pasukan melakukan konsolidasi, KP memperoleh berbagai masukan dari pasukan terdahulu. KP pu seperti biasanya mencoba mempelajari siapa yang menjadi lawan utamanya ........... siapa Komandan dan Panglima perang musuh. Lawannya ternyata adalah seorang keturunan Raja dan Pewaris sah Raja Bakongan. Ia masih muda 28 tahun, tidak jauh berbeda dengan usia KP. Sang lawan dikenal sebagai Harimau Sumatera. Sekilas ia mengamati foto Sang Harimau yang diperlihatkan oleh komandan markas, seorang yang bersorot mata tajam, berwajah bersih tapi keras, tampak atletis dengan bahu bidang dan tinggi badan sedikit diatas warga biasa. Ia pun mendapat informasi bahwa Sang Harimau TRA ini, seorang yang memiliki wibawa tinggi, berbicara dengan nada tegas, berjalan dengan langkah kecil namun cepat (seperti langkah orang yang sedang menuruni bukit)dan senang memakai pakaian berwarna putih. Ia adalah keturunan Raja yang ayahnya terbunuh karena konspirasi Belanda.Pada penilaian awal KP telah menaruh hormat kepada TRA. Ia merasa menghadapi seorang pejuang sejati, namun bagaimana pun tugas harus dilaksanakan dengan baik.

Dipihak lain Sang Harimau TRA, telah mendapat berita pula bahwa, kekalahan beruntun yang menewaskan banyak pasukan Belanda telah mendorong pihak kolonial ini untuk mendatangkan seorang komandan tempur tangguh yang berpengalaman bertempur dibelantara hutan Afrika. Seorang petarung tangguh yang terbiasa menggunakan pedang, bayonet dan belati dalam pertempuran jarak dekat dan telah menewaskan sejumlah komandan lawan tarungnya. Ialah KP. KP disertai oleh prajurit terpilih Marsose yang telah ditempa oleh berbagai medan pertempuran yang telah dilatih khusus untuk misi di Bakongan. TRA mendapat kabar sedikit tentang sosok KP ini, seorang berperawakan tinggi tegap, juga dengan sorot mata tajam dengan usia tidak jauh berbeda dengan dirinya. TRA bergumam ini tentu lawan yang seimbang. Meskipun ia telah mampu menewaskan sejumlah komandan pasukan musuhnya dalam pertarungan jarak dekat, namun terhadap KP ia memiliki kesan sendiri. Tapi bagi dirinya siapapun komandan pasukan musuh tidaklah masalah, semakin tinggi reputasi mereka semakin menimbulkan semangat yang berapi-api dari dirinya untuk segera menebas lawannya tersebut.

Setelah mengetahui KP telah berada di Keudee Bakongan, sebagaimana biasanya untuk menyambut komandan pasukan baru TRA melayangkan undangan untuk melakukan pertempuran dengan diawali duel terbuka antara dirinya dengan komandan pasukan musuh. Undangan ini menyentak diri KP. Belum pernah ia menerima undangan seperti ini... yah undangan untuk bertarung dari seorang Harimau Sumatera. KP tertegun ........ namun gengsi keprajuritannya muncul ia sempat berpikir sejenak. Seteleh merenung beberapa hari kembali ia menerima surat undangan bertarung dari TRA bahkan TRA menawarkan KP boleh memilih tempat yang ia sukai. KP tentu tidak ingin menunggu sampai dengan undangan ketiga tiba. Ia segera menyusun pasukan kemudian berangkat menuju tempat pertarungan yang disepakati yaitu sebuah kawasan arah tunong/ perbukitan diluar Bakongan.

Setelah menempuh perjalanan kearah tunong akhirnya KP dan pasukan Marsose tiba ditempat yang ditentukan. TRA bersama panglimanya telah menunggu bersama pengikutnya. KP kaget ternyata TRA telah secara sportif menunggunya dan tidak salah ia mendengar kabar selama ini mengenai reputasi TRA. Sejenak mereka saling menatap. KP memperhatikan sosok TRA, seorang yang berperawakan atletis, tampak menonjol diantara pengikutnya, menatap dengan sorotan tajam. Pasukan Marsose menyiapkan bedilnya, namun KP mencegah, karena ia ingin mencoba membujuk TRA dulu. Panglima dan pasukan TRA pun telah siap namun TRA meminta mereka untuk tenang. Kemudian TRA menyambut dengan ucapan selamat datang dalam medan pertempuran Bakongan kepada KP. TRA menawarkan cara pertempuran apa yang diinginkan. Akhirnya mereka sepakati untuk bertarung satu lawan satu antara TRA dengan KP dengan menggunakan pedang. Kedua-duanya ahli dalam menggunakan pedang dan pasukan yang lain diminta untuk mengamati.

Setelah keduanya siap pertarungan dimulai. Ayunan pedang keduanya mulai beradu disertai gerakan tendangan dan meloncat. TRA cukup ahli dalam loncatan dan mampu mengayunkan pedang sambil melayang (sebagian orang mengatakan gelar Raja Angkasah sering juga disebut Raja Angkasa karena kemanpuannya memukul lawan sambil melayang). TRA juga mampu melakukan tendangan sambil melompat dan menerjang. Sementara KP piawai dalam memainkan pedang bergantian tangan kiri dan kanan. Kelincahan tangan KP diimbangi oleh tendangan gencar TRA. Pedang terus berdenting. Satu sabetan masuk ketubuh KP disertai sebuah tendangan membuat KP terdorong ke belakang, KP kaget belum pernah ia bertarung dalam situasi seperti ini. Belum hilang kagetnya sebuah sabetan pedang mulai menghantam pahanya, ia mulai terhuyung. TRA memberi kesempatan sejenak untuk KP menguasai diri. KP mencoba memberikan perlawanan, sebuah tusukan pedang KP mengenai sisi bahu TRA, namun pada saat bersamaan pedang TRA menyabet kearah badan KP, KP terhuyung hebat sementara TRA menguasai dirinya, tusukan pedang KP tidak terlalu dirasakan oleh TRA, Pertarungan terus berlanjut dengan darah mulai mengucur. Pengikut TRA mengiringi dengan suara takbir smentara pihak marsose hanya berteriak-teriak untuk menyemangati KP. Sabetan pedang dikeduanya telah mulai melukai mereka berdua, namun tubuh KP lebih banyak terkena sabetan dan darah segar telah mulai banyak keluar dari tubuh KP. Kemudian pada detik yang sangat menentukan sebuah sabetan pedang TRA mengenai tubuh KP lagi, sabetan ini disertai sebuah tendangan kuat yang dilakukan oleh TRA sambil melayang, tendangan yang kuat ini membuat tubuh KP si Singa Afrika tersungkur dan pada saat dirinya terkapar ditanah TRA segera menerjang kedepan dan mulai menempelkan ujung pedangnya ke leher KP yang sudah terkulai. KP tinggal menunggu tusukan pedang TRA dilehernya dan dengan cemas bersiap menyongsong maut. Pada saat yang kritis ini TRA segera menusuk sedikit pedangnya ke leher KP dan kemudian berkata "hai KP Singa Afrika bukankah hidupmu sudah diujung maut ...... engkau saat ini sudah tidak berdaya, ... tuan telah merasakan bagaimana keganasan Harimau Sumatera ... tuan sekarang telah mengenal siapa TRA ............ aku tidak akan menghabisi nyawamu saat ini dan bukan kebiasaanku membunuh orang dalam keadaan tidak berdaya ... lagi pula ini pertemuan pertama kita dan sebagai ucapan selamat datang kepadamu di tanah Bakongan Aceh ... engkau kuberi kesempatan untuk memulihkan diri dan pada saat dirimu telah sehat aku mengundangmu kembali untuk bertarung satu lawan satu .......... sekarang engkau bisa pulang ke markas ..... " TRA mempersilahkan pasukan marsose untuk membawa tubuh KP yang sudah penuh luka dan mengalami pendarahan hebat untuk dibawa kembali ke markas pasukan Marsose di Bakongan. Sebagian pasukan TRA tidak sabaran kenapa TRA tidak segera menghabisi KP namun TRA menenangkannya. KP sendiri dalam keadaan lemah tak berdaya mengagumi sikap ksatria TRA, belum pernah ia menghadapi musuh seperti ini. Dalam setiap pertempuran ia selalu menghabisi musuhnya sesegera mungkin. Tapi TRA tidak menghabisinya bahkan memberikan kesempatan untuk memulihkan diri. Ia mulai menghormati kepatriotan orang Aceh. Dalam gotongan pasukan marsose-nya KP membayangkan sikap kepahlawanan KP. TRA adalah pejuang sejati yang mengedepankan sikap ksatria dalam bertarung ia adalah seorang Harimau Sumatera yang terhormat, petarung yang gentle.

Setelah sampai di Keudee Bakongan di Markas Marsose, KP mulai dirawat secara intensif. Ia dirawat dengan prima, namun ia menolak untuk dibawa ke Kutaraja karena ingin segera pulih di Bakongan dan ingin segera bertarung lagi dengan TRA. Perawatan KP ini membutuhkan waktu satu bulan sampai dengan ia pulih benar.

Dalam masa perawatan satu bulan tersebut, pasukan Marsose tetap menggempur TRA dan pengikutnya. Jumlah pasukan ditambah dengan persenjataan yang lebih lengkap. Sikap TRA yang cenderung bertempur secara terbuka memberikan kesempatan marsose untuk menyergap mereka secara licik, sehingga dari waktu ke waktu jumlah pasukan dan pengikut TRA berkurang karena tewas saat disergap secara licik. Belum lagi politik adu domba Belanda yang sering memanfaatkan penduduk setempat yang kehidupannya terdesak untuk menjadi mata-mata pihak Belanda sehingga memudahkan penyergapan terhadap TRA dan pasukannya.

Setelah satu bulan masa perawatan KP sembuh. Kesembuhannya ini segera didengar oleh TRA. TRA pun mengirim surat undangan lagi untuk menantang KP dalam pertarungan satu lawan satu sebagaimana yang telah terjadi sebelumnya. KP telah mengetahui keunggulan TRA, ia pun agak ragu apakahmampu mengatasi TRA seorang diri. Namun, reputasi dan jiwa petarungnya menggoda dan konflik dengan sikap ragunya mengingat keunggulan TRA dalam pertarungan jarak dekat dan kepiawaian TRA menggunakan pedang. Belum lagi apabila menginggat kemampuan TRA yang mampu melayang sambil menendang dan menyabetkan pedang, ini membuat dirinya sedikit jeri.

KP mendiskusikan surat undangan bertarung dari TRA tersebut dengan komandan perang lainnya dan mendiskusikan dengan Markas Besar Kumpeni Belanda di Kutaraja.

Markas Besar Belanda di Kutaraja berkeberatan apabila harus meladeni TRA dengan perang satu lawan satu. Markas besar ingin segera menyudahi pertempuran dengan TRA melalui serangan besar-besaran. Bagi mereka melayani pertarungan satu lawan satu dengan TRA hanya membuang waktu dan membuang nyawa pasukannya secara sia-sia. Belanda mengabaikan sikap ksatria. KP bimbang dalam menyikapi ini, satu sisi ia teringat dengan janjinya untuk bertarung satu lawan satu dengan TRA secara ksatria, tetapi instruksi dari Komando Pusat mengharuskan ia untuk segera menghabisi TRA dengan serbuan besar. Komando Pusat tidak ingin bertele-tele, cara apapun harus ditempuh untuk menyudahi pertempuran, sementara KP masih menganut prinsip-prinsip seorang ksatria dan mengagumi serta menghormati TRA.

Namun, kepentingan kolonialisme-lah yang berbicara dengan mengabaikan prinsip-prinsip ksatria. Belanda tidak memperdulikan segala etika yang penting TRA harus segera ditangkap hidup atau pun mati dan Perang Bakongan harus segera disudahi agar Kapal Putih tidak bolak-balik lagi mengangkut mayat dari Bakongan ke Kutaraja. Bukankah kuburan Kerkoff di Kutaraja semakin penuh dengan mayat-mayat prajurit marsose yang terbunuh di Bakongan dan dari medan pertempuran Aceh lainnya. Menurut Belanda ini harus segera diakhiri. Belanda segera menyusun strategi dan rencana untuk segera menyergap TRA dan pengikutnya.

Rencana ini didengar oleh TRA bahwa Belanda enggan melayani pertempuran terbuka dan KP pun tidak menjawab undangannya untuk bertarung satu lawan satu dalam duel terbuka. TRA pun mendengar kabar sedang disusun rencana licik dan keji untuk meracun dirinya dan menyergap dirinya secara tersebunyi oleh pasukan Belanda. Atas saran panglima-panglima perangnya mereka menyarankan TRA untuk segera mengambil posisi secara berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain.

Pada awalnya serbuan besar-besaran dari pasukan Belanda masih terus dilayani oleh TRA dan pengikutnya. Namun, karena kalah banyak dan kalah persenjataan pasukan TRA mulai terdesak. Tambahan pasukan dari Kutaraja dan sikap KP yang mengikuti perintah Markas Besar Belanda membuahkan hasil. Pasukan TRA makin menyusut jumlahnya. Dalam berbagai serangan banyak pasukan TRA yang tewas. Namun, semangat perjuangan TRA tidaklah surut ia masih memberikan perlawanan dan masih mampu merubuhkan sejumlah Marsose dan Kapal Putih masih juga mengangkut mayat-mayat serdadu marsoses dari Bakongan ke Kutaraja.

Pertempuran demi pertempuran masih terus berlangsung. Berbagai utusan dikirim ke TRA agar menyerah. TRA diiming-imingi dengan berbagai fasilitas dan santunan apabila bersedia menyerah. Tentu hal ini ditolak mentah-mentah oleh TRA. Ia terus menggempur Belanda meskipun pasukan dan pengikutnya masih menyusut.

Kondisi ini tentu mengkuatirkan saudara-saudaranya yang ada di Keudee Bakongan. Bahkan ada saudaranya yang berhasil dibujuk Belanda dan mengutus menemuinya di sekitar Bakongan agar TRA menghentikan perlawanan, namun hal ini tidak membuahkan hasil.

Marsose Belanda selalu mendapat tambahan pasukan baru yang segar. Sementara TRA tetap dengan pasukannya dengan jumlah yang semakin berkurang. Serbuan-serbuan yang bengis dan sadis dari pihak Marsose telah mengurangi secara drastis jumlah pasukan dan pengikut TRA. Setelah digempur beberapa kali oleh Marsose, terakhir pasukan TRA hanya tinggal 4 orang. Disaat terakhir TRA hanya didampingi 3 orang panglima. Berarti TRA hany berempat mengatasi gempuran puluhan pasukan Marsose.

Dengan jumlah yang tinggal 4 orang tersebut, TRA bergerak secara mobile. Selama ini kebutuhan makanan masih dipasok oleh penduduk yang bersimpati. Jumlah pasukan yang sedikit dan kondisi yang semakin sulit tidak menyebakan penurunan semangat TRA dan panglimanya. Mereka masih tetap garang dan melakukan serangan sporadis terhadap pasukan Marsose. Hanya saja sekarang KP tidak melayani lagi pertempuran terbuka satu lawan satu dengan TRA.

Pada saat terakhir TRA dan 3 orang panglimanya bertahan di Buket Gadeng. Belanda kesulitan melacak tempat mereka. Telah diutus berbagai orang untuk menyelidiki posisi TRA dan panglimanya tetap tidak dapat diketahui secara pasti lokasinya. Akhirnya Belanda mulailah mencari tahu siapa yang memasok makanan kepada TRA dan pengikutnya. Dan ditemukanlah pemasok makanan tersebut. Setelah diancam dan diiming-imingi, sang pemasok makanan akhirnya bersedia menunjukkan tempat lokasi TRA bertahan dengan pengawalnya.

Dalam waktu yang terbatas itu, TRA telah mencium firasat bahwa ajalnya sudah dekat. Ia kemudian berkesempatan berkomunikasi dengan pejuang yang lain yaitu TCA, yang usianya lebih tua darinya dan ia panggil dengan sebutan Ayahcut. Ia berkata ke TCA “Ayahcut saat ini Belanda sedang memfokuskan penyerangan ke diri saya, apabila saya lebih dahulu syahid dari Ayahcut tolong teruskan perjuangan ini dan segera habisi KP, ia tidak memenuhi janjinya untuk bertarung satu lawan satu lagi dengan saya.” TCA menyanggupi permintaan TRA.

Dengan panduan dari penunjuk jalan yang memasok makanan ke TRA, yang sebelumnya sudah dibujuk dan diintimidasi, Belanda mulai menyergap tempat TRA dan panglimanya di Buket Gadeng. Pemasok makanan jalan terlebih dahulu didepan. Puluhan pasukan Marsose di bawah pimpinan Kapten Paris mengendap dari belakang. Pemasok pelan-pelan jalan seorang diri didepan, ketika sudah sampai didepan kemah TRA dan panglimanya segera mengucapkan salam dan dijawab oleh TRA. Setelah makanan diberikan, tanpa rasa curiga TRA beserta 3 orang panglimanya segera menyantap makanan yang diberikan.

Setelah beberapa saat menikmati makanan, TRA dan 3 panglimanya mendengar letusan senapang disertai ultimatum untuk segera menyerah karena mereka telah terkepung oleh puluhan Marsose bersenjata lengkap. TRA meradang karena sudah merasa ditipu dan dijebak. Ia segera mengambil senapang tuanya dan segera membalas tembakan tersebut bersama 3 orang panglimanya. Tembakan 4 orang dengan senapang tua tentu kalah jauh dengan tembakan puluhan Marsose yang bersenjata terbaru dan lengkap.

Suasana tembak menembak tidak dapat dihindari. Bahkan TRA dengan 3 panglimanya segera maju ke depan membalas tembakan. Menurut cerita sebagian penduduk karena senjata tua milik TRA panas, TRA terpaksa melepas sorbannya untuk membalut senanpangnya dengan sorban dan membalas tembakan. Beberapa bagian tubuh TRA sudah tertembak, namun ia belum rubuh. Satu per satu panglimanya telah tewas. Lokasi pertempuran di sisi Buket Gadeng dan dekat dengan sungai. Pada saat terakhir TRA tinggal sendirian, 3 panglimanya telah tewas bahkan 1 orang masuk ke sungai dan terbawa arus. TRA dengan gigih terus bertahan dengan tubuh bersimbah darah terkena tembakan. Pada detik-detik terakhir sebuah peluru dari sang komandan Singa Afrika KP masuk menembus mulut TRA …………… Allahu Akbar ………. TRA tertembak dan rubuh dengan tubuh bersimbah darah ……………… gugurlah pahlawan pemberani yang berjuang tanpa letih ini … Innalillahiwainnailaihirojiun ….. telah gugur seorang pejuang tangguh dari Pantai Selatan Aceh … gugur di Buket Gadeng Bakongan.

Segera setelah gugur pasukan marsose Belanda bersorak kemenangan. Habislah satu musuh besar mereka yang membuat mereka kelabakan dalam menaklukkan Bakongan Aceh. Kabar syahidnya TRA samapai ke penduduk dan ke Keudee Bakongan. Kabar ini sampai pula ke telinga Raja Bakongan yang ditunjukan Belanda. Segera raja tersebut beserta tokoh-tokoh lainnya berdatangan ke Buket Gadeng. Saat itu jasad TRA beserta 2 panglimanya dijajarkan, sedang jasad 1 panglimanya lagi tidak dapat ditemukan karena jatuh ke sungai dan hanyut dibawa arus.

Setelah semua berkumpul, komandan pasukan Marsose ingin memenggal kepala TRA untuk dibawa ke Kutaraja sebagai bukti ia sudah berhasil menewaskan TRA. Namun, tindakannya ini dicegah oleh Raja Bakongan. Menurut Raja yang juga sanak famili TRA ini apabila kepala TRA dipenggal maka selamanya Bakongan ini tidak pernah aman, darah akan terus tertumpah. Komandan Marsose membatalkan pemenggalan tersebut. Dari hasil kesepakatan jasad TRA dan kedua panglimanya karena mati syahid dikuburkan ditempatnya gugur. Dikuburkanlah ketiga pahlawan ini dalam satu lubang dikaki Buket Gadeng tidak jauh dari tepian sungai.

Pasukan Marsose kembali ke Keudee Bakongan dengan bernyanyi-nyanyi disertai sorak kemenangan. Sesampainya di Bakongan mereka melintas rumah TRA. Anak TRA yang laki-laki masih berusia 6 tahun sedang bermain didepan rumahnya. Anaknya yang diberi nama Teuku Ramli Angkasah ini memperhatikan dengan garang sikap serdadu Marsose ini. Seolah-olah mewarisi sifat ayahnya, ia segera menyongsong pasukan marsose tanpa takut. Dengan kayu yang dipegangnya dipukulnya kaki komandan marsose. Namun, sang komandan marsose tidak marah. Ia malah memeluknya dan menggendong anak tersebut sambil mengelus kepalanya. Namun, sang nenek segera melihat dan merebut kembali anak tersebut karena takut dibawa oleh marsoses. Marsose hanya tertawa dan memesan agar anak tersebut dirawat baik-baik kalau perlu disekolahkan sampai ke Belanda. Tentu tawaran ini ditolak mentah-mentah.

Telah syahidlah seorang pahlawan tangguh yang gugur dalam usia muda karena mempertahankan harga dirinya, martabatnya, agamanya dan tanahnya dari kesewenang-wenangan pihak Belanda. Semoga kisah nyata ini menjadi teladan bagi seluruh anak cucunya dan masyarakat luas yang menjunjung kebenaran dan keadilan.

Ketenangan Hati


Ketenangan Hati :
1. Dekatkan hati dengan Allah
2. Dekatkan diri dengan sesama
3. Menjadi bermanfaat siapapun juga
4. Syukur dan doa
5. Melihat dunia sebagai jalan menuju akhirat

Competency Conference


LAPORAN MENGIKUTI COMPETENCY CONFERENCE
London , 23-26 October 2000

Bidang CB-Emotional Intelligence (EI)


Umum

Pada dasarnya workshop CB-Emotional Intelligence mengkaji secara lebih mendalam bidang ini dan mengkaitkannya dengan kebutuhan pengembangan organisasi dan individu terutama menyangkut pengembangan kompetensi.

Kompetensi bidang emosional merupakan salah satu dasar dari work-based performance dan upaya meningkatkan emotional intelligence memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap peningkatan keterampilan bekerja seseorang.

Workshop emotional intelligence memberikan gambaran tentang bagaimana menggunakan informasi kompetensi bidang emosional dan bagaimana kaitannya dengan strategi pengembangan.


Tujuan Workshop EI

1. Memberikan gambaran tentang cara mengidentifikasi kompetensi.
2. Mengintegrasikan pengembangan EI dengan program pengembangan kompetensi lainnya.
3. Memberikan gambaran cara mengassess kompetensi EI.


Pembicara

1. Elizabeth Morris, konsultan pada Centre for Applied Emotional Intelligence dan menulis beberapa bab mengenal EI di Pillars of Success.
2. Tim Sparrow, konsultan pada Centre for Applied Emitonal Intelligence, berpengalaman selama 30 tahun dalam bidang sistem organisasi dan program pengembangan individu.


PRINSIP EI

1. EI adalah cara menggunakan pikiran terhadap perasaan (atau menggunakan perasaan terhadap pikiran) untuk membimbing dan mengarahkan perilaku.

2. Dalam prosesnya EI adalah kemampuan untuk mengenali, memberikan perhatian dan berpikir mengenai perasaan serta melibatkan unsur perasaan dalam memutuskan bagaimana seharusnya bertindak. Dalam prakteknya perasaan disini meliputi perasaan diri sendiri maupun orang lain.

3. Tiga hal penting dalam EI dan saling mempengaruhi serta terintegrasi adalah: Perasaan – Pikiran – Perilaku.

4. Perasaan adalah sesuatu hal yang menyangkut pengalaman emosional dan badaniah seseorang yang sebagian besar dimediasi oleh hormonal.

5. Dalam memahami EI maka perlu disadari hal-hal sebagai berikut :

· Orang-orang memiliki perbedaan dalam hal persepsi, perasaan dan keinginan.
· Bagaimana mencari kesepakatan dalam proses interaksi.
· Kita mengendalikan dan bertanggungjawab terhadap seluruh tindakan kita dan kita mengendalikan seluruh perasaan kita.
· Tidak ada seorangpun yang dapat mengendalikan perasaan kita dan demikian pula sebaliknya kita tidak dapat mengendalikan perasaan orang lain.
· Perasaan dan perilaku adalah sesuatu hal yang sebenarnya dapat dipisahkan.
· Setiap orang dapat melakukan perubahan, termasuk terhadap perasaannya.
· Kita harus dapat meneriam seluruh hal yang kita rasakan, menjustifikasinya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang penting.

6. EI meliputi dua kompetensi, personal dan sosial. Personal meliputi ; self awareness, self regulatin dan motivation. Sosial meliputi empati dan social skills.

7. Contoh tentang kompetensi EI :

· Self regulation : self control, trustworthiness, conscientiousness, adaptability dan innovation.
· Motivation : achievement drive, commitment, initiative, optimism.
· Empathy : understanding others, developing others, service orientation, leveraging diversity, political awareness.
· Social skills : influence, conflict management, change catalyst, collaboration & cooperation, communication, leadership, building bonds, team capabilities.






CONTOH PENGUKURAN EI :

Team Capabilities :
1. Level 1 : dapat berkomunikasi dengan orang lain, membagi informasi dan keahlian.
2. Level 2 : Mempercayai dan menghargai orang lain dengan cara memberikan dukungan terhadap apa yang mereka lakukan dan terlibat secara aktif didalamnya.
3. Level 3 : Membangun spirit tim dengan cara memelihara harmonisasi hubungan, memastikasn bahwa setiap anggota tim dapat memberikan kontribusinya dan mendorong keberhasilan tim.
4. Level 4 : Mendorong terjadinya sharing informasi dan kerjasama antar kelompok kerja, mengendalikan kompetisi internal, memastikan bahwa kegiatan mengarah pada pencapaian tujuan umum organisasi.


KESIMPULAN

1. EI merupakan salah satu kompetensi yang menentukan keberhasilan seseorang dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

2. Perumusan kompetensi (CBHRM) sebaiknya meliputi kompetensi EI.

3. Sebagian aspek EI seperti adaptability, initiative, communication diukur dalam program assessment center. Namun, untuk EI telah tersedia alat ukur khusus yang mengukur seluruh aspek dari EI.

4. Pengukuran EI diharapkan dapat diintegrasikan dalam program assessment center.

5. Untuk mendapatkan pemahaman yang utuh tentang EI dan mendapatkan legitimasi dalam menggunakan alat ukur EI maka disarankan para psikolog di Assessment Center TELKOM dapat mengikuti training khusus tentang EI dan memperoleh sertifikasi dari lembaga yang memiliki otoritas untuk sertifikasi EI (diantaranya CAEI/The Centre for Applied Emotional Intelligence).


Bandung, 31 Oktober 2000

Pembuat Laporan,
Officer-1 Assessment Center



T. Zilmahram
Nik. 651155