Selasa, 05 April 2016

PEMIMPIN YANG BERINTEGRITAS

Saat ini sedang marak persiapan untuk Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) termasuk pada tahun 2017 nanti DKI Jakarta akan memilih orang nomor 1 didaerah ini sebagai Gubernur. Memilih pemimpin merupakan salah satu kegiatan terpenting dalam masyarakat karena pemimpinlah yang akan menentukan hitam putih dan maju mundurnya masyarakat tersebut.

Sebuah organisasi termasuk masyarakat akan kuat apabila pemimpinnya kuat, akan maju apabila pemimpinnya memiliki visi untuk maju dan akan sejahtera apabila pemimpinnya berpikir dan bertindak untuk mengutamakan kesejahteraan masyarakat. Hal sebaliknya akan terjadi apabila pemimpin tidak memiliki visi untuk maju dan tidak mengutamakan kepentingan rakyatnya, maka masyarakat tersebut akan hancur.

Apa syarat agar kita dapat memperoleh pemimpin yang dapat memajukan dan menyejahterakan masyarakatnya? Banyak kriteria yang disebutkan seperti pemimpin tersebut harus visioner, cakap, komunikator yang baik dan sebagainya.
Dalam Islam jika merujuk pada Al-Quran dan Hadits terterdapat empat kriteria yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Keempat hal tersebut dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin umatnya, yaitu: (1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya. Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan). Keempat kriteria pemimpin ini umum diketahui dikalangan umat Islam.

Jika kita simpulkan dengan mengkristalisasikan keseluruhan hal tersebut dalam satu kata yang ringkas maka kita temukan kata Integritas. Meskipun kata integritas tidak dapat mewakili sepenuhnya pengertian dari keempat kriteria tersebut, namun dari definisi dan penjabarannya tampak mendekati kriteria dimaksud.
Dalam konteks inilah kita membutuhkan pemimpin yang berintegritas untuk memajukan masyarakatnya. Apa itu integritas? Stephen Robbins dalam bukunya Organizational Behavior menyebutkan integritas bagian terpenting untuk membangun trust atau kepercayaan. Integritas terdiri dari honesty dan truthfulness. Jadi integritas dibangun dari fondasi kejujuran dan dapat bertindak sesuai dengan apa adanya.
Stephen M.R. Covey menyebutkan tentang integritas : "to most people integrity means honesty, not only telling the truth but also leaving the right impression." Umumnya orang mengartikan integritas itu adalah kejujuran  dan mampu meningggalkan kesan yang baik.
Kejujuran adalah hal yang penting yang harus dimiliki oleh pemimpin. Namun, integritas sendiri lebih dari sekedar kejujuran, integritas juga berarti satunya hati, pikiran, perkataan dan perbuatan. Hal ini mirip apa yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi, yaitu : "my life is indivisible whole, and all my activities run into one another …….. My life is my message." Gandhi menyebutkan hidupnya adalah kesatuan yang utuh, artinya adanya kesatuan antara niat, pikiran, ucapan dan perbuatan.

Pemimpin yang demikianlah yang kita butuhkan saat ini. Punya niat yang tulus untuk membangun dan menyejahterakan rakyat, yang kemudian tergambar dalam pikirannya, konsep dan rencananya untuk membuat daerah yang dipimpinnya jaya, perkataannya dapat dipegang dan tindakan serta perbuatannya mampu mewujudkan janji-janjinya. Sosok pemimpin seperti itulah yang kita dambakan.
Pengertian lain tentang integritas adalah dari DDI, sebuah lembaga konsultan bidang manajemen dan psikologi yang berkantor pusat di USA. Integritas dibagi menjadi tiga komponen besar yaitu honesty, consistency, dan commitment. Ketiga hal tersebut dipakai sebagai basis dalam melihat integritas seseorang. Dalam pengertian ini kriteria seseorang pemimpin selain jujur, harus mampu bertindak konsisten dan memiliki komitmen untuk mewujudkan janji-janjinya dalam memajukan dan menyejahterakan masyarakat.

Bagaimana cara kita menilai integritas? Sesuai dengan penjelasan diatas ada beberapa cara untuk mengukur integritas seperti ; menggunakan referensi dari sejumlah tokoh/ahli terkemuka yang bersih dan berdedikasi, multi- rater survey (360 degree) yang melibatkan seluruh pihak yang pernah berinteraksi dengan para calon, assessment centre untuk melihat kompetensi manajerial dan leadership serta wawancara untuk melihat personal appearance yang bersangkutan. Masing-masing tools tentunya memiliki kegunaan dan tantangan yang berbeda.
Jika kita sepakat untuk mengedepankan integritas sebagai syarat penting dalam memilih pemimpin, maka saat menentukan calon-calonnya dapat menggunakan cara-cara pengukuran diatas. Setelah para calon terpilih baru kemudian diserahkan ke masyarakat untuk melakukan pemilihan secara demokratis, sehingga siapapun yang akan dipilih oleh masyarakat kita sudah tidak meragukan lagi kadar integritasnya.
Semoga kita akan mendapatkan pemimpin yang berintegritas yang ditangannya kita percayakan bahwa kita akan maju, jaya dan sejahtera.

Senin, 08 September 2014

PENDIDIKAN KARAKTER DAN REVOLUSI MENTAL

Berita harian Kompas tanggal 8 September 2014 dipojok kiri atas halaman pertama menampilkan sebuah judul berita “Pendidikan Karakter Tak Mudah Diajarkan.” Pendidikan karakter disebut akan menjadi fokus dalam kurikulum 2013. Ada 18 karakter yang ingin dikembang di SD, SMP dan SMA. Menurut Kompas pendidikan karakter tak mudah diajarkan dikelas-kelas sekolah sehingga agama sering menjadi pendekatan untuk mengajarkan karakter. Beragam cara sekola-sekolah yang ada di seantero negeri menerapkan pendidikan karakternya. Sebagian besar menerapkan pendidikan karakter melalui pendidikan agama.

Kompas mengutip pendapat Direktur Pendidikan Karakter Education Consulting yang mengkritik penilaian spiritual yang juga terdapat di kurikulum 2013. Menurutnya hal itu menyebabkan agamanisasi kurikulum. Selanjutnya seorang pengamat pendidikan dan anak, Seto Mulyadi menyebutkan bahwa pada dasarnya semua anak punya rasa ingin tahu, jujur, disiplin, dan karakter baik lainnya. Namun semua karakter baik itu bisa terus tumbuh dalam diri anak tergantung dari contoh yang diberikan orangtua, guru, dan masyarakat. Kak Seto menyebutkan “anak-anak kita sekarang banyak yang kehilangan contoh dan keteladanan.”
Tampaknya ada kebingungan para praktisi pendidikan bagaimana harus bersikap terhadap kurikulum 2013, utamanya dalam mengimplementasikan pendidikan karakter. Tujuan yang baik untuk mengutamakan pendidikan karakter belum ditindaklanjuti oleh upaya untuk menerapkannya secara terstruktur, sistematis dan standar. Sehingga dalam penerapannya di berbagai tempat berbeda-beda yang tentunya memberikan pertanyaan bagi kita apakah keperbedaan cara penerapan tersebut akan memberikan jaminan bahwa pendidikan karakter akan sesuai dengan tujuan yang sebenarnya.

Pada sisi lain Presiden terpilih untuk periode 2014-2019, saat kampanye pemilihan presiden menelurkan sebuah gagasan tentang Revolusi Mental. Menurut Kompas.com, Jokowi pertama kali menyebut visi dan misi revolusi mental di Metro TV pada tanggal 24/4/2014. Menurut Jokowi, negara Indonesia adalah negara besar. Namun, masyarakat Indonesia sering tidak percaya diri saat menghadapi tantangan-tantangan zaman. Oleh sebab itu, mindset rakyat Indonesia harus diubah melalui kepemimpinan dirinya.
Jokowi pun pernah mengatakan "Kita ini kan selalu bicara mengenai fisik dan ekonomi. Padahal, kekurangan besar kita character building. Oleh sebab itu saya sebut revolusi mental," ujarnya di luar pagar rumah dinas, Jalan Taman Surapati 7 Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (26/4/2014). Ungkapan ini menunjukan begitu seriusnya perhatian Jokowi terhadap Revolusi Mental. Lebih khusus lagi beliau mengaitkan ini dengan pembangunan karakter. Persoalan besar bangsa kita adalah masalah integritas, peran karakter sangat penting dalam menentukan integritas seseorang.

Tampaknya ada benang merah antara pendidikan karakter dengan revolusi mental yang diusung oleh Jokowi. Saat menjelaskan revolusi mental Jokowi menghubungkannya dengan pembangunan karakter. Menurut Jokowi seorang pemimpin harus mampumampu membangun pola pikir sekaligus karakter positif di masyarakat. Dalam konteks ini  Jokowi mengaitkan antara pola pikir dan karakter positif. Dalam logika ini pola pikir yang baik akan membentuk karakter yang baik. Atau secara timbal balik dapat pula kita katakan bahwa karakter yang baik akan membuat orang berpikir secara baik.
Melihat pesan kurikulum 2013 yang menekankan pendidikan karakter dan gagasan Jokowi tentang revolusi mental, tampaknya kedua konsep itu bisa saling bersinergi atau bahkan melebur untuk membangun manusia Indonesia yang unggul. Memang menilik dari terminologi katanya, pendidikan karakter lebih kearah suatu proses bertahap yang dilakukan secara sitematik dan terstruktur. Sedangkan revolusi mental lebih kearah suatu perubahan yang cepat dan fundamental serta memberikan dampak signifikan dan segera dirasakan.

Menurut Lickona (belajarpsikologi.com), karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
Dalam hal revolusi mental, menurut Zilmahram (habahate.blogspot.com), secara operasional revolusi mental dapat diartikan sebagai upaya untuk melakukan perubahan mendasar dalam berbagai segi kehidupan berbangsa dan bernegara yang akan membentuk pola pikir, sikap dan perilaku rakyat Indonesia agar berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial budaya.

Jika menilik kedua pengertian diatas dapat dikatakan pendidikan karakter berfokus pada individu sedangkan revolusi mental menyasar lebih luas kepada masyarakat dan bangsa. Tentunya kedua konsep ini bisa saling memperkuat, melengkapi, menyatu menjadi sesuatu yang tidak saling terpisahkan. Tentunya diperlukan langkah-langkah yang lebih konkrit untuk mengsinergikan kedua hal diatas. Pengambil kebijakan dan pihak-pihak yang lebih otoritatif perlu merumuskan lebih lanjut operasionalisasi kedua konsep diatas, pendidikan karakter dan revolusi mental untuk mencapai manusia Indonesia yang unggul.

TANTANGAN PENGEMBANGAN SDM INDONESIA DALAM PEMERINTAHAN JOKOWI-JK

Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2014-2019 telah ditetapkan yaitu Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Dengan ditetapkannya pemimpin baru Indonesia, era baru telah dimulai, namun tantangan lama dan terus berkembang semakin kompleks tetap hadir didepan mata, yaitu kualitas SDM Indonesia. Data menunjukan bahwa hanya 4,3% dari 1000 orang Indonesia yang tergolong terampil. Bandingkan dengan Filipina 8,3%, Malaysia 32,6%, dan Singapura 34,7%.

Salah satu faktor  kemajuan bangsa ditentukan oleh daya saingnya dan daya saing sangat terkait dengan inovasi. Bangsa yang mampu berinovasi memiliki daya saing yang kuat. Kemampuan untuk berinovasi ternyata ditentukan pula oleh peran Pemimpinnya. Menurut sebuat riset, peran pemimpin adalah 97,2% terhadap munculnya inovasi. Riset ini didapat dari hasil penelitian terhadap 200 perusahaan. Peran dominan pemimpin dalam mendorong inovasi memberikan motivasi yang kuat bagi karyawan untuk berinovasi, terlebih dari pada itu pemimpin juga dapat membangun kultur dan atmosfir yang subur dalam mendorong munculnya inovasi. Hal yang menarik adalah visi dan jejaring yang kuat tidak begitu berpengaruh dalam menumbuhkan iklim inovasi. Selain itu para pejabat level manajemen menengah juga tidak begitu berpengaruh dalam membangun inovasi.
Dalam riset itu juga disebut bahwa karakter pemimpin memberikan pengaruh yang siginifikan dalam menumbuhkan inovasi. Dibutuhkan karakter pemimpin yang berani untuk memberikan kesempatan bagi karyawannya untuk berinovasi.

Gambaran diatas menunjukkan begitu pentingnya peran pemimpin puncak dalam menumbuhkan iklim inovasi sekaligus sebagai fondasi untuk membangun daya saing yang kuat. Jika Indonesia sebagai sebuah organisasi besar, maka untuk menumbuhkan inovasi dan memiliki daya saing yang kuat, tentunya diperlukan peran pemimpin puncak yang signifikan. Pada tataran inilah kita sangat menaruh harapan pada Jokowi-JK untuk mengambil peran mulia tersebut yaitu mendorong inovasi, membangun daya saing bangsa yang tangguh, agar Indonesia unggul dan terhormat diantara bangsa-bangsa lainnya.

Hal lain yang perlu dicermati adalah posisi Indonesia dalam konteks indeks pembangunan manusia. Indonesia pada data HDI 2013 meraih peringkat ke-121 dari 186 negara dan 8 negara-teritori. Seluruh negara diklasifikasikan ke dalam 4 kelas berdasarkan hasil akhir scoring di tiap parameter. Empat kelas tersebut adalah Very high human development, High human development, Medium human development, dan Low human development. Indonesia dengan peringkat 121 menempati kelas medium human development.
Peringkat tersebut harus diperbaiki sedemikian rupa agar kita bisa masuk setidaknya dalam kategori high human development. Peringkat tersebut menunjukan bagaimana upaya kita selama ini, terutama pemerintah tentunya yang belum secara maksimal berhasil memposisikan Indonesia dalam kelompok negara-negara yang memiliki kualitas pembangunan manusia yang baik.

 Memang ada pula berita yang menggembirakan, yaitu Forum Ekonomi Dunia (WEF) dalam laporannya yang bertajuk “The Global Competitiveness Report 2013-2014” atau laporan daya saing global mengumumkan kenaikan posisi Indonesia dari 50 pada tahun 2012/2013 menjadi posisi 38 pada tahun 2013/2014. Namun, untuk menjadi sebuah bangsa yang maju dan unggul tentunya peringkat tersebut tidak cukup. Diperlukan upaya yang lebih keras agar posisi Indonesia dapat terus membaik.

Menilik data-data tersebut, tidaklah ringan tugas yang akan diemban oleh pemerintahan Jokowi-JK. Visi  Misi yang disampaikan selama ini harus ditunjang oleh strategi yang tepat agar pelaksanaan program-program khususnya yang berkaitkan dengan Sumber Daya Manusia dan terlebih-lebih lagi yang terkait dengan Revolusi Mental agar dapat dilaksanakan secara tepat dan mampu mengangkat harkat manusia Indonesia.  

Fakta lain menunjukkan, daya saing bangsa Indonesia masih lemah jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti China, Korea Selatan, Swis, Swedia, Jerman, dan Singapura. Hal ini tercermin dari laporan World Economic Forum (WEF) tahun 2012 yang mencatat, dari 144 negara, indeks daya saing global Indonesia mengalami penurunan dari peringkat 46 pada 2011 menjadi urutan 50 pada 2012. salah satu penyebab pelemahan daya saing nasional ini adalah minimnya inovasi sebagai salah satu indikator penilaian daya saing.

Berkaitan dengan minimnya inovasi terlihat dari catatan World Intelectual Property Organization (WIPO), indeks inovasi global Indonesia hanya menduduki peringkat 100 (dari 141 negara), sebelumnya menduduki peringkat 99 (dari 125 negara), di bawah peringkat negara Asia Tenggara Iainnya, seperti Thailand (57), Brunei (53), dan Malaysia (32). Kondisi ini harus segera dibenahi. (majalahinovasi.com).

Tugas berat menanti Jokowi-JK untuk meningkatkan kualitas SDM agar Indonesia mamu menjadi bangsa yang berdaya saing tinggi. Rumusan strategi yang tepat untuk mengejewantahkan Visi Misi yang telah disusun harus ditindaklanjuti oleh program yang selaras. Dan yang terpenting dari itu semuanya tentunya diperlukan orang-orang yang tepat untuk menjalan semua rumusan dan program tersebut.

Strategi pembangunan Indonesia selama ini sangat menggantungkan diri pada pada alam telah mengabaikan potensi manusia Indonesia. Tentunya pemerintahan Jokowi-JK harus mampu mengoreksi kekeliruan selama ini agar potensi manusia Indonesia dapat lebih terelaborasi dan muncul menjadi sebuah kekuatan dahsyat yang mampu menempatkan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang unggul dalam persaingan bangsa-bangsa di dunia.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang tertera di Harian Kompas 8 september 2014 bahwa pembangunan ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada sumber daya alam menyebabkan sektor lain terbengkalai. Pertumbuhan sumber daya manusia pun tak bisa optimal.

Mengutip dari makalah Rokhmin Dahuri dalam ISEI 2014 di Ternate Maluku Utara, bahwa terdapat beberapa data yang mengkuatirkan dan dapat menjadi kendala dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, yaitu measih terdapat pengangguran terbuka (Februari 2014) sejumlah 7,15 juta orang, setengah menganggur 10,57 juta orang, penduduk miskin (maret 2014) 28,28 juta orang. Sementara menurut versi Bank Dunia penduduk miskin yang memiliki penghasilan 2 dollar AS/orang/hari berjumlah 117 juta orang.

 Tentu angka-angka tersebut memprihatinkan dan menjadi tugas berat pemerintahan Jokowi-JK untuk memperbaikinya sehingga dicapai suatu angka ideal dalam rangka menopang pembangunan manusia Indonesia untuk mencapai kekuatan daya saing bangsa yang tangguh. Hal terpenting dalam membangun sumber daya manusia yang tangguh adalah melalui Pengembangan SDM yang terstruktur, sistematis dan harmonis.

Pengembangan SDM adalah suatu bagian terpenting dalam membangun kualitas manusia seutuhnya. Pengembangan SDM menurut Armstrong (1997:507) berkaitan dengan tersedianya kesempatan dan pengembangan belajar, membuat program-program yang meliputi perencanaan, penyelenggaraan dan evaluasi atas program-program tersebut.
Kita sadari kekuatan suatu bangsa, masyarakat, kelompok sosial maupun keluarga terletak pada SDM nya. SDM yang kuat membuat komunitas sosial menjadi kuat. Apabila kita pilah lagi maka kekuatan SDM tersebut bergantung pula pada Value, Leadership, Competency, Resources dan HR Development Infrastructure yang dimiliki masyarakat tersebut.

Value manyangkut apa yang diyakini dan dipercayai dalam masyarakat tersebut yang merupakan seperangkat nilai yang dijadikan pedoman dalam kehidupannya. Value yang berkembang di Indonesia dapat merujuk pada sila-sila yang ada didalam falsafah bangsa yaitu Pancasila sebagi way of life dari bangsa Indonesia.
Leadership merujuk pada kepemimpinan yaitu kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, yaitu orang-orang yang dipimpin atau pengikutnya. Dalam konteks pengembangan SDM Indonesia kepemimpinan sangat terkait bagaimana para tokoh baik penguasa formal maupun tokoh formal memiliki keberpihakan yang tinggi terhadap pengembangan SDM. Para pemimpin di Indonesia dalam tataran verbal sering mengungkapkan perhatiannya yang besar terhadap pendidikan dan pengembangan SDM, namun dalam level praksis kurang terlihat keberpihakannya yang sungguh-sungguh. Dalam konteks ini peran Jokowi-JK sangat signifikan untuk menunjukan keberpihakan yang tinggi dalam mengembangkan sumber daya manusia. Konsep Revolusi Mental telah menunjukan adanya itikad tersebut, selanjutnya dibutuhkan aksentuasi dan implementasi sebagai sebuah perwujudan untuk membangun manusia seutuhnya yang mampu meningkatkan daya saing bangsa secara menyeluruh.

Competency merupakan kombinasi dari keterampilan, pengetahuan dan kepribadian. Untuk menilai bagaimana competency SDM di Indonesia dapat dibandingkan dengan negara lain. Hal ini bisa dilihat salah satunya dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang didasarkan utamanya dari dukung faktor pendidikan dan kesehatan. Sebagaimana disebutkan diatas posisi Indonesia belum begitu menggembirakan dalam hal ini sehingga diperlukan sebuah program yang terstruktur, sistematis dan harmonis untuk mencapai tingkat IPM yang lebih baik.
Untuk mendukung hal tersebut diperlukan resources yang cukup terutama anggaran. Alokasi anggaran pendidikan di Indonesia yang besar harus disertai komitmen untuk penggunaannya yang tepat. Anggaran harus diarahkan pada program-program yang nyata untuk meningkatkan kompetensi manusia Indonesia dan tidak habis begitu saja untuk hal-hal yang bersifat administratif. Jokowi-JK harus bersunggguh-sungguh mengawal pengalokasian dan penggunaan anggaran di bidang pendidikan ini sehingga didapatkan hasil yang optimal untuk membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia sehingga mencapai postur yang ideal.

Dalam mengalokasikan resources harus ada keberanian dan goodwill untuk mengutamakan aspek pengembangan manusia. Mulai dari modal, materi, manusia dan berbagai sumberdaya yang lain harus diarahkan secara fokus dan memprioritaskan upaya-upaya untuk mengembangkan kualitas manusia Indonesia.
Tantangan berikutnya infrastruktur harus terus diperkuat. Mulai dari pendidikan dasar sampai dengan tinggi harus ditingkatkan kapasitas dan kualitasnya. Demikian pula lembaga-lembaga pendidikan, pelatihan dan pengembangan SDM mampu menyiapkan kualitas manusia Indonesia yang dapat bersaing dikancah global.

Diharapkan melalui respon yang tepat dalam menghadapi kelima tantangan pengembangan SDM tersebut diatas kualitas manusia Indonesia semakin meningkat. Indeks pembangunan Manusia di Indonesia akan membaik, ranking kualitas pendidikan akan semakin tinggi dan SDM Indonesia akan semakin siap serta semakin kompetitif baik di level lokal, regional maupun global. Hal ini tentunya akan memberikan pengaruh yang sangat signifikan dalam upaya membangun Indonesia sebagai bagian dari masyarakat maju dunia.

Dan tentunya sebagaimana dikatakan oleh Jokowi, Revolusi Mental menjadi landasan untuk membangun karakter manusia Indonesia yang unggul. Bagaimana kita mengelola Revolusi Mental tersebut? Tentunya diperlukan suatu langkah konkrit untuk mengejewantahkannya (dalam tulisan tentang Revolusi Mental di blog Habahate, penulis telah memaparkan ide tentang bagaimana mengelola dan mengimplementasikan konsep Revolusi Mental).

Jumat, 29 Agustus 2014

MENDEFINISIKAN REVOLUSI MENTAL JOKOWI

Revolusi Mental yang diajukan Jokowi dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang tangguh perlu diterjemahkan lebih jauh pada tataran. operasionalnya. Bagaimana revolusi mental itu dimaknai, diterjemahkan dan diimplementasikan dalam perilaku nyata manusia Indonesia.

Revolusi mental sebagai sebuah konsep dasar harus didefinisikan terlebih dahulu makna dan batasannya. Untuk menjelaskan definisi operasional, kita bisa merujuk pada contoh yang disebut dalam spychlogy.about.com sebagai berikut :

“An operational definition describes exactly what the variables are and how they are measured within the context of your study. For example, if you were doing a study on the impact of sleep deprivation on driving performance, you would need to operationally define what you mean by sleep deprivation and driving performance.
In this example you might define sleep deprivation as getting less than seven hours of sleep at night and define driving performance as how well a participant does on a driving test”.

Dengan gambaran penjelasan diatas jelas sebuah definisi operasional dari revolusi mental harus mencakup contoh nyata dari konsep tersebut. Menurut Daniel Nelson dalam artikelnya yang berjudul “Scientific Management In Restropect” mengaitkan revolusi mental dengan scientific management. Dimana dalam pemahaman ini revolusi mental melibatkan manajemen dan pekerja. Tegasnya disebutkan sebagai berikut : “Mental Revolution is a change in thinking both on the part of management and workers.  Success of implementation of scientific management depends on the mental revolution of management and workers both as to their duty to cooperate in producing the largest possible surplus and to the necesssity for substituting exact scientific knowledge for opinions or the old rule of thumb of individual knowledge”.

Pengertian diatas lebih pada tataran manajemen dan pekerja. Dalam konteks kebangsaan kita bisa kembangkan revolusi mental pada lingkup pemerintahan dan rakyatnya. Kedua komponen ini harus saling melengkapi untuk melakukan perubahan yang besar dan mendasar terhadap mental bangsanya.
Pengertian revolusi mental terkadang bisa keliru jika diarahkan pada mental semata-mata. Kita bisa terjebak dalam persoalan mental kesehatan jiwa. Sehingga revolusi mental bisa pula dimaksudkan sebagai pemulihan kesehtan jiwa yang dilakukan secara cepat dan menyeluruh.

Atau mungkin sebagian mengartikan kita sebagai sebuah bangsa yang “sakit” yang secara mental  perlu disehatkan segera dengan merubah seluruh tatanan secara mendasar. Kerusakan mental ini dianggap sudah sedemikian parah sehingga perlu dilakukan revolusi untuk pembenahannya.
Apabila kita melihat bangsa dan negara ini seperti sebuah organisasi perusahaan, maka dalam konteks scientific management ini kita bisa memahami konsep revolusi mental seperti yang diungkapkan F.Y. Taylor sebagai berikut : “According to F.W.Taylor mental revolution involves a change in the attitude on part of both management and workers. It means that management and workers should transform their thinking. Both should realize that they require one another. Management should share the gains of the firm with workers and workers should contribute up to their full potential so that company makes profit”.

Dalam pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa revolusi mental sangat terkait dengan perubahan sikap melalui transformasi pemikiran dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki sehingga akan diraih suatu keuntungan.
Secara terminologi untuk lebih memahami secara mendalam revolusi mental dapat dilihat dari pengertian mental itu sendiri. Banyak definisi yang menjelaskan tentang arti kata mental. Dari pemahaman Thesaurus sebagaimana yang tertulis di freedictionary.com, mental dapat berarti sebagai berikut :
1.      Mental - involving the mind or an intellectual process; "mental images of happy times"; "mental   calculations"; "in a terrible mental state"; "mental suffering"; "free from mental defects physical - involving the body as distinguished from the mind or spirit; "physical exercise"; "physical suffering"; "was sloppy about everything but her physical appearance"
2.      Mental - of or relating to the mind; "mental powers"; "mental development"; "mental hygiene"
3.      Mental - of or relating to the chin- or liplike structure in insects and certain mollusks biological  science, biology - the science that studies living organisms
4.       Mental - of or relating to the chin or median part of the lower jaw genial
5.       Mental - affected by a disorder of the mind; "a mental patient"; "mental illness"
unhealthy - not in or exhibiting good health in body or mind; "unhealthy ulcers"
 
Pengertian yang tercantum pada nomor 1 dan 2 dapat kita jadikan acuan untuk memahami mental. Mental meliputi suatu proses berpikir atau suatu proses intelektual. Jadi mental dalam pemahaman ini menyangkut cara berpikir dan proses intelektual yang mempengaruhi bagaimana orang bersikap dan bertingkahlaku. Mental bisa merupakan cerminan dari depth personality seseorang. Jika spirit menjadi aspek dalam yang menggerakan kepribadian seseorang maka mental merupakan aspek luar yang menjembatani dari kepribadian ke sikap dan perilaku. Bagaimana pilihan sikap dan perilaku seseorang sangat tergantung dari mental.
 
Bagaimana halnya tentang pengertian revolusi? Menilik dari katanya yang bersumber dari bahasa Latin, revolution yang bermakna “turn around” disebutkan revolution berarti “…… is a fundamental change in power or organizational structures that takes place in a relatively short period of time.” Kemudian dalam Oxford Dictionaries disebutkan pengertian revolusi sebagai : A dramatic and wide-reaching change in conditions, attitudes, or operation.
 
Dari rujukan tersebut revolusi dapat diartikan sebagai suatu perubahan yang sangat mendasar dari suatu struktur kekuasaan atau organisasi yang dilakukan secara cepat atau dalam waktu yang singkat.

Dari gabungan antara pengertian mental dan revolusi diatas kita bisa mencoba merumuskan apa yang dimaksud dengan revolusi mental. Namun, mengingat definisi ini harus dapat di operasionalkan maka harus diambil acuan pengukurannya. Dalam berbagai kesempatan Jokowi sering mengutip tentang konsep Trisakti yang dicetuskan Bung Karno pada tahun 1963. Maka konsep Trisakti Bung Karno menjadi acuan definisi operasonal dari Revolusi Mental

Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno dalam Pidato Trisakti tahun 1963 menegaskan bahwa Indonesia harus :
1. berdaulat secara politik
       2. berdikari secara ekonomi
       3. berkepribadian secara sosial budaya

Dengan demikian Revolusi Mental secara operasional dapat diartikan sebagai upaya untuk melakukan perubahan mendasar dalam berbagai segi kehidupan berbangsa dan bernegara yang akan membentuk pola pikir, sikap dan perilaku rakyat Indonesia agar berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial budaya.

Definisi operasional revolusi mental untuk implementasinya harus ditindaklanjuti dengan : menentukan variable revolusi mental, menyusun kisi-kisi revolusi mental, menetapkan perilaku kunci revolusi mental, memutuskan pedoman perilaku revolusi mental.

Rabu, 27 Agustus 2014

REVOLUSI MENTAL JOKOWI

Jokowi Presiden terpilih Republik Indonesia periode 2014-2019, pada saat kampanye sebagai Calon Presiden menelurkan sebuah ide tentang Revolusi Mental. Ditilik dari sebuah gagasan ini adalah sesuatu yang menarik sekaligus terobosan saat sebagian besar orang terpaku pada pertumbuhan ekonomi, teknologi maupun hal-hal yang bersifat materil lainnya.

Menurut Kompas.com, Jokowi pertama kali menyebut visi dan misi revolusi mental di Metro TV pada tanggal 24/4/2014. Menurut Jokowi, negara Indonesia adalah negara besar. Namun, masyarakat Indonesia sering tidak percaya diri saat menghadapi tantangan-tantangan zaman. Oleh sebab itu, mindset rakyat Indonesia harus diubah melalui kepemimpinan dirinya.
Jokowi sendiri mengatakan bahwa “Saya sudah memulai gerakan ini ketika memimpin Kota Surakarta dan sejak 2012 sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sejumlah teman yang sepaham juga sudah memulai gerakan ini di daerahnya masing-masing. Insya Allah, usaha ini dapat berkembang semakin meluas sehingga nanti benar-benar menjadi sebuah gerakan nasional seperti yang diamanatkan oleh Bung Karno, memang revolusi belum selesai. Revolusi Mental Indonesia baru saja dimulai”

Mengutip sebuah Harian Nasional Revolusi mental merupakan visi misi pertama bakal calon presiden Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Joko Widodo. Mengingat ini ditempatkan pada urutan pertama, maka masalah Revolusi Mental merupakan suatu urusan yang maha penting
Jokowi pun pernah mengatakan "Kita ini kan selalu bicara mengenai fisik dan ekonomi. Padahal, kekurangan besar kita character building. Oleh sebab itu saya sebut revolusi mental," ujarnya di luar pagar rumah dinas, Jalan Taman Surapati 7 Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (26/4/2014). Ungkapan ini menunjukan begitu seriusnya perhatian Jokowi terhadap Revolusi Mental. Lebih khusus lagi beliau mengaitkan ini dengan pembangunan karakter. Persoalan besar bangsa kita adalah masalah integritas, peran karakter sangat penting dalam menentukan integritas seseorang.

Selanjutnya Jokowi pun mengatakan, bahwa seorang pemimpin bukan hanya menjalankan proyek-proyek pembangunan fisik semata, melainkan mampu membangun pola pikir sekaligus karakter positif di masyarakat. Dalam konteks ini  Jokowi mengaitkan antara pola pikir dan karakter positif. Dalam logika ini pola pikir yang baik akan membentuk karakter yang baik. Atau secara timbal balik dapat pula kita katakan bahwa karakter yang baik akan membuat orang berpikir secara baik.
Pada era Bung Karno kita tahu persis bahwa Bapak Bangsa tersebut sangat menekankan pembangunan karakter sebagai bagian penting dari Nation Building. Setelah era Bung Karno tampaknya character building ini sedikit terabaikan. Empat puluh tahun terakhir kita selalu mendewa-dewakan pembangunan ekonomi. Kapital dan material menjado hal penting. Sukma, moral dan spiritual tampak dikalahkan, takluk pada magis kebendaan dan keduiaan. Dalam kaitan ini Jokowi mengatakan, percuma pembangunan fisik tanpa membangun pola pikir masyarakat. Masyarakat bisa hanya menjadi 'follower'.
Secara tegas Jokowi pun mengatakan "Kalau pemimpinnya bisa memberikan contoh, bisa menginspirasi supaya rakyat itu jangan terdorong untuk tidak pesimis. Itulah yang akan saya mulai kali ini," ujar mantan Wali Kota Surakarta.
Jokowi sangat percaya peran pemimpin penting untuk membangun karakter positif bangsanya. Pemimpin yang mampu mengubah masyarakatnya menjadi positif, lanjut Jokowi, tak hadir pada pemimpin yang menggunakan cara-cara menyindir, menjelek-jelekan. Menurut Jokowi, pemimpin semacam itu tidak bakal memberikan harapan bagi masyarakat.

Jokowi pun mengumpamakan “Ibarat perangkat elektronik,, revolusi mental bagaikan piranti lunak yang menjadi otak seluruh pranti kerasnya. "Dulu Bung Karno itu membangun jiwa dulu," ucap Jokowi. Ya, Bung Karno telah membangun jiwa, tetapi dengan berjalannya waktu dan himpitan yang kuat dari materialisme, masalah moral dan karakter tampak semakin ditinggalkan. Sangat tepat jika Jokowi mengedepankan lagi character building melalui yang ia sebut Revolusi Mental.
Sebagai sebuah gagasan, Revolusi Mental harus dibumikan lebih lanjut, tidak tinggal diawang-awang dan menjadi sesuatu yang abstrak. Revolusi Mental hendaknya tidak hanya diam pada level pemikiran, wacana atau suatu konsep saja.

Bagaimana cara membumikan Revolusi Mental, beberapa cara dapat dilakukan sebagai berikut :
1.      Membuat definisi operasional dari revolusi mental.
2.      Menentukan variable revolusi mental
3.      Menyusun kisi-kisi revolusi mental
4.      Menetapkan perilaku kunci revolusi mental
5.      Memutuskan pedoman perilaku revolusi mental.
(Bersambung)

Rabu, 11 Desember 2013

TEHNIK WAWANCARA MENCARI KARYAWAN UNGGUL

Pada tanggal 5 Desember 2013 penulis diminta menjadi pembicara dalam HR Expo 2013 yang merupakan rangkaian dari The 8th Indonesia HR Conference & Exhibiton dengan tema “Leveraging Employee Passions & Skills as Strategy in Maximizing Business Outcomes” yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center. Kegiatan ini sendiri berlangsung 2 hari pada tanggal 4 dan 5 Desember 2013.
 
 Penulis sendiri diminta membawakan materi dengan judul “Interview Techniques for Hiring High Achievers Candidate.” Mencari orang-orang terbaik untuk dapat bergabung dengan perusahaan dan kemudian orang tersebut memberikan kontribusi yang maksimal merupakan harapan dari seluruh pengelola HR atau manajemen. Dalam proses pencarian ini, banyak tehnik yang digunakan mulai dari mempelajari riwayat hidup, referral system, melakukan serangkain tes seperti written test, psikotes, work sample tes, assessment center dan berbagai metoda lainnya. Namun, interview atau wawancara merupakan suatu sesi terpenting untung mengetahui banyak hal dari calon, seperti latar belakang, minat, motivasi, dan aspek personal appearance lainnya.

People atau SDM merupakan faktor terpenting dalam menentukan suksesnya sebuah perusahaan. Sehingga Jack Welch, ex CEO General Electric yang terkenal  sampai mengungkapkan :
If we don’t get the people thing right, we lose; it is the most important thing in all our businesses.” Begitu pentingnya nilai orang sehingga saat memilih kita pun harus melakukannya dengan cermat.

Disamping menemukan orang-orang terbaik, maka kehilangan orang terbaik pun akan memberikan dampak yang fatal bagi perusahaan, sebagaimana yang disebut oleh Bill Gates, pendiri Microsoft sebagai berikut : Take away our 20 most important people and I tell you we would become an unimportant company.”

Menemukan orang-orang terbaik yang nantinya akan dapat berprestasi tinggi dan kemudian mampu bertahan di perusahaan merupakan tugas penting BoD, Manajemen dan HR Departement. Tanggung jawab tertinggi ada di BoD karena merekalah yang sangat mengerti visi perusahaan dan akan mau dibawa kemana perusahaan tersebut sehingga mereka harus peduli dengan proses rekrutmen para high achievers. Demikian pula dengan seluruh lini manajemen harus peduli dan mendukung proses pencarian tersebut. Sedangkan HR departemen menjadi pengelola yang mengorganisasikan kegiatan rekrutmennya.

Pada kesempatan ini penulis akan mencoba berbagi tentang bagaimana memanfaat tehnik interview untuk mencari para kandidat terbaik yang nantinya mampu berkontribusi bagi perusahaan. Materi ini penulis sampaikan juga dalam kegiatan HR Expo 2013 tersebut.

Interview sendiri memiliki banyak pengertian, tiga diantaranya adalah :

  1. (a) A dialogue initiated by one or more persons to gather information and evaluate the qualifications of an applicant for employment. (b) Situation in which potential employees are asked questions about their work and personal experiences, skills, and career plans .(Raymond A.Noe, cs, 2003).
  2. The interview is used to solicit additional information & obtain clarification of information from the application & his or her resume. (Alpha, 2001).
  3. Interview Simulations is a situational exercise in which the participant talks one-on-one with playing the role of a subordinate, colleague, or customer. (George C. Thornton, 1992).
Dalam berbagai pengertian tersebut intinya interview merupakan suatu sesi yang mempertemukan 2 orang atau lebih untuk saling menggali dan bertukar informasi untuk suatu tujuan tertentu. Ini adalah suatu kegiatan yang melibatkan suatu proses komunikasi yang intens.

Dalam konteks pekerjaan sering disebut dengan Job Interview, yang memiliki tujuan sebabagai berikut :
            1.        Untuk mengetahui latar belakang dan kepribadian calon.
            2.         Untuk mengetahui minat, motivasi dan harapan calon.
       3.       Untuk memperoleh informasi lebih lanjut tentang apa yang sudah disampaikan dalam riwayat hidup.
       4.       Untuk mendapatkan gambaran tentang keterampilan dan kemampuan calon.
       5.       Untuk melihat kesesuaian calon dengan kriteria dan tuntutan pekerjaan.

 Berbagai cara digunakan dalam proses interview tersebut. Namun, berdasarkan pengalaman penulis setidaknya untuk mencari seorang high achiever dalam proses interview disamping lima tujuan diatas, maka seorang pewawancara harus mendapatkan gambaran yang jelas saat mewawancara terhadap 6 hal berikut ini :
           1.       Potensi calon
       2.      Kompetensi calon
       3.      Performansi calon selama ini
       4.      Reputasi calon
       5.      Ekspektasi calon apakah memenuhi ekspektasi perusahaan
       6.      Proyeksi terhadap kontribusi calon bagi perusahaan.

Potensi calon bisa dilacak dari pengalamannya selama ini, pendidikan yang pernah diikuti dan bagaimana hasilnya, demikian juga terhadap pelatihan proses pengayaan lainnya yang pernah diperoleh calon. Kompetensi melihat bagaiamana sikap, pengetahuan dan keahliannya bila dibandikan dengan orang lain, apakah ia unggul, rata-rata saja bahkan kurang kompetitif dibandingkan orang lain. Performansi melihat bagaimana prestasi dan kesuksesannya selama ini, apakah ia pribadi yang pernah sukses, pernah menorehkan suatu prestasi atau keberhasilan tertentu yang nantinya dapat menunjang kinerjanya jika bergabung diperusahaan kita.
Reputasi juga penting karena reputasi menggambarkan bagaimana penilaian orang selama ini terhadap yang bersangkutan, seorang high achiever biasanya memiliki reputasi yang baik. Selanjutnya ekspektasi, bagaiman ekpektasi calon terhadap perusahaan demikian pula sebaliknya, jika sesuai dan saling mendukung akan memberikan nilai yang positif.

Terakhir yang juga sangat penting adalah proyeksi. Berdasarkan kelima hal sebelumnya kita sebagai interviewer dapat memproyeksikan apakah calon tersebut seorang yang handa dan menampilkan diri sebagai calon yang high achiever. Proyeksi ini merupakan dasar kita untuk menentukan apakah calon layak diterima atau tidak.
Sebagai penutup, perlu pula kita membuat suatu perbandingan, yang penulis sebut  sebagai tehnik “Self Comparison” yaitu membandingkan diri kandidat dalam tiga hal, yaitu :

1.      Self vs Others
       2.      Past vs Present vs Future
      3.      Expectation vs Realization

Pertama, kita membanding calon dengan calon lain atau orang lain pada umumnya, apakah ia lebih unggul, biasa saja atau bahkan dibawah rata-rata. Tentunya untuk high achiever kita harus mengambil mereka yang unggul.
Kedua, kita dapat membandingkan antara profil masa lalu calon, saat ini dan perkiraan kedepan. Apakah calon orang yang bertipe growth, stagnan atau bahkan dalam performa yang semakin menurun. Untuk high achiever pilihan kita adalah pada calon-calon yang bertipe growth.

 
Ketiga, membandingkan antara harapan calon selama ini dan bagaimana ia merealisasikannya. Apakah ia seorang yang memiliki target yang tinggi, sedang atau bahkan tidak memiliki target sama sekali. Bagaimana ia merealisasikan targetnya, apakah ia seorang yang tangguh dan berjuang keras serta cerdas untuk mewujudkan target-targetnya. Untuk seorang high achiever tentunya kita memilih mereka yang memiliki target tinggi dan memiliki kemampuan untuk meraihnya dengan bekerja keras dan cerdas serta tangguh dalam menhadapi tantangan.

Selasa, 10 Desember 2013

POSITIVE PSYCHOLOGY & HAPPINESS


Positive Psychology (PP) adalah suatu cabang keilmuan yang relative baru dari psikologi. PP dikembangkan oleh Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi pada tahun 1998. PP dalam aplikasinya menerapkan teori-teori psikologi , menggunakan tehnik dan pendekatan yang mengutamakan hal-hal positif dari individu, kreativitas dan keselarasan emosional.
Linley dan Joseph, 2004 menyebutkan : Positive Psychology is a strength based psychology that works to promote optimal functional across the full range of human functioning, from disorder and distress to health and fulfillment. Sedangkan Gable and Haidt, 2005, menyebutan Positive Psychology is the science of optimal functioning.

Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi menggambarkan positive psychology sebagai suatu cara kita untuk meyakini adanya hal-hal positif dalam diri manusia dan hal tersebut dapat dianalisa melalui pendekatan ilmiah dan kemudian dimanfaatkan untuk mencapai kehidupan mental yang lebih sehat bagi individu, keluarga dan masyarakat. Sebagai cabang baru dalam psikologi, aplikasi psikologi positif dapat menawarkan suatu cara bagai orang dapat merasa hidup lebih baik dan lebih bahagia. Jika cabang keilmuan psikologi lainnya fokus pada masalah disfungsi dan perilaku abnormal maka psikologi positif menekankan pada upaya untuk menolong orang lain lebih bahagia.
Beberapa ilmuwan terkemuka yang cukup berperan dalam pengembangan psikologi positif adalah :
  • Martin Seligman
  • Mihaly Csikszentmihalyi
  • Christopher Peterson
  • Carol Dweck
  • Daniel Gilbert
  • Kennon Sheldon
  • C. R. Snyder
  • Abraham Maslow
  • Carl Rogers
  • Erich Fromm
Tiga yang terakhir yaitu Abraham Maslow, Carl Rogers, Erich Fromm mengembangkan suatu teori dan praktik yang berkaitan dengan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Intinya psikologi positif mendukung teori-teori humanistik dan kesejahteraan, namun dalam perkembangannya psikologi positif muncul dalam bentuk-bentuk implementasi yang baru.

Jika menilik sejarah perkembangannya, psikologi positif saat dikenalkan oleh Martin Seligman pada tahun 1998 diakui sebagai cabang baru dari ilmu psikologi, dimana Seligman juga dianggap sebagai Bapak gerakan psikologi positif modern. Namun, akar dari psikologi positif ini pada awalnya dikaitkan dengan Maslow yang pada tahun 1954 menerbitkan buku Motivation and Personality dan sekaligus mempertegas bahwa sejak tahun 1950-an para psikologtelah mengenalkan suatu konsep kesehatan mental.
Dalam bukunya yang berjudul Authentic Happiness, Seligman mengatakan bahwa selama setengah abad terakhir psikologi hanya digunakan untuk satu topik saja yaitu untuk gangguan mental. Sudah tiba saatnya sekarang psikologi juga difokuskan untuk hal-hal lebih positif yaitu kebahagiaan. Jadi psikologi tidak sekedar menangani masalah gangguan mental tapi juga bagaimana cara mencapai kebahagiaan. 

Dalam konteks ini, beberapa topik utama dalam psikologi positif meliputi hal-hal sebagai berikut : 

Beberapa temuan yang didapat dari penelitian psikologi positif menunjukan bahwa :

  1. Orang pada umumnya memiliki potensi untuk bahagia.
  2. Uang bukan hal penting untuk mencapai “rasa-bahagia”, tetapi memberikan uang kepada orang lain dengan niat menolong dan sukarela dapat menimbulkan kebahagian bagi seseorang.
  3. Kemampuan untuk mengatasi kekecewaan dan kegagalan ditentukan oleh hubungan sosial yang kuat dan karakter yang tangguh.
  4. Pekerjaan adalah hal penting untuk membuat seseorang merasa bahagia terutama jika pekerjaan tersebut disukainya dan bermakna bagi dirinya.
  5. Meskipun genetik berpengaruh terhadap rasa bahagia, namun orang dapat belajar untuk menjadi bahagia dengan cara mengembangkan sikap optimis, bersyukur dan menghargai orang lain.
Berpikir positif merupakan suatu aspek penting dalam psikologi positif. Membiasakan cara hidup yang baik akan membuat seseorang bisa lebih bahagia. Namun tidak jarang kita terjebak dalam cara berpikir negatif sehingga ini menjadi potensi untuk menciptakan ketidakbahagiaan. Mempersepsikan diri negatif akan membangun citra diri negatif dan pada gilirannya hal ini menghambat pikiran-pikiran positif. Orang yang berpikir negatif cenderung merendahkan dirinya, meskipun ia tidak melakukan kesalahan apa-apa. Mereka merasa tidak aman, tidak nyaman dan menjadi lambat dalam bertindak. Orang-orang seperti sangat rentan terjebak dalam kondisi stress.

Untuk bisa bahagia dengan menggunakan psikologi positif maka harus dihindari cara-cara berpikir negatif yang dapat merusak kebahagiaan. Orang-orang yang berpikir negatif umumnya memiliki 4 pola berpikir , yaitu :
1.    Filtering
2.    Personalizing
3.    Catastrophizing
4.    Polarizing
Filtering adalah pola pikir dimana seseorang sudah mengkondisikan dirinya secara negatif dan menolak hal-hal positif yang ada. Personalizing yaitu seseorang yang dengan mudah melabelkan dirinya dengan hal-hal negatif, seperti membawa sial, sehingga sesuatu yang negatif selalu dikaitkan dengan dirinya atau diri seseorang. Catastropizing adalah cara berpikir antisipatif terhadap hal negatif sehingga ia pun mempersiapkan reaksi perilaku negatif dan pada saat terjadi suatu hal yang negatif ia pun melakukan pembenaran dengan mengatakan bahwa hal tersebut sudah ia perkirakan. Polarizing adalah suatu cara berpikir hitam putih, melihat sesuatu secara ekstrim berseberangan. Orang-orang seperti ini kelihatan seperti ingin sempurna, namun begitu ada kesalahan sedikit langsung dijadikan pembenaran bahwa ia memang seseorang yang tidak mampu melkukan sesuatu secara lebih baik dan menganggap dirinya negatif.
 
Untuk mencapai kebahagiaan tentunya cara berpikir negatif tersebut harus dihilangkan dan munculkan cara berpikir positif. Dalam psikologi positif hal tersebut dapat dibangun dengan mengembangkan :

1.    Growth-mindset, bukan fixed mindset.

2.    Solution-focused, bukan problem focused.

3.    Strengh-based, bukan weakness based.