Jumat, 29 Mei 2009

MENYUSURI JALAN KEDAMAIAN

Apa yang terlintas dibenak kita saat menyaksikan mayat Pemimpin Tamil Elam (LTTE) Velupillai Prabakharan terbujur kaku dikelilingi oleh Tentara Pemerintah Srilanka? Oleh Pemerintah Srilanka ia dianggap sebagai pemimpin teroris, pengacau negara. Namun, bagi sebagian besar orang Tamil ia dianggap sebagai pahlawan. Dimanakah letak batas antara pahlawan, teoris maupun pengkhianat? Secara praktis “kepentingan,” ya kepentingan itulah batasnya. Tetapi secara filosofis kemanusiaan-lah yang menjadi batasnya.

Bagaimana kita melihat saat Pangeran Paris dari Troy yang merebut Puteri Cantik Helena dari Athena? Atas nama cinta setelah itu terjadi perang yang hebat, membunuh-matikan ribuan prajurit dan rakyat. Diantaranya muncullah pahlawan Archilles dan Hector. Archilles yang merasakan takdir kehidupannya adalah untuk menaklukkan dan membunuh, tidak peduli dengan kepentingan kekuasaan, ambisinya adalah tercatat dalam sejarah sebagai singa pengaum kematian. Saat menjelang duel, Hector menawarkan aturan main pertarungan mereka, Archilles menafikan tidak pernah ada sejarah perjanjian antara manusia dengan singa, ya dia mengatakan dirinya sebagai singa yang tugasnya membunuh dan menaklukkan.

Akan halnya Hector pewaris Kerajaan Troy, seorang satria sejati yang menempuh jalan kematian secara jantan. Hector sangat mengetahui kedigjayaan Archilles dan ia bisa menghindari pertarungan dengan Archilles untuh mencari keselamatan, sesuai dengan anjuran istri Hector, sambil menimang bayi mereka ia penuh harap agar Hector menghindari pertarungan karena telah mengetahui tidak satu manusia pun yang dapat menaklukkan Singa Archilles. Tapi Hector adalah Ksatria Sejati yang bukan bertipe pengecut dan mengharamkan sikap untuk melarikan diri. Ia menerima tantangan Archilles, seorang singa yang tidak pernah terkalahkan, Hector menempuh jalan kematiannya dengan sikap Satria. Namun, kedua ksatria ini mengakhiri pertarungannya dengan sisi kemanusiaannya masing-masing. Mereka tercatat sebagai pahlawan untuk kelompoknya masing-masing.

Masih cukup banyak kisah pertempuran, pertarungan dan pertumpahan darah terjadi dijagad ini. Sejak Nabi Adam, yang dimulai oleh pembunuhan yang dilakukan putra Adam yaitu Qabil yang membunuh saudaranya Habil. Tidak salah di dalam kitab suci tersebut bahwa Malaikat mempertanyakan penciptaan makhluk manusia, sebagai makhluk yang senantiasa menumpahkan darah. Sejarah cinta, harta dan kekuasaan seringkali dipenuhi oleh pertumpahan darah. Semuanya dibungkus dengan semangat untuk membela harga diri, kepentingan, kekuasaan dan sekaligus syahwat.

Menyusuri jalan kedamaian merupakan antitesa dari dari jalan perusakan, jalan yang sekaligus mewartakan misi kemanusiaan untuk menaburkan rahmat bagi seantero alam. Menyusuri jalan kedamaian tiada lain adalah menyusuri jalan yang berbeda dengan egoisme, keserakahan dan penaklukan.

Menyusuri jalan kedamaian dimulai dengan hati yang damai. Pertama-tama kita harus berdamai dengan diri kita sendiri. Kita harus menolak benih kesekarahan yang ada dalam diri. Menolak keangkuhan dalam diri dan menolak sikap dengki dalam diri. Melihat hidup kita sebagai bagian kehidupan yang lebih luas. Apabila kita merusak kehidupan siapapun otomatis kita merusak kehidupan kita sendiri. Senandung kedamaian tersebut harus kita dendangkan terus didalam diri.

Filosofi Tat Twan Asi patut dijadikan pedoman, bahwa kehidupan kita adalah bagian dari kehidupan yang lainnya, demikian juga sebaliknya. Merusak kehidupan yang lain berarti merusak kehidupan diri kita sendiri.

Jadi, menyusuri jalan kedamaian bermula dari diri sendiri dan berakhir pula pada diri sendiri. Rangkaian perjalann ang ditempuh marupakan manifestasi dari apa yang sudah ditanamkan dalam diri dan ditentukan oleh orientasi akhir yang ingin dituju. Jika sikap damai sudah mengawali (ada dalam diri), dan orientasi adalah engakhiri hidup secara baik (husnul khotimah) maka perjalanan hdup pun menjadi perjalanan yang bermanfaat bagi kehidupan sekaligus bermanfaat bagi orang lain.

Apa yang terjadi pada Qabil, Habil, Velupillai Prabhakaran, Archilles, Hector dan ribuan, jutaan maupun milyaran manusia lainnya, baik mereka yang disebut pahlawan, pemberontak, pengkhianat maupun teroris, adalah suatu proses kehidupan yang senantiasa diwarnai oleh tesa dan antitesa terhadap kedamaian.

Tidak ada komentar: