Sabtu, 23 Mei 2009

PSIKOLOGI INTELIJEN DALAM KAMPANYE PILPRES

Dalam waktu tidak beberapa lama kagi kampanye dalam rangka pemilihan presiden akan berlangsung. Tentu tim sukses para calon telah menyiapkan berbagai kiat untuk menyukseskan kampanye calon presiden masing-masing. Berbagai ahli dengan berbagai kompetensi dimanfaatkan secara optimal agar calon usungannya meraih kemenangan. Termasuk dalam hal ini menggunakan mereka yang memiliki latar belakang kemiliteran, terutama para Jenderal Purnawirawan. Tentunya pengalaman mereka saat bertugas dan kompetensi kemiliteran mereka akan sangat bermanfaat untuk menunjang tim sukses para calon.

Dalam suatu harian nasional hari ini muncul suatu tulisan berjudul ‘Operasi Senyap Diantisipasi.” Tulisan tersebut menyebutkan bahwa tim kampanye calon presiden libatkan pensiunan jenderal. Selain merupakan pertempuran para calon presiden dan calon wakil presiden, Pemilu Presiden 2009 juga merupakan pertarungan antar tim sukses. Perang intelijen pun tak bisa dielakkan akan terjadi.

Pemanfaatan intelijen dalam setiap operasi terutama operasi militer merupakan hal mutlak. Bahkan Sun Tzu seorang ahli strategi perang dari Tiongkok menyebutkan bahwa setengah keberhasilan dari suatu peperangan ditentukan oleh kesuksesan dari operasi intelijen. Operasi intelijen dapat disebut pula sebagai operasi senyap, sebagaimana harian tersebut menyebutkannya.

Jika intelijen memiliki peran penting dalam suatu operasi atau kegiatan, maka psikologi memainkan peran yang penting dalam kegiatan intelijen. Psikologi adalah suatu ilmu yang memfokuskan perhatiannya terhadap perilaku dan proses mental. Intelijen sendiri adalah suatu proses mengumpulkan, memproses dan menganalisas informasi, mempengaruhi mental lawan dan membangun opini yang dilakukan secara senyap. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut peran psikologi sangatlah penting. Seorang pemerhati intelijen menyebutkan bahwa pada dasarnya analisis intelijen adalah proses psikologis manusia, lebih tepatnya adalah psikologi kognitif.

Intelijen dan proses mental sangat berkaitan erat. Richards J. Heuer, Jr., yang pernah bekerja di Direktoran Intelijen CIA dalam bukunya Psikologi Intelijen menyebutkan :

“Dalam analisis intelijen, masalah yang inheren dengan proses mental manusia sebenarnya berada diantara masalah yang paling penting dan sulit untuk dihadapi. Analisis intelijen pada dasarnya merupakan sebuah proses mental (psikologis), untuk diperlukan pemahaman terhadap cara kerja pikiran kita maupun orang lain.”Dalam konteks kampanye, psikologi intelijen dapat berperan untuk :

1. Memahami cara berpikir kita dan cara berpikir kompetitor.
2. Memahami bagaimana pikiran Kompetitor terhadap diri kita.
3. Memahami cara berpikir pemilih.

(ketiga hal diatas dilakukan dalam rangkaian mengumpulkan informasi, memproses dan menganalisa)

4. Mempengaruhi mental kompetitor agar sejalan dengan pemikiran kita.
5. Mempengaruhi mental pemilih agar memberikan dukungan.
6. Membangun opini.
7. Memperkuat posisi terhadap kompetitor.
8. Memberikan landasan yang kuat terhadap program pemenangan.

Ukuran keberhasilan dari operasi intelijen yang memanfaatkan pendekatan psikologis terlihat setidaknya dari tiga hal, yaitu :

1. Meraih kemenangan dengan upaya yang minimal dan pengorbanan yang minimal.
2. Meraih kemenangan tanpa menghancurkan pihak lawan.
3. Bergabungnya semua atau sebagian besar unsur lawan ke pihak kita.

Sun Tzu mengatakan :

”Meraih 100 kemenangan dalam 100 pertempuran bukanlah puncak keterampilan, menaklukan musuh tanpa menghancurkanlah merupakan kesempurnaan tertinggi.”

Tidak ada komentar: