Minggu, 28 Februari 2010

KEMAMPUAN ADAPTASI, ADJUSTMENT PEMIMPIN DAN EKSISNYA SEBUAH BANGSA (KASUS BANGSA KHAZAR)

Tulisan ini dibuat terinspirasi dari sebuah artikel di Harian Kompas Minggu 28 Februari 2010 tentang Bangsa yang Hilang. Dalam tulisan itu disebut Prof. Milorad Pavic. Profesor sejarah kesusastraan Universitas Beograd dan juga seorang penyair kenamaan Yugoslavia, menghadirkan kembali sebuah ingatan tentang hilangnya sebuah bangsa yang besar, yaitu bangsa Khazar. Ia melakukan berbagai penelitian dengan merujuk berbagai sumber tentang perseteruan dan konflik yang menimpa bangsa tersebut. Tulisan beliau berbaur dengan kisah fiksi dan terangkai dalam format sebuah novel, namun tetap mampu menampilkan sebuah kisah yang berangkat dari fakta sejarah tentang hilangnya sebuah bangsa yang pernah memiliki sejarah yang gemilang. Tulisan ini memberikan gambaran bagaimana pentingnya kemampuan adaptasi dan adjustment pemimpin untuk mempertahankan eksistensi sebuah bangsa.

Jika kita menilik sejarah berbagai bangsa besar dunia katakanlah Mesir Kuno, Romawi, India, China maupun kerajaan besar yang ada di Suku Indian sebagian besar musnah bukan karena agresi pihak luar, tetapi kemusnahan mereka lebih karena konflik dan perseteruan yang terjadi di internal mereka sendiri dan juga ditandai oleh kemampuan yang lemah dalam menyesuaikan diri terhadap perkembangan jaman, lemahnya kemampuan mereka untuk beradaptasi dan yang terpenting rendahnya kemampuan adjustment para pemimpin mereka.

Sekilas gambaran tentang bangsa Khazar, dalam bahasa Turki Kuno Khazar berarti pengembara. Pada abad ke-7 mereka mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Khaganat, sebuah kerajaan yang mandiri di Kaukasus Utara disepanjang Laut Kaspia. Pada masa kejayaan mereka menguasai sampai dengan Rusia Selatan, Kazakhstan, Ukraina dan sebagian besar Kaukasus seperti Dagestan, Azerbaijan dan Georgia serta daerah Krim. Catatan sejarah menyebutkan bahwa Bangsa Khazar pernah bersekutu dengan Bizantium untuk memerangi Bangsa Arab pada tahun 627 M. Keruntuhan Khazar selain dari berbagai konflik dan perseteruan internal, juga munculnya kerpercayaan/agama baru yang berkembang di masyarakat mereka yang kemudian tidak mampu diantisipasi oleh penguasa Khazar. Penguasa Khazar tidak mampu melakukan adjustment dan beradaptasi dengan perkembangan baru, bertindak konservatif dengan mempertahankan nilai-nilai lama yang tidak relevan. Gong kejatuhan Khazar ditandai dengan penaklukan oleh seorang Panglima Perang Rusia pada abad 10, yaitu Pangeran Svyatoslav, yang disebutkan menelan Imperium Khazar layaknya melahap sebuah apel tanpa perlu turun dari kudanya. Namun sesungguhnya, tindakan Pangeran Rusia ini dilakukan saat Imperium Khazar dalam keadaan lemah, tanpa daya oleh konflik internal dan lemahnya kemampuan adjustment para pemimpin mereka.

Beberapa bangsa yang senasib dengan Khazar memperlihatkan hal yang sama, pemimpin yang rendah daya adjustment dan kelemahan mereka beradaptasi sehingga membuat diri mereka runtuh, seperti Inca (1438-1533) di Peru, Aztek di Meksiko sekitar abad 12. Hal ini terjadi juga pada bangsa Mohenjodaro, Harappa dan Arya yang hidup di lembah Sungai Hindus Pakistan pada tahun 2000-1000 SM. Termasuk juga disini kerajaan-kerajaan besar di nusantara dimasa lalu seperti Sriwijaya, Majapahit, Aceh, Goa, Demak. Keruntuhan kerajaan tersebut selain karena konflik, perseteruan internal, lemahnya kemampuan adaptasi, banyaknya bencana alam dan lemahnya daya adjustment para pemimpin mereka.

Terkait dengan kemampuan adjustmen, adaptasi dan bertahannya (survive) sebuah komunitas, kita teringat dengan Teori Evolusi dari Charles Darwin yang menyebutkan bukanlah yang paling kuat yang akan mampu bertahan, tetapi mereka yang memiliki kemampuan adaptasi yang baiklah yang akan mampu bertahan. Dalam bahasa Teori Evolusi disebukan adaptasi sebagai “any structural or behavioural change that has survival value.”

Teori evolusi menyebutkan bahwa adaptasi sangat terkait dengan kemampuan untuk merubah struktural atau perilaku agar mampu untuk bertahan. Jatuhnya Khazar atau kerajaan maupun bangsa besar lainnya jelas karena ketidamampuan mereka untuk merubah struktur dan perilakunya dalam mengikuti perkembangan yang ada.

Arthur S. Reber dan Emily S. Reber mengatakan bahwa kemampuan adaptasi ini sebagai “a shift in sociological or cultural disposition. Thus, one is said to adapt to new environment.” Dalam pemahaman Reber jelas disebutkan bahwa adaptasi adalah kemampuan yang berkaitan dengan penyesuaian secara sosial maupun budaya terhadap perubahan lingkungan (lingkungan baru).

Runtuhnya berbagai kerajaan dan bangsa besar tersebut disebabkan secara sosial maupun budaya mereka tidak mau berubah, padahal di lingkungan telah terjadi perubahan yang massif. Mereka bertahan dengan nilai-nilai lamanya yang telah kuno dan usang dengan perkembangan jaman. Secara sosial-budaya pula mereka menghancurkan dirinya sendiri. Jika pun ada penakluk eksternal, mereka hanya melakukan penaklukan secara mudah, sebagaimana dilakukan Pangeran Svyatoslav dari Rusia yang menaklukan Bangsa Khazar dengan perumpamaan bagaikan melahap sebuah apel tanpa perlu turun dari kudanya.

Pemahaman tentang adaptasi secara spesifik dapat kita kutip dari pendapat seorang sosiolog, yaitu Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H, M.A., yang menyebutkan pengertian adaptasi sebagai berikut :

1. Proses mengatasi halangan-halangan dari lingkungan.
2. Memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk kepentingan lingkungan dan sistem.
3. Proses perubahan untuk menyesuaikan dengan situasi yang berubah.
4. Penyeseuaian dari kelompok terhadap lingkungan.
5. Penyesuaian pribadi terhadap lingkungan.
6. Penyesuaian biologis atau budaya sebagai hasil seleksi alamiah.

Menurut Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H, M.A adaptasi terkait erat dengan adjustment yang lebih kearah upaya untuk menyepadankan antara kondisi internal dengan eksternal. Prof. Soerjono menyebutkan pengertian adjustment sebagai berikut :

1. Mengubah agar sesuai dengan kondisi yang diciptakan.
2. Perubahan dalam suatu sistem sebagai tanggapan terjadinya perubahan lain dalam sistem yang sama.
3. Penyesuaian individual terhadap lingkungan sosial.
4. Penyesuaian individual untuk menyalurkan ketegangan.
5. Penyesuaian individual terhadap norma-norma yang ada.

Jika adaptasi lebih cenderung pada kemampuan sosial kelompok maka adjustment lebih condong pada kemampuan penyesuaian indvidual. Dalam sebuah masyarakat, adjustment terkait dengan kemampuan pemimpinnya. Kegagalan adjusment pemimpin pada kelompok akan mempengaruhi pula daya adaptasi kelompok tersebut terhadap perubahan lingkungan.

Menilik sejarah bangsa-bangsa dan kerajaan besar yang runtuh tersebuh tidak berlebihan jika kita mengatakan akibat lemahnya daya adaptasi bangsa tersebut dan terutama pula disebabkan oleh rendahnya kemampuan adjustmen para pemimpin mereka.

Bukankah sebuah bangsa yang besar juga karena ada pemimpin yang besar, demikian pula sebaliknya bangsa yang runtuh disebabkan pula oleh ketidakberdayaan pemimpin-pemimpin mereka. Pemimpin yang rendah daya adjustment akan menumpulkan kemampuan adaptasi masyarakatnya dan menjadi sumber malapetaka kehancuran sebuah bangsa.

Mudah-mudahan pemimpin seperti itu tidak ada disekitar kita.

Tidak ada komentar: