Sabtu, 20 Februari 2010

PEMIMPIN PARANOID

Pada blog ini sebelumnya penulis telah mengulas masalah yang terkait dengan paranoia atau paranoid. Mulai dari pengertian, sebab-sebabnya sampai dengan penanganannya. Namun, disamping individu paranoid cukup menarik pula untuk membahas tentang pemimpin paranoid. Sesungguhnya sejak jaman dahulu kala selain pemimpin megalomania (pernah pula dibahas diblog ini), pemimpin paranoid sering pula ditemukan.

Pemimpin paranoid ini awalnya adalah orang biasa seperti kebanyakan kita namun memiliki kepercayaan diri yang kuat, memiliki sumber-sumber untuk meraih kekuasaan dan memiliki akses untuk menduduki posisi tampuk kepemimpinan. Saat berkuasa dan kekuasaan mereka semakin menguat muncul sejumlah fenomena yang berkaitan dengan permasalahan psikologis, selain megalomania muncul pula gejala paranoid.

Kita menyaksikan banyak perang-perang besar terjadi karena perilaku keliru dari pemimpin termasuk perilaku paranoid. Bahkan sampai dengan era George W. Bush Jr pemimpin paranoid pun ada. Bukankah perilaku Bush sendiri menggambarkan tingkat paranoid yang parah? Dengan korban ribuan orang tidak berdosa menjadi contoh dampak negatif perilaku seorang pemimpin paranoid.

Pemimpin paranoid pada dasarnya adalah pemimpin yang memiliki kepribadian yang ditandai adanya sikap penuh curiga, sangat sensitif dan merasa diri selalu terancam. Ia merasa gerakan apapun dengan penuh curiga, seolah-olah semua orang tidak menyukai dirinya. Pemimpin seperti ini sangat sensitif untuk bereaksi terhadap hal apapun yang dianggapnya akan mendelegitimasi kepemimpinannya. Ia merasa kekuasaannya terancam, semua dianggap musuh yang akan menggerogoti dirinya.

Sikap paranoid dari pemimpin akan membuat perilakunya tidak efektif. Bersikap defensif dan selalu mencari kesalahan pihak lain terhadap ketidakmampuan atau kegagalan dirinya. Ketidakmampuan dalam mengelola tugas-tugas kepemimpinannya ditimpakan sebagai kesalahan orang lain, ia merasa dihambat dan selalu merasa diganggu. Sebagian besar energinya hanya digunakan untuk mengatasi rasa kecurigaan sehingga tugas-tugas utama kepemimpinannya tidak terlaksana dengan baik.

Selain bersikap defensif seorang pemimpin paranoid sering pula berperilaku ofensif dengan mengancam, memata-matai dan mencari-cari kesalahan pihak-pihak yang dianggap tidak mendukung kepemimpinannya. Bahkan tidak jarang mereka melakukan cara-cara yang tidak patut untuk mengintimidasi pihak lain. Mereka pun akan berupaya memanfaatkan masa pendukung untuk melakukan aksi-aksi menekan pihak yang berseberangan, bahkan tidak jarang intimidasi dan teror digunakan untuk melumpuhkan upaya-upaya yang dapat menggoyahkan kekuasaannya.

Pemimpin paranoid bagaikan individu paranoid yang merasa diri sendirian, diabaikan, dimata-matai, dan merasa adanya ancaman dari ‘musuh.’ Delusi ini biasanya berpusat pada ketidakmampuan untuk mengatasi berbagai persoalan yang membelit dirinya. Mereka merasa mengalami kegagalan dalam bekerja dan mengembangkan sikap curiga seperti ada orang lain yang cemburu terhadap kekuasaannya sehingga ingin menjatuhkannya.

Pemimpin paranoid biasanya memiliki alasan tertentu mengapa mereka curiga dan tidak mau menerima alasan lain yang sebenarnya lebih benar. Karena sikap curiga tersebut dan dengan memanfaatkan kekuasaannya, ia dapat melakukan interogasi terhadap mereka yang dianggap musuh.

Pemimpin paranoid tidak jarang memiliki waham dimana ia merasa superior dan memiliki kemampuan yang unik. Terkadang mereka merasa mendapat mandat yang kuat untuk menjalankan kekuasaanya, sehingga ia dapat berbuat sekehendak hati dengan alasan banyak yang mendukung. Mereka pun tidak segan-segan memanipulasi dukungan untuk kepentingan memperkukuh kekuasaan.

Meminjam pendekatan paranoia, pemimpin paranoid memiliki tahapan berpikir yang membuat dirinya menjadi paranoid dengan cara sebagai berikut :

1. Suspiciousness/Curiga - pemimpin menaruh curiga kepada orang lain, takut digerogoti kekuasaannya dan menjadi sangat siaga.
2. Protective Thinking – mengkaji secara selektif tindakan orang lain dan melihatnya secara curiga dan mulai menyalahkan orang lain atas kegagalan kepemimpinannya.
3. Hostility/permusuhan – sangat sensitif terhadap kritik yang ditujukan terhadap dirinya. Sikap kritis direspon secara marah dan dengan sikap permusuhan. Kondisi ini semakin meningkatkan kecurigaan.
4. Paranoid Illumination / Berkembangnya Paranoid – Dalam menjalankan kekuasaannya sikap penuh curiga sudah menjadi bagian dirinya dan ia merasakan adanya sesuatu yang aneh namun ia ia telah tenggelam dalam situasi kecurigaan tersebut.
5. Perilaku Delusif – merasa dirinya terancam namun dikompensasi dengan waham kebesaran, kemudian ia mengembangkan suatu alasan yang logis dan mengembangkan tindakan-tindakan yang dapat dipahami oleh orang lain untuk mempertahankan dirinya dan menyerang pihak lain.

Sebagaimana paranoia, penyebab pemimpin paranoid dapat disebabkan kegagalan proses belajar terhadap berbagai pengalaman yang dilewati dirinya. Kegagalan dalam merespon dan mengatasi masalah dapat memunculkan sikap inferior yang kemudian dikompensasi dengan sikap superior, merasa diri paling benar, paling berhak. Kemudian pemimpin paranoid mengembangan suatu mekanisme psikologis pertahanan diri dan sering muncul reaksi-reaksi perilaku yang tidak proporsional yang semakin memperkeruh keadaan.

Mudah-mudah pemimpin seperti itu tidak ada di sekitar kita.

1 komentar:

Abdul Malik mengatakan...

Assalamu'alaikum.
Pa boleh dishare?