Rabu, 30 Juli 2008

RANCANGAN QANUN WALI NANGGROE


Pada tanggal 23 Juli 2008 aku diundang oleh DPR Aceh untuk menghadiri acara Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) tentang Rancangan Qanun Wali Nanggroe di Gedung Bulog Jl. Gatot Subroto Jakarta. Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Taman Iskandar Muda (TIM) Jakarta. RDPU dilakukan antara DPR Aceh dengan Tokoh-Tokoh Masyarakat Aceh se-Jawa. Hadir dalam kesempatan itu Ketua DPR Aceh Bpk. Sayed Fuad Zakaria beserta Tim dari DPR Aceh, Bpk. Ibrahim Syamsuddin KBS (Juru Bicara KPA), Dr. Hasballah M. Saad (Mantan Menneg HAM), Bpk. Jenderal (Pur) Bustanil Arifin, Bpk. Letjen (Pur) AR. Ramly, Bpk. Letjen (Pur) Tamlicha Ali, DR. Said Azis, M.Sc., (Ketua Fomaja), T. Safly Didoh (Ketua TIM), Prof.Dr. Ibrahim Abdullah (Utoh Him), Prof. Dr. Hakim Nyak Pha, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya.

Disebutkan dalam rancangan tersebut Wali Nanggroe adalah pemimpin lembaga adat nanggroe yang independen sebagai pemersatu masyarakat, berwibawa dan berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan kehidupan lembaga-lembaga adat, adat istiadat, pemberian gelar kehormatan dan derajat serta upacara-upacara Adat Aceh.

Dalam RDPU tersebut aku memberikan usulan agar Wali Nanggroe harus mengayomi seluruh masyarakat Aceh dan mereka yang mengaku sebagai orang Aceh dimanapun berada. Perlu dipertimbangkan batasan usia jangan diharuskan minimal 50 tahun, lebih baik dibuka saja dan biarkan hal tersebut berlangsung secara alamiah (jangan menjadi sebuah persyaratan administratif). Selain itu prakarsa waktu pelaksanaan pemilihan Wali Nanggroe maksimal 3 (tiga) bulan perlu dipertimbangkan lagi jangka waktunya. Masih banyak usulan lain yang disampaikan dalam forum tersebut dan DPR Aceh tampaknya cukup terbuka untuk mempertimbangkannya. Hal yang terpenting bahwa Lembaga Wali Nanggroe ini harus bermanfaat bagi masyarakat, mampu menjaga kelanggengan perdamaian serta mempromosikan pembangunan dan kesejahteraan untuk seluruh masyarakat Aceh.

Senin, 28 Juli 2008

SURAT UNTUK CALON PRESIDEN

Hamba sampaikan surat ini dengan salam takzim dan penuh kemuliaan
Mudah-mudahan Tuan dalam lindunganNya dan diberi kekuatan dan kemampuan untuk memimpin negeri ini ...

Sudahkah Tuan membulatkan tekad untuk menjadi pemimpin terdepan
Menjadi Presiden dari negara besar dan kaya raya sekaligus carut marut ini
Siapkah Tuan menjadi pemimpin yang melayani atau bahkan bersikap sebagai kaisar yang ingin dilayani ...

Bersediakah Tuan mendengar jeritan rakyat jelata, memikirkan tanpa henti untuk menyejahterakan si miskin atau berpihak pada si fakir dan orang-orang teraniaya ....
Ataukah Tuan ada diantara mereka yang kaya raya apakah itu koruptor atau konglomerat hitam atau komprador asing ...... bersama-sama tuan kapitalis lainnya yang akan menyedot kekayaan bumi pertiwi untuk dipersembahkan kepada serigala-serigala kemunafikan .....

Dimanakah hati Tuan berada?
Dimanakah pikiran Tuan tercurahkan?
Kearah manakah pandangan Tuan tertoleh?
Siapakah yang ada dalam ingatan Tuan?
Manusia-manusia seperti apakah yang ada disekitar Tuan?
Cita-cita seperti apakah yang ada dalam mimpi-mimpi Tuan?

Untuk apakah Tuan menjadi Presiden .....
Kekayaankah yang Tuan cari ?
Kekuasaankah yang Tuan ingin raih?
Kemasyhuran namakah yang Tuan impikan?

Kalau itu yang ada di pikiran Tuan, ada dimanakah rakyat yang menjadi jantung hati negeri ini ??? .............

MEMAHAMI & MENYEHATKAN IKLIM KERJA

Ekesekutif dan manager memiliki peran penting dalam menentukan iklim kerja diorganisasi. Iklim sosial di lingkungan kerja memainkan peran penting dalam menjaga efektivitas organisasi dan mempengaruhi kemampuan adaptasi dalam menghadapi perubahan.Sebagian besar mengakui pentingnya lingkungan kerja tetapi bisa jadi mereka kurang memahami, mengevaluasi bahkan mengubahnya.

Lingkungan kerja dikenal juga sebagai iklim kerja apabila mengacu pada karakteristik sosiopsikologi dari setting pekerjaan. Lingkungan kerja meliputi sikap karyawan dalam melaksanakan tugas dan komunikasi mereka dengan rekan maupun atasannya. Setiap setting pekerjaan mengembangkan gaya dan iklim kerja tertentu, hal ini dipengaruhi oleh bagaimana suatu keputusan dibuat dan menentukan pola-pola interaksi di lingkungan kerja.

Lingkungan kerja ditentukan oleh banyak faktor, meliputi kondisi fisik dan kebijaksanaan organisasidalam setting pekerjaan serta karakteristik perilaku karyawan yang ada. Orang-orang yang memiliki pengalaman luas diberbagai organisasi dapat menjadi observer yang baik dalam mengamati pengaruh dari iklim organisasi. Peneliti, konsultan manajemen dan manager memahami bahwa setiap setting pekerjaan membentuk citra sendiri dan berbeda antara satu dan lainnya. Mereka melihat bagaimana lingkungan bekerja dan berdampak terhadap produktivitas karyawan serta efektivitas kelompok. Beberapa setting pekerjaan mendorong moral dan produktivitas karyawan, memberikan ruang hidup, memunculkan kepuasan dan prestasi dan dasar bagi tumbuhnya harga diri dan identitas personal.Setting pekerjaan yang lain dapat membuat ketidakpuasan dan putus asa, kaku dan kehilangan arah pekerjaan serta membuat perasaan karyawan terisolasi, membuat tekanan dan frustrasi.

Banyak permasalahan SDM yang dihadap oleh manager berkaitan dengan lingkungan kerja. Sebagai contoh stress kerja dan moral rendah sangat terkait dengan tekanan akibat proses interaksi baik sesama karyawan, dengan pelanggan, vendor, klien. Karyawan mengharapkan lingkungan kerja yang kondusif, adanya peluang untuk berkembangnya profesionalitas dilingkungan kerjanya. Manager dihadapkan pada derasnya tuntutan untuk mengambil karyawan baru yang baik disamping memelihara moral karyawan yang lama menjaga tingkat turn over seraya mendorong iklim tumbuhnya inovasi dan produktivitas. Pemahaman yang utuh tentang iklim kerjadapat membantu manager memenuhi berbagai tuntutan yang ada.

Agar lebih bermakna, suatu pengkajian tentang lingkungan kerja harus menyentuh element kunci dari iklim kerja dan bersifat praktis, fokus serta ringkas. Elemen kunci tersebut meliputi tiga kategori utama yaitu :

1. Dimensi relationship, yaitu bagaimana karyawan berhubungan antara satu dengan lainnya dan bagaimana manager berhubungan dengan karyawannya.
2. Dimensi personal growth, yaitu bagaimana lingkungan kerja mendorong pertumbuhan personal.
3. Dimensi system maintenance & change, yaitu adanya sejumlah struktur dan keterbukaan untuk mengubah situasi kerja.

Sabtu, 26 Juli 2008

CATATAN MINGGU INI

Minggu ini jawdwalku cukup padat juga, diwarnai oleh kegiatan pulang pergi Bandung-Jakarta. Pada hari Senin 21 Juli 2008, aku ditugaskan oleh Kantorku ke Universitas Indonesia (UI) di Depok dalam rangka kegiatan Campus Recruitment. Mengawali kegiatan aku memberikan presentasi kesejumlah lulusan baru UI , setelah itu dilanjutkan dengan pengumpulan berkas administrasi dan langsung besok dilakukan sejumlah tes kepada peserta.

Hari Selasa 22 Juli aku mengikuti kegiatan Asia HRD Congress 2008 di Jakarta Convention Center. Setelah Opening & Plenary Session aku bergabung di workshop dengan tema 'Coaching for Executive" yang dipandu oleh Mr. Christ Tranaddy dari Australia. Workshop ini diawali dengan pengantar teoritis dan sharing session, kemudian dilanjutkan dengan role playing yang secara bergantian memainkan peran sebagai coacher-client-observer.

Hari Rabu 23 Juli 2008 aku mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) DPR Aceh dengan Tokoh-Tokoh Masyarakat Aceh se-Jawa di gedung Bulog Jl. Gatot Subroto Jakarta dengan materi pembahasan tentang Qanun Wali Nanggroe. Acara ini dihadiri Ketua DPR Aceh Bpk. Sayed Fuad Zakaria beserta tim DPR Aceh, Tokoh KPA yang juga juru bicara KPA Bpk. Ibrahim Syamsuddin (KBS), tokoh-tokoh Masyarakat Aceh di Jawa seperti Bpk. Bustanil Arifin, Bpk. AR. Ramly, T. Safly Didoh, DR. Said Azis, Hakim Nyak Pha, Bpk. Tamlicha Ali, dsbnya. Tentang Qanun Wali Nanggroe ini akan aku bahas dalam tulisan tersendiri.

Hari Kamis 24 Juli 2008 aku kembali ke Jakarta Convention Center untuk mengikuti acara Asia HRD Exhibition. Hari Jumat 25 Juli 2008 sesuai jadwal seharusnya ke kantor Telkomsel di Wisma Mulia Gatsu Jakarta membicarakan materi HR Summit Telkom Group, namun acara tersebut digeser ke minggu berikutnya. Jumat aku manfaatkan untuk kembali ke Bandung menyelesaikan beberapa tugas yang ada di Bandung. Jumat sore sebenarnya ada rencana berkumpul dengan Alumni SMP 1 Banda Aceh yang ada di Jakarta, namun dengan berat hati aku tidak dapat mengikuti acara tersebut.

Sabtu 26 Juli 2008, aku dan istri mengikuti Reuni Haji Yahdi di rumah Bpk. Haji Endin/Bu Hajjah Sulce di Pondok Mas Cimahi. Lumayan enak juga makan-makannya dan yang terpenting mendapat oleh-oleh cerita dari Iran yang disampaikan oleh Bpk. K.H. Hafiz Usman (yang juga Ketua MUI Jawa Barat). Beliau baru kembali dari kunjungan ke Iran. Beliau menceritakan hal-hal positif dari masyarakat Iran yaitu pekerja keras, sederhana, cerdas, taat pada pemimpin dan memiliki harga diri sebagai bangsa. Iran melaksanakan pembangunan secara cepat dan terarah, namun keimanan dan religiusitas mereka cukup terjaga. Kehidupan Demokrasi di Iran juga berkembang dengan baik dan penegakan hukum berlangsung dengan sungguh-sungguh.

Minggu 27 Juli 2008, rencana pagi-pagi mengantar anak main bola setelah itu menemanin istri jalan-jalan maklum sudah seminggu ditinggal.

Jumat, 25 Juli 2008

EPIDERMOID CARCINOMA CANCER

Epidermoid carcinoma cancer adalah suatu jenis kanker yang terdapat pada bagian bawah rahim dimana ada sel-sel yang berbentuk datar dan bersisik seperti sisik ikan.

Setiap tahun di Amerika sekitar 15.000 wanita menderita penyakit ini. Diseluruh dunia kanker rahim banyak dialami oleh wanita. Di Vietnam 43 dari 100.000 wanita mengalaminya. Di Jepang bahkan 7 kali lebih banyak. Sedangkan di Alaska, Korea dan keturunan Amerika Latin sekitar 15 dari 100.000 wanita atau lebih mengalaminya.

Seperti organ tubuh pada umumnya cervix (bawah rahim) terbentuk dari banyak sel. Apabila tubuh memerlukan sel-sel ini dapat membagi secara lebih banyak dan sepanjang hal tersebut diperlukan tubuh hal tersebut masih cukup sehat.

Jika sel membagi atau tumbuh melebihi yang diperlukan oleh tubuh maka akan membentuk suatu jaringan yang lebih besar dan ini biasa disebut dengan tumor, dapat bersifat jinak maupun ganas.

Untuk itu perlu dipahami bahwa :

· Tumor yang jinak bukanlah kanker. Tumor ini ini dapat dihilangkan. Tumor jinak ini tidak akan berkembang dan tidak akan mengancam, ia dapat berbentuk benjolan atau benjolan yang berair.
· Tumor yang bersifat ganas dapat disebut sebagai kanker. Sel-sel kanker ini dapat mengganggu. Apabila pecah dapat mengeluarkan darah. Namun, hal ini pun dapat disembuhkan apabila mendapat penanganan yang tepat dan orang yang menderitanya memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh untuk sembuh.

Untuk itu bagi seorang wanita sangat penting untuk melakukan pap-test secara teratur untuk mengetahui apakah ada gejala kanker rahim tersebut, sebelum hal itu berkembang lebih jauh. Penanganan dini dapat mencegah berkembangnya kanker yang meluas.

Pemeriksaan panggul, rahim, vagina, ovarium diperlukan untuk memperoleh hasil yang akurat.

Pada saat awal kanker pada mulut rahim ini ini tidak menunjukkan gejala-gejala yang menonjol. Pada saat ia menjadi abnormal maka muncul gejala seperti pendarahan dan mengikuti periode menstruasi. Pendarahan yang terjadi setelah periode menstruasi merupakan tanda-tanda dari kanker mulut rahim pula.

Penanganan dan pengobatan kanker mulut rahim ini dapat dilakukan dengan cara :

1. Penyinaran (Radiation Therapy)
2. Pengobatan (Chemotherapy & Biological Therapy)
3. Operasi dengan membuang jaringan-jaringan yang tidak diperlukan.

Namun, yang terpenting adalah kemauan pasien untuk sembuh dengan menunjukkan semangat untuk mengatasinya. Karena pada dasarnya kanker dapat disembuhkan, apalagi perkembangan teknologi terkini sangat memungkinkan untuk mengatasi kanker.

Banyak kasus dimana pasien yang menderita kanker dapat disembuhkan dan mereka dapat hidup selayaknya orang normal.

Beberapa hal yang perlu diingat bahwa :

1. Setiap orang membawa kecenderungan alami untuk menderita suatu penyakit, namun ada yang dapat menghindarinya dengan keyakinan kuat bahwa ia dapat mengatasi penyakit tersebut.
2. Dapat terjadi orang hidup terus bersama penyakitnya, ia mampu hidup normal sekalipun menderita suatu penyakit.
3. Tubuh ini bagaikan alam, alam suatu saat dapat mengalami banjir, gempa bumi, kekeringan, namun setelah itu kehidupan menjadi normal kembali, demikian pula halnya dengan tubuh kita.
4. Penyakit dan musibah memiliki hikmah yang tersembunyi yang barangkali kita sendiri tidak mengetahuinya.
5. Kita sering lupa bahwa hanya satu atau beberapa bagian tubuh yang sakit diantara sedemikian banyak bagian tubuh yang sehat, mengapa kita terpaku pada bagian kecil yang sakit bukankah lebih baik mensyukuri bagian besar lainnya yang sehat ?

Tulisan ini disarikan dari “The Daily Apple of America”

MOTIVASI UNTUK (BERHENTI) MEROKOK

Dalam judul diatas ada 2 hal penting yang perlu disepakati maknanya, yaitu “motivasi” dan “merokok”. Untuk kata “merokok” rasanya tidak memerlukan pengertian panjang lebar. Dari kyai sampai dengan mbahnya kyai ada yang melakukan itu, dari kopral sampai dengan jendral, dari kuli sampai dengan pak polisi, dari tukang parkir sampai dengan priayi. Namun untuk mengkaji secara ilmiah perlulah kiranya untuk menyepakati definisinya dulu sebelum mebahasnya lebih lanjut. Drs. Muchtar AF menyebutkan rokok adalah benda berbentuk bulat yang biasa dijepit di antara dua jari saat dinyalakan dan dinikmati kepulan asapnya, merokok berarti adalah kegiatan yang berkaitan dengan mengisap/menikmati benda tersebut. Nah, kalau mengisap hal-hal lain diluar benda tersebut tidak termasuk merokok.

Bagaimana dengan motivasi ? Motivasi awalnya berasal dari sebuah kata dari bahasa Latin yang diadopsi dalam bahasa Inggris, yaitu kata “movere” yang artinya bergerak. Motivasi berarti istilah yang dipakai secara umum pada fenomena yang mencakup operasi dari dorongan, perangsang, motif (James Drever, The Penguin Dictionary of Psychology, 1986). Untuk mendapat gambaran lebih nyata dari pengertian motivasi tersebut kita dapat melihat contoh penerapan motivasi dalam dunia kerja. Penggunaan motivasi memang sering digunakan dalam lingkup kerja, dalam konteks ini Stephen P. Robbins menyebutkan motivasi adalah “the willingness to exert high levels of effort toward organizational goals, conditioned by the effort’s ability to satisfy some individual need.” Pengertian dalam dunia kerja ini dapat kita pinjam untuk menjelaskan motivasi dalam konteks merokok dengan cara mengganti organizational goals menjadi environments goals atau harapan dari lingkungan. Dengan sedikit memodifikasi pengertian motivasi dari Stephen P. Robbins, maka motivasi merokok dapatlah diartikan sebagai keinginan yang kuat dari seseorang untuk mengisap benda bulat yang berasap dalam rangka memenuhi kebutuhan dirinya akan kenikmatan dan sesuai dengan harapan lingkungan yang dipersepsinya (lebih gaya, jagoan, prestige, mampu membeli, membantu membuka lapangan kerja, mendorong bergairahnya pabrik rokok, menambah pajak negara).

Dalam judul diatas kata berhenti tertulis dalam kurung karena sasaran sebenarnya dari tulisan ini adalah bagaimana menumbuhkan motivasi untuk berhenti merokok. Umumnya motivasi selalu dikaitkan dengan kata kerja aktif, maka disini seolah-olah ada de-aktiviasi atau pasivisasi. Dalam pengertian ini terkandung makna bagaimana menumbuhkan motivasi untuk berhenti merokok atau.meniadakan motivasi merokok. Dengan kata lain adalah demotivasi merokok.

Sebelum lebih jauh menjelaskan konsep motivasi dan demotivasi tersebut perlu dijelaskan dalam konsep psikologi dikenal dengan istilah oral fixation, yaitu suatu keterikatan yang luar biasa terhadap suatu kebutuhan yang timbul diawal masa perkembangan yang dikompensasi melalui perilaku tertentu (kegiatan oral atau anal yang berulang-ulang). Jadi dalam tahap perkembangan awal seseorang (dibawah usia 5 tahun) menurut konsep psikoanalisa ada yang disebut fase oral (usia 0-2 tahun) dimana seseorang memperoleh kenikmatan dengan adanya stimulasi oral (mengisap). Apabila ada gangguan pada fase ini (kebutuhan mengisap tidak terpenuhi) maka pada periode dewasa sangat mungkin terjadi gangguan dengan terobsesi untuk terus menerus mengisap atau perilaku kompulsi oral tertentu (apabila dikombinasikan dengan dorongan agresi yang kuat maka orang menjadi senang mencaci maki orang lain, membentak-bentak atau berbicara sinis).

Perilaku merokok dalam konsep psikoanalisa dapat dikategorikan sebagai suatu fiksasi oral, yaitu adanya kebutuhan pada masa oral (0-2 tahun) yang tidak terpenuhi atau mengalami gangguan sehingga menimbulkan distorsi perilaku pada perkembangan usia berikutnya (remaja, dewasa, tua). Artinya mereka yang merokok pada dasarnya adalah orang-orang yang pada masa kecilnya mengalami permasalahan tertentu dan dikompensasi melalui perilaku merokok. Untuk itu, merupakan sesuatu hal yang menarik apabila ada yang ingin melakukan penelitian khusus mengenai kehidupan masa kecil seorang perokok. Informasi ini dapat diperoleh melalui orang tuanya atau orang yang menyusuinya. Biasanya diperoleh informasi seperti ini, pada masa kecil seorang perokok suka mengisap puting susu ibunya secara berlebihan bahkan cenderung menggigit, kemudian ibunya marah dan melepaskan susunya sehingga menimbulkan kekecewaan bagi bayi, atau menyusu tidak pernah puas bahkan tidak pernah disusui, disusui dengan sikap penolakan dari ibunya, disusui dengan sikap pemaksaan dan berbagai perilaku abnormal lainnya dalam cara menyusui.

Pengalaman masa kecil tersebut menimbulkan kesan yang kuat dan membekas dalam diri individu kemudian tumbuhlah mereka dengan berbagai penyimpangan oral, diantaranya menjadi pecandu rokok berat. Hal ini memperkuat tesis bahwa kehidupan seseorang sangat terpengaruh oleh pengalaman masa lalunya (pendapat ini mendapat dukungan yang kuat dari mazhab psikoanalisa). Dengan konsep fiksasi ini dapat dimengerti bahwa pada dasarnya merokok adalah perilaku menyimpang karena tidak hanya diri sendiri yang dirugikan, lingkunganpun turut dirugikan. Bagaimana agar dapat berhenti merokok ?

Menjawab pertanyaan tersebut kita perlu kembali ke permasalahan motivasi dan demotivasi tadi. Bagi orang yang masih merokok ditumbuhkan konsep demotivasi sedangkan bagi yang sudah berhenti merokok atau mereka yang belum pernah sama sekali merokok ditumbuhkan motivasi. Dalam hal ini saya lebih memfokuskan pada konsep demotivasi agar orang mau berhenti merokok.

Demotivasi merokok (untuk yang masih merokok agar menghentikan kebiasaan merokoknya) :
1. Ciptakan suatu kondisi yang tidak nyaman dalam merokok. Misal aturan yang mengekang perokok dan pemberian denda yang signifikan. Penempatan ruang yang tidak nyaman bagi perokok sampai dengan tidak ada ruangan sama sekali bagi merokok bahkan kalau perlu pengucilan bagi yang merokok.
2. Berikan contoh-contoh akibat bahaya merokok.
3. Negative association, yaitu mengasosiasikan kegiatan merokok dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, bubuhkan rasa tertentu pada rokok yang membuat orang tidak suka merokok (seperti rasa pahit brotowali), berikan penjepit rokok yang runcing dan kasar sehingga setiap mengisap orang merasa kesakitan.
4. Internal dan eksternal punishment/reward.
a. Internal punishment, yaitu pecandu rokok menghukum dirinya sendiri apabila merokok, misal kalau habis merokok akan disetrum pada batas-batas tertentu. Setiap habis merokok ia harus menulis satu buku penuh tulisan “aku harus berhenti merokok.”
b. Eksternal punishment, melalui denda bahkan kalau memungkinkan sampai dengan hukum secara fisik dan psikologis (dikucilkan tidak diajak berbicara, pasangan tidak mau tidur bersama, dll)
c. Internal reward, yaitu apabila berhasil mengurangi bahkan berhenti merokok diri anda dapat memberi hadiah bagi diri sendiri, misal kalau berhasil berhenti merokok boleh menikmati hobbynya.
d. Eksternal reward, yaitu penghargaan dari lingkungan untuk mereka yang bisa berhenti merokok.

5. Membuat progress report, apabila mencapai sasaran tertentu akan mendapat credit point tertentu (misal berhasil tidak merokok selama 6 jam dapat 6 point, 12 jam 12 point, dstnya) apabila sudah mencapai point tertentu katakanlah 100 maka yang bersangkutan boleh melakukan hal-hal yang menyenangkan (yang sebelumnya dilarang apabila merokok).
6. Apabila kebutuhan mengisap tetap muncul maka rokok dapat diganti benda lain untuk memenuhi kebutuhan mengisap seperti permen atau benda-benda lain yang bisa dihisap.
7. Hilangkan semua kesempatan yang memungkinkan anda untuk merokok (jangan bergaul dengan perokok, jauh-jauhlah dari tempat penjualan rokok, jangan duduk diruangan khusus untuk merokok, jangan bekerja dipabrik rokok, jangan menikah dengan anaknya juragan rokok, dsbnya).
8. Hilangkan semua sumberdaya anda untuk merokok, bila punya uang banyak serahkan seluruh uang itu pada pasangan anda, apabila ada asbak rokok modifikasi asbak tersebut untuk kegunaan yang lain.
9. Jangan pernah memikirkan, mengkhayalkan lagi tentang rokok.
10. Berdoalah anda agar ALLAH SWT mengabulkan keinginan anda untuk berhenti merokok.

Rabu, 16 Juli 2008

MEMIMPIN ADALAH MENDERITA



Seperti dalam tulisan sebelumnya "ANDA BERMINAT JADI PRESIDEN" telah disinggung mengenai beratnya tugas jadi pemimpin, sehingga tidak salah kalau dikatakan bahwa MEMIMPIN itu adalah MENDERITA. Namun, apabila tugas kepemimpinan dilakukan dengan baik maka MEMIMPIN itu juga adalah MULIA.

Mengapa memimpin itu menderita :

1. Sebagai pemimpin anda harus bertanggung jawab terhadap semua hal yang terjadi dalam organisasi anda, meskipun kesalahan itu dilakukan oleh bawahan, anggota atau rakyat anda.
2. Anda harus menyediakan seluruh sumber daya yang dimiliki melebihi apa yang bisa diberikan oleh orang lain.
3. Anda berada dalam barisan terdepan menghadapi resiko atau marabahaya.
4. Jika berhasil itu adalah prestasi semua, jika gagal itu adalah tanggung jawab anda.
5. Anda adalah penikmat yang terakhir setelah semua orang menikmati, namun anda adalah penderita paling awal sebelum yang lain menderita.

Namun, disisi lain memimpin itu juga mulia, karena :

1. Anda bekerja untuk kepentingan orang banyak.
2. Anda bersedia berkorban untuk kepentingan yang lebih besar.
3. Anda dipilih karena anda dipercayai dan memiliki kualitas diatas rata-rata kelompok anda.
4. Anda adalah harapan dan juga sandaran bagi mayoritas orang.
5. Anda adalah penentu arah, pengendali dan pelindung bagi seluruh bawahan, anggota dan rakyat anda.

Kalau anda pemimpin yang baik maka anda adalah "setengah dewa."



Selasa, 15 Juli 2008

PILKADA PILPRES

Sekarang musimnya PILKADA dan tahun depan PILPRES. Tentu sangat menarik mengingat begitu banyak yang berminat untuk mengikuti kegiatan tersebut. Berminta jadi pemimpin, begitu banyak dinegeri ini yang berminat jadi pemimpin. Tetapi sebaiknya kita teliti sebelum menjatuhkan pilihan.

Pilihlah mereka yang memiliki kriteria sebagai berikut :

1. Memiliki rekam jejak yang baik.
2. Kepemimpinannya telah teruji sebelumnya.
3. Bukan seorang yang amat sangat berambisi, tetapi mereka yang memiliki keinginan yang wajar dan memiliki motivasi yang baik.
4. Bukan antek kekuatan asing.
5. Bukan seorang partisan.
6. Seorang yang relijius, nasionalis dan demokratis.
7. Sehat fisik, mental maupun akal.

Itu kriteria saya, silakan anda kalau ingin menambahkan lagi. Semoga terpilih pemimpinyang kita idam-idamkan.

Minggu, 13 Juli 2008

REVOLUSI BELUM SELESAI

Apakah anda termasuk orang yang sependapat dengan Bung Karno, Che Guevara, Tito, Fidel Castro atau Kruschev yang berpendapat bahwa revolusi belum selesai. Apa esensi dari sebuah revolusi? Dekade awal tahun 40-an revolusi bermakna melepaskan diri dari belenggu penjajahan yang dilakukan secara cepat dan efektif, bukan dengan cara evolusi, secara perlahan-lahan menunggu kemurahan hati dari penjajah untuk melepaskan cengkeramannya.
Tahun 1945 Indonesia merdeka, namun Bung Karno pada tahun 1960-an tetap mengatakan revolusi belum selesai. Pihak yang disasar saat itu adalah kekuatan Nekolim , Neo Kolonialisme dan Imperialisme. Demikian pula dengan pemimpin revolusi yang lain menganggap revolusi belum selesai karena masih ada kekuatan besar yang mengcengkram kebebasan rakyatnya sehingga revolusi harus dilanjutkan.
Tanyalah pada pemimpin besar revolusi tersebut, apa target dari dari revolusi tersebut. Melalui buku-buku dan pidato mereka, mereka ingin ada pembebasan terhadap rakyatnya, adanya kesejahteraan bagi rakyatnya, kendali sepenuhnya terhadap pengelolaan alam negaranya dan berdiri sama tegak dengan seluruh bangsa di dunia, inilah impian segenap pemimpin revolusi.
Jadi apakah revolusi sudah selesai atau belum, lacaklah jawaban ini terhadap apa yang disampaikan oleh pemimpin revolusi tadi. Tanyalah pada Che Guevara, tanyalah pada Tito dan tanyalah kepada Castro apakah impian mereka sudah tercapai?

Sabtu, 12 Juli 2008

ANDA BERMINAT JADI PRESIDEN ?


Ini sebuah pertanyaan menarik, mengingat sejauh ini sudah beberapa figur mendeklarasikan diri untuk maju dalam Pemilihan Presiden pada tahun 2009. Sebagian dari mereka telah pula memiliki Parpol sebagai kenderaan menuju RI-1. Sebagian lagi akan menunggu sinyal Parpol tertentu untuk mencalonkan yang bersangkutan.

Mengapa begitu banyak orang berminat menjadi Presiden? Apa yang didapat dengan posisi sebagai Presiden? Presiden Soekarno merasa sangat menderita sebagai Presiden (baca otobiographi beliau “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karangan Cindy Adams). Beliau mengatakan hanya karena kepentingan rakyat dan bangsanya sajalah beliau bersedia untuk menduduki posisi yang tidak nyaman tersebut.

Kalau menjadi Presiden memang suatu kebutuhan, coba kita meminjam Need Theory dari Abraham H. Maslow. Maslow merumuskan kebutuhan dalam suatu hirarki, mulai dari kebutuhan yang bersifat fisiologis, rasa aman, sosial, self esteem dan aktualisasi diri. Kemudian dilanjutkan oleh kebutuhan ultimate yang berdimensi spiritual. Kalau para calon presiden sekarang atan nanti hanya mendasarkan kebutuhan pada tiga tingkat ke bawah yaitu fisiologis, rasa aman dan sosial, penulis beranggapan yang bersangkutan belum layak untuk menjadi presiden. Setidak-tidaknya taraf kebutuhan mereka minimal sudah pada tingkat self esteem, kalau bisa pada tingkat aktualisasi diri dan syukur-syukur telah masuk pada ranah spiritual, sehingga baru layak yang bersangkutan mencalonkan diri untuk menjadi presiden.

Menjadi pemimpin sesungguhnya adalah sekaligus menjadi pelayan. Menjadi pemimpin pada dasarnya adalah menjadi pelayan rakyat. Anda harus siap mencurahkan seluruh potensi dan sumber daya yang dimiliki, berkorban, bahkan menderita untuk menjadi seorang pemimpin yang agung. Bacalah kisah-kisah pemimpin agung, sesungguhnya mereka berperilaku melayani pengikutnya, berkorban bagi pengikut-pengikutnya dan dalam kaca mata orang “biasa” mereka juga sekaligus “menderita.” Selain itu seorang pemimpin yang sejati hidup bersama dan ditengah-tengah rakyatnya dengan gaya hidup yang tidak jauh berbeda dengan kebanyakan rakyatnya.

Berkaitan dengan itu sebelum memutuskan apakah anda siap menjadi presiden atau tidak jawablah pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

Apakah tingkat kebutuhan anda minimal sudah berada pada taraf self esteem?
Apakah anda siap menjadi pelayan rakyat dalam arti melayani yang sesungguhnya?
Apakah anda siap mencurahkan seluruh potensi dan sumber daya anda untuk kepentingan rakyat dan bangsa?
Apakah anda siap berkorban dan menderita untuk posisi presiden tersebut?
Apakah anda siap kehidupan pribadi anda diteropong sedemikian rupa?
Apakah anda dapat hidup sebagaimana kebanyakan rakyat anda?

Jika semua pertanyaan diatas dijawab dengan “ya” anda pantas mencalonkan diri menjadi calon presiden, namun jika ada pertanyaan yang dijawab dengan “tidak” pikirkanlah kembali keinginan anda tersebut, jika tidak rakyat akan menjadi tumbal dari kekeliruan anda dalam mengambil keputusan.