Jumat, 02 Juli 2021

MENGAPA PRAKTISI & DIREKTUR SDM JARANG MENJADI CEO

Penulis tertarik menulis tentang mengapa mereka yang berlatar belakang SDM, baik praktisi, profesional maupun Direktur SDM jarang yang menjadi CEO. Ini pertanyaan yang cukup menggelitik, terutama setelah penulis membaca cuplikan sebuah buku yang menyebut para eksekutif dibidang Human Resources masih sangat jarang yang menduduki jabatan CEO atau Top Eksekutif. Tampaknya jika diamati memang demikian, apa penyebabnya? Bisa jadi jawaban berikut ini sangat bersifat hipotesis, asumtif bahkan spekulatif.

Menurut penulis setidaknya ada 3 faktor yang menyebabkan mereka yang berlatar belakang SDM jarang yang kemudian menjadi CEO, yaitu :

      1   Faktor Individu
2   Faktor Organisasi
3.   Faktor Stakeholder

Faktor individu dapat ditilik dari setidaknya 4 hal yaitu : Wawasan, Emosional, Sosiabilitas dan Sikap Kerja. Rasanya secara wawasan umum mereka yang berlatar belakang SDM tidak kalah dengan mereka yang lainnya, hanya bisa jadi wawasan bisnis, operasional, keuangan dan marketing tidak sebaik yang lain, padahal ini salah satu faktor penting dalam menentukan kinerja perusahaan. Hal lain sikap yang sangat fokus dalam mengelola SDM, yang bisa-bisa kearah “kacamata kuda” membatasi mereka untuk melihat area yang lain terutama bisnis. Ini bisa jadi salah satu kendala bagi Profesional SDM untuk menjabat posisi sebagai CEO.

Hal lain adalah masalah emosionalitas. Dalam amatan penulis mereka para professional SDM sangat memiliki kepedulian terhadap hal-hal yang terkait karyawan, termasuk sensitivitas dalam merasakan apa yang menjadi kebutuhan karyawan. Kondisi ini dalam hal tertentu bisa jadi tidak sejalan dengan pertimbangan-pertimbangan bisnis, sehingga ini menjadi salah satu hal yang membuat para profesional SDM terkendala untuk menjadi CEO yang jamaknya lebih memprioritaskan kepentingan-kepentingan bisnis.

Sosiabilitas salah satu kemungkinan lain yang membuat profesional SDM terkendala untuk menjadi Top Eksekutif dalam sebuah perusahaan. Umumnya professional SDM cenderung hanya membangun jejaring dalam komunitas SDM, sangat jarang merambah komunitas-komunitas yang lain seperti bisnis dan marketing. Ini tentu membuat para profesionalitas SDM memiliki keterbatasan jaringan yang nantinya diperlukan dalam mengelola bisnis perusahaan.

Last but not least adalah sikap kerja. Umumnya profesionalitas SDM sangat ketat dalam aturan main dan prosedur kerja, karena mengelola SDM memang diperlukan sebuah disiplin, keteraturan dan kepatuhan terhadap aturan main, apakah itu peraturan kerja, kebijakan, prosedur, arahan pimpinan dan sebagainya. Ini bagus, namun apabila tidak diimbangi oleh kelenturan dalam mendukung kinerja bisnis tentu akan menjadi kendala untuk mencapai kinerja perusahaan. Sikap kerja seperti ini bisa menjadi salah satu hambatan bagi professional SDM untuk mencapai karir puncak disebuah perusahaan.

Faktor kedua adalah terkait organisasi. Bisa jadi kebijakan, peraturan dan berbagai kondisi yang ada dalam organisasi membuat profesional bidang SDM kurang berkembang secara maksimal untuk bisa berkarir secara lintas bidang. Orang SDM terkadang dalam organisasi hanya difokuskan mengelola bidang SDM dan kurang memiliki peluang untuk mengelola bidang lainnya, hal ini menyebabkan pengalaman menjadi terbatas sehingga tidak memiliki kapabilitas cukup untuk memimpin bisnis sekaligus peluang menjadi Top Eksekutif berkurang.

Faktor ketiga adalah Stakeholder. Stakeholder khususnya pemegang saham menjadi kunci yang menentukan dalam menetapkan posisi Top Eksekutif. Concerns pemegang saham yang lebih fokus pada kinerja dan pencapaian sasaran-sasaran bisnis membuat mereka lebih cenderung memilih para Top Eksekutif dari kalangan Bisnis dan Marketing.  Termasuk memilih mereka yang berlatar belakang Keuangan untuk menjadi CEO dibandingkan memilih yang dari SDM bisa jadi dikarenakan pertimbangan-pertimbangan keuangan lebih mendominasi seperti faktor modal, investasi, kemitraan dan sebagainya.

Demikian pendapat penulis berdasarkan amatan selama ini tentang profesional SDM. Tiada jalan lain bagi professional SDM jika ingin mengembangkan karirnya menjadi CEO perlu memperhatikan hal-hal tersebut diatas. Disisi lain diperlukan pula dukungan dari Organisasi dan Stakeholder agar professional SDM semakin berkembang.

Tidak ada komentar: