Minggu, 24 Agustus 2008

TAN MALAKA : antara CINTA & REVOLUSI


Kenalkah anda dengan Tan Malaka? Tokoh kontroversial dan anak Payakumbuh yang pada awal abad 20 telah melanglang buana ke puluhan negara. Ia seorang Marxis, Nasionalis sekaligus Religius. Ia seorang tokoh kiri yang taat menjalankan shalat dan hafal Al-Quran. Mungkinkah ia menjadi sumber inspirasi Bung Karno dalam membuat konsep Nasakom (Nasional-Agama-Komunis), karena tampaknya ia merupakan personifikasi dari konsep itu sendiri. Ia juga seorang inspirator bagi tokoh revolusioner Indonesia lainnya. Dia adalah Che Guevara-nya Indonesia yang mati-binasa ditangan anak-bangsanya sendiri, ditanah bumi pertiwi yang diperjuangkannya habis-habisan untuk mencapai kemerdekaan dengan jalur tanpa kompromi menghadapi Belanda. Ia diakui pahlawan sekaligus dinistakan.

Berbicara tentang tokoh-tokoh revolusioner, ambil saja contoh Tan Malaka-Che Guevara-Bung Karno, apa persamaan dan perbedaan diantara mereka. Persamaannya jelas mereka adalah tokoh-tokoh yang menentang imperialisme. Kolonialisme dan penjajahan. Mereka menjadi inspirator bagi kaum pejuang pembebasan. Mereka menjadi pelita bagi ribuan kaum “pembangkang.” Mereka juga menjadi mercusuar bagi kaum pergerakan. Itulah persamaan diantara mereka.

Ada lagi persamaan yang menarik yaitu kehidupan mereka yang penuh romansa. Che Guevara seorang satria yang mempesona sejumlah wanita. Wanita mana yang tidak takluk dengan mata elang Che? Bung Karno siapa yang tidak kenal dengan si penggagum keindahan ini. Bung Karno mampu menaklukkan hati sekian banyak wanita dan menikahi beberapa orang wanita mulai dari Utari, Inggit, Fatmawati, Hartini, Hariyati, Dewi, Yurike Sanger.

Bagaimana dengan Tan Malaka, nah dalam soal cinta inilah yang membedakan ia dengan tokoh revolusioner yang lain. Tan yang konon menguasai sejumlah bahasa ini seperti Belanda, Rusia, Cina, Tagalog, Inggris, Jepang, Arab termasuk tokoh revolusioner yang kering sentuhan wanita. Konon ia pernah jatuh cinta enam kali, namun tak satu pun yang langgeng bersamanya. Cintanya banyak yang tak berbalas. Ia tidak pernah menikah, hidup dalam kesendirian, berpetualang dan larut dalam pemikiran revolusionernya. Apakah karena sering patah hati membuat jiwanya mudah menggelegak? atau mungkin patah hati tersebut berubah menjadi energi positif yang mampu menggerakkan jiwa revolusionernya? Banyak tokoh yang mendapat energi berlebih justru setelah patah hati. Konon kabarnya Muhammad Toha Pahlawan Bandung Selatan beberapa hari sebelum meledakkan gudang senjata milik Jepang yang juga turut menewaskan dirinya, telah ditolak cintanya oleh seorang Mojang Priangan. Bagaimana dengan Tan Malaka? Entahlah ...

Tan Malaka yang menguraikan pemikirannya dalam buku MADILOG (Materi-Dialektika-Logika) hidup dengan cita-cita dan perjuangan untuk memerdekan bangsanya, namun ia pun tewas secara mengenaskan ditangan putra bangsanya, dan darahnya tertumpah pada tanah ibu pertiwi yang ia perjuangkan. Ia menuliskan gagasannya dalam beberapa buku dan Bung Karno saat di Bandung termasuk saat mempersiapkan pembelaan dirinya di Pengadilan Belanda membuat Pledoi "Indonesia Menggugat" dengan mengambil referensi diantaranya dari buku Tan Malaka.

Satu catatan menarik tentang tokoh kontroversial ini saat memberikan pidato pada kongres Komintern (Komunis International) di Rusia sekitar akhir tahun 1920-an ia mengatakan : “Dalam berhadapan dengan manusia aku adalah seorang komunis, saat menghadap Tuhan aku adalah seorang Muslim.”

3 komentar:

Enno mengatakan...

Tan Malaka ini salah satu tokoh yang saya kagumi... salam kenal :)

andreas iswinarto mengatakan...

Buku Perang Tan Malaka dan Che Guevara

semoga bermanfaat..

Ketika memperingati sewindu hilangnya Tan Malaka pada 19 Februari 1957, Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution mengatakan pikiran Tan dalam Kongres Persatuan Perjuangan dan pada buku Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi) menyuburkan ide perang rakyat semesta. Perang rakyat semesta ini, menurut Nasution, sukses ketika rakyat melawan dua kali agresi Belanda. Terlepas dari pandangan politik, ia berkata, Tan harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia.
(sumber Tempo)

Dalam bentuk tanya jawab Tan Malaka di dalam bukunya Gerpolek menjelaskan itu secara gamblang. Menurut Malaka GERPOLEK adalah perpaduan (Persatuan) dari suku pertama dari tiga perkataan, ialah Gerilya, Politik, dan Ekonomi. Lebih lanjut dalam bentuk tanya jawab Malaka menjelaskan sbb :

Apakah gunanya GERPOLEK?

GERPOLEK adalah senjata seorang Sang Gerillya buat membela PROKLAMASI 17 Agustus dan melaksanakan Kemerdekaan 100 % yang sekarang sudah merosot ke bawah 10 % itu!

Siapakah konon SANG GERILYA itu?

SANG GERILYA, adalah seorang Putera/Puteri, seorang Pemuda/Pemudi, seorang Murba/Murbi Indonesia, yang taat-setia kepada PROKLAMASI dan KEMERDEKAAN 100 % dengan menghancurkan SIAPA SAJA yang memusuhi Proklamasi serta kemerdekaan 100 %.
SANG GERILYA, tiadalah pula menghiraukan lamanya tempoh buat berjuang! Walaupun perjuangan akan membutuhkan seumur hidupnya, Sang Gerilya dengan tabah-berani, serta dengan tekad bergembira, melakukan kewajibannya. Yang dapat mengakhiri perjuangannya hanyalah tercapainya kemerdekaan 100 %.

SANG GERILYA, tiadalah pula akan berkecil hati karena bersenjatakan sederhana menghadapi musuh bersenjatakan serba lengkap. Dengan mengemudikan TAKTIK GERILYA, Politik dan Ekonomi, tegasnya dengan mempergunakan GERPOLEK, maka SANG GERILYA merasa HIDUP BERBAHAGIA, bertempur-terus-menerus, dengan hati yang tak dapat dipatahkan oleh musim, musuh ataupun maut.

Seperti Sang Anoman percaya, bahwa kodrat dan akalnya akan sanggup membinasakan Dasamuka, demikianlah pula SANG GERILYA percaya, bahwa GERPOLEK akan sanggup memperoleh kemenangan terakhir atas kapitalisme-imperialisme.

-------------

Selain berhubungan cukup erat dengan Panglima Sudirman pimpinan gerilyawan yang tangguh (bahkan Adam Malik menyebutnya Dwitunggal), sebenarnya Tan Malaka pernah terlibat langsung dalam medan perang gerilya menjelang kematiannya. Silahkan baca liputan Tempo Persinggahan Terakhir Lelaki dan bukunya serta Misteri Mayor Psikopat. Sehingga sebenarnya lengkaplah Tan Malaka yang berperang dengan kata, organisasi, juga 'perang senjata'. Atau bisa dikatakan Gerpolek bukan hanya teori baginya, tetapi juga sebuah praktek perjuangan yang dilakukannya.

Dalam konteks ini saya setuju dengan ketika Harry Poeze mempersandingkan Tan Malaka dan Che Guevara. Walau saya agak terganggu ketika Poeze mengatakan Tan Malaka adalah Che Guevara Asia. Bagi saya Tan Malaka adalah Tan Malaka, Che Guevara adalah Che Guevara.


Sekedar memperbandingkan buku perang Gerpolek dan Esensi Perang Gerilya yang dituliskan oleh Che Guevara, saya kutipkan bagian tulisan Che Guevara tersebut

"Perang Gerilya, sebagai inti perjuangan pembebasan rakyat, mempunyai bermacam-macam karakteristik, segi yang berbeda-beda, meskipun hakekatnya adalah masalah pembebasan. Sudah menjadi kelaziman--dan berbagai penulis tentang hal ini menyatkannya berulang-ulang---bahwa perang memiliki hukum ilmiah soal tahap-tahapnya yang pasti; siapapun yang menafikannya akan mengalami kekalahan. Perang gerilya sebagai sebuah fase dari perang tunduk dibawah hukum-hukum ini; tapi disamping itu, karena aspek khususnya, sudah menjadi hukum yang tak hukum yang tak terbantahkan dan harus diakui kalau mau mnedorongnya lebih maju. Meskipun kondisi sosial dan geografis masing-masing daerah (country) menentukan corak atau bentuk-bentuk khusus suatu perang gerilya, tapi ada hukum umum yang harus dipatuhi jenis tersebut.

Tugas kita kali ini adalah menggali dasar-dasar perjuangan dari jenis (corak) ini, aturan-aturan yang harus di ikuti oleh rakyat yang berupaya membebaskan diri, mengembangkan teori atas dasar fakta-fakta, menggeneralisasikan dan memberikan struktur atas pengalaman tersebut agar bermanfaat bagi rakyat lainya.

Pertama kali adalah menetapkan : siapakah pejuang dalam perang gerilya ? Disatu sisi ada kelompok penindas dan agen-agennya, tentara profesional (yang terlatih dan berdisiplin baik), yang dalam beberapa kasus dapat diperhitungkan atas dukungan luas dari kelompok-kelompok kecil dari birokrat, para abdi kelompok penindas tersebut. Disisi lain ada populasi bangsa atau kawasan yang terlibat. Adalah penting menekankan merupakan sebuah perjuangan massa, perjuangan rakyat. Gerilya, sebagai sebuah nukleus bersenjata, merupakan pelopor perjuangan rakyat, dan kekuatan terbesar mereka berakar dalam massa rakyat. Gerilya hendaknya tidak dipandang sebagai inferior secara jumlah dibanding tentara yang ia perangi, meskipun kekuatan persenjataannya mungkin inferior. Itulah sebabnya mengapa perang gerilya mulai bekerja ketika kau memiliki dukungan mayoritas, sekalipun memiliki sejumlah kecil persenjataan yang dengan itu kau mempertahankan diri melawan penindas.

Oleh karena itu pejuang gerilya mendasarkan diri sepenuhnya pada dukungan rakyat di suatu area. Ini mutlak sangat diperlukan. Dan di sini dapat dilihat secara jelas dengan mengambil contoh kelompok-kelompok bandit yang bekerja di suatu daerah. Mereka memiliki semua karakteristik dari sebuah tentara gerilya : Homogenitas, patuh pada pemimpin, pemberani, pengetahuan tentang lapangan dan seringkali bahkan memiliki pemahaman lengkap tentang taktik yang harus digunakan. Satu-satunya kekurangan mereka adalah tidak adanya dukungan dari rakyat, dan tidak terhindari lagi kelompok-kelompok bandit itu ditangkap atau dihancurkan oleh kekuatan pemerintah."

---------
Akhir kata silahkan membaca lebih jauh Gerpolek, Massa Aksi dan buku-buku Tan Malaka lainnya untuk mengerti lebih jauh perkakas perjuangan rakyat yang digagas dan dipraktekannya, juga silah tengok lebih lanjut buku-buku Che Guevara yang sudah cukup banyak beredar di pasaran atau silah kunjung tulisan Che Guevara Online

Salam Pembebasan

Andreas Iswinarto


untuk link tentang tan malaka dan che Guevara silah akses Buku Perang Tan Malaka dan Che.

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-perang-tan-malaka-dan-che-guevara.html

atau

Untuk 34 artikel-opini (edisi khusus Tempo) dan 13 buku online Tan Malaka silah kunjung Tan Malaka : Bapak Republik Revolusi Merdeka 100 Persen
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html

Lex dePraxis mengatakan...

Bicara soal revolusi budaya, saya baru saja menulis sebuah e-book terbaru yang akan merevolusi paradigma tentang dinamika sosial pria-wanita Indonesia dalam dunia romansa, berjudul The Secret Law of Attraction (bukan sampah new age seperti yang beredar selama ini), sekaligus kunci otomatis untuk menarik popularitas dan trafik blog Anda.

Download rahasia besar tersebut dalam e-book yang terdapat di http://www.hitmansystem.com/blog/the-secret-law-of-attraction-113.htm