Jumat, 30 Mei 2008

DISKUSI DENGAN KETUA MUI JAWA BARAT BPK. K.H. HAFIZD USMAN

Siang ini Jumat 31 Mei 2008, setelah selesai shalat Jumat saya dan beberapa teman diundang oleh Ketua MUI Jawa Barat K.H. Hafizd Usman, biasa kami panggil Pak Kiyai untuk makan siang di Kantor MUI Jawa Barat Jl RE. Martadinata Bandung. Kami datang berempat ada Pak Haji Rudi, Pak Haji Iskandar (Syariah Mandiri) dan Pak Haji Awang (BNI). Dulu kami pada tahun 2006 naik haji bersama-sama dengan rombongan Yahdi dan di Madinah, Mekkah dan Jeddah kami satu kamar. Sekaligus ini pertemuan sesama Ketua, yaitu Pak Kiyai sebagai Ketua MUI dan aku sebagai Ketua Himpsi (Himpunan Psikogi Indonesia) Jawa Barat merangkap ketua Alumni Haji juga.

Pak Kiyai ditemani beberapa Pengurus MUI. Topik pembicaraan cukup beragam. Mulai sejarah berdirinya MUI, masalah Ahmadiyah, Blue Energi, Multi Project Achmad Zaini Suparta, cerita kejayaan Islam, masalah halal-haram, kasus batu tulis Said Agil Munawar, cerita tentang Gus Dur, NU, PKB, masalah Yahudi, dsbnya.

Aku baru tahu MUI itu awal berdirinya di Jawa Barat dan di Aceh. Di Jawa Barat namanya MU sedangkan di Aceh namanya MPU. Pak Kiyai menceritakan sejarah awalnya berdiri MUI. Setelah dikedua daerah tersebut mendirikan MU/MPU, baru kemudian MU/MPU berubah menjadi MUI dan berpusat di Jakarta dengan cabang di setiap Provinsi. MU Jabar sendiri pada awalnya pernah dipimpin oleh seorang Jenderal yang juga Pangdam Siliwangi yaitu Mayjen HR. Dharsono, sebagai Ketua MU Jabar yang kedua.

Cerita tentang kejayaan Islam yang kemudian Islam jatuh karena para pemimpinnya banyak yang bergelimang kemewahan, hidup berfoya-foya dan asyik masyuk dalam kehidupan harem. Sementara kehidupan rakyat banyak terbengkalai, urusan pemerintahan juga tidak ditata dengan baik.

Cerita Ahmadiyah dibahas juga. Menurut Pak Kiyai didaerah asalnya Pakistan, Ahmadiyah dianggap agama tersendiri bukan bagian dari Islam. Mereka dibiarkan hidup tapi dengan sistem keagamaan tersendiri.

Gus Dur dianggap orang yang cerdas, hanya saja cara berpikir dan bertindaknya sulit dipahami oleh orang lain. Beliau diberi kekuatan berpikir dan kemampuan melihat apa yang terjadi didepan. Ada guyonan kenapa Gus Dur memecat Muhaimin Iskandar, katanya sudah lama Gus Dur tidak memecat orang (dulu pernah memecat SBY, Jusuf Kalla, Agum Gumelar, Yusril Ihza Mahendra, Matori Abdul Djalil, Alwi Shihab), karena sudah lama tidak memecat Gus Dur harus mencari siapa yang dipecat, kebetulan ada Muhaimin yah dipecatlah beliau ( he he he ... inikatanya bercanda).

Masalah Yahudi juga dibahas. Menurut Kiyai permusuhan dengan Yahudi bersifat temporer. Tergantung sikap mereka, jadi tidak selamanya harus bermusuhan dengan Yahudi. Dalam kerangka kemanusiaan bisa saja kita bekerja sama dengan mereka.

Pada kesempatan itu aku melaporkan juga tentang kegiatan reuni haji (maklum aku didaulat teman-teman sebagai Ketua Alumni Haji) pada tanggal 25 Mei 2008 di rumah Sandi di Setra Duta. Rencana berikutnya reuni haji tanggal 3 Agustus 2008 dirumah Pak Endin di Cimahi. Memang kelompok haji kami berupaya bertemu secara reguler untuk terus bersilaturahmi.
Pada saat pulang kami berempat diberikan buku yang cukup banyak ada sekitar 10 buku untuk masing-masing orang dan aku pun menyerahkan ke beliau buku tentang cerita Pahlawan Aceh Teuku Raja Angkasah yang kebetulan juga kakekku sendiri. memang ketemu Kiyai ada berkahnya, didoakan, diberi makan dan diberi buku. Terima kasih Pak Kiyai, semoga sehat selalu dan dapat terus berkiprah demi umat.


Pak Kiyai orang yang mudah akrab, ramah namun juga cukup tegas.

2 komentar:

Ayah Kasih mengatakan...

Hebat bapak Teuku....

T. Zilmahram mengatakan...

Oel, yg jelas menurut Pa Kiyai nggak masalah orang Islam ikut Rotary meskipun didirikan oleh Freemanson, krn misi kemanusiaan kita boleh bekerjasama dg siapa saja asal tidak merusak akidah. Jadi kee amanlah di Rotary.