Selasa, 10 Desember 2013

POSITIVE PSYCHOLOGY & HAPPINESS


Positive Psychology (PP) adalah suatu cabang keilmuan yang relative baru dari psikologi. PP dikembangkan oleh Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi pada tahun 1998. PP dalam aplikasinya menerapkan teori-teori psikologi , menggunakan tehnik dan pendekatan yang mengutamakan hal-hal positif dari individu, kreativitas dan keselarasan emosional.
Linley dan Joseph, 2004 menyebutkan : Positive Psychology is a strength based psychology that works to promote optimal functional across the full range of human functioning, from disorder and distress to health and fulfillment. Sedangkan Gable and Haidt, 2005, menyebutan Positive Psychology is the science of optimal functioning.

Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi menggambarkan positive psychology sebagai suatu cara kita untuk meyakini adanya hal-hal positif dalam diri manusia dan hal tersebut dapat dianalisa melalui pendekatan ilmiah dan kemudian dimanfaatkan untuk mencapai kehidupan mental yang lebih sehat bagi individu, keluarga dan masyarakat. Sebagai cabang baru dalam psikologi, aplikasi psikologi positif dapat menawarkan suatu cara bagai orang dapat merasa hidup lebih baik dan lebih bahagia. Jika cabang keilmuan psikologi lainnya fokus pada masalah disfungsi dan perilaku abnormal maka psikologi positif menekankan pada upaya untuk menolong orang lain lebih bahagia.
Beberapa ilmuwan terkemuka yang cukup berperan dalam pengembangan psikologi positif adalah :
  • Martin Seligman
  • Mihaly Csikszentmihalyi
  • Christopher Peterson
  • Carol Dweck
  • Daniel Gilbert
  • Kennon Sheldon
  • C. R. Snyder
  • Abraham Maslow
  • Carl Rogers
  • Erich Fromm
Tiga yang terakhir yaitu Abraham Maslow, Carl Rogers, Erich Fromm mengembangkan suatu teori dan praktik yang berkaitan dengan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Intinya psikologi positif mendukung teori-teori humanistik dan kesejahteraan, namun dalam perkembangannya psikologi positif muncul dalam bentuk-bentuk implementasi yang baru.

Jika menilik sejarah perkembangannya, psikologi positif saat dikenalkan oleh Martin Seligman pada tahun 1998 diakui sebagai cabang baru dari ilmu psikologi, dimana Seligman juga dianggap sebagai Bapak gerakan psikologi positif modern. Namun, akar dari psikologi positif ini pada awalnya dikaitkan dengan Maslow yang pada tahun 1954 menerbitkan buku Motivation and Personality dan sekaligus mempertegas bahwa sejak tahun 1950-an para psikologtelah mengenalkan suatu konsep kesehatan mental.
Dalam bukunya yang berjudul Authentic Happiness, Seligman mengatakan bahwa selama setengah abad terakhir psikologi hanya digunakan untuk satu topik saja yaitu untuk gangguan mental. Sudah tiba saatnya sekarang psikologi juga difokuskan untuk hal-hal lebih positif yaitu kebahagiaan. Jadi psikologi tidak sekedar menangani masalah gangguan mental tapi juga bagaimana cara mencapai kebahagiaan. 

Dalam konteks ini, beberapa topik utama dalam psikologi positif meliputi hal-hal sebagai berikut : 

Beberapa temuan yang didapat dari penelitian psikologi positif menunjukan bahwa :

  1. Orang pada umumnya memiliki potensi untuk bahagia.
  2. Uang bukan hal penting untuk mencapai “rasa-bahagia”, tetapi memberikan uang kepada orang lain dengan niat menolong dan sukarela dapat menimbulkan kebahagian bagi seseorang.
  3. Kemampuan untuk mengatasi kekecewaan dan kegagalan ditentukan oleh hubungan sosial yang kuat dan karakter yang tangguh.
  4. Pekerjaan adalah hal penting untuk membuat seseorang merasa bahagia terutama jika pekerjaan tersebut disukainya dan bermakna bagi dirinya.
  5. Meskipun genetik berpengaruh terhadap rasa bahagia, namun orang dapat belajar untuk menjadi bahagia dengan cara mengembangkan sikap optimis, bersyukur dan menghargai orang lain.
Berpikir positif merupakan suatu aspek penting dalam psikologi positif. Membiasakan cara hidup yang baik akan membuat seseorang bisa lebih bahagia. Namun tidak jarang kita terjebak dalam cara berpikir negatif sehingga ini menjadi potensi untuk menciptakan ketidakbahagiaan. Mempersepsikan diri negatif akan membangun citra diri negatif dan pada gilirannya hal ini menghambat pikiran-pikiran positif. Orang yang berpikir negatif cenderung merendahkan dirinya, meskipun ia tidak melakukan kesalahan apa-apa. Mereka merasa tidak aman, tidak nyaman dan menjadi lambat dalam bertindak. Orang-orang seperti sangat rentan terjebak dalam kondisi stress.

Untuk bisa bahagia dengan menggunakan psikologi positif maka harus dihindari cara-cara berpikir negatif yang dapat merusak kebahagiaan. Orang-orang yang berpikir negatif umumnya memiliki 4 pola berpikir , yaitu :
1.    Filtering
2.    Personalizing
3.    Catastrophizing
4.    Polarizing
Filtering adalah pola pikir dimana seseorang sudah mengkondisikan dirinya secara negatif dan menolak hal-hal positif yang ada. Personalizing yaitu seseorang yang dengan mudah melabelkan dirinya dengan hal-hal negatif, seperti membawa sial, sehingga sesuatu yang negatif selalu dikaitkan dengan dirinya atau diri seseorang. Catastropizing adalah cara berpikir antisipatif terhadap hal negatif sehingga ia pun mempersiapkan reaksi perilaku negatif dan pada saat terjadi suatu hal yang negatif ia pun melakukan pembenaran dengan mengatakan bahwa hal tersebut sudah ia perkirakan. Polarizing adalah suatu cara berpikir hitam putih, melihat sesuatu secara ekstrim berseberangan. Orang-orang seperti ini kelihatan seperti ingin sempurna, namun begitu ada kesalahan sedikit langsung dijadikan pembenaran bahwa ia memang seseorang yang tidak mampu melkukan sesuatu secara lebih baik dan menganggap dirinya negatif.
 
Untuk mencapai kebahagiaan tentunya cara berpikir negatif tersebut harus dihilangkan dan munculkan cara berpikir positif. Dalam psikologi positif hal tersebut dapat dibangun dengan mengembangkan :

1.    Growth-mindset, bukan fixed mindset.

2.    Solution-focused, bukan problem focused.

3.    Strengh-based, bukan weakness based.

Tidak ada komentar: