Habahate adalah kabar-hati, merupakan catatan kecil yang bersumber dari ungkapan pemikiran, pandangan, pengalaman dan harapan dari seorang penelusur kearifan dan kebijakan ..... sebuah catatan kecil untuk niat yang besar ...
Senin, 07 Juli 2008
ADSENSE
Ada begitu banyak peluang bisnis jika anda mempunyai blog sendiri. Jika anda telah memiliki blog maka blog anda bisa menjadi ruang iklan yang dapat menghasilkan uang bagi anda. Anda bisa melihat tentang peluang kerjasama dengan AdSense di Google.
NEED RECRUITMENT OFFICER
Recruitment Officer Responsibilities:
* Sourcing the candidates based on order * Posting the advertisement & make chanelling program * Responsible to handle R & S database system * Conducting psychological test * Interview the candidates * Make a report Requirements: * Bachelor degree in Psychology from reputable university with GPA min. 2.75 * Min. 1 year experience as Recruitment Officer (from outsourcing company would be an advantage) * Experience in using psychological tools * Experience in handling mass recruitment & selection process * Familiar with interview method & technique * Having good logic & strong analytical ability, Strong interpersonal skill & strong communication skill * Proficient in English & computer literate * Familiar with HR system & development * Pleasant personality, energetic & high motivated Please send your application letter, CV and recent photograph to: recruitment@ xsis.co.id PT Xsis Mitra Utama (a member of Titan Group) Graha BIP Lt. 7 Gatot Subroto Kav. 23 Jakarta 12930
* Sourcing the candidates based on order * Posting the advertisement & make chanelling program * Responsible to handle R & S database system * Conducting psychological test * Interview the candidates * Make a report Requirements: * Bachelor degree in Psychology from reputable university with GPA min. 2.75 * Min. 1 year experience as Recruitment Officer (from outsourcing company would be an advantage) * Experience in using psychological tools * Experience in handling mass recruitment & selection process * Familiar with interview method & technique * Having good logic & strong analytical ability, Strong interpersonal skill & strong communication skill * Proficient in English & computer literate * Familiar with HR system & development * Pleasant personality, energetic & high motivated Please send your application letter, CV and recent photograph to: recruitment@ xsis.co.id PT Xsis Mitra Utama (a member of Titan Group) Graha BIP Lt. 7 Gatot Subroto Kav. 23 Jakarta 12930
PT Samudera Indonesia
PT Samudera Indonesia Tbk lagi butuh cepat S1 Psikologi (tidak perlu profesi) untuk posisi Recruitment Spv. Silakan kirim full resume ke wini@hr.sig. co.id .
THREE STRATEGIC DECISIONS
Dalam kehidupan ini setidaknya ada tiga keputusan penting yang sangat mempengaruhi kehidupan kita lebih lanjut. Tiga keputuan penting tersebut adalah :
1. Keputusan memilih bidang pendidikan yang akan kita tempuh.
2. Keputusan bidang pekerjaan/karir yang kita pilih.
1. Keputusan memilih bidang pendidikan yang akan kita tempuh.
2. Keputusan bidang pekerjaan/karir yang kita pilih.
3. Keputusan memilih pasangan hidup.
Keberhasilan hidup kita sangat tergantung dari ketepatan kita dalam memilih ketiga keputusan tersebut diatas. Kekeliruan dalam memutuskan akan berdampak jangka panjang, namun jika anda memiliki tekad yang kuat disertai optimisme maka segala yang keliru bisa anda perbaiki. Sekali keliru bukan berarti selanjutnya mati. Anda masih memiliki kesempatan untuk menikmati hidup yang lebih dengan cara berikutnya yaitu menyesuaikan. Jika anda sudah terlanjur memilih ketiga hal diatas, kesempatan berikutnya adalah menyesuaikan, yaitu :
1. Menyesuaikan diri dengan bidang pendidikan atau keahlian.
Keberhasilan hidup kita sangat tergantung dari ketepatan kita dalam memilih ketiga keputusan tersebut diatas. Kekeliruan dalam memutuskan akan berdampak jangka panjang, namun jika anda memiliki tekad yang kuat disertai optimisme maka segala yang keliru bisa anda perbaiki. Sekali keliru bukan berarti selanjutnya mati. Anda masih memiliki kesempatan untuk menikmati hidup yang lebih dengan cara berikutnya yaitu menyesuaikan. Jika anda sudah terlanjur memilih ketiga hal diatas, kesempatan berikutnya adalah menyesuaikan, yaitu :
1. Menyesuaikan diri dengan bidang pendidikan atau keahlian.
2. Menyesuaikan diri dengan bidang pekerjaan atau karir.
3. Menyesuaikan diri dengan pasangan hidup anda.
Anda memiliki otoritas, kapasitas dan peluang untuk melakukan hal tersebut, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Pastikan hidup anda akan lebih baik.
TRI SUKSES KEHIDUPAN
Apa kriteria sukses dalam kehidupan ini? Banyak pendekatan dan pendapat tentang definisi sukses itu sendiri. Namun, menurut hemat penulis setidaknya ada tiga area sukses yang seharusnya kita raih dalam hidup ini, yaitu :
1. Sukses dalam kehidupan keluarga.
2. Sukses dalam berkarir.
3. Sukses dalam kehidupan sosial.
Berapa banyak mereka sukses dalam karir, namun gagal dalam kehidupan keluarga, tentu untuk hal seperti ini tidak bisa kita katakan sukses. Demikian pula sebaliknya. Jadi, mereka yang sukses sesunguhnya adalah mereka yang sukses dalam ketiga bidang tersebut. Dalam dimensi spiritual tentunya mereka yang sukses adalah mereka berhasil menjalankan kehidupan sesuai dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam keyakinannya.
Berapa banyak mereka sukses dalam karir, namun gagal dalam kehidupan keluarga, tentu untuk hal seperti ini tidak bisa kita katakan sukses. Demikian pula sebaliknya. Jadi, mereka yang sukses sesunguhnya adalah mereka yang sukses dalam ketiga bidang tersebut. Dalam dimensi spiritual tentunya mereka yang sukses adalah mereka berhasil menjalankan kehidupan sesuai dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam keyakinannya.
Minggu, 06 Juli 2008
KESEIMBANGAN HIDUP
Pernahkah anda merasa hidup anda tersita untuk satu bidang saja? Terlalu terpaku pada pekerjaan atau tersita untuk mengurus keluarga atau sangat sibuk berorganisasi atau bahkan sangat menyia-nyiakan waktu. Dalam sehari waktu hanya tersedia 24 jam, tidak dapat ditambah maupun dikurangi. Waktu adalah satu-satunya sumberdaya yang sangat "fix."
Pernahkah anda mendengar seseorang pekerja keras yang menghabiskan waktunya untuk bekerja mengejar karir, kemudian terbaring sakit dalam waktu lama. Sakitnya yang parah telah menyita waktunya untuk beristirahat di rumah sakit. Ini bentuk kompensasi dari sang tubuh. Kata sang tubuh "baik tuanku selama ini anda telah bekerja keras melupakan kebutuhan tubuh untuk istirahat, sekarang giliranku sang tubuh menagih waktu yang telah sekian lama engkau abaikan." Demikian juga keluarga apabila terlalu lama diabaikan maka suatu waktu akan menagihnya dan sebagian waktu anda akan habis tersita mengurus keluarga, itupun kalau anda peduli keluarga dan ingin keutuhan keluarga anda tidak runtuh.
Keseimbangan hidup itu sangat penting. Sang Maha Kuasa telah membuat waktu siang dan malam, artinya ada waktu beraktivitas dan waktu beristirahat. Secara umum pembagian waktu untuk dialokasikan secara proporsional adalah meliputi kebutuhan sebagi berikut :
1. beribadah kepada (Allah) meskipun sebetulnya seluruh aktivitas kita didunia ini adalah untuk beribadah kepadaNYA.
2. Keperluan mengurus diri sendiri (makan, minum, mandi, dsbnya).
3. Kehidupan sosial.
4. Kehidupan keluarga.
5. Mencari nafkah dan membangun karir.
6. Aktivitas belajar.
7. Olahraga.
8. Berbudaya dan berkesenian.
9. Rekreasi.
10. Istirahat.
Seluruh aktivitas diatas memerlukan keseimbangan untuk dilaksanakan. Ketimpangan dalam suatu hal akan mengganggu sistem keseimbangan tubuh dan merusakan keseimbangan hidup. Coba anda simulasikan berapa alokasi waktu anda untuk masing-masing kegiatan diatas.
Jangan sampai anda terpaku pada suatu bidang atau waktu anda tersita pada satu hal dan mengabaikan hal lainnya, karena apabila ada yang diabaikan maka suatu waktu akan ditagihkan kembali kepada anda beserta bunganya sekalian. Satu bulan anda mengabaikan kesehatan mungkin nanti anda akan ditagih untuk mengurus kesehatan selama berbulan-bulan (karena sudah termasuk bunganya). Satu bulan anda mengabaikan keluarga maka suatu waktu perhatian dan waktu anda akan tersita dalam berbulan-bulan bahkan tahunan untuk mengurus keluarga anda.
Jadi, jagalah kehidupan anda secara berkeseimbangan.
Kamis, 03 Juli 2008
MASYARAKAT SAKIT NEGARA GAGAL
Aku agak bingung memulai judul tulisan ini. Apakah masyarakatnya duluan atau negara duluan? Negara gagal dulu baru masyarakat sakit atau sebaliknya atau beriringan? Yang jelas aku berdoa semoga kita tidak tergolong kedua-duanya. Perdefinisi banyak kajian tentang karakteristik negara gagal maupun masyarakat yang sakit. Beberapa benang merah terkait karakteristik keduanya adalah : tidak adanya hukum atau hukum berjalan tidak semestinya, aparat penegak hukum tidak berfungsi sebagaimana mestinya, kebenaran tergantung kekuatan, kekuasaan dan materi. Memasuki negara atau masyarakat seperti ini tak ubahnya seperti memasuki hutan rimba raya.
Jujur aku mengatakan sebetulnya secara ekstrim kita belum didalam kondisi seperti itu. Namun, apabila tidak hati-hati kita akan menuju kesana. Ditengah sorotan yang luar biasa terhadap lembaga Kejaksaan kita masih menyaksikan adanya upaya-upaya hukum untuk memproses masalah tersebut. Kita pun menyaksikan masih terlihat adanya upaya penegakan hukum, meskipun disisi lain tetap dikritisi mengenai lambatnya proses itu berlangsung.
Disisi lain yang cukup penting adalah keadilan. Apabila hukum hanya diterapkan untuk orang kecil kemudian melindungi orang besar, ini jelas-jelas pelanggaran nurani hukum yang mestinya tidak harus terjadi. Untuk mencegah kita agar tidak menuju masyarakat sakit dan negara gagal maka kita harus sekuat tenaga menerapkan hukum yang adil, sistem yang baik (saya kira kita telah memiliki aturan, mekanisme dan lembaga yang cukup untuk ini), tetapi yang paling penting adalah SDM nya yaitu adanya aparat hukum yang bersih dan menjalankan tugas secara profesional dan berhati nurani.
Jujur aku mengatakan sebetulnya secara ekstrim kita belum didalam kondisi seperti itu. Namun, apabila tidak hati-hati kita akan menuju kesana. Ditengah sorotan yang luar biasa terhadap lembaga Kejaksaan kita masih menyaksikan adanya upaya-upaya hukum untuk memproses masalah tersebut. Kita pun menyaksikan masih terlihat adanya upaya penegakan hukum, meskipun disisi lain tetap dikritisi mengenai lambatnya proses itu berlangsung.
Disisi lain yang cukup penting adalah keadilan. Apabila hukum hanya diterapkan untuk orang kecil kemudian melindungi orang besar, ini jelas-jelas pelanggaran nurani hukum yang mestinya tidak harus terjadi. Untuk mencegah kita agar tidak menuju masyarakat sakit dan negara gagal maka kita harus sekuat tenaga menerapkan hukum yang adil, sistem yang baik (saya kira kita telah memiliki aturan, mekanisme dan lembaga yang cukup untuk ini), tetapi yang paling penting adalah SDM nya yaitu adanya aparat hukum yang bersih dan menjalankan tugas secara profesional dan berhati nurani.
TRANSFORMASI ORGANISASI
Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa transformasi organisasi senantiasa diawali oleh suatu kebutuhan yang berkaitan dengan tuntutan bisnis. Tujuan bisnis menjadi pedoman dalam pengelolaan organisasi, termasuk dalam transformasi. Tujuan bisnis yang selalu berkembang (namun tetap dalam koridor visi dan misi) memberi pengaruh dalam manjemen perusahaan. Satu diantara yaitu penyesuaian dalam struktur organisasi, yang menyesuaikan terhadap strategi yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan.
Perubahan struktur organisasi dari bentuk lama ke bentuk baru memberikan dampak yang tidak hanya menyangkut pola struktur itu sendiri, tetapi juga keberbagai aspek lain seperti sistem, prosedur, budaya, manusia dan sebagainya. Hal ini terkadang luput dari perhatian pengelola organisasi yang terkadang hanya terpaku pada struktur dan sistem namun mengabaikan masalah kultur dan manusia.
Berbicara tentang kultur dan manusia dalam konteks transformasi, maka dua aspek penting yang harus menjadi pertimbangan, yaitu kepemimpinan dan komunikasi. Lazim diketahui bahwa suatu perubahan senantiasa disikapi oleh pro dan kontra. Kontra dalam hal ini termasuk sikap resisten untuk menerima perubahan, sehingga hal ini dapat menjadi faktor penghambat dalam mencapai tujuan perubahan organisasi. Faktor resisten ini memerlukan kepemimpinan yang tepat dan komunikasi yang sesuai untuk mengubah perilaku non-kooperatif menjadi perilaku kooperatif. Aspek lain yang perlu dipertimbangkan adalah karakteristik organisasi, budaya/kultur, core business dan homogenitas versus heterogenitas.
Banyak pengertian tentang transformasi maupun organisasi. Dari berbagai pengertian tersebut transformasi dapat disimpulkan sebagai suatu proses perubahan dari suatu kondisi ke kondisi lain untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.
Perubahan ini bisa bermakna luas. Keinginan berubah bisa didrive dari luar atau merupakan dorongan dalam diri untuk mencapai suatu situasi yang lebih baik.
Organisasi dapat diartikan suatu kumpulan individu yang secara sadar bersama-sama bekerja untuk mencapai suatu tujuan bersama. Pengorganisasian terkait dengan mengelola sumber daya dikaitkan dengan aktivitas yang ada. Pengorganisasian adalah suatu kegiatan untuk mengsinkronkan berbagai kegiatan yang ada kemudian mengalokasian penggunaaan sumber daya secara tepat.
Beberapa ahli menyebutkan TO adalah perluasan dari Organization Development (OD). OD sendiri diartikan oleh sebagian ahli sebagai sebuah tindakan untuk melakukan perubahan, suatu strategi untuk merubah keyakinan, sikap, nilai-nilai dan struktur organisasi agar dapat menyesuaikan diri secara lebih baik terhadap teknologi baru, perkembangan pasar dan tantangan baru.
Dengan demikian transformasi organisasi dapat disimpulkan sebagai suatu strategi dan implementasi untuk membawa organisasi dari bentuk dan sistem yang lama ke bentuk dan sistem yang baru dengan menyesuaikan seluruh elemen ikutannya (sistem, struktur, people, culture) dalam rangka meningkatkan efektivitas organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan selaras dengan visi dan misi organisasi/perusahaan.
Pertanyaan kunci dalam transformasi adalah keberhasilannya. Dalam hal ini keberhasilan pengukurannya jelas mengacu pada apakah tujuan dari transformasi tersebut tercapai atau tidak. Beberapa pedoman untuk menjawab apakah transformasi berhasil atau tidak (setelah melewati suatu kurun tertentu yang ditetapkan untuk periode transformasi) adalah melalui jawaban terhadap pertanyaan sebagai berikut :
1. Apakah perusahaan/organisasi tumbuh atau eksis?
2. Apakah pendapatan dan laba meningkat?
3. Apakah market share meningkat?
4. Apakah kepuasan konsumen/klien meningkat?
5. Apakah kepuasan mitra kerja meningkat?
6. Apakah kepuasan karyawan meningkat?
7. Apakah kepuasan shareholder meningkat?
Jika sebagian besar jawaban dari pertanyaan diatas adalah ”ya” dapatlah dikatakan transformasi tersebut berhasil. Jika sebagian besar jawabannya adalah ”tidak” maka perlu dilakukan evaluasi menyeluruh tentang ketidakberhasilan transformasi tersebut. Setidaknya dapat ditentukan faktor kegagalan apakah berkaitan dengan tidak pasnya tujuan atau strategi kurang tepat, faktor ”people”, ”leadership,” ”timing,” sumber daya yang kurang mendukung atau program yang tidak sesuai. Penentuan faktor kegagalan ini akan menjadi modal untuk merancang manajemen transformasi lebih lanjut.
Perubahan struktur organisasi dari bentuk lama ke bentuk baru memberikan dampak yang tidak hanya menyangkut pola struktur itu sendiri, tetapi juga keberbagai aspek lain seperti sistem, prosedur, budaya, manusia dan sebagainya. Hal ini terkadang luput dari perhatian pengelola organisasi yang terkadang hanya terpaku pada struktur dan sistem namun mengabaikan masalah kultur dan manusia.
Berbicara tentang kultur dan manusia dalam konteks transformasi, maka dua aspek penting yang harus menjadi pertimbangan, yaitu kepemimpinan dan komunikasi. Lazim diketahui bahwa suatu perubahan senantiasa disikapi oleh pro dan kontra. Kontra dalam hal ini termasuk sikap resisten untuk menerima perubahan, sehingga hal ini dapat menjadi faktor penghambat dalam mencapai tujuan perubahan organisasi. Faktor resisten ini memerlukan kepemimpinan yang tepat dan komunikasi yang sesuai untuk mengubah perilaku non-kooperatif menjadi perilaku kooperatif. Aspek lain yang perlu dipertimbangkan adalah karakteristik organisasi, budaya/kultur, core business dan homogenitas versus heterogenitas.
Banyak pengertian tentang transformasi maupun organisasi. Dari berbagai pengertian tersebut transformasi dapat disimpulkan sebagai suatu proses perubahan dari suatu kondisi ke kondisi lain untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.
Perubahan ini bisa bermakna luas. Keinginan berubah bisa didrive dari luar atau merupakan dorongan dalam diri untuk mencapai suatu situasi yang lebih baik.
Organisasi dapat diartikan suatu kumpulan individu yang secara sadar bersama-sama bekerja untuk mencapai suatu tujuan bersama. Pengorganisasian terkait dengan mengelola sumber daya dikaitkan dengan aktivitas yang ada. Pengorganisasian adalah suatu kegiatan untuk mengsinkronkan berbagai kegiatan yang ada kemudian mengalokasian penggunaaan sumber daya secara tepat.
Beberapa ahli menyebutkan TO adalah perluasan dari Organization Development (OD). OD sendiri diartikan oleh sebagian ahli sebagai sebuah tindakan untuk melakukan perubahan, suatu strategi untuk merubah keyakinan, sikap, nilai-nilai dan struktur organisasi agar dapat menyesuaikan diri secara lebih baik terhadap teknologi baru, perkembangan pasar dan tantangan baru.
Dengan demikian transformasi organisasi dapat disimpulkan sebagai suatu strategi dan implementasi untuk membawa organisasi dari bentuk dan sistem yang lama ke bentuk dan sistem yang baru dengan menyesuaikan seluruh elemen ikutannya (sistem, struktur, people, culture) dalam rangka meningkatkan efektivitas organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan selaras dengan visi dan misi organisasi/perusahaan.
Pertanyaan kunci dalam transformasi adalah keberhasilannya. Dalam hal ini keberhasilan pengukurannya jelas mengacu pada apakah tujuan dari transformasi tersebut tercapai atau tidak. Beberapa pedoman untuk menjawab apakah transformasi berhasil atau tidak (setelah melewati suatu kurun tertentu yang ditetapkan untuk periode transformasi) adalah melalui jawaban terhadap pertanyaan sebagai berikut :
1. Apakah perusahaan/organisasi tumbuh atau eksis?
2. Apakah pendapatan dan laba meningkat?
3. Apakah market share meningkat?
4. Apakah kepuasan konsumen/klien meningkat?
5. Apakah kepuasan mitra kerja meningkat?
6. Apakah kepuasan karyawan meningkat?
7. Apakah kepuasan shareholder meningkat?
Jika sebagian besar jawaban dari pertanyaan diatas adalah ”ya” dapatlah dikatakan transformasi tersebut berhasil. Jika sebagian besar jawabannya adalah ”tidak” maka perlu dilakukan evaluasi menyeluruh tentang ketidakberhasilan transformasi tersebut. Setidaknya dapat ditentukan faktor kegagalan apakah berkaitan dengan tidak pasnya tujuan atau strategi kurang tepat, faktor ”people”, ”leadership,” ”timing,” sumber daya yang kurang mendukung atau program yang tidak sesuai. Penentuan faktor kegagalan ini akan menjadi modal untuk merancang manajemen transformasi lebih lanjut.
Rabu, 02 Juli 2008
PETA HATI SUAMI ISTRI
Dalam beberapa kesempatan aku pernah diminta masukan masalah relasi suami istri. Relasi suami istri memang suatu relasi yang cukup kompleks namun menjadi sumber utama pula dalam kebahagiaan hidup. Bahkan relasi suami istri dianggap suatu relasi yang cukup kuat, bahkan pasangan kita sering disebut dengan belahan jiwa. Jika hubungan orang tua dan anak merupakan suatu hubungan yang jelas-jelas dipertautkan dengan unsur genetis, maka kekuatan hubungan suami istri adalah dimensi batin yang menjadi basisnya. Dua orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda bersatu untuk suatu tujuan tertentu. Hubungan ini menjadi suatu ikatan yang sakral, bahkan Allah sangat murka dan membenci apabila hubungan ini berakhir atau bercerai.
Namun, seperti disebut sebelumnya, relasi suami istri juga suatu relasi yang paling kompleks. keluarga yang merupakan unit sosial terkecil, fondasi keutuhannya sangat ditentukan oleh relasi suami istri. Hubungan yang kurang berkualitas, hubungan terganggu bahkan hubungan yang rusak akan sangat mencederai kehidupan keluarga dan pada gilirannya akan mempengaruhi kualitas tumbuh kembang seorang anak.
Dari hasil penelusuran literatur dan berbagai pengalaman dibidang praktik psikologi, penulis menemukan suatu pendekatan yang disebut dengan PETA HATI SUAMI ISTRI (PHSI). PHSI ini bertujuan untuk :
1. Meningkatkan kualitas relasi suami istri.
2. Memperbaiki gangguan hubungan suami istri.
3. Memperomosikan cara-cara relasi yang sehat.
Namun, pendekatan tersebut akan efektif apabila didukung oleh syarat sebagai berikut :
1. Adanya kesedian kedua belah pihak suami maupun istri untuk berpartisipasi secara aktif.
2. Adanya komitmen untuk melaksanakan saran-saran hasil konsultasi.
3. Adanya kesediaan untuk melakukan evaluasi bersama.
Deskripsi ringkas tentang PHSI sebagai berikut :
1. Relasi suami istri ibarat peta, ada pulau, selat, laut, kota dan sebagainya.
2. Suami dan istri masing-masing punya pulau sendiri dan pulau bersama.
3. Dalam berinteraksi ada pengaruh iklim, cuaca dan kondisi geogarafi dan demografi.
4. Suami istri dengan dibantu psikolog memetakan semua kondisi diatas.
5. Dirumuskan kondisi ideal yang diinginkan dan dimana posisi saat ini.
6. Berdasarkan gap yang ada (hasil analisa nomor 5) disusun langkah-langkah untuk mencapai peta hati yang ideal.
7. Plot dalam pilot project (program, owner, jadwal, target-target antara)
8. Definisikan faktor penghambat dan faktor pendukung.
9. Temukan langkah-langkah efektif untuk mengatasi hambatan danmempromosikan faktor positif pendukung.
10. Lakukan dengan konsisten dan penuh komitmen.
Namun, seperti disebut sebelumnya, relasi suami istri juga suatu relasi yang paling kompleks. keluarga yang merupakan unit sosial terkecil, fondasi keutuhannya sangat ditentukan oleh relasi suami istri. Hubungan yang kurang berkualitas, hubungan terganggu bahkan hubungan yang rusak akan sangat mencederai kehidupan keluarga dan pada gilirannya akan mempengaruhi kualitas tumbuh kembang seorang anak.
Dari hasil penelusuran literatur dan berbagai pengalaman dibidang praktik psikologi, penulis menemukan suatu pendekatan yang disebut dengan PETA HATI SUAMI ISTRI (PHSI). PHSI ini bertujuan untuk :
1. Meningkatkan kualitas relasi suami istri.
2. Memperbaiki gangguan hubungan suami istri.
3. Memperomosikan cara-cara relasi yang sehat.
Namun, pendekatan tersebut akan efektif apabila didukung oleh syarat sebagai berikut :
1. Adanya kesedian kedua belah pihak suami maupun istri untuk berpartisipasi secara aktif.
2. Adanya komitmen untuk melaksanakan saran-saran hasil konsultasi.
3. Adanya kesediaan untuk melakukan evaluasi bersama.
Deskripsi ringkas tentang PHSI sebagai berikut :
1. Relasi suami istri ibarat peta, ada pulau, selat, laut, kota dan sebagainya.
2. Suami dan istri masing-masing punya pulau sendiri dan pulau bersama.
3. Dalam berinteraksi ada pengaruh iklim, cuaca dan kondisi geogarafi dan demografi.
4. Suami istri dengan dibantu psikolog memetakan semua kondisi diatas.
5. Dirumuskan kondisi ideal yang diinginkan dan dimana posisi saat ini.
6. Berdasarkan gap yang ada (hasil analisa nomor 5) disusun langkah-langkah untuk mencapai peta hati yang ideal.
7. Plot dalam pilot project (program, owner, jadwal, target-target antara)
8. Definisikan faktor penghambat dan faktor pendukung.
9. Temukan langkah-langkah efektif untuk mengatasi hambatan danmempromosikan faktor positif pendukung.
10. Lakukan dengan konsisten dan penuh komitmen.
LEADERSHIP IN TRANSITION
Aku kemarin Selasa 1 Juli 2008 berkesempatan mengikuti Seminar Leadership in Transition yang diselenggarakan oleh DDI dengan menhadirkan pembicara Ann Howard, Dirut BEI Erry Firmansyah, CEO Kompas, CEO Holcim, Chairman JP Morgan, Chairman Samudera Indonesia bu Shanti. Acara dipandu oleh Mieke Malaon dan Victor Magdaraog dari DDI Philiphine.
Seminar berjalan sangat dinamis. Leader memang seumpama pelayan, tugas utamanya adalah melayani agar seluruh potensi people dan organisasi bisa berjalan selaras dan secara optimal mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Seminar berjalan sangat dinamis. Leader memang seumpama pelayan, tugas utamanya adalah melayani agar seluruh potensi people dan organisasi bisa berjalan selaras dan secara optimal mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Kemudian dicontohkan juga Leadership itu diumpamakan kita mengelola sebuah restoran, kita melayani seluruh pengunjung, nah fakta mengatakan (dari hasil survey DDI) bahwa hanya sekitar 40% orang yang puas dengan kepemimpinan saat ini. Bayangkan anda buka restoran, hanya 40% yang puas dengan menu dan pelayanan yang anda sajikan. Kalau menurut saya disini ada krisis kepemimpinan.
Dari pengalaman saya memimpin mulai dari dulu ketua Angkatan jaman mahasiswa, di Senat Mahasiswa, Ketua Asrama Mahasiswa, Ketua RT, Ketua Organisasi Profesi Psikologi (Himpsi) dan berbagai aktivitas lainnya dilingkungan masyarakat maupun profesi, maupun menduduki jabatan formal di perusahaan/kantor, memang leadership itu adalah melayani. Dalam menjalankan fungsi kepemimpinan itu kita harus siap menderita, berkorban, disudutkan dan menghadapi berbagai tekanan. Tetapi pada saat kita berhasil mengatasi semua itu dengan baik akan timbul kepuasan yang luar biasa, meskipun berkorban disisi lain ada kualitas personal yang dirasakan meningkat. Memang benar kata orang bijak aktivitas memberi lebih memiliki kepuasan daripada menerima. Anda lebih terhormat dalam posisi memberi meskipun untuk itu anda harus berkorban. Bukankah ajaran agama juga mengatakan tangan diatas lebih mulia dari tangan yang dibawah dan sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. menurutku itulah intinya kepemimpinan alias leadership, bagaimana dengan anda?
Langganan:
Postingan (Atom)