Tampilkan postingan dengan label My Activities. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Activities. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Juli 2011

TELKOM RAIH 5 PENGHARGAAN INDONESIAN HUMAN CAPITAL STUDY (IHCS) 2011


Pada hari Kamis (30/6/2011) Penulis ikut menghadiri penyerahan penghargaan Indonesian Human Capital Study (IHCS). Telkom meraih 5 kategori penghargaan. BUMN ternama ini masih menunjukkan kehandalannya dalam pengelolaan SDM atau Human Capital. Hal ini terbukti dengan diraihnya berbagai penghargaan di bidang SDM atau Human Capital. Pada penyerahan penghargaan IHCS kali ini Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah dan Direktur HCGA Telkom, Faisal Syam hadir untuk menerima piala penghargaan dalam ajang Indonesian Human Capital Study (IHCS) 2011. Dalam kesempatan itu, Telkom membawa pulang 5 piala untuk masing-masing kategori yang berbeda. Acara tersebut berlangsung di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta.

Adapun kategori yang dimenangkan oleh Telkom adalah The Best For Human Capital Index Kategori Infrastructure, Utilities, & Transportation Industry, The Best For Employee Net Promoter Score Kategori Infrastructure, Utilities, & Transportation Industry, The Best for All Criteria, The Best for CEO Commitment, dan The Best For Human Capital Initiative untuk kategori Career Management.

Di bagian lain, saat itu juga dilakukan penetapan tanggal 30 Juni sebagai Hari Kinerja Karyawan Nasional (HK2N) yang nantinya akan ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar. Dalam kesempatan itu Direktur Utama, Rinaldi Firmansyah dan Direktur HCGA, Faisal Syam dan para pimpinan perusahaan peserta 2011 IHCS melakukan penandatangaan prasasti, menandai dicanangkannya HK2N.

M. Lutfi Handayani selaku Ketua Panitia Penyelenggara 2011 IHCS sekaligus Pemimpin Redaksi Business Review menyebutkan, ”2011 IHCS dilaksanakan pula untuk memperkuat kebersamaan dalam membangun dan meningkatkan kinerja karyawan. Selain itu dalam event IHCS ini juga dilakukan launching Hari Kinerja Karyawan Nasional (HK2N) yang bertujuan untuk mendorong upaya peningkatan kinerja perusahaan melalui peningkatan kinerja karyawan”, jelasnya.

Lutfi menambahkan, IHCS mengukur tiga komponen Human Capital System meliputi pemenuhan kebutuhan management dalam penerapan Human Capital System di suatu perusahaan dengan indikator Human Capital Index (HCI), pemenuhan kebutuhan karyawan dalam penerapan Human Capital System di suatu perusahaan dengan indikator Net Promoter Score (NPS) dan Human Capital Score (HC Score) serta mengukur bagaiman inisiatif-inisiatif sistem Human Capital yang dimiliki oleh suatu perusahaan baik yang sudah, sedang dan akan dilakukan.

(Dikutip dari Portal Telkom)


Minggu, 14 November 2010

HILANG KOPER DI BARCELONA


Pada akhir Oktober yang lalu lebih kurang selama satu minggu penulis berkesempatan mengikut Employee Engagement Seminar di Barcelona Spanyol. Perjalanan dilakukan dengan menggunakan Maskapai Penerbangan KLM dengan rute Jakarta-Kuala Lumpur – Amsterdam – Barcelona.

Dengan bersatunya Eropa melalui Uni Eropa maka gerbang masuk ke Eropa cukup dikendalikan dari satu negara yang termasuk Masyarakat Ekonomi Eropa, kemudian perjalanan dapat dilanjutkan kenegara lain tanpa harus melalui pemeriksaan imigrasi. Demikian pula yang penulis alami. Pemeriksaaan imigrasi hanya dilakukan di Amsterdam Belanda kemudian setelah itu dapat langsung terbang ke Spanyol dan mendarat di Barcelona tanpa melewati pemeriksaan imigrasi oleh petugas di Spanyol.

Hal yang unik justru terjadi saat pengambilan bagasi, penulis tidak menemukan bagasi milik penulis. Sedangkan bagasi milik rekan seperjalan penulis ditemukan namun dalam keadaan kunci yang telah dirusak/dibongkar. Kami berdua menyampaikan komplain ke counter KLM di Barcelona Airport. Mereka menanggapi dengan simpatik.

Karena kehilangan koper penulis terpaksa harus berbelanja pakaian setiba di Barcelona. Padahal pakaian lengkap sudah dibawa dari Indonesia, apadaya sebagian uang yang seharusnya untuk dibelikan oleh-oleh dan jalan-jalan terpaksa direlakan untuk membeli pakaian.

Kopor penulis sendiri baru diantarkan malam hari ke Hotel (padahal sudah beli pakaian). Kondisi koper dalam keadaan kunci rusak dan sudah dibongkar, isi didalam sudah diacak-acak, untung pakaian masih lengkap. Atas kejadiaan ini penulis mendapat ganti rugi 25 Euro, yah hanya 25 Euro, padahal beli pakaian aja sudah habis 100 Euro belum lagi koper rusak dan penderitaan batin karena stress koper hilang.

Hal seperti ini pernah penulis alami di Amerika Serikat saat perjalanan dari Washington D.C ke Houston Texas. Saat mendarat di Houston Airport penulis tidak menemukan koper, terpaksa setelah tiba di hotel langsung keluar untuk berbelanja pakaian. Koper baru diantarkan malam hari ke hotel namun koper masih dalam keadaan baik tidak seperti kasus Barcelona dimana koper penulis dibongkar dan di acak-acak.

Di negara maju pun kasus seperti ini masih terjadi. Bagaimana di Indonesia?

Rabu, 14 Juli 2010

WISUDA (WILUJENG SUSAH DAMAL)

Pada tanggal 8 Juli 2010 penulis diminta memberikan pembekalan bagi para lulusan baru UNPAD di Kampus UNPAD Jl. Dipati Ukur Bandung. Hadir sejumlah 100-an lulusan sarjana baru. Acara di buka oleh Pembantu Rektor III UNPAD Prof. Dr. Trias.

Saat membuka acara tersebut DR. Trias mengungkapkan berbagai persiapan yang harus dilakukan para lulusan sarjana baru agar bisa memasuki dunia kerja yang sesuai dengan minat dan keahliannya. Disebutkan pula mungkin tidak semua mereka mampu menghadapi persaingan untuk berkiprah didunia kerja, untuk itu bekal pengetahuan dan mental sangat diperlukan. Hal menarik adalah saat beliau menyinggung kata WISUDA. Wisuda disini bukanlah suatu kegiatan pengakuan akademik untuk menabalkan seseorang sebagai sarjana, tetapi WISUDA disini diartikan WILUJENG SESAH DAMAL, yang kurang lebih berarti SELAMAT SUSAH MENCARI KERJA.

Memang benar bahwa tidak seluruh lulusan baru terserap oleh dunia kerja, sebagian mereka menjadi penganggurang, pengangguran intelek. Orientasi mencari kerja lebih besar daripada orientasi untuk menciptakan lapangan kerja. Ini sangat mungkin dikaitkan dengan sistem kependidikan kita yang kurang memberikan tempat pada inovasi, kreativitas dan alergi terhadap perbedaan pendapat dan sikap. Ini juga menjadi bagian dosa kita yang tidak memberikan kesempatan anak didik bersikap kritis, kurang bersahabat dengan sikap kompetitif dan kurang menghargai prestasi individu. Alhasil sistem pendidikan kita menghasilkan lulusan yang berebut mencari pekerjaan dan hanya segelintir mereka yang berupaya menciptakan pekerjaan.

Mereka yang menciptakan pekerjaan adalah yang berjiwa entrepreneur, berusaha secara jeli melihat peluang usaha dan senang akan tantangan serta selalu mengevaluasi diri untuk secara berkala meningkatkan kemampuan dirinya. Karakteristik seperti inilah yang dibutuhkan bagi mereka yang mampu menjawab tuntutan jaman, menjadi seorang pencipta lapangan kerja bukan sebagai pengekor pencari kerja. Di negera manapun pasti akan terjadi ledakan pengangguran apabila seluruh generasi mudanya atau para sarjana lulusan perguruan tinggi berbondong-bondong mencari kerja.

Jiwa kreativitas dan entrepreneur memang perlu ditumbuhkan dalam sistem pendidikan kita agar menghasilkan para lulusan yang mampu menciptakan peluang, menangkap peluang dan memanfaatkan peluang. Sistem pendidikan yang mengedepankan kreativitas memang akan tumbuh dalam suasana pendidikan yang demokratis, kondisi stara antara seluruh civitas academica terutama antara mahasiswa dan dosen.

Namun, kita menyadari pula kekeliruan tidak semata-mata ada di lembaga pendidikan tetapi terjadi di seluruh lembaga dan sistem yang berlaku dimasyarakat, termasuk kekeliruan yang terjadi dalam lembaga keluarga. Terutama pada keluarga menengah keatas terlihat sikap yang memproteksi berlebihan terhadap anak-anaknya. Kurang memberikan kesempatan mandiri terhadap anak akan menumbuhkan pribadi yang manja dan selalu tergantung pada orang lain. Tentu akan sulit kita harapkan pada pribadi yang tumbuh dalam situasi seperti ini untuk menjadi kreatif dan inovatif. Selain itu masyarakat yang terlalu mengagungkan kesarjanaan dengan berbagai perangkat gelar turut menumpulkan gairah orang untuk kreatif. Masyarakat kita adalah masyarakat gelar yang mengagung-agungkan status kesarjaan dibandingkan keahlian. Dengan iklim seperti ini semakin menyumbang kekeliruan penyelenggaran pendidikan yang ada. Akhirnya kita temukan lulusan yang sekedar bangga dengan gelarnya, berbondong-bondong berebut pekerjaan dan minim kreativitas serta inovasi. Hanya segelintir dari mereka yang kreatif dan inovatif yang kalau ditilik memang sejak dari kecil telah tumbuh dalam keluarga yang memang memanamkan nilai-nilai kemandirian, kreatif, inovatif, menghargai sebuah hasil yang baik memerlukan proses perjuangan bertahap. Mereka tumbuh dalam keluarga yang disiplin, berorientasi prestasi dan senantiasa menanamkan kemandirian dalam pengasuhan keluarga.

Sekedar catatan tambahan dari penulis, dari sekian lama hampir 20 tahun mengamati dan terlibat langsung dalam proses rekrutmen karyawan serta melihat bagaimana peforma mereka pasca rekrut menunjukkan bahwa prestasi akademik yang ditunjukkan melalui nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) tidak selalu menjamin keberhasilan seseorang saat bekerja. Prestasi akademis hanya sekedar menggambarkan kemampuan intelektualitas seseorang, namun belum secara utuh menggambarkan mereka sebagai calon karyawan yang baik. Seseorang dapat berkinerja baik apabila memiliki kemampuan inteletual, emosional, sosial, spiritual secara integratif dan balance. Bisa saja seseroang memiliki kemampuan intelektual rata-rata namun didukung oleh kemampuan emosional, sosial, spiritual yang baik maka akan memberikan modal untuk bekerja dan bekinerja secara baik pula.

Lembaga pendidikan yang hanya fokus pada aspek intelektual tidak bisa diharapkan dapat memberikan bekal yang cukup untuk kemampuan emosional, sosial dan spiritual. Kemampuan ini akan diperoleh melalui proses pengasuhan dalam keluarga dan melalui berbagai kegiatan lain yang ada dimasyarakat. Kegiatan-kegiatan ini juga akan dapat terasah melalui berbagai kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan berorganisasi baik didalam kampus maupun diluar kampus.

Jadi bagi anda yang baru lulus sarjana, kita ucapkan selamat WISUDA namun bukan wisuda yang berarti Wilujeng Sesah Damal.

Selasa, 13 Juli 2010

REFORMASI BIROKRASI

Pada tanggal 30 Juni 2010 penulis mendapat undangan untuk hadir dalam acara diskusi Reformasi Birokrasi yang diselenggarakan oleh Daya DimenSI Indonesia (DDI) di Jakarta. Sebagai pembicara utama dalam diskusi tersebut adalah Prof. Dr. Eko Prasojo Guru Besar Ilmu Administrasi Fisip UI dan Martiono Hadianto yang sebelumnya dikenal sebagai Chief Director Pertamina dan saat ini menjabat President Director of PT Newmont Pacific Nusantara. Hadir dalam diskusi tersebut para akademisi dan praktisi serta sejumlah profesional dari berbagai perusahaan yang berjumlah 50 orang.

Reformasi birokrasi merupakan isu besar di negeri ini, sesuatu yang menjadi tantangan sekaligus juga problema. Birokrasi yang mestinya menjadi oli pelancar pembangunan justru saat ini menjadi momok kontra produktif bagi pembangunan negeri. Berbicara reformasi menurut Prof. Eko Prasojo memang tidak pernah ada kata akhir. Selalu ada kebutuhan untuk memperbaharuinya sesuai dengan perkembangan jaman, ia menyebut “reform is never ending process.”

Reformasi birokrasi sesungguhnya adalah reformasi administrasi pengelola negara. Namun, dalam tataran ini administration reform juga sekaligus merupakan suatu proses politik, “administration reform is a political process.” Artinya, kemauan politik menjadi motivasi penting untuk melakukan pembenahan administrasi penyelenggaraan pemerintahan. Berbicara politik tentunya kepentingan kekuasaan sangat berperan. Pada saat kita berbicara kepentingan kekuasaan sering sekali hal ini tidak sejalan dengan niat luhur administration reform dan tentunya akan berseberangan pula dengan kepentingan reformasi birokrasi.

Pada saat mencoba memahami makna reformasi birokrasi, Martiono menyebutkan ada pemahaman yang keliru terhadap pengertian government sendiri. Kita sering mengartikan government sebagai pemerintahan. Pengertian government versus pemerintah dianalogikan dengan pemahaman pangreh praja versus pamong praja. Jika pengertian pemerintah yang digunakan maka watak kekuasaan akan lebih mendominasi dibandingkan dengan watak pelayanan. Reformasi birokrasi sendiri sesungguhnya kental akan kebutuhan aparat negara untuk melayani. Fungsi lembaga Negara mestinya untuk melayani bukan untuk memerintah. Problem terminologi ini penting karena akan mempengaruhi value dan belief kita terhadap fungsi dan peran suatu lembaga.

Membicarakan reformasi birokrasi tidak terlepas dari unsur people disamping berbicara system, procedure maupun structure. Unsur people atau orang adalah vital untuk mengubah budaya birokrasi. Proses awal untuk memilih orang-orang terbaik adalah saat rekrutmen para tenaga penggerak organisasi tersebut. Kekeliruan dan ketidakbenaran dalam proses rekrutmen memberikan sumbangan yang paling besar terhadap ketidakberesan birokrasi. Rekrutmen ini meliputi seluruh lini pengelola organisasi. Namun, kemauan yang kuat untuk membenahinya harus dimulai pada rekrutmen untuk level strategis karena pada level inilah yang menjadi kunci keberhasilan reformasi birokrasi.
Jadi jika ingin membenahi birokrasi dan melakukan reformasi birokrasi hal terpenting yang harus dilakukan adalah melakukan rekrutmen SDM yang tepat terhadap orang-orang yang akan mengelola birokrasi, terutama melakukan pemilihan yang tepat terhadap orang-orang yang akan ditempatkan pada level strategis di suatu lembaga penyelenggara negara.

Selasa, 29 Juni 2010

GELADI MAHASISWA IT TELKOM

Pada tanggal 25 Juni 2010 penulis diminta untuk memberikan pembekalan kepada para Mahasiswa Institut Teknologi Telkom (ITT) di Kampus ITT Dayeuh Kolot Bandung. Pembekalan ini dalam rangka persiapan bagi para mahasiswa yang akan mengikuti Geladi di berbagai kantor Telkom yang ada diseluruh Indonesia. Kegiatan diikuti sejumlah hampir 1000 peserta dihadiri oleh Pembantu Rektor, Direktur Dukungan Akademik dan Kepala Bagian Administrasi ITT.

Geladi adalah program latihan kerja lapangan bagi mahasiswa yang telah mengikuti program pendidikan paling sedikit 4 semester, untuk mengenal dan menghayati ruang lingkup pekerjaan operasional dilapangan, belajar mengadaptasikan diri dengan lingkungan guna melengkapi proses belajar yang didapat di bangku kuliah.

Program Geladi ini bertujuan untuk memberikan pengalaman praktek kerja kepada para mahasiswa secara langsung serta menggali berbagai permasalahan kerja yang timbul di lapangan. Hal ini diperlukan untuk meningkatan wawasan dan keterampilan baik secara tehnis maupun hubungan kemanusiaan serta memberikan pengalaman dalam tim kerja dan mendorong timbulnya inovasi kepada peserta geladi.

Dalam pengalaman penulis saat melakukan kegiatan rekrutmen atau mengamati para karyawan baru yang baru menyelesaikan pendidikan sering sekali mereka mengalami kesulitan dalam proses adaptasi, baik adaptasi terhadap bidang pekerjaan, adaptasi dalam hubungan sosial atau pun adapatasi dalam penyesuaian lingkungan yang lebih luas.

Jika ditilik kesulitan adaptasi tersebut bersumber dari ketidakmatangan emosi dan kurang memiliki keterampilan sosial. Disisi lain mereka memiliki kemampuan inteletualitas dan wawasan keilmuan yang baik, namun dalam praktek atau implementasinya sering mengalami kesulitan. Hal ini berakibat pada kurang berhasilnya mereka dalam memulai tugas-tugasnya sebagai seorang karyawan baru. Memang disini peran mentor atau para atasannya sangat penting untuk memberikan dukungan yang diperlukan agar dalam proses awal bekerja tersebut dapat berlangsung dengan baik.

Hal lain yang perlu dicermati adalah keterbiasaan seseorang dalam menghadapi situasi kerja, yang tentu variabelnya sangat berbeda dengan lingkungan pendidikan. Untuk meminimalkan kesenjangan ini sering dilakukan kerjasama antara lembaga pendidikan atau Perguruan Tinggi dengan Dunia Usaha. Diantaranya dengan program magang, praktek kerja, cooperative education (Coop) atau kegiatan geladi.

Dalam diskusi penulis dengan para mahasiswa terlihat mereka memahami dengan baik bidang keilmuannya, namun sering kebingungan mengaplikasikan hakl tersebut dalam situasi kerja. Mereka pun kurang terbiasa bekerja dalam tim, namun disisi lain masih kurang cukup mandiri untuk mengatasi masalah. Ini semakin memperkuat tesis bahwa faktor emosional dan sosiabilitas menjadi faktor yang cukup mempengaruhi permasalahan tersebut. Mungkin perlu dipikirkan dan dirumuskan secara tepat bagaimana mengatasi kesenjangan ini, yaitu suatu rumusan untuk mempersiapkan peserta didik atau mahasiswa agar memiliki kematangan emosional dan sosial yang cukup. Sehingga pada saat mereka menyelesaikan pendidikan, selain memiliki kemampuan intelektual yang cukup, mereka pun memiliki bekal emosional dan sosial yang matang pula. Adakah Perguruan Tinggi yang berminat untuk membahas dan merancang hal ini secara sungguh-sungguh?

Kamis, 06 Mei 2010

OUTBOND & OFFROAD




Pada minggu lalu selama dua hari penulis sempat mengikuti kegiatan Outbond dan Offroad dikawasan Pacet Cipanas. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kerjasama, kemampuan menghadapi tantangan, membangun kepercayaan diri, motivasi dan tangguh dalam mencapai tujuan.


Kegiatan dirancang cukup menarik dengan memadukan keyakinan spiritual dan penggunaan akal sehat dalam menghadapi berbagai hal. Selain itu didorong untuk mengeksplorasi kemampuan diri, mencoba mengaktualisasikannya serta mengkaitkannya dengan tujuan hidup jangka menengah maupun panjang.

Peserta diminta merumuskan apa yang menjadi tujuan hidupnya dalam karir, keluarga, kesehatan, networking dan spiritual. Setidaknya kelima tujuan hidup tersebut merupakan aspek yang cukup penting dalam menjalani hidup menuju kebahagian baik di dunia maupun di akhirat.

Beberapa materi yang diberikan adalah berkaitan dengan psikologi, komunikasi dan pengembangan diri. Kemudian diberi simulasi seperti menginjak beling dengan keyakinan dan tanpa terluka, simulasi negosiasi dan transaksi, kegiatan lapangan seperti membangun tiang bendera bersama kelompok. Selanjutnya dilakukan kegiatan offroad dengan medan menantang dan peserta ditugas mencari bendera yang tersembunyi.


Kegiatan tersebut dilakukan secara padat namun dalam suasana bermain. Meskipun cukup menguras energi mental dan fisik kegiatan cukup menyenangkan sekaligus juga serius karena bagi yang tidak mentaati aturan yang ada akan diberikan hukuman baik berupa fisik maupun denda uang sehingga mendorong peserta untuk bersungguh-sungguh mengikuti kegiatan karena kalau terkena hukuman bisa-bisa badan gempor dan uang habis terkuras.

Sabtu, 27 Maret 2010

SOLO - KUALA LUMPUR - SINGAPORE


Dalam dua minggu terakhir ini penulis didera kesibukan luar biasa. Selain kegiatan kantor dan organisasi penulis juga harus melakukan perjalanan keluar kota yaitu ke Solo, Kuala Lumpur dan Singapore. Sebelumnya penulis juga mengikut beberapa pelatihan seperti Human Capital Management dan Leadership Course. Banyak tugas yang harus dikerjakan seperti membuat makalah dan bahan presentasi. Sehingga dalam satu bulan terakhir posting tulisan ke blog Habahate ini sangat minim karena berbagai kesibukan tersebut.

Perjalanan ke Solo dari tanggal 17 s/d 21 Maret 2010 mengikuti kegiatan Kongres Psikologi Indonesia. Kongres mengambil tema "Dalam Keberagaman Menuju Indonesia Yang Lebih Baik." Kongres dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Ibu Rustriningsih. Hal menarik saat membuka Kongres Wagub Jateng menyebutkan bahwa saat ini bangsa kita sedang mengalami krisis identitas, jati diri, krisis karakter dan krisis ideologi. Ia mengharapkan para psikolog bisa mencari solusi untuk mengatasi permasalahan diatas. Dalam Kongres tersebut banyak makalah dan hasil penelitian yang berkaitan dengan psikologi dipaparkan dan cukup memperkaya khasanah penelitian dan penulisan psikologi di Indonesia. Terutama masalah keberagaman di Indonesia yang bisa menjadi potensi pembangunan namun apabila tidak dikelola secara bijak berpotensi pula menimbulkan permasalahan. Pendekatan psikologi berupaya melihat keberagaman sebagai sebuah potensi positif bagi pembangunan bangsa.



Selanjutnya tanggal 22 Maret 2010 penulis ke Kuala Lumpur berkunjung ke Telcom Malaysia (TM) untuk membahas permasalahan berkaitan dengan Career Management. Di Telcom Malaysia penulis bertemu dengan DR. Zainal Vice president HR di TM, kami banyak berdiskusi tentang pengelolaan karir di TM. Selain berkunjung ke TM, saat di Malaysia penulis berkesempatan berkunjung kerumah mantan Menteri Informasi Malaysia Tan Sri Datuk Sulaiman Muhammad. Berdiskusi dengan beliau sangat menarik terutama berkaitan dengan kemajuan pembangunan Malaysia. Malaysia juga memiliki masalah keberagaman sebagaimana Indonesia. Keberagaman bisa menjadi potensi positif yang luar biasa namun sekaligus memiliki potensi permasalahan pula apabila tidak dikelola secara baik.

Pada tanggal 25 Maret 2010 perjalanan dilanjutkan ke Singapore berkunjung ke Singapore Telkom (SingTel) untuk membahas topik yang sama tentang karir. Saat di SingTel penulis bertemu dengan Director of Executive Resources SingTel untuk berdiskusi tentang pengelolaan karir eksekutif di Singapore Telcom. Banyak hal yang dibicarakan tentang career, talent, recruitment, HRM dan berbagai hal lainnya tentang pengelolaan SDM.

Penulis menyaksikan pembangunan di Malaysia dan Singapore berkembang sangat pesat, terutama hal yang berkaitan dengan akses transportasi dan akses informasi. Memang salah satu kunci keberhasilan pembangunan adalah ketersediaan akses, disamping ketersediaan energi, komunikasi dan tenaga kerja terampil. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah kualitas Leadership dari para pemimpinnya yang mampu memandu seluruh bangsa bergerak maju dan memiliki visi yang cukup brilian untuk masa depan bangsanya.

Minggu, 20 Desember 2009

HUMAN CAPITAL & KNOWLEDGE MANAGEMENT

Pada tanggal 14 s/d 17 Desember 2009 penulis berkesempatan mengikuti program Human Capital and Knowledge Management (KM) di Melbourne dan Sydney Australia. Program ini selain berbentuk lecture dilengkapi pula dengan kunjungan ke perusahaan yang telah menerapkan Knowledge Management (KM) di Australia yaitu LINK:Q dan OPTUS (Yes OPTUS). Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Crewe Sharp Career Bridge Consulting dengan Main-Facilitator Michael Meere.

Knowledge Management atau lazim disingkat dengan KM dalam penerapannya tidak terlepas dari aspek Human Capital, disamping dari Organizational Capital. Untuk memahami hal ini lebih lanjut perlu dipahami runtutan terminologi sebagai berikut :

- Sebuah aktivitas dan keberhasilan memerlukan Capital.
- Capital terdiri dari Organizational Capital dan Intellectual Capital.
- Intellectual Capital meliputi : Organizational Intelligence, Organizational Relationship, Intellectual property dan Human Capital.
- Human Capital meliputi : Knowledge Capital, Emotional Capital, Employee Relationships and Networks, Employee Engagement and Commitment, Ethical Capital dan Workforce Diversity.

Jadi Knowledge Management meliputi seluruh hal diatas dengan main-objective sebagai basis pengambilan keputusan strategis perusahaan. Bagaimana dampak Human Capital terhadap KM? Atau dengan perkataan lain disebut dengan “The Human Capital Imperative.” Berikut ini dicuplik pendapat dari beberapa pihak, sebagai berikut :

- Watson Wyatt Worldwide : The primary reason for organizational profitability is the effective management of Human Capital.

- Gachman.I & Luss, R. Building the Business Case for HR in Today’s Climate. Strategic HR Review,1. (4), pp26-29 : Effective, integrated human capital management can result in a 47% increase in market value.

- Harvard Business School Press. Boston : Top 10 enjoyed a 391% ROI in management of their human capital.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa efektivitas pengelolaan organisasi sangat ditentukan oleh bagaimana mengelola Human Capital. Knowledge Management sendiri sesungguhnya adalah bagaimana mengelola aspek knowledge sebagai inti dari human capital. Sebagaimana diuraikan diatas human capital adalah bagian penting dari intellectual capital yang dimiliki oleh organisasi disamping organizational capital.

Berbicara Human Capital dalam konteks Knowledge Management tiada lain berbicara tentang Knowledge Capital. Pengelolaan Knowledge Capital tidak terlepas dari Ethical Capital, Emotional Capital dan Workforce Diversity.

Kesuksesan penerapan KM dalam sebuah organisasi sangat tergantung pada komitmen Top Leader. Top Leader memegang peranan kunci bagaimana memberdayakan KM. Dari komitmen ini akan menghasilkan strategic decision, supporting dan optimalisasi pemanfaatan KM dalam proses pengelolaan organisasi. Selanjutnya setelah adanya komitmen, maka kesuksesan pengelolaan KM sangat tergantung pada :

- Wisdom applied to work practices.
- Effectiveness and efficiency
- Knowledge and innovation
- Knowledge, employee motivation and engagement
- Knowledge and waste minimization


Disamping faktor-faktor sukses pengelolaan KM diatas, maka terdapat pula faktor-faktor hambatan yang disebut dengan “barriers of human capital best practices” yaitu :

- Structure (include system)
- Culture
- Business Unit Dynamics


Dengan memahami sukses dan hambatan (barrier) dalam KM, maka organisasi dapat memanfaatkan KM untuk :

- Meningkatkan kualitas produk atau layanan.
- Memperkuat dan memperluas kompetensi melalui intellectual assets management.
- Meningkatkan dan mempercepat penyebarluasan pengetahuan dalam organisasi.
- Menerapkan pengetahuan baru untuk meningkatkan kinerja.
- Meningkatkan keuntungan dari adanya inovasi produk baru.

A new era in human capital management is approaching by knowledge management. Value increasingly comes from boosting the productivity of individual workers and from greater workforce innovation. By achieving the most productive possible combinations of workers and work, companies can find a lasting source of competitive advantage.

Minggu, 13 Desember 2009

JAKARTA- SINGAPORE, PEMBELAJARAN DARI SQ

Dalam perjalanan penulis ke Melbourne Australia untuk mengikuti Seminar tentang Knowledge Management Audit penulis sempat singgah ke Singapore. Perjalanan ini mengunakan dua maskapai penerbangan yang beraliansi satu dengan yang lain, yaitu Singapore Airlines (SQ) dan Qantas Australia. Inilah pola bisnis connecting masa kini dan depan. Sebuah keharusan yang harus dilakukan berbagai perusahaan jika ingin bisnisnya tetap eksis.

Perjalanan dari Jakarta ke Singapore menggunakan SQ yang terkenal akan kualitas layanannya. Yang menarik para pramugari SQ tidak harus berusia muda, sebagian dari mereka telah berusia setengah baya, namun sangat prima dan cekatan dalam memberikan pelayanan. Ini menunjukkan kompetensi telah menjadi pertimbangan utama dalam penugasan SDM, tidak sekedar cantik, muda atau penampilan fisikal, namun yang terpenting adalah performa kerjanya.


Ditengah perjalanan tersebut penulis menemukan cara mereka bekerja yang gesit, ramah sekaligus tegas. mereka mampu mengingatkan penumpang untuk mematuhi peraturan penerbangan dengan cara yang cukup simpatik. Mereka juga menghargai budaya lokal penumpang, apakah itu dari Indonesia, China, Western dan sebagainya. Selain itu kita temukan pula saat ini pola bisnis yang sinerjis yaitu dengan aliansi antar berbagai perusahaan untuk mencapai performa kinerja yang saling menguntungkan. itulah yang ditunjukkan oleh SQ dan Qantas.

Ini merupakan pelajaran menarik dalam perilaku bisnis dan perilaku melayani. Memang bisnis masa depan sangat ditentukan oleh kemampuan kerja sama dan kemampuan pelayanan. Itulah kunci kemenangan kompetisi. Istilah Co-opetitive yang merujuk pada kemampuan untuk mampu cooperative sekaligus competitive tampaknya sudah menjadi formula bisnis masa kini dan masa depan. Basis dari pola tersebut sebetulnya terletak pada hubungan kemitraan yang solid. Namun, sesungguhnya dalam kemitraan ini pun mengandung arti kompetisi.

Dalam konteks SQ-Quantas jelas kerjasama adalah pemanfaatan resources bersama dan saling mengisi. Namun, mereka pun sesungguhnya memperhatikan aspek kompetisi, yaitu dari kualitas layanan. Jenis pesawat bisa sama, harga bisa sama, namun kualitas pelayan bisa berbeda. Dan yang membedakannya adalah kualitas SDM. Dengan perkataan lain kualitas pelayanan sangat ditentukan oleh kualitas SDM. Bukankah kita menyaksikan banyak maskapai penerbangan menggunakan jenis pesawat yang sama, namun mengapa performanya bisa berbeda? Jawabannya sekali lagi adalah kualitas SDM, disamping faktor penunjang lain seperti leadership, management, budaya dan proses bisnis. Namun, basis dari semua itu adalah pada SDM.

Jadi jika anda ingin berbeda, buatlah SDM anda berbeda!

Kamis, 02 April 2009

PERJALANAN SPIRITUAL



Terhitung mulai tanggal 21 Maret 2009 sampai dengan 31 Maret 2009 penulis melaksanakan ibadah umroh. Persiapan pemberangkatan telah dimulai sejak tanggal 18 Maret 2009. Kegiatan umroh ini merupakan suatu "surprise" buat penulis dimana penulis terakhir ketanah suci sekitar awal 2007. Jadi setelah dua tahun penulis berkesempatan mengunjungi kembali tanah suci. Ini juga merupakan salah satu alasan kenapa selama dua minggu ini blog sepi dari tulisan baru dan mohon maaf untuk para pembaca blog karena blog-nya lama tidak di update.

Kesempatan mengunjungi kembali Tanah Suci penulis peroleh karena kebetulan penulis ditunjuk sebagai Ketua Panitia Seleksi Pemberian Penghargaan Ibadah Umroh di Perusahaan dimana penulis bekerja. Perusahaan dimana penulis bekerja memiliki program pemberian penghargaan kepada karyawan yang dianggap memiliki prestasi baik. Salah satu bentuk penghargaan adalah dalam bentuk penghargaan ibadah dan untuk umat Islam diantaranya adalah pemberian penghargaan umroh.

Peserta umroh kali ini mencapai 107 orang. Lumayan juga mengkoordinasikan jumlah peserta sebanyak itu, namun karena mereka adalah orang-orang terbaik dan pilihan maka perjalanan dapat berjalan lancar dan peserta sangat kooperatif.

Kegiatan umroh dimulai sejak mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Peserta umroh mengambil miqat di Bandara ini (menurut MUI boleh, sebagian yang lain mengganggap miqat harus dimulai sejak Yalamlam, tetapi diatas pesawat sulit juga menentukan posisi Yalamlam ini). Setiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah peserta mulai mandi dan mengenakan pakaian ihram. Selanjutnya dilakukan shalat dua rakaat dan dilanjutkan dengan mengucapkan niat umroh.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Mekkah dan singgah sebentar di Hotel Royal Zam Zam untuk meletakkan barang-barang. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf. Sesampainya di Masjidil Haram peserta menuju ke arah Ka'bah untuk mengambil posisi sejajar dengan Hajaral Aswad. Memandang kembali Ka'bah bagi penulis sungguh moment yang sangat mengharukan, itulah puncak keharuan tertinggi yang penulis rasakan.

Kami mulai melaksanakan tawaf sebanyak tujuh keliling dilanjutkan dengan sai. Sai adalah suatu kegiatan ritual yang memiliki nilai historis yaitu mengenang Ibunda Hajar istri Nabi Ibrahim saat berlari-lari antara bukit Safa dan Marwah untuk mencarikan air bagi anaknya Nabi Ismail. Atas kekuasaan Allah air bisa muncul ditanah yang gersang di padang pasir. Air muncul didekat kaki Nabi Ismail yang masih kanak-kanak yang berada disekitar Ka'bah dan kelak air tersebut dikenal dengan air Zam-Zam. Setelah selesai sai dilanjutkan dengan tahalul, yaitu memotong rambut minimal tiga helai dan disunatkan untuk mencukur seluruh rambut alias gundul, penulis memilih gundul.

Di Mekkah kami tinggal selama tujuh hari dan penulis sempat melakukan tiga kali umroh. Selain itu alhamdulillah penulis sempat pula mencium Hajaral Aswad setelah melalui perjuangan yang berat. Meskipun dua hari setelah kejadian itu badan penulis masih terasa pegal-pegal namun penulis merasa sangat puas dan bahagia. Disela-sela ibadah di Masjidil Haram kami sempat mengunjungi beberapa tempat seperti peternakan onta, Museum Ka'bah (meskipun tidak sempat masuk), Jabal Rahmah, Jabal Tsur dan beberapa tempat lainnya.

Kemudian penulis menyempatkan diri melakukan napak tilas saat melaksanakan haji tahun 2006. Penulis mengunjungi maktab haji di Shib Amir. Penulis sempat terharu juga memandangi bangunan dimana penulis pernah tinggal selama 1 bulan saat melaksanakan haji di Mekkah tahun 2006. Penulis teringat salah satu petugas Maktab tersebut bernama Zakaria asal Bangladesh. Diwaktu-waktu senggang penulis sering ngobrol dengan Zakaria. Ia berasal dari satu desa kecil di Bangladesh pergi ke Arab meninggalkan istri dan 3 orang anaknya untuk mencari nafkah. Menurut Zakaria sangat sulit mencari pekerjaan di Bangladesh dan kondisi ekonomi negerinya juga sulit sehingga banyak orang Bangladesh yang mencari peruntungan di luar negeri termasuk ke Arab Saudi. Zakaria rela meninggalkan anak istrinya untuk mencari nafkah dan pulang kenegaranya 1-2 tahun sekali. Ketika penulis menanyakan mengapa tidak membawa anak istrinya ikut serta ke Arab Saudi, Zakaria menganggap biaya hidup di Arab Saudi mahal dan tidak mencukupi untuk menghidupi keluarganya, lebih baik keluarganya tetap tinggal di Bangladesh dan ia setiap bulan mengirimkan uang ke mereka.

Zakaria orang yang taat. Kebetulan diruang tamu Maktab ada sebuah pesawat televisi. Zakaria segera mematikan TV apabila waktu shalat telah tiba. Pada malam hari saat sebagian orang menonton TV Zakaria mengingatkan agar mereka lebih baik mengaji atau tafakur di Masjidil Haram. Ia pun melarang kami memilih channel yang aneh-aneh, biasanya dari TV Lebanon atau negara lain, menurut Zakaria itu adalah tontonan kaum-kaum musyrik.

Zakaria juga menyediakan teh, biasanya teh tarik (teh tambah susu) dan penganan ringan. Terkadang jamaah suka rewel minta tambah lagi susu-lah, tambah gula-lah akhirnya tambah air lagi dan tentu harus tambah gula lagi ... he ... he. Zakaria sangat sabar meladeni kami semua. Saat kemarin ke Mekkah dan mengunjungi Maktab penulis tidak menemukan lagi Zakaria yang baik hati ini. Dimanakah engkau sobat? masih di Arab-kah? atau sudah kembali ke Bangladesh? Semoga engkau baik-baik saja.

Kembali tentang cerita Mekkah, kota ini memang memiliki magnet bagi kaum muslimin. Beribadah dikota ini memiliki nilai yang sungguh luar biasa. Sebagian orang juga mengalami peristiwa tertentu yang berdimensi gaib. Penulis sendiri mengalami peristiwa unik, yaitu dalam beberapa kali kesempatan setelah shalat penulis tidak menemukan sendal, padahal sebelumnya sudah menandai nomor tempat penyimpanan sendal atau menandai lokasinya, tetapi tetap sendal tidak ditemukan. Akhisnya penulis istigfar dan berdoa agar sendal dapat ditemukan dan tidak berapa lama sendal ditemukan kembali. Hal tersebut terjadi berulang kali dan setelah istigfar dan berdoa sendal kembali ditemukan. Sampailah pada suatu ketika diahari akhir berada di Mekkah dan setelah itu segera akan berangkat ke Madinah. Setelah tawaf wada penulis kembali mencari sendal ditempat yang sudah ditandai nomor dan lokasinya, sendal tetap tidak ditemukan meskipun penulis telah istigfar dan berdoa. Akhirnya penulis berpikir mungkin sendal ini memang harus tinggal di Mekkah, akhirnya dengan keikhlasan penulis tinggalkan Masjidil Haram bersama sendal yang entah kemana. Dengan tanpa sendal penulis meninggalkan Masjidil Haram menuju Hotel, lumayan panas, kaki terpaksa berjalan berjinjit untuk menghindari panas dan setengah berlari kecil penulis menuju hotel. Pelajaran berharga bagi penulis karena ada perasaan bahwa dengan berdoa sendal pasti ditemukan padahal keputusan dikabulkan atau tidak dikabulkan doa tergantung Allah dan pasti segala sesuatu ada hikmahnya.

Kejadian lainnya adalah setelah selesai shalat subuh di Masjidil Haram penulis tergesa-gesa menuju hotel karena kebelet ingin kebelakang. Penulis tidak sempat menuju kamar dan segera memanfaat toilet yang ada di restauran hotel. Begitu masuk toilet penulis dihadang oleh petugas cleaning service dan ia minta waktu 2 menit untuk membersihkan toilet "just two minutes sir" katanya. Penulis tidak sabar karena sudah kebelet namun ia tetap ngotot menahan penulis dan penulis sempat menggerutu. Yah apa boleh buat terpaksa harus menahan hajat sebentar sambil menggerutu kesal. Setelah selesai membuang hajat penulis menuju kamar, apa yang terjadi??? ternyata pintu kamar tidak bisa dibuka. Terpaksa harus menghubungi receptionist dan engineering. Yah harus menunggu sampai petugas datang untuk membuka pintu. Dalam keadaan menunggu tersebut penulis teringat barangkali penulis telah berbuat salah terhadap cleaning service tersebut. Akhirnya setelah petugas datang penulis berhasil masuk ke kamar. Persoalan berikutnya datang pada saat ingin mengambil sesuatu di safety box, kotak tersebut tidak bisa dibuka, wah ini cobaan lagi. Akhirnya penulis istigfar dan mohon ampun mungkin telah berbuat dosa, akhirnya setelah dibantu petugas safety box bisa dibuka.

Saat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah untuk kembali ke Jakarta, seluruh rombongan diantrikan menuju tempat check-in karena diperintahkan oleh petugas setempat. Namun, ternyata setelah antri rombongan diminta keluar kembali karena belum memegang boarding-pass. Jadilah kita semua mundur lagi kebelakang. Seorang rekan wanita ngedumel "wah-wah bisa bisa kita nginap semalam lagi di Jeddah." Penulis mengingatkan untuk segera istigfar. Setelah menunggu beberapa saat baru kemudian boarding-pass dibagikan satu per satu kesemua rombongan. Nama kita dipanggil satu per satu untuk menerima boarding-pass. Semua telah menerima boarding-pass hanya satu orang yang belum dapat, yaitu rekan wanita yang ngedumel tadi, dicari-cari boarding pass-nya tidak ketemu. Rekan wanita tadi hampir menangis dan merasa ketakutan kalau harus ditinggalkan sendirian, tetapi kami menyabarkannya. Setelah dicari-cari akhirnya ketemu juga, barulah sang rekan dapat tersenyum kembali (kebayang kalau harus ditinggal sendirian di Arab).

Pada saat melaksanakan Haji tahun 2006 penulis juga mengalami sebuah peristiwa unik. Yaitu, saat ingin mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW terlihat pengunjung sangat banyak. Penulis coba masuk namun terjepit diantara orang-orang yang tinggi badannya, ada orang Afrika, Turki, Iran, Arab dan yang lain yang badannya jauh lebih besar. Terjadi dorong-mendorong, penulis terjepit diantara orang yang tinggi besar. Penulis mengalami sesak nafas dan merasa tidak bisa keluar dari kerumunan itu. Penulis berdoa kepada Allah agar diselamatkan dari situasi tersebut. Dan sekonyong-konyong muncullah orang berbadan tinggi besar seperti orang Afrika dan bersoban. Tubuhnya tampak menonjol diantara yang lain, besar dan tinggi. Tiba-tiba orang hitam yang tinggi besar tersebut meraih badan penulis, mengangkat penulis dan secara berangsur-angsur membawa penulis keluar dari kerumunan. Selamatlah penulis. Namun, karena masih shock penulis tidak sempat mengucapkan terima kasih. Setelah beberapa saat penulis sadar, penulis mencoba mencari orang tersebut namun sudah tidak terlihat lagi. Penulis tidak tahu entah siapa dia.

Pada saat di Mekkah istri penulis ingin melaksanakan tawaf didekat Ka'bah. Beberapa bulan sebelum berangkat haji istri mengalami operasi, penulis sedikit kuatir dengan kondisi kesehatannya. Penulis menyarankan agar tawaf didalam gedung saja, istri menolak dan bertekad tetap ingin tawaf dekat Ka'bah. Penulis akhirnya terpaksa memenuhi keinginannya. Pada saat tawaf penulis mengawal dengan ketat istri. Beberapa kali penulis terpontal-pontal menahan dorongan orang, kemudian merasa ditarik-tarik orang lain, penulis berusaha sekuat tenaga menjaga istri ditengah kerumunan orang bertawaf yang cukup padat. Beberapa kali penulis hampir terjatuh. Selesai tawaf penulis merasa kecapaian yang amat sangat. Kemudian penulis dengan tersengal-sengal menanyakan ke istri apakah ia baik-baik saja. Istri merasa aneh dengan kondisi penulis, ia merasa tawafnya berjalan lancar tanpa hambatan dan merasa sangat dipermudah dan suasananya lapang, sangat berbeda dengan yang dirasakan penulis. Istri tidak merasa berdesak-desakan dan tidak merasa kecapaian sama sekali. Penulis segera istigfar, ternyata prasangka istri yang positif membuat Allah mempermudah tawafnya, sedangkan penulis yang sebelumnya sudah kuatir dan pesimis benar-benar mengalami perjuangan yang luar biasa saat tawaf. Memang prasangka akan mempengaruhi penghayatan kita terhadap kegiatan. Istri memiliki tekad yang cukup kuat untuk melaksanakan ibadah haji sehingga proses hajinya banyak dipermudah oleh Allah. Selama ibadah haji istri boleh dikatakan cukup sehat, rekan-rekannya sendiri banyak yang mengalami sakit. Penulis yang mengkuatirkan kondisinya paska operasi ternyata kekuatiran tersebut tidak terbukti. Tekad kuat istri untuk beribadah membuat ia mampu melaksanakan semua proses haji dengan baik sejak tawaf, sai, wukuf dan melempar jumrah, Allahu Akbar. Memang benar bahwa Allah itu tergantung dari prasangka kita.

Demikian juga saat berusaha mencium Hajaral Aswad. Sewaktu melaksanakan Haji tahun 2006 penulis berusaha mencium Hajaral Aswad, namun saat itu diliputi kekuatiran karena melihat begitu banyaknya orang yang berdesak-desakan. Penulis sudah berhasil mencapai rukun Yamani, namun saat hendak maju ada seorang kakek tua didepan penulis yang telah tersungkur jatuh persis didepan penulis, penulis tidak tega untuk maju karena pasti akan menimpa kakek tersebut, penulis membatalkan usaha untuk mencium Hajaral Aswad. Saat itu tekad penulis tidak kuat dan perasaan penulis diliputi kekuatiran karena melihat begitu banyaknya orang. Namun, saat umroh kemarin dengan berbekal tekad kuat, diawali dengan doa dan melakukan tawaf terlebih dahulu, bersama seorang rekan penulis berhasil mencium Hajaral Aswad, batu dari surga tersebut. Penulis dapat mencium Hajaral Aswad dalam waktu yang lama dan Askar/Petugas Keamanan Arab Saudi membiarkannya. Penulis meninggalkan Hajaral Aswad atas kesadaran sendiri tanpa perlu disuruh pergi oleh Askar karena penulis menyadari masih banyak jamaah lain yang ingin menciumnya.

Ada kejadian lain saat Haji tetapi dialami oleh rekan penulis. Seorang rekan penulis mengalami beberapa kali sejadahnya terkena kotoran manusia. Saat membentangkan sejadah tiba-tiba ada orang lewat dan mengeluarkan kotorannya diatas sejadah. Hal ini terjadi berulang kali. Mungkin ada hikmah tertentu dibalik kejadian tersebut yang hanya yang bersangkutan yang mengetahuinya. Ada juga mereka yang kehilangan uang, namun karena ikhlas keesokan harinya sekonyong-konyong ada orang lain yang memberikan uang kepada yang bersangkutan dengan jumlah yang berlipat dari uangnya yang hilang. Itu adalah sebagian peristiwa unik (atau gaib?) yang pernah penulis alami.

Kembali ke kegiatan Umroh, setelah tujuh hari di Mekkah perjalanan dilanjutkan menuju ke Madinah. Di Madinah rombongan menginap di Hotel Movenvick. Waktu di Madinah banyak dihabiskan di Masjid Nabawi. Alhamdulillah penulis berhasil shalat di raudhah, taman surga, yang terletak antara makam Nabi Muhammad SAW dan Mimbar. Penulis berkesempatan pula berziarah kemakam Rasul yang mulia tersebut. Ini adalah puncak keharuan berikutnya saat berhasil menyambangi makam Nabi Mulia Muhammad SAW.

Di Madinah rombongan mengunjungi beberapat tempat diantaranya adalah kebun kurma, Jabal Uhud, tempat percetakan Mushaf Al-Quran. Semua peserta dibagikan Al-Quran beserta terjemahannya secara gratis. Hal yang menarik juga adalah saat mengunjungi Jabal Magnet, dimana bis dapat bergerak dalam keadaan mesin mati dan katanya - menurut dugaan- karena ada tarikan magnet (wallahualam). Di Jabal Uhud juga dirasakan suatu fenomena spiritual dimana tercium bau harum dari arah makam dari 70 orang syuhada diantaranya Hamzah paman nabi. Bau harum ini sangat terasa apabila ada hembusan angin dan dirasakan juga oleh semua pengunjung. Ini benar-benar merupakan bukti kebesaran Allah.

Setelah tiga hari di Madinah perjalanan dilanjutkan ke Jeddah, rombongan sempat makan siang di Asian restaurant dengan menu Thailand yang cukup menggoda. Kemudian setelah itu dilanjutkan shalat di Masjid Terapung ditepi Laut Merah. Dari Masjid Terapung rombongan menuju Balad Shopping Mall, acara berbelanja ria dimulai.

Saat berkunjung ke Saudi Arabia penulis mengamati semakin banyaknya orang Indonesia disana, baik sebagai peserta umroh, penziarah, mukimin maupun mereka yang bekerja dan berdagang disana. Dimana-mana kita menemukan banyak orang Indonesia (fenomena ini penulis temukan pula di Hongkong, Australia, China, Thailand, Malaysia dan Singapore). Ini sebenarnya membanggakan hati, artinya semakin banyak turis Indonesia ke luar negeri dan tentunya semakin banyak penduduk negeri ini yang makmur. Namun, kita perlu prihatin juga mengingat sebagian mereka yang bekerja disana bekerja dalam sektor "unskilled" termasuk kelompok blue color dan secara spesifik bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Bukan berarti kita memandang rendah profesi pembantu rumah tangga, namun posisi tawar mereka tampak sangat rendah dan cenderung hak-hak mereka ada yang diabaikan termasuk resiko mengalami pelecehan. Pemerintah tampaknya perlu sungguh-sungguh memperhatikan hal ini agar mempersiapkan mereka yang keluar negeri dengan keterampilan khusus seperti perawat, montir, dan sebagainya sehingga posisi tawar mereka lebih baik.

Saat berada di Bandara King Abdul Aziz penulis bertemu dengan beberapa orang Indonesia yang bekerja sebagai cleaning service bandara, mereka mengaku hanya digaji 500 Rial, ini adalah suatu jumlah yang pas-pasan untuk ukuran hidup di Arab Saudi. Padahal mereka juga harus mengirimkan sebagian penghasilannya untuk keluarga di Indonesia. Saat berbicara dengan mereka penulis teringat akan nasib Zakaria yang berada di Mekkah, sipetugas maktab yang berasal dari Bangladesh yang meninggalkan anak-istrinya dinegaranya karena kemiskinan dan kepahitan hidup, dengan penghasilan yang pas-pasan mereka berkorban untuk berpisah dengan keluarga. Penghasilan pas-pasan di Arab Saudi jauh lebih baik menurut mereka daripada tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan apa-apa di tanah air, sungguh mengenaskan.

Untuk mereka yang sedang berkampanye saat ini adakah kepedulian mereka terhadap nasib saudara-saudara kita yang bekerja di luar negeri?, khususnya yang bekerja pada pekerjaan-pekerjaan yang riskan seperti pembantu rumah tangga. Adakah perhatian para tokoh-tokoh kampanye tersebut? Memang mereka disebut pahlawan devisa ........... tetapi apakah itu cukup untuk mengangkat harkat martabat mereka ........... apakah itu cukup untuk memanusiawikan mereka? Atau-kah mereka hanya bagaikan sebuah lilin .... berkorban mencair demi menerangi sekelilingnya ............. mereka mencair .... kemudian habis ............ dan mati ...............

Sabtu, 21 Februari 2009

TALENT WORKSHOP OLEH HCI

Selama dua hari Kamis-Jumat 19-20 Februari 2009 aku mengikuti Talent Workshop yang menghadirkan pembicara Allan Schweyer dari Human Capital Institute, Direktur HCGA Telkom Bpk. Faisal Syam dan Direktur SDM Unilever Indonesia Bpk. Yoseph Batanoa. Kegiatan ini berlangsung di Intercontinental Mid Plaza Hotel jakarta.

Dalam workshop tersebut dibahas tentang talent retention, talent development dan berbagai hal lain menyangkut talent management. Dalam era kompetisi saat ini maka masalah "war of talent" menjadi isu yang cukup penting. Antar perusahaan cenderung membajak para talent dari kompetitornya karena lebih efesien dan sekaligus efektif.

Nah, bagi perusahaan juga akan lebih murah apabila mampu mempertahankan talent-nya daripada dibajak oleh perusahaan lain konsekuensinya perusahaan harus mencari bahkan mengembangkan talent dengan biaya dan usaha yang tidak sedikit. Jadi mempertahankan jauh lebih baik ........... tapi itulah talent mereka juga tidak mudah untuk dipertahankan.

Beberapa kiat tentang cara mempertahankan talent adalah sebagai berikut :

1. Berikan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi mereka dan berikan tantangan diatas rata-rata.
2. Talent adalah unik dan spesifik, jadi jangan lakukan pendekatan umum kepada mereka, tetapi perlakukanlah mereka sesuai dengan keunikan dan spesifikasi mereka.
3. Beri kebebasan mereka untuk berkreasi.
4. Berikan reward dan recognition yang cukup bernilai.
5. Mereka harus merasa bahkan kontribusinya diakui dan dimanfaatkan oleh perusahaan/organisasi.

Pada kesempatan berikutnya akan dibahas secara khusus tentang "TALENT RETENTION" atau barangkali ada masukan dari anda para pembaca?

Minggu, 11 Januari 2009

100 TOKOH ACEH TERKEMUKA


Hari ini Minggu 11 Januari 2009 pada pukul 15.00 di Jl. Cicendo Bandung dijadwalkan pertemuan Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Bandung Jawa Barat. Aku sendiri dalam kepengurusan MAA Jabar ditunjuk sebagai Sekretaris Komisi C Bidang Pelestarian Pusaka, Khasanah Adat dan Pemberdayaan Putroe Phang. Aku berencana untuk mengusulkan pembuatan buku tentang "100 TOKOH ACEH TERKEMUKA."

Gagasan pembuatan buku ini dilatarbelakangi oleh perlunya kita menghargai para tokoh Aceh yang telah berjasa berjuang maupun membangun Aceh. Juga sebagai upaya untuk melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan kecerdasan mereka, selain itu juga sebagai sumber inspirasi bagi pembangunan Aceh saat ini dan masa yang akan datang.

Beberapa format yang aku rencanakan adalah penulisan ini berdasarkan periodeisasi masa pra Islam, masa Islam atau berdasarkan pembagian tokoh sesuai dengan bidang seperti Agama, Adat Istiadat, kesusatraan, Pendidikan, Tokoh Wanita, dsb-nya atau dengan pendekatan waktu seperti periode sampai dengan abad 16, periode tahun 1600-1800, periode 1800-1945 dan periode pasca 1945 sampai dengan sekarang. Atau pembaca mempunyai usulan lain silakan disampaikan. Mudah-mudahan usulan ini dapat diterima oleh Pengurus MAA lainnya.

Agenda lain rapat MAA kali ini adalah membahas upaya pelacakan para Pahlawan Aceh yang ada di Tanah Jawa selain yang sudah dikenal selama ini. Diantaranya adalah pelacakan Makam Pahlawan Wanita Aceh Pocut Meurah Inseun di Blora. Mengenai Pahlawan Wanita Aceh yang diasingkan ke Blora ini pernah disebut didalam salah satu tetralogi Pramudya Ananta Toer. Tentu kewajiban kita untuk melacaknya, diantaranya direncanakan para Pengurus MAA akan mengunjungi Blora untuk melihat makam salah satu Pahlawan Aceh tersebut. Setelah itu direncanakan pula menelusuri berbagai Pahlawan Aceh yang konon banyak pula tersebar diberbagai kota di Pulau Jawa yang dulu memang ke Pulau Jawa karena berbagai alasan seperti untuk kepentingan dakwah maupun perjuangan atau memang karena diasingkan oleh penjajah Belanda.

GAMPONG ACEH at DAGO BANDUNG

Tadi malam tepatnya Sabtu malam tanggal 10 Januari 2009 aku mendapat undangan syukuran sekaligus peresmian Resto GAMPONG ACEH di Dago Bandung, tepatnya disamping Hotel Holiday Inn dan satu kompleks dengan markas Pemuda Pancasila. Luar biasa memang Bung Edy Azhary sang pemilik GAMPONG ACEH (GA). Sebelumnya GA terletak sedikit kearah simpang Dago dekat Edward Forrer, namun kemudian sempat tidak beroperasi dan pindah ke daerah Sarijadi dan Setiabudi.
Nah, saat ini Bung Edy mendapat tempat yang sangat strategis di kawasan Dago tempat kongkownya anak muda Bandung. Lokasi GA saat ini cukup mantap dengan design yg lebih baik dan space yang lebih besar. Pada saat peresmian tamu undangan cukup banyak, diantara yang hadir adalah Wakil Bupati Aceh Timur mewakili Gubernur NAD, Wakil dari Gubernur Jawa Barat, Para tokoh Pejabat & Pemuda Bandung dan tentu para tokoh Aceh seperti DR. Said Aziz, DR. Kamal Arif, Prof.Dr. Rusli Ghalib, Marzuki Abdullah (Eks Dirut Bio farma), Mahyuddin (tokoh informal perdamaian Aceh), Syahmira (Caleg DPR) dan masih banyak yang lainnya lagi.

Acara dimulai dengan sambutan Ketua KAMABA (Keluarga Masyarakat Aceh Bandung) DR. Said Aziz, MSc, kemudian Wakil Bupati Aceh Timur yang mewakili Gubernur NAD dan kemudian doa. Selanjutnya hadirin dipersilahkan mencicipi hidangan khas Aceh sepert Gulee Kameng, Gulai Kepala Ikan Kakap, Sie Itek, dsb-nya. Sambil santap malam hadirin dihibur dengan kesenian Aceh tari Saman, Likok Pulo yang dimainkan oleh Mahasiswa ITB asal Aceh (UKA ITB), kemudian lagu-lagu Aceh yang antara lain dikumandangkan oleh peserta Indonesian Idol dari Aceh yaitu Cut Cinta.

Malam minggu yang cukup ramai di Dago semakin dimeriahkan dengan kehadiran GAMPONG ACEH. Selamat Bung Edy ...... anda memang seorang entrepreneur yang tangguh .... anda layak mendapat julukan Saudagar Aceh ulung khususnya di bidang kuliner. Jadi kalau ingin mencicipi kuliner Aceh saat ini di Bandung sudah mulai banyak dan diantaranya yang terkemuka adalah yang dikelola oleh Bung Edy ............. ya apalagi kalau bukan GAMPONG ACEH.

Jumat, 09 Januari 2009

TOUR DE JAWA



Menutup akhir tahun 2008 aku sekeluarga melakukan perjalanan dari Bandung ke Surabaya, lamongan, Gresik, Malang, Blitar, Solo dan Yogya mulai tanggal 30 Desember 2008 sampai dengan 6 Januari 2009. Perjalanan diawali dengan menggunakan Kereta Api dari Bandung ke Surabaya menggunakan kereta Argo Wilis berangkat Selasa Pagi jam 07.00 tanggal 30 desember 2008. Kemudian dilanjutkan dengan mobil dari Surabaya-Gresik-Lamongan-Malang-Blitar dan diakhiri dengan Kereta Api dari Yogya-Bandung pada tanggal 5 Januari 2009 jam 21.30 berangkat dari Yogya menuju Bandung dengan menggunakan Kereta Lodaya. Tempat yang dikunjungi mulai dari makam para Wali Songo yaitu Sunan Ampel, Sunan Dradjat dan Sunan Giri, Juga mengunjungi makam Bung Karno di Blitar. Selain itu juga mengunjungi tempat-tempat wisata, museum, Kraton dan tentu juga wisata kuliner dilengkapi dengan wisata belanja. Perjalanan ini diwarnai juga dengan kelangkaan premium diantara route Blitar ke Solo, untung sebelumnya sudah mengisi bensin penuh saat di Malang. Meskipun saat menjelang Wonigiri bensin tinggal setengah aku mulai kuatir juga. Di beberapa tempat pengisian bahan bakar/ Pom bensin persediaan premium habis, aku mulai ngedumel kepada Pertamina.

Untuk menghemat bahan bakar kami mulai mematikan AC, untuk udara sekitar masih cukup segar sehingga bisa membuka kaca jendela. Aku mulai memikir langkah tanggap darurat Kepada driver kuusulkan untuk bersiap-siap menggunakan bensin yang dijual secara eceran bahkan kadang dengan menjualan secara botolan, tetapi ini pun susah didapat. Alternatif lain berencana akan standby di pom bensin terdekat sampai dengan stock premium tersedia. Pilihan ini lebih baik daripada harus terkatung-katung ditengah perjalanan sepi atau ditengah hutan. Akhirnya bensin kami temukan disebuah Pom Bensin sebelum memasuki Wonogiri. Aku langsung meminta Pak Imron Sang Driver untuk mengisi penuh agar aman sampai dengan Yogya.

Selasa, 12 Agustus 2008

CERITA HARI INI

Cerita biasa tentang kesibukan kerja. Pagi-pagi Selasa subuh jam 5 pagi aku sudah siap-siap ke Jakarta. Ada undangan rapat dengan Telkomsel membicarakan rencana HR Summit Telkom Group. Badanku sedikit letih, sudah beberapa kali minggu sebelumnya aku bolak balik Bandung-Jakarta. Kantor Pusat memang di Bandung, namun sering kali berbagai kegiatan kerja harus dilakukan di Jakarta. Jadilah aku komuter .......... atau kok muter kali ya?

Badan yang letih harus dikuat-kuatkan, aku bersyukur kehadirat Allah karena diberi kesehatan untuk menjalankan seluruh aktivitasku. Kata orang umur 40-an merupakan puncak karir, walaupun dengan posisiku saat ini sebagai Senior Manager aku sudah sangat berbahagia, namun aku ingin tetap terus menggapai puncak karir yang lebih jauh, mudah-mudahan Allah mengabulkan.

Dalam perjalanan Bandung-Jakarta aku manfaatkan tidur di mobil, Kang Harry Driver mobil kantor mengemudi dengan baik, tidurku di mobil nyaman dan tenang. Di Jakarta pertemuan berlangsung di Kantor Telkomsel Wisma Mulia. Pembahasan tentang HR Summit berlangsung dengan sangat positif dan produktif, aku kebagian mengawal workshop Career Management. Tentu aku harus menyiapkan materi itu dengan baik dan aku beruntung memiliki staf yang cukup handal yang bisa membantu diriku untuk mempersiapkan bahan workshop career management.
Mestinya setelah rapat dengan Telkomsel aku ingin memantau pelaksanaan wawancara calon karyawan baru di STO Gambir, tapi ada agenda lain yang harus diselesaikan di Bandung sehingga terpaksalah harus segera balik kemudi menuju Bandung. Mudah-mudahan kegiatan wawancara di STO Gambir dapat dikoordinasikan dengan baik oleh stafku.

Selasa, 05 Agustus 2008

DISKUSI DENGAN PAK TANRI ABENG : Pentingnya Disiplin Profesi Manajemen


Pagi tadi aku berkesempatan bincang-bincang dengan Pak Tanri Abeng di Hotel Grand Aquilla Bandung dalam acara Sertifikasi Profesi Manajemen. Perbincangan yang sangat menarik. Pak Tanri mengatakan manajemen adalah sebuah profesi sebagaimana dokter, lawyer, arsitek, dsbnya. Setiap profesi memiliki disiplin. Kekeliruan kita selama ini adalah menganggap manajemen bukan sebagai profesi dan tentunya kita pun menjalankannya secara tidak disiplin. Nah, inilah salah satu pangkal tolak dari permasalahan bangsa ini. Pak Tanri mengenang diawal tahun 1998 dia ditunjuk oleh Pak Harto yang kala itu sebagai Presiden RI sebagai anggota Dewan Ketahanan Ekonomi Nasional dan yang terpikir saat itu adalah bagaimana menata BUMN yang jumlahnya seabreg. Kemudian Pak Tanri ditunjuk sebagai Menteri Negara BUMN. Saat itu visionnya adalah "create value" dan strateginya adalah melakukan pengelolaan BUMN secara terpadu. Tadinya ada 158 BUMN yang tersebar di 17 Departemen, kemudian dialihkan pengelolaannya dibawah Menneg BUMN. Setelah dikelola secara terpadu ada peningkatan value dari BUMN, diantaranya yang meningkat secara signifikan adalah TELKOM.


Menurut beliau sebagai bangsa meskinya memiliki visi yang jelas seperti Malaysia 2020 (terbukti ini mampu membawa Malaysia lebih maju dan cukup taktis dalam mengatasi krisis ekonomi tahun 1998). Setelah adanya visi diperlukan strategi yang jelas dalam memandu program-program untuk mencapai visi tersebut. Dalam menjalankan itu semua diperlukan komitmen dan disiplin. Untuk mencapai kemajuan sebagaimana yang diharapkan kita harus memiliki itu semua Visi, Strategi, Komitmen dan Disiplin, ini tampaknya menjadi kelemahan kita. Jadi siapapun anda yang ingin menjadi Calon Presiden 2009 perlu mempertimbangkan secara sungguh-sungguh hal tersebut : memiliki visi, punya strategi, memiliki komitmen dan disiplin menjalankannya.

Sabtu, 26 Juli 2008

CATATAN MINGGU INI

Minggu ini jawdwalku cukup padat juga, diwarnai oleh kegiatan pulang pergi Bandung-Jakarta. Pada hari Senin 21 Juli 2008, aku ditugaskan oleh Kantorku ke Universitas Indonesia (UI) di Depok dalam rangka kegiatan Campus Recruitment. Mengawali kegiatan aku memberikan presentasi kesejumlah lulusan baru UI , setelah itu dilanjutkan dengan pengumpulan berkas administrasi dan langsung besok dilakukan sejumlah tes kepada peserta.

Hari Selasa 22 Juli aku mengikuti kegiatan Asia HRD Congress 2008 di Jakarta Convention Center. Setelah Opening & Plenary Session aku bergabung di workshop dengan tema 'Coaching for Executive" yang dipandu oleh Mr. Christ Tranaddy dari Australia. Workshop ini diawali dengan pengantar teoritis dan sharing session, kemudian dilanjutkan dengan role playing yang secara bergantian memainkan peran sebagai coacher-client-observer.

Hari Rabu 23 Juli 2008 aku mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) DPR Aceh dengan Tokoh-Tokoh Masyarakat Aceh se-Jawa di gedung Bulog Jl. Gatot Subroto Jakarta dengan materi pembahasan tentang Qanun Wali Nanggroe. Acara ini dihadiri Ketua DPR Aceh Bpk. Sayed Fuad Zakaria beserta tim DPR Aceh, Tokoh KPA yang juga juru bicara KPA Bpk. Ibrahim Syamsuddin (KBS), tokoh-tokoh Masyarakat Aceh di Jawa seperti Bpk. Bustanil Arifin, Bpk. AR. Ramly, T. Safly Didoh, DR. Said Azis, Hakim Nyak Pha, Bpk. Tamlicha Ali, dsbnya. Tentang Qanun Wali Nanggroe ini akan aku bahas dalam tulisan tersendiri.

Hari Kamis 24 Juli 2008 aku kembali ke Jakarta Convention Center untuk mengikuti acara Asia HRD Exhibition. Hari Jumat 25 Juli 2008 sesuai jadwal seharusnya ke kantor Telkomsel di Wisma Mulia Gatsu Jakarta membicarakan materi HR Summit Telkom Group, namun acara tersebut digeser ke minggu berikutnya. Jumat aku manfaatkan untuk kembali ke Bandung menyelesaikan beberapa tugas yang ada di Bandung. Jumat sore sebenarnya ada rencana berkumpul dengan Alumni SMP 1 Banda Aceh yang ada di Jakarta, namun dengan berat hati aku tidak dapat mengikuti acara tersebut.

Sabtu 26 Juli 2008, aku dan istri mengikuti Reuni Haji Yahdi di rumah Bpk. Haji Endin/Bu Hajjah Sulce di Pondok Mas Cimahi. Lumayan enak juga makan-makannya dan yang terpenting mendapat oleh-oleh cerita dari Iran yang disampaikan oleh Bpk. K.H. Hafiz Usman (yang juga Ketua MUI Jawa Barat). Beliau baru kembali dari kunjungan ke Iran. Beliau menceritakan hal-hal positif dari masyarakat Iran yaitu pekerja keras, sederhana, cerdas, taat pada pemimpin dan memiliki harga diri sebagai bangsa. Iran melaksanakan pembangunan secara cepat dan terarah, namun keimanan dan religiusitas mereka cukup terjaga. Kehidupan Demokrasi di Iran juga berkembang dengan baik dan penegakan hukum berlangsung dengan sungguh-sungguh.

Minggu 27 Juli 2008, rencana pagi-pagi mengantar anak main bola setelah itu menemanin istri jalan-jalan maklum sudah seminggu ditinggal.

Minggu, 29 Juni 2008

BEBERAPA CATATAN MINGGU INI

Alhamdulillah pengurusan visa Amerika telah selesai. Senin tanggal 23 Juni 2008 kemarin telah diserahkan padaku. Visa sebagaimana 2 visa Amerika-ku sebelumnya berlaku sampai dengan 5 tahun, jadi dapat digunakan sampai dengan tahun 2013. Hari Selasa aku lalui dengan berbagai kesibukan kantor diantaranya membahas RCSA (Risk Control Self Assessment) untuk bidang HR Career Development. Hari Rabu 25 Juni 2008 aku ke Jakarta untuk mengikuti peluncuran program Coop (Cooperative Education) yang dibuka oleh Menteri Pendidikan Nasional Prof. dr. Bambang Sudibyo, untuk Coop ini aku bahas tersendiri dalam artikel yang terpisah. Pada saat itu juga aku sempat berdiskusi dengan beberapa teman diantaranya dengan Telkomsel tentang rencana ke Banda Aceh untuk mengikuti acara MAN Telkom Group.

Hari Kamis harus ke Bandung karena ada rapat koordinasi dengan Direktur SDM/ HCGA Telkom. Hari Jumat koordinasi internal beberapa pekerjaan di Career Development. Di Hari Jumat aku pun harus menyiapkan makalah tentang Transformasi Organisasi untuk bahan Knowledge Management yang akan dimasukkan ke dalam Kampiun Telkom. Menulis tentang Transformasi Organisasi membuat aku harus membuka sejumlah literatur sebagai referensi agar tulisan memiliki bobot yang pantas untuk masuk Kampiun. Disela-sela kesibukan tersebut aku pun mempersiapkan beberapa keperluan berkaitan dengan keberangkatan anak pertamaku Icut ke Malaysia untuk tugas belajar. Hari Sabtu anak-istri minta ditemani jalan-jalan ke Spirit Camp Lembang naik balon udara dan berenang di Gracia Subang. Saat naik balon udara anak keduaku Verbi merasa pusing, tetapi yang hebat adiknya anak ketigaku Dara merasa balonnya kurang tinggi minta terbang lebih tinggi lagi, sementara anakku yang pertama Icut menjadi penengah. Berenang di Gracia cukup asyik, airnya cukup hangat maklum dari gunung berapi, meskipun sedikit bau belerang namun cukup menyegarkan. Dikolam renang istriku sempat nyeletuk ingin ke Bali lagi, sebelumnya kami sekeluarga ke Bali pada tahun 2006. Anak pertamaku Icut malah menganjurkan sebaiknya dari Bali langsung dilanjutkan ke Senggigi Lombok. Memang jadwal cukup ketat, namun aku usahakan waktu kebersamaan bersama keluarga harus tetap dialokasikan. Pada saat berenang di Gracia, Verbi anak keduaku semakin pusing namun memaksakan diri ikut berenang. Oleh istriku diminta berenang sebentar saja, setelah itu Verbi minum teh hangat dan makan mie goreng kemudian tertidur lelap disisi kolam renang, sementara kami yang lain tetap berenang. Pulangnya sebetulnya Istriku ingin mencari tempat makan malam yang enak diseputar Lembang, namun Verbi mengeluh terus pusing sehingga kami putuskan langsung pulang. Jalan Lembang diakhir Minggu cukup macet, kami ambil jalan pintas lewat Maribaya tembus Dago. Di Dago jalan macet juga luar biasa, sebagian kendaraan berplat B ... yah kebanyakan orang Jakarta ke Bandung, jadi aja Bandung tumplek habis, namun kita lewati kemacetan tersebut dengan gembira meski khusus untuk Verbi dia terus mengeluh pusing. Hari Minggu ada undangan dari Prof. Dr. Bachtiar Hasan di Sumedang, beliau berencana akan umroh sekeluarga dan membuat acara di tempat pemancingan beliau di Sumedang yang lokasinya tidak jauh dari Makam Pahlawan Cut Nyak Dhien di Gunung Puyuh Sumedang.

C0-OPERATIVE EDUCATION (COOP)

Tema minggu ini adalah Cooperative Education ( Coop), yaitu suatu program yang diikuti oleh mahasiswa yang telah merampungkan seleuruh mata kuliahnya (tingkat akhir) untuk bekerja diperusahaan dalam jangka waktu tertentu (biasanya 3-4 bulan). Mahasiswa tersebut digaji layaknya karyawan dan memiliki hak dan kewajiban yang menyerupai karyawaan. Program Coop ini sangat populer di Amerika, diantara universitas yang cukup gencar mempraktikkannya adalah North Eastern University Boston dan Professor Zion adalah seorang tokoh yang sangat populer mempromosikan kegiatan tersebut. Aku pernah bertemu dengan Prof. Zion pada sekitar tahun 1997 di Bogor pada saat acara International Conference of WACE (World Association of Cooperative Education). Beliau orang yang ramah dan sangat peduli pendidikan/pengembangan SDM di negara-negara berkembang. Beliau banyak menampung dan membimbing para mahasiswa yang berasal dari karyawan Telkom di Amerika. Telkom sendiri pernah mendapat penghargaan international untuk program Coop.
Pada hari Rabu 25 Juni 2008, di GCC Telkom Jl. Gatot Subroto Jakarta dilakukan peluncuran program Coop Telkom Group yang dibuka oleh Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Bambang Sudibyo. Acara ini dilakukan secara nasional dengan memanfaatkan jaringan Indonet Telkom. Pak menteri berdialog interaktif selain dengan peserta di Jakarta, juga secara videoconference berdialog dengan peserta di Makassar (Unhas) dan Pekanbaru (Unri).
Para peserta Coop ini telah melalui seleksi yang ketat sehingga terpilih yang terbaik. Sebagian dari mereka bahkan berhasil terpilih untuk menjadi karyawan. Program ini menggambarkan suatu implementasi Link and Match antara Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha. Pengalamanku dibidang SDM saat menerima karyawan baru terkadang sikap mental mereka belum cukup siap untuk menempatkan diri sebagai seorang pekerja. Belum lagi terkadang ada kesejangan antara keahlian yang dipersiapkan/diberikan perguruan tinggi dengan tuntutan lingkungan pekerjaan. Sehingga program on job training harus dilakukan secara lebih mendalam agar karyawan baru benar-benar siap untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Beberapa hal yang aku temui dalam menghadapi karyawan baru adalah sebagai berikut :
1. Karyawan baru memiliki sikap yang terlalu ideal sehingga kurang siap menghadapi realitas yang ada.
2. Terpaku pada konsep dan teori namun lemah dalam implementasi.
3. Tertinggal dalam konsep dan teori, menggunakan pendekatan lama untuk sesuatu yang baru.
4. Lemah dalam teamwork, lebih menonjolkan ego-individual.
5. Kritis namun lemah dalam menawarkan solusi.
Hal-hal tersebut diatas perlu mendapat perhatian kalangan dunia pendidikan. Coop adalah salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut diatas. Coop dapat dikatakan pula sebagai media Link and Match yang cukup efektif.

Senin, 09 Juni 2008

KABAR MINGGU 8 JUNI 2008

Setelah bekerja semingguan dari senin sampai jumat, badan memang terasa lelah, pikiran butek. Normal, toh diakhir minggu memimpikan rileks. Tapi apa daya. Hari Sabtu aku harus ke sekolah Icut, anak pertamaku, untuk ambil rapot. Orang tua harus hadir selain untuk mengambil rapot juga harus membicarakan rencana keberangkatan anak sekolah selama 1 bulan di Malaysia (sekolah ADNI di Ampang KL) dan ke Singapore. Dalam pembagian rapot nilai anakku membaik bahkan mendapat penghargaan untuk hafalan doa, alhamdulillah. Setelah berdiskusi berbagai hal tentang rencana keberangkatan ke Malaysia/Singapore dan pengurusan segala macam tetek bengek administrasi, jam 12 siang acara berakhir. Perjalanan dilanjutkan keasrama Icut untuk mengambil berbagai macam perlengkapannya dibawa pulang kerumah.

Setelah itu istri minta diantar berbelanja, ada saudara yang baru melahirkan dan rencana menjenguk saudara yang sakit. Saat istri berbelanja aku nangkring difoodcourt sambil berinternet ria. Setelah itu berkunjung kerumah saudara. Berbicara ngalor ngidul sampai dengan maghrib. Kemudian sehabis maghrib baru pulang ke rumah, badan letih nggak mungkin lagi jalan-jalan ke luar, biarlah malam minggu milik remaja saja.

Hari minggu akupun tidak mungkin istirahat, ada 2 undangan, undangan di kompleks dan undangan ngumpul di Cipanas Garut. Istri ikut acara dikomplek, sementara aku ke Cipanas Garut. Karena badan letih aku tidak bawa mobil sendiri, minta disamperin teman. Anshar menyanggupi untuk menjemput. Anshar pengusaha muda Aceh yang sedang berkembang di Bandung. Kami berempat ke Cipanas Garut. Disana telah berkumpul lebih kurang 20 orang teman. Ngumpul, ngobrol, ada yang mandi air panas, ada yang nyanyi-nyanyi didampingi organ tunggal. Sore hari pulang. Malam badan letih lagi dan persiapan memasuki hari senin untuk bergelut dengan berbagai tugas.

Pekerjaan minggu ini padat juga. Senin koordinasi internal dengan rekan-rekan kerja di kantor. Hari Selasa ada acara Insync di Rizt Carlton Jakarta. Acara tersebut menghadirkan Direksi Telkom dan Menneg BUMN. Sementara hari Selasa juga ada undangan dari Pak Mustafa Abubakar Kabulog/Dirut Perum Bulog untuk datang ke kantornya mendiskusikan beberapa hal.

Hari Rabu acara internal HR Center di Hotel Topas Bandung. Kamis dan Jumat acara HR Forum di Menara Risti Bandung. Sementara minggu ini akupun harus mempersiapkan berbagai dokumen untuk pengurusan visa di Kedubes AS, karena ada rencana untuk mengikuti International Congress for Assessment Center di Washington , DC. Mudah-mudahan semua berjalan lancar.