Tampilkan postingan dengan label Aceh Side. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh Side. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Januari 2011

SEPUTAR PERANG BAKONGAN ACEH

Dikutip dari tulisan Lila Banguna

Teuku Raja Angkasah

Sejak tahun 1905 di wilayah Bakongan telah terjadi perlawanan Rambong Seunubok Keuranji. Perlawanan tersebut hanyalah merupakan lanjutan dari perlawanan pada masa-masa sebelumnya. Serdadu Belanda yang ditugaskan ke wilayah Bakongan banyak yang meneteskan air mata lebih dahulu sebelum berangkat kesana, karena harapan untuk kembali dari sana sangatlah tipis. Teuku Raja Angkasah juga melibatkan diri dalam pertempuran di Rambong Seunubok Keuranji. Dalam pertempuran di tahun 1925 tersebut pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan Donner dan sersan marsose Wongsokarijo mengalami kekalahan. Pada malam itu tanggal 12 Agustus 1925, yakni di kampung Rambong dekat Sibadeh, pasukan Letnan Donner diserbu oleh para pejuang. Akibat serangan tersebut Letnan Donner dan sersan Wongsokarijo tewas di cencang oleh para pejuang Aceh, dan 39 orang anak buah nya juga gugur dalam pertempuran di malam itu.

Beberapa tahun kemudian kembali terjadi pertempuran di hutan Rambong dekat Kampung Drien. Pada tengah malam tanggal 23 Oktober 1925 pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan J. Wiarda diserbu oleh pasukan Teuku raja Angkasah, pasukan Belanda dapat diporak-porandakan dengan menderita kerugian 2 orang tewas, 3 orang luka parah dan 7 orang luka ringan. Sedangkan 4 karaben milik Belanda berhasil dibawa kabur oleh Teuku Raja Angkasah dan pasukannya. Tetapi pada tanggal 10 November 1925, dalam pertempuran di Seunubok Keuranji. Teuku Raja Angkasah berhasil ditembak oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan W.A.M. Molenaar. Sehingga Teuku Raja Angkasah menemui syahid nya dan dimakamkan di pedalaman hutan Seunubok Keuranji, Buket Gadeng. Setelah beliau meninggal perlawanan semakin membara yang dilanjutkan oleh Teuku Maulud dan Teuku Cut Ali yang dibantu oleh Teuku Nago dan panglima Raja Lela.

  1. Teuku Maulud.

Beliau lah yang berhasil mempengaruhi Teuku Cut Ali untuk berjuang melawan melawan Belanda. Pada tanggal 1 Maret 1926 sebuah brigade infanteri marsose Belanda dari Singkil yang dipimpin oleh Sersan Gruneveld membuat bivak atau camp pertahanan di kampung Gunung Kapho ( Trumon ). pagar bivak tidak sempurna yang mana penjagaan nya terdiri dari dua buah pos dan tidak dijaga pula dengan prasangka bahwa daerah tersebut sedikit banyaknya tidak kacau. Suatu siang Teuku Maulud menyuruh salah seorang kepercayaan nya yang bernama Pang Paneuk dengan berpakaian seperti seorang nelayan melakukan pengintaian terhadap bivak Belanda di kampung Gunung Kapho. Malam harinya , kira-kira jam 22.00 WIB. Pasukan Belanda diserbu oleh pasukan Teuku Maulud yang diperkirakan berkekuatan 30 0rang bersenjatakan pedang dan kelewang. Akibat serangan tersebut pasukan Belanda yang dipimpin oleh sersan Gruneveld kehilangan 9 orang prajurit (tewas), 7 orang luka parah dan 2 orang marsose luka ringan. Teuku Maulud dan pasukannya berhasil merampas 16 pucuk karaben ( senanpan) milik Belanda. Sedangkan di pihak pejuang Aceh, 2 orang gugur sebagai syuhada. Tak lama setelah kemenangan ini Teuku Cut Ali pun menggabung kan diri dengan Teuku Maulud.

Pada tanggal 20 Maret 1926 pasukan Belanda yang terdiri dari Divisi 5 Marsose menyerang pertahanan pasukan Teuku Maulud di daerah Krueng Batee (Trumon), pasukan ini dipimpin oleh kapten Snell dan kapten J. Paris. Dalam pertempuran tersebut Teuku Maulud, Teuku Itam, Pang Paneuk serta 13 orang pejuang Aceh lainnya gugur sebagai syuhada. Dan 9 karaben yang hilang ketika pasukan sersan Gruneveld diserbu dapat direbut kembali oleh Belanda. Setelah Teuku Maulud meninggal perjuangan dilanjutkan oleh Teuku Cut Ali dengan dibantu oleh Teuku Nago dan Panglima Raja Lela ( Meulela ).

Panglima Raja Lela

Tadi diatas sudah disebutkan, bahwa Teuku Maulud menemui syahid nya setelah ditembak oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh kapten Snell dan kapten J. Paris. Kapten J. Paris lahir pada tahun 1889 di nieuwer Amstel. Pada tanggal 3 April 1926, para pejuang yang dipimpin oleh panglima Raja Lela melakukan serangan terhadap pasukan Belanda yang dipimpin oleh kapten J. Paris. Pada saat itu kapten J. Paris dan pasukannya dari brigade 9 divisi 5 marsose mendapatkan tugas ke daerah yang berawa-rawa dekat kampung Krueng Leumbang ( ditepi sungai Kluet antara kampung Sapek dan kampung Drien ). Ketika itulah pasukan nya mendapat serangan mendadak dari pasukan panglima Raja Lela. Menurut cerita kapten Paris selain fasih berbahasa Aceh juga memiliki ilmu kebal ( Kebal Intan ). Sehingga setelah bertempur sehari semalam, Panglima Raja Lela berhasil mengetahui kelemahan kapten Paris. Dalam perkelahian satu lawan satu, panglima Raja Lela pun menewaskan Kapten J. Paris. Tetapi sungguh malang karena Panglima Raja Lela kemudian tewas ditembak oleh anak buah kapten J. Paris. Dalam pertempuran tersebut dipihak Belanda 18 orang serdadu tewas. Sedangkan di pihak pejuang Aceh sebanyak 21 orang meninggal sebagai syuhada.

Teuku Nago

Selain panglima Raja Lela, Teuku Nago juga merupakan salah satu panglima perang Teuku Cut Ali. Yang selalu setia menyertai kemana pun Teuku Cut Ali pergi. Pada tanggal 10 Agustus 1926, pasukan Belanda yang dipimpin oleh kapten Bahrens letnan W.A.M. Molenaar membuat kemah di perkarangan sekolah di kampung Teurbangan Rayeuk. Sebelumnya beberapa tahun yang lalu letnan Molenaar berhasil menembak Teuku Raja Angkasah hingga syahid di Seunubok Keuranji. Pada jam setengah empat pagi, pasukan Belanda yang berkemah dikampung Teurbangan Rayeuk di serbu oleh pasukan Teuku Nago. Kapten Bahrens yang bersenjatakan kelewang dan Molenaar tanpa bersenjata apa-apa keluar dari kemah mereka dalam keadaan gelap. Seorang anggota pasukan Teuku Nago berhasil menewaskan Molenaar dengan rencongnya dan melukai 3 orang marsose lainnya. Sedangkan dipihak Teuku Nago 3 orang pejuang gugur sebagai syuhada.

Pada tanggal 25 Mei 1927, terjadi pertempuran seru di pedalaman hutan Alu Burang, dalam pertempuran tersebut pasukan Belanda yang dipimpin oleh kapten Gosenson berhasil menewaskan Teuku Nago, pada waktu yang bersamaan gugur pula Teuku Cut Ali, dan Imum Sabi. Selain itu istri Teuku Cut Ali yang bernama Fatimah juga meninggal bersama pembantunya yang juga seorang wanita.

Imum Sabi

Pada tanggal 2 Mei 1927, Teuku Cut Ali memerintah kan Imum Sabi untuk melakukan penyerangan terhadap bivak Belanda yang berada di Meungamat yang ada di Kluet Utara. Pasukan Belanda yang membuat bivak pertahanan di lembah Meungamat dipimpin oleh letnan F. Harting. Pasukan Aceh yang menyerbu Belanda pada malam itu berkekuatan 44 orang. Tengah malam kira-kira jam setengah empat pagi pasukan Imum Sabi sudah mengepung bivak Belanda. Imum Sabi selanjutnya memerintahkan 7 orang anggotanya untuk menyusup lebih dulu kedalam bivak, tetapi sayang ketujuh pejuang tersebut gugur sebagai syuhada.

Pada malam itu komandan brigade letnan F. Harting terbangun karena dikejutkan oleh letusan karaben, ia berhasil mengelak ketika salah seorang anak buah Imum Sabi mengayunkan kelewang kepadanya. Hampir saja letnan Harting tewas sekira tidak ditolong oleh kopral Lumantouw dan marsose Wewengkang dari Ambon. Dari pihak Belanda menderita kerugian sebanyak 9 orang serdadu terluka parah. Sedangkan dari pihak pejuang Aceh 7 orang gugur sebagai syuhada. Dan tiga orang pejuang menderita luka tembak, termasuk Imum Sabi. Tetapi Imum Sabi dan pengikutnya berhasil meloloskan diri didalam kegelapan malam. Imum Sabi mendapatkan tembakan peluru di dada di atas jantung yang tembus kebelakang punggung. Tetapi dengan kekuasaan Allah SWT, Imum Sabi masih bisa bertahan. Luka nya kemudian di obati dengan bubur lumpur. Lobang peluru dibagian dadanya sudah sembuh, tetapi pada bagian belakang (punggung) belum sembuh. Ia lalu mengayam sebuah keranjang rotan kecil yang cocok untuk luka dipunggungnya, yang digantungnya dengan tali-tali rotan tipis.

Walaupun begitu keadaan lukanya, namun tidak pula menghambat perjuangan Imum Sabi bersama Teuku Cut Ali dan Teuku Nago untuk melawan Belanda. Sampai beliau kemudian menemui syahid di pedalaman hutan Alu Burang bersama Teuku Cut Ali dan Teuku Nago, setelah berperang dengan pasukan Belanda yang dipimpin kapten Gosenson pada tanggal 25 Mei 1927.

Teuku Cut Ali

Teuku Cut Ali diperkirakan lahir pada tahun 1885, menurut riwayat beliau berasal dari daerah Trumon (berdasarkan catatan Zentgraaff ). Ketika melakukan perlawanan di tahun 1926 diperkirakan beliau berumur sekitar 41 tahun. Dan ketika syahid di pedalaman hutan Alu Burang, usia Teuku Cut Ali sekitar 42 tahun. Seperti yang telah disebutkan diatas, Teuku Cut Ali dan Teuku Raja Angkasah adalah panglima perang dan rekan seperjuangan dari Teuku Ben Mahmud Blangpidie yang pada akhir perjuangan nya dibuang ke Ambon. Selain Teuku Cut Ali dan Teuku Raja Angkasah. Teuku Peukan Manggeng, Sidi Rajab dan Haji Yahya adalah rekan seperjuangan dari Teuku Ben Mahmud juga, bedanya Teuku Peukan Manggeng dan kedua temannya tersebut berjuang di daerah Barat Daya dan sekitarnya. Teuku Cut Ali pernah juga berdamai bersama Teuku Ben Mahmud pada tahun 1908.

Pada waktu kapten Veltman pindah dari Tapak Tuan, Teuku Cut Ali pulang ke Trumon. Tetapi nasib buruk menimpa dirinya. Pada suatu hari, Teuku Cut Ali diberi malu oleh uleebalang yang diangkat Belanda dihadapan umum mengenai suatu hal yang pernah dilakukannya dua puluh tahun yang lalu. Akibatnya dia pun mulai memberontak dan angkat senjata lagi. Maka bersahabatlah dia dengan Teuku Maulod dan setelah gugur Teuku Maulod akibat peluru anggota pasukan kapten Snell tanggal 20 Maret 1926 di kampung Krueng Batee, Teuku Cut Ali menjadi pemimpin perlawanan yang bersemangat.

Pada tanggal 7 Maret 1926 brigade divisi 4 dan 5 dengan kekuatan yang sangat besar bergerak ke Trumon. Pasukan ini dipimpin oleh kapten Snell, yang selanjutnya membagi pasukannya menjadi beberapa patroli. Patroli yang dipimpin oleh letnan A.K.V. Heerde memergoki pasukan Teuku Cut Ali di Alue Laton di pucok Bakongan, dalam pertempuran tersebut letnan Heerde mendapat tetakan dan luka di lututnya tetapi berhasil diselamatkan oleh sersan marsose Kaligis. Sedangkan satu orang marsose tewas. Sementara itu 5 keraben yang hilang berhasil direbut kembali. Di pihak Aceh 6 orang gugur sebagai syuhada. Pada waktu itu Teuku Cut Ali sakit dan harus mendapatkan perawatan di Krueng Batee selama beberapa waktu, sementara pasukannya kembali ke Trumon.

Beberapa hari kemudian tepatnya pada tanggal 15 April 1926, pasukan Teuku Cut Ali menyerang brigade marsose yang dipimpin oleh sersan Pontoh di Ujong Pulo Rayek. Dalam serangan tersebut 4 orang marsose mengalami luka parah dan 4 orang lainnya luka ringan. Sedangkan dipihak pejuang Aceh 11 orang gugur menjadi syuhada. Pada tanggal 18 Mei 1926 pasukan Teuku Cut Ali kembali melakukan penyerangan terhadap pasukan marsose Belanda yang dipimpin oleh letnan H.J.M. Klaar di kampung Leumbang. Dalam pertempuran tersebut letnan Klaar hampir tewas disabet kelawang pasukan Teuku Cut Ali, tetapi untungnya berhasil diselamatkan oleh marsose Sarewating. Dipihak Belanda tewas 2 orang dan 7 orang mengalami luka parah, sedangkan di pihak pejuang Aceh 6 orang gugur sebagai kusuma bangsa.

Dalam merekrut para pejuang, Teuku Cut Ali tidak hanya memilih pejuang yang muda-muda saja yang masih berdarah perang saja, tetapi juga merekrut para pejuang yang berpengalaman tempur walaupun sudah setengah baya. Suatu undang-undang yang tidak tertulis menentukan, bahwa seorang tokoh yang membentuk kelompok perjuangan harus melakukan percobaan dan seleksi agar memperoleh hasil yang memuaskan. Cut Ali tidak menginginkan pejuang amatir yang kali ini ikut bertempur tetapi lain kali memihak kompeni Belanda. Perjuangan dijalan Allah adalah sesuatu yang indah sekali, untuk mereka yang syahid akan memperoleh surga dan kehormatan yang tinggi sekali serta bidadari yang menunggu di pintu surga. Penduduk kampung yang tidak ikut bertempur juga turut membantu pasukan Teuku Cut Ali dengan memberikan bantuan sumbangan uang dan makanan. Ketika seseorang sudah menyatakan siap bertempur melawan Belanda maka dia harus memutuskan segala hubungannya dengan urusan keduniawian. Pada bulan Mei dan Juni 1926 banyak rakyat yang turut bergabung dengan perlawanan Teuku Cut Ali, meskipun setelah Teuku Cut Ali syahid, lebih-lebih para pemuda yang memiliki semangat tempur yang menyala. Dimana-mana selalu ada sekelompok pemuda yang bersenjatakan pedang dan kelewang menghadang brigade tentara Belanda. Menurut Zeentgraaff, Cut Ali adalah salah satu pahlawan yang dikagumi oleh pihak Belanda. Bahkan menurut sebuah kisah ada seorang kapten marsose Belanda yang mendirikan bivak di Ladang Rimba, begitu kecut dan takut setelah mendengar nama Cut Ali. Kapten yang pengecut itu tidak pernah melakukan patroli, bahkan untuk melindungi dirinya sang kapten membuat pagar berlapis tiga dengan barisan ranjau. Yang menjadi kenangan buruk bagi pihak Belanda.

Cut Ali menulis surat kepada sang kapten dan menantangnya supaya keluar dari bivak untuk berkelahi, surat-surat tersebut berulang kali dikirimkan dan sangat memalukan pihak Belanda. Seorang tentara marsose yang bernama Patilapessy pernah terlibat perkelahian satu lawan satu dengan pengikut Cut Ali. Tentara marsose tersebut mengayunkan pedangnya ke tubuh anggota pasukan Cut Ali. Tetapi dia kemudian tercengang dan terkejut karena pedang atau kelewang yang di ayunkannya tidak dapat melukai dan menembus tubuh pejuang tersebut.

Ketika letnan Molenaar tewas di Teurbangan akibat serangan pejuang yang dipimpin oleh Teuku Nago. Kapten Bahrens pun kembali ke pangkalannya dengan mengangkut mayat letnan Molenaar, maka tiba-tiba datang kepadanya seorang penduduk membawa surat Cut Ali yang didalamnya dikatakan oleh Teuku Cut Ali “saya berada disini bersama 80 orang, jika tuan tidak datang dengan paling sedikit 120 orang pasukan, lebih baik tuan tinggal dirumah saja” begitulah kira-kira isi surat itu. Pasukan Belanda nampaknya kurang senang dengan kapten Bahrens, dan Bahrens pun tidak menanggapi undangan tersebut.

Pada bulan Mei 1926, kapten Gosenson ditugaskan ke Bakongan dan ditempatkan kedalam pasukan yang dipimpin oleh kapten Bahrens yang juga menjabat sebagai komandan marsose Belanda di wilayah Kluet, Trumon di bagian selatan daerah Aceh. Kapten Gosenson kemudian berangkat ke Trumon dalam waktu yang cepat dia berhasil mendesak pasukan Teuku Cut Ali disana, selanjutnya Teuku Cut Ali dan sebagian pasukannya hijrah ke pedalaman Alu Burang yang ada di Kluet timur. Kapten Gosenson mendapatkan bantuan dari seorang penduduk yang berkhianat. Meskipun banyak pengikutnya yang menjadi syuhada ataupun ditangkap oleh Belanda. Namun Teuku Cut Ali tidak berkurang semangatnya didalam menggempur dan menyerang pasukan Belanda.

Penghujung bulan Mei kapten Gosenson memperoleh informasi dari mata-mata yang dikirimnya ke daerah Kandang Kluet utara. Seorang lelaki yang sedang menebang kayu di Kandang telah melihat sekelompok kecil orang-orang Aceh. Berita itu disampaikan nya jam 10 malam dan pada malam itu juga kapten Gosenson berangkat kedaerah itu sebelum jejak mereka hilang ( daerah yang dimaksudkan adalah Alu Burang ). Dini hari pasukan marsose telah berada di tempat orang melihat pasukan Teuku Cut Ali untuk terakhir kali, hujan yang sangat lebat baru saja turun dan Gosenson memerintahkan orang-orangnya supaya mereka meju secara perlahan-lahan, dengan harapan akan menemukan jejak atau petunjuk.

Dengan memberikan isyarat seraya meneliti jejak-jejak pada bahagian atas dan bawah alur-alur yang didalamnya masih terdapat bekas-bekas telapak kaki yang mulai memudar. Rupanya pasukan Teuku Cut Ali mencoba menyembunyikan jejak-jejak mereka yang sebenarnya dengan memalsukan jejak kaki dengan mendaki dan menuruni bukit-bukit, tetapi usaha ini tidak berhasil karena dijumpai lagi jejak dekat alur. Jejak-jejak itu berasal dari pasukan Teuku Cut Ali yang sengaja mereka tinggalkan untuk mencari perbekalan.

Jejak-jejak tersebut terus diikuti dan pada jam 12 tengah hari dijumpailah di dalam hutan sebuah pondok tempat perhentian ( istrirahat ) pasukan Teuku Cut Ali. Pasukan marsose sangat gembira, terutama karena bekas-bekasnya masih baru sekali. Itu berarti pasukan Teuku Cut Ali belum berapa jauh meninggalkan tempat itu. Sorenya dijumpai lagi tempat perhentian seperti itu dan pengejaran terus dilakukan sampai malam hari, marsose kemudian membuat bivak dibawah beberapa helai tenda. Kepada anggota pasukan, kapten Gosenson mengizinkan untuk memasak sedikit karena malam gelap sekali sehingga tidak akan terlihat kepulan asapnya di udara.

Keesokan harinya pengejaran dilanjutkan kembali dan lebih jauh lagi memasuki pedalam hutan. Tiba-tiba dari semak-semak sebuah ketinggian terlihatlah kebawah sebuah pemandangan indah tempat mengalir dua buah alur bersama dua buah pondok darurat. Untuk sampai kesana harus didaki lagi sebuah bukit yang curam, tetapi untuk ini harus ditunda sebentar sampai Gosenson menceritakan kepada anggota pasukannya secara terperinci tentang penyelesaian rencana selanjutnya.

Dengan hati-hati sekali diteliti semak-semak untuk mengetahui keadaan di pondok itu, dalam sebuah pondok terdapat seorang laki-laki dan wanita, dalam pondok lain tidak terlihat apa-apa. Cepat-cepat pasukan marsose menuruni lereng bukit, sehingga pada kedua sisi pondok tersebut terdapat beberapa orang marsose. Waktu menurun, sebuah batu terlepas dari tanah dan jatuh kedalam alur. Pada saat itu lah lelaki yang berada didalam pondok itu terkejut, dan segeralah pasukan marsose maju seraya melepaskan tembakan ke pasukan Teuku Cut Ali yang dapat dilihat. Kejadian itu hanya berlangsung dalam beberapa menit saja.

Kapten Gosenson turun kedalam alur untuk melihat kalau-kalau masih ada pasukan Teuku Cut Ali disana. Tanpa melihatnya, Gosenson melontasi seorang lawan yang menderita luka parah sedang bersembunyi dibelakang sebatang pohon kayu. Anggota pasukan Teuku Cut Ali yang terluka itu melihat sang perwira dan segera ia mengenal sebuah luka parut yang besar melintang dimukanya. Akan tetapi ketika ia akan mengayunkan kelewang dengan menggunakan semua tenaga terakhir yang ada padanya, seorang marsose berteriak kepada Gosenson: “ Tuan, awas ada orang dibelakang!” penyerang yang mengayunkan kelewangnya kearah Gosenson tersungkur ketanah dengan sebuah tembakan didadanya.

Setelah itu selesailah penyerangan itu: enam mayat terbaring ditanah, diantaranya dua wanita yang diangkat dari dalam air kedarat. Kapten Gosenson yakin diantara mayat itu ada mayat Teuku Cut Ali, apalagi diantara yang syahid itu terdapat Imum Sabi yang masih juga menggantungkan keranjang rotan kecil pada lobang luka dibelakangnya. Disamping itu pada tubuhnya didapati “ rencong pusaka”. Rencong itu besar bentuknya dan memakai gagang khusus. Juga terdapat mayat seorang lelaki yang diperkirakan sebagai Teuku Nago. Kedua wanita yang tewas itu diantara nya adalah istri Teuku Cut Ali yang bernama Fatimah dan seorang pembantunya. Disamping mayat-mayat itu bertengger seekor ayam betina dan seekor beruk kecil, binatang-binatang itu merupakan benda-benda bertuah milik Teuku Cut Ali dan istrinya.

Setelah itu pasukan marsose segera kembali kesalah satu kampung yang terdekat dengan membawa semua senjata milik pasukan Teuku Cut Ali yang syahid. Anggota-anggota marsose menangkap ayam dan membiarkan beruk yang berdiri didekat sebatang kayu. Tetapi beberapa menit kemudian binatang itu menghilang mencari kembali mayat tuannya. Senjata-senjata yang dibawa oleh pasukan marsose, diperlihatkan kepada penduduk kampung terdekat yang dicapai pada keesokan harinya dan setiap penduduk menerangkan, bahwa diantara senjata itu terdapat milik Teuku Cut Ali. Kapten Gosenson belum lagi senang dengan pernyataan ini. Penduduk kampung Kluet dan Meungamat yang semuanya berjumblah 110 orang diperintahkannya untuk pergi ketempat terjadinya pertempuran itu untuk mengenali mayat-mayat dan kemudian menguburkannya.

Begitulah lebih kurang 100 orang penduduk menuju ketempat itu. Dan lagi-lagi diperlukan sehari lamanya untuk sampai kesana, ditempat itu kemudian marsose mendirikan bivak. Lalu mengangkut mayat Teuku Cut Ali, diatas mayat itu bertengger seekor beruk kecil. Binatang ini pun kemudian dibawa kekampung dan diserahkan kepada pasukan marsose yang memperoleh ayam. Menurut cerita, kapten Gosenson kemudian memenggal kepala Teuku Cut Ali dan mengarak nya keliling kampung. Selanjutnya kepala Teuku Cut Ali dimakamkan di tepi sungai Kandang desa Suak Bakong Kandang Kluet Selatan. Begitulah Teuku Cut Ali gugur sebagai seorang yang syahid tanggal 25 Mei 1927. tubuh Teuku Cut Ali dimakam kan langsung di Alu Burang, sesuai dengan pengertian orang Aceh yang terhadap seorang yang syahid. Pasukan marsose dan penduduk menggali kuburan dan menulis nama Teuku Cut Ali pad batu nisannya ( pada batu nisan itu tertulis: “ Tjoet Ali gesneuveld 25 Mei 1927= Cut Ali tewas tanggal 25 Mei 1927 ).

Dalam pikiran orang-orang Aceh yang melihat pusara itu, pastilah timbul sesuatu yang tidak menyenangkan bagi pihak Belanda. Pusara itu tidak akan menjadi penghalang bagi pejuang Aceh untuk memulai lagi pertempuran esok harinya. Namun keadaan itu telah memberi pengalaman, bahwa kaphe Belanda bersama Marsose-marsosenya mengetahui apa yang menjadi hak seseorang yang mati syahid. Dan kompeni selalu ada dimana-mana.

Syahidnya Teuku Cut Ali dirimba Alu Burang tidak menyurutkan semangat pejuang Aceh yang lain untuk terus melakukan serangan terhadap pos atau bivak marsose Belanda yang ada diseluruh Aceh Selatan. Seperti pada Pada tanggal 11 Juni 1927 sisa pasukan Teuku Cut Ali menyerang bivak yang ada di Ladang Rimba. Hal ini membuktikan bahwa perlawanan terhadap marsose Belanda di pesisir pantai selatan tidak pernah mengendur. Pada tanggal 12 Juli 1927 pasukan Teuku Cut Ali kembali menyerang patroli marsose Belanda yang dipimpin oleh letnan P.W.O. Screuders di dekat kampung Ie Mirah, dalam penyerangan tersebut 1 orang pasukan marsose tewas dan 3 orang luka parah. Sedangkan di pihak pejuang Aceh, 9 orang gugur sebagai syuhada. Begitulah pasukan Teuku Cut Ali tidak jera-jera terus menyerang tentara marsose Belanda, sampai mereka angkat kaki dari tanah Serambi Mekkah ini. Dan hingga sekarangpun orang-orang yang kini sudah lanjut usianya masih menceritakan kisah Teuku Cut Ali dengan perasaan penuh hormat.

Sekarang Teuku Cut Ali beristirahat untuk selama-lamanya di pedalaman Alu Burang. Dipucuk-pucuk pohon yang rindang berhembus angin dengan damai, menidurkan Teuku Cut Ali tenang dalam pelukan rimba Kluet tercinta. Tanpa terasa sekarang sudah 80 tahun lamanya Teuku Cut Ali gugur di pedalaman hutan Alue Burang, yang meninggalkan kesan indah dan menjadi kebanggaan masyarakat Aceh selatan

by : Lila Banguna dikutip dari ababil.org

Kamis, 10 September 2009

TRAGEDI MEURAH PUPOK SANG PUTRA MAHKOTA


Kesultanan Aceh tahun 1636, Seorang Sultan Perkasa - Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam - yang menguasai Sumatera dan Semenanjung Malaka sedang berdiam diri dalam istana. Sultan merenung di Balairung yang juga tidak jauh dari Balai Cermin yang agung. Sumatera dan Malaka sudah dalam genggamannya. Namun, ia pun melihat Portugis, Inggris dan beberapa Negara Eropa lain sedang mengincar penguasaan Selat Malaka.

Beliau telah memerintah Aceh dan daerah taklukannya hampir 30 tahun. Ia seorang pribadi yang kuat dalam arti yang sebenarnya secara fisik dan mental. Seorang bangsawan yang cerdas serta tegas. Negarawan yang adil sekaligus politisi dan diplomat yang ulung. Ia adalah Sultan terbesar Aceh yang mampu membawa Aceh Darussalam mencapai kejayaan dan menjadi kerajaan yang disegani.

Dalam kurun hampir 30 tahun masa pemerintahannya, Sultan Iskandar Muda telah berhasil menyempurnakan Qanunul Asyi Ahlussunah Wal jamaah yang terdiri dari 500 ayat Al-Quranul Karim, 500 Hadis Rasulullah, Ijma' Sahabat rasulullah, Qiyas Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah. Kemudian dilengkapi pula dengan Qanun Putroe Phang suatu aturan yang mampu memberikan perlindungan kepada Kaum Wanita.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda inilah dikenal sebuah Kata Filosofis Rakyat Aceh : Adat bak Poteu meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana. Kata Filosofis ini menjadi pedoman hidup bagi kerajaan dan masyarakatnya untuk mengatur tata kehidupan dalam menegakan kebenaran dan keadilan demi kesejahteraan masyarakat.

Ditengah perenungannya didalam Istana, Sultan mulai memikirkan kederisasi kepemimpinannya. Ia membutuhkan seorang penerus kerajaan yang kuat yang mampu merpertahankan kekuasaannya dan menjaga Kerajaaan Aceh dan daerah taklukannya agar tidak tunduk pada kekuasaan asing, terutama Portugis dan Inggris yang saat itu terus melakukan provokasi di Selat Malaka.


Terlintaslah pandangannya pada wajah Sang Putra Mahkota - Meurah Pupok - yang digelari Sultan Muda atau Poteu Cut. Anak kesayangannya ini berwajah gagah mewarisi ketampanan wajah sang ayah. Putra Mahkota atau Poteu Cut ini memang masih belia, minim pengalaman. Saat ini sedang menanjak dewasa. Sultan merencanakan untuk memberikan beberapa tanggung jawab kepada Putra Mahkota agar ia belajar dan berpengalaman. Termasuk diantaranya tugas tempur untuk memimpin Armada Laut terbesar Kerajaan yaitu Armada Cakra Donya. Diharapkan dengan berbagai pengalaman penugasan termasuk dengan menjadi Panglima Perang pada saatnya nanti ia mampu menggantikan dirinya untuk menjadi Sultan.

Menurut sebuah riwayat Sultan Iskandar Muda memiliki dua anak, yang pertama adalah Meurah Pupok yang berasal dari istrinya seorang Putri Gayo. Yang kedua adalah wanita yang bernama Safiatuddin yang berasaal dari istrinya Putri Pedir/Pidie. Meurah Pupok dikenal sebagai seorang Pangeran yang terampil menunggang kuda. Meurah Pupok menjadi harapan Sultan Iskandar Muda untuk menggantikannya.

Ditengah lamunannya Sultan terpengarah karena tiba-tiba seorang Perwira Muda Kerajaan yang sangat dikenalnya dan merupakan kepercayaannya tiba-tiba menorobos masuk dan langsung berlutut menyembah dirinya. Dengan terbata-terbata Sang Perwira menangis tersedu-sedu sambil menyebutkan bahwa Putra Mahkota Poteu Cut Meurah Pupok telah melakukan tindakan asusila dengan menodai istrinya. Perwira tersebut langsung membunuh istrinya setelah mengetahui peristiwa tersebut. Namun, untuk Putra Mahkota ia serahkan sepenuhnya pada kebijaksanaan Sultan. Ia menuntut keadilan kepada Sultan. Selepas ia mengadukan hal tersebut kepada Sultan, Perwira tersebut langsung mencabut rencongnya dan menikam ke hulu hatinya sendiri tanpa sempat dicegah oleh Sultan dan pengawalnya. Robohlah perwira tersebut dan langsung tewas saat itu juga.

Syahdan Perwira Muda ini adalah Pelatih Angkatan Perang Aceh. Ia mengetahui peristiwa tersebut setelah melakukan pelatihan terhadap para prajurit di kawasan Blang Peurade Aceh. Ia sangat kecewa dengan peristiwa yang melibatkan istrinya tersebut. Kekecewaan tersebut ia tumpahkan dengan membunuh istrinya sendiri kemudian ia sendiri bunuh diri dihadapan Sultan.

Tercenunglah Sultan dengan wajah bergetar menahan amarah. Ia baru saja menaruh harapan terhadap Putra Mahkota, namun peristiwa yang baru terjadi bagaikan geledek yang menyambar dirinya. Seorang Perwira kerajaan kepercayaan dirinya menyampaikan pengaduan yang membuat dunia ini seolah-olah runtuh. Putra Mahkota kesayangannya telah melakukan tindakan yang tidak patut.

Segera Sultan berteriak garang disaksikan orang-orang penting Kerajaan dan para pengawalnya. Aku adalah Sultan Penguasa Aceh, Sumatera dan Malaka. Aku telah memerintah Aceh dan taklukannya dengan menegakan hukum yang seadil-adilnya. Aku pun akan menegakan hukum terhadap keluargaku sendiri. Aku pun akan menerapkan hukum kepada Putra Mahkota yang seberat-beratnya. Dengan tanganku sendiri akan kupenggal leher putraku karena telah melanggar hukum dan adat negeri ini.

Semua pembesar kerajaan tercenung. Sultan segera memerintahkan penangkapan Putra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Poteu Cut atau Sultan Muda. Pengadilan segera dilakukan dan Sultan Iskandar Muda telah memutuskan bahwa ia sendirilah yang akan memancung putra kesayangannya itu. Mendung menggelayut diatas Kerajaan Aceh, prahara telah menghantam negeri perkasa ini.

Beberapa pembesar kerajaan yang peduli terhadap kelangsungan kerajaan bersepakat untuk menghadap Sultan Iskandar Muda agar membatalkan hukuman pancung tersebut. Mereka mengajukan berbagai usul seperti pengampunan atau cukup dengan mengasingkan Putra Mahkota ke negeri lain. Termasuk mencari kambing hitam, mencari seorang pemuda lain untuk menjadi pesakitan menggantikan Putra Mahkota. Semua usul tersebut ditolak oleh Sultan dan dengan berang Sultan berkata akulah yang menegakan hukum di negeri ini dan kepada siapapun yang bersalah tidak terkecuali terhadap keluargaku sendiri harus dihukum. Kerajaan ini kuat karena hukum yang ditegakan dan adanya keadilan. Sultan kemudian menyebut dalam bahasa Aceh - gadoh aneuk meupat jrat, gadoh hukom ngon adat pat tamita? - yang artinya hilang anak masih ada kuburan yang bisa kita lihat, tetapi jika hukum dan adat yang hilang hendak kemana kita mencarinya?

Semua pembesar kerajaan terdiam tak kuasa membantah titah Raja Perkasa yang adil ini. Mereka mulai membayangkan bagaimana masa depan negeri ini. Bahkan Menteri Kehakiman pun yang bergelar Sri Raja Panglima Wazir berusaha membujuk tetapi Sultan tetap tidak bergeming. Sultan berketetapan hati tetap melaksanakan putusannya. Sultan sendiri dengan tegas mengatakan apabila tidak ada seorang pun yang mau melakukan hukuman ini maka ia sendiri yang akan melakukannya. Pada hari yang ditentukan dilaksanakanlah hukuman pancung tersebut yang langsung dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda terhadap Putra Mahkota kesayangannya.

Dibawah linangan air mata masyarakat yang mencintai Sultan dan Putra Mahkotanya disaksikan pembesar kerajaan yang berwajah sendu dan tertunduk tidak mampu menatap kejadian tersebut, Sultan Iskandar Muda dengan tegar melaksanakan hukuman pancung terhadap Putra Mahkota kesayangannya itu. Langit kerajaan Aceh menjadi mendung kelabu.

Rakyat kebanyakan maupun pembesar kerajaan banyak yang tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Putra Mahkota. Mereka semua menaruh harapan besar terhadap Putra Mahkota sebagai pewaris kerajaan dan turunan langsung Sultan Iskandar Muda. Tetapi hukum telah ditegakan dan Sultan langsung yang melaksanakan keputusan tersebut.

Atas keputusan Sultan Iskandar Muda pula jenajah Meurah Pupok tidak dibolehkan untuk dimakamkan dikompleks pemakaman kerajaan. Pemakaman kerajaan disebut dengan Kandang Mas yang berada dilingkungan Keraton Darul Donya. Jenajah hanya dimakamkan disuatu kompleks di luar area Keraton yaitu didekat lapangan pacuan kuda Medan Khayali.

Waktu terus berjalan, Sultan mulai memikirkan siapa penggantinya. Kemudian berkembanglah sebuah informasi bahwa Putra Mahkota Meurah Pupok yang bergelar Sultan Muda Poteu Cut, memang sengaja disingkirkan oleh sebuah konspirasi. Oleh sekelompok orang tertentu yang tidak menginginkannya menjadi Raja atau Sultan, mencoba mencari berbagai cara untuk mencegahnya menjadi Sultan. Kelompok ini tidak berani berhadapan secara langsung dengan Sultan atau melakukan tindakan gegabah. Mereka berusaha menjebak Putra Mahkota dengan berbagai cara. Dicarilah akal bulus untuk menggoda Sultan Muda yang sedang menanjak dewasa ini. Sebagai pria muda ia dianggap akan mudah tergoda dengan wanita.

Akhirnya ditemukan seorang wanita jelita yang kebetulan pula istri seorang Perwira Kerajaan dan kepercayaan Sultan Iskandar Muda. Karena istri seorang perwira kepercayaan Sultan, wanita ini dengan mudah masuk kedalam lingkungan Istana. Sehingga ia dengan mudah bergaul di istana dan mendekati Pangeran Muda yang tampan yang juga adalah seorang Putera Mahkota. Akhirnya akibat godaan sedemikian rupa Sultan Muda terjebak kedalam skenario yang dibuat oleh konspirasi jahat yang bertujuan ingin menjebak dan menyingkirkannya. Akhirnya sebagaimana diketahui bersama konspirasi jahat itu berhasil menyingkirkan Putra Mahkota Sultan Muda yang bernama asli Meurah Pupok.

Informasi ini sampai ketelinga Sultan Iskandar Muda, namun semuanya telah terjadi. Ia mulai membayangkan Putra kesayangannya tersebut yang juga Putra Mahkota yang kelak diharapkan melanjutkan kepemimpinannya. Terbayang olehnya akan wajah seorang pemuda tampan namun minim pengalaman. Ditengah usianya yang menanjak dewasa sangat mungkin ia mudah tergoda. Sultan mulai menyesali kealpaannya dalam mengawasi Putra Mahkota kesayangannya itu. Ia dirundung kesedihan mendalam. Kesedihan yang terus menerus ini membuat Sultan jatuh sakit. Sakitnya berlangsung terus dan semakin parah. Dalam beberapa waktu kemudian Sultan Iskandar Muda yang perkasa ini akhirnya mangkat tepatnya pada tanggal 27 Desember 1636.


Pengganti Sultan adalah menantunya yaitu Sultan Iskandar Tsani. Setelah Sultan Iskandar Tsani mangkat ditunjuklah istrinya yang juga anak Sultan Iskandar Muda dan adik Meurah Pupok yaitu Ratu Tajul Alam Syafiatuddin menjadi Ratu Penguasa Kesultanan Aceh. Dalam masa kepemimpinan Ratu Tajul Alam Syafiatuddin ia mencoba memulihkan kembali nama baik abangnya Meurah Pupok, karena sesungguhnya abangnya tersebut tidak sepenuhnya salah. Abangnya dijebak oleh suatu konspirasi yang jahat. Ratu kemudian membangun makam untuk abangnya Meurah Pupok yaitu suatu bangunan yang indah yang menjadi kenang-kenangan bagi peristiwa masa lalu untuk dijadikan pelajaran agar para penguasa dan keluarganya harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Bangunan makam ini disebut dengan Kandang Poteu Cut. Kandang ini terletak pada lokasi strategis yaitu disisi barat Kandang Perak dan Taman Sari pada tepi jalan masuk ke Medan Khayali. Namun, makam Meurah Pupok yang disebut Peucut ini sempat dihancurkan Belanda. Peucut berasal dari Pocut yang berarti putra kesayangan.

Demi menegakan hukum Sultan Iskandar Muda rela menghukum mati anaknya sendiri yang nota bene merupakan putra kesayangannya sekaligus penerus kekuasaannya. Meskipun kemudian diketahui kesalahan anaknya tersebut akibat suatu konspirasi yang memang sengaja menjebaknya. Sejarah telah memberikan pelajaran yang luar biasa buat kita, hukum memang harus ditegakan, namun kekuasaan itu pun syarat dengan intrik dan penuh tipu daya. Kisah Meurah Pupok memberikan hikmah yang mendalam.

Minggu, 06 September 2009

FUJIWARA KIKAN DI BAKONGAN ACEH DAN PERAN T. RAMLI ANGKASAH


Pada tahun 1942 saat Belanda mulai takluk kepada Jepang, Kekaisaran Jepang mulai melakukan konsolidasi untuk menarik hati para pemimpin di Indonesia termasuk Aceh agar dapat mempermudah masuknya Bala Tentara Dai Nippon. Jepang memilih para pemimpin-pemimpin yang mendapat dukungan masyarakat. Terutama para pemimpin yang pernah melawan Belanda termasuk anak-anaknya. Untuk itu Dai Nippon Jepang membentuk lembaga yang bernama Fujiwara Kikan, biasa disingkat dengan lembaga F saja.

Lembaga F ini semacam lembaga teritorial yang juga bisa berfungsi sebagai lembaga kemasyarakatan ataupun intelijen dibawah pembinaan Dai Nippon. Tugasnya untuk mempermulus pengusiran Belanda dan mempermudah masuknya Jepang.

Untuk Wilayah Bakongan ditunjuklah Teuku Ramli Angkasah (gambar diatas) putera dari Teuku Raja Angkasah yang pernah bertempur melawan Belanda sebagai Ketua Fujiwara Kikan. Awalnya Teuku Ramli Angkasah menerima jabatan ini karena berharap Jepang bersikap positif. Namun, setelah tahu bahwa lembaga ini hanya akal bulus Jepang untuk menguasai daerahnya, maka Teuku Ramli Angkasah mengundurkan diri.

Pengunduran diri ini memberikan dampak serius. Jepang akan bersikap keras terhadap para pemimpin yang tidak mendukung dirinya. Teuku Ramli Angkasah sempat diancam akan digantung. Atas kerjasama dengan Teuku Nyak Arief dari Aceh besar yang juga masih ada hubungan famili diantara mereka, Teuku Ramli Angkasah dapat mengatasi ancaman Jepang tersebut.

Kembali ke Fujiwara Kikan sesuai dengan informasi dari ahli sejarah Muhammad Junus Djamil bahwa Fujiwara Kikan atau Lembaga F mulai menjalankan propagandanya di tahun 1942. Setelah proaganda di Tapak Tuan dilanjutkan ke Bakongan dan Trumon. Di Trumon terutama dikendalikan oleh Teuku Daud, Dullah Panjang, Husein Tukang yang menerima amanat itu dengan perantaraan Merah Husein, Teuku M. Natsir dan M. Sahim Hasyimi yang menganjurkan dari Tapak Tuan. Sekembalinya dari Trumon mereka terus memperluas propaganda F tersebut.

Mereka semua sudah bersiap dan di Tapak Tuan sudah terjadi pemberontakan terhadap Belanda. Pemerintah Belanda di Bakongan sudah mencurigai Teuku Ramli Angkasah dan diperintahkan untuk ditangkap karena melihat ia juga adalah Putera dari Teuku Raja Angkasah. Oleh sanak famili Teuku Ramli Angkasah disembunyikan kedalam hutan dan seluruh sanak famili diminta untuk bertindak secara hati-hati. Hal ini terjadi karena ada ancaman dari Pihak Belanda jika terjadi sesuatu maka seluruh sanak famili Teuku Ramli Angkasah akan dihabisi dan negeri Bakongan akan dimusnahkan.

Seorang Hulubalang Kluet (TMA) yang sangat setia kepada Belanda menyatakan dukungan kepada Belanda dan akan membantu Belanda untuk menghadapi orang-orang yang tidak mendukung Belanda. Begitu juga di Trumon terbetik kabar bahwa ada pemberontakan di Tapak Tuan dan meminta mereka untuk menunggu petunjuk Fujiwara Kikan lebih lanjut bila sewaktu-waktu diperlukan pertempuran militer dengan Belanda.

Seorang Hulubalang Trumon yang setia kepada Belanda TH yang beristri orang Belanda mencoba menghalangi propaganda F. Saat orang-orang di Trumon menjalankan propaganda F maka Hulubalang TH tersebut menangkapi mereka dan memenjarakan mereka. Mereka yang dipenjarakan itu adalah Cut Hasan anak Cut Ali yang pernah pula bertempur melawan Belanda di Trumon, kemudian ditangkap pula Cut Daud, Agam dan Guruh. Mereka dipenjara dalam lumbung padi milik Hulubalang TH, tidak diberi makan dan mereka disiksa selama 7 hari 7 malam. Setelah Jepang masuk barulah mereka dibebaskan dan terjadilah pertempuran melawan Belanda di Trumon.

Lembaga F ini akhirnya menjadi media Jepang untuk menguasai daerah-daerah. Banyak dari para pemimpin yang awalnya ikut bergabung dengan Fujiwara Kikan karena dianggap dapat mengusir Belanda. Namun selanjutnya Fujiwara Kikan menjadi alat propaganda Jepang sehingga akhirnya ditinggalkan oleh para pemimpin tersebut termasuk Teuku Ramli Angkasah. Sikap ini memiliki resiko karena akan diancam hukum gantung oleh Jepang, namun Teuku Ramli Angkasah dengan beberapa pemimpin lainnya dapat mengatasi ancaman tersebut termasuk memperoleh dukungan dari Teuku Nyak Arief, seorang Pahlawan Aceh dan Hulubalang ternama dari Lamnyong Aceh Besar.

Sabtu, 05 September 2009

STRATEGI TEUKU RAJA ANGKASAH DALAM PERANG ACEH BAKONGAN


Melengkapi beberapa tulisan penulis tentang TEUKU RAJA ANGKASAH berikut ini akan diulas Strategi Teuku Raja Angkasah dalam Perang Bakongan. Perang Bakongan termasuk bagian Perang Aceh yang sangat menguras enerji maupun biaya bagi pihak Belanda, termasuk menewaskan Prajurit Belanda yang sedemikian banyak diantaranya terdapat beberapa Jenderal Belanda.

Teuku Raja Angkasah memiliki cara yang unik saat bertempur dengan Belanda. Strategi yang digunakan Teuku Raja Angkasah dalam Perang Bakongan adalah :

1. Sebelum bertempur Teuku Raja Angkasah senantiasa mengirimkan surat tantangan kepada Marsose Belanda untuk melakukan pertempuran di suatu tempat. Strategi ini merupakan bentuk perang urat syaraf (psywar) untuk menjatuhkan mental pihak lawan.

2. Mengingat keunggulan Teuku Raja Angkasah dalam bermain pedang dan keterbatasan persediaan senapang mesin yang dimilikinya, Teuku Raja Angkasah sering menawarkan untuk bertanding pedang dengan Komandan Marsose Belanda, diantaranya Kapten Paris yang dikenal sebagai Singa Afrika dan sebelumnya pernah menjadi Komandan Pasukan Belanda di Afrika Selatan. Teuku Raja Angkasah unggul dalam pertandingan pedang ini. Keunggulan Teuku Raja Angkasah dalam bermain pedang ini adalah kemampuannya untuk meloncat seolah-olah melayang sambil mengayunkan pedangnya kepihak musuh.

3. Melakukan jebakan dengan menggunakan tali pada jalur-jalur yang dilalui oleh Pasukan Marsose Belanda. Saat Marsose Belanda terperangkap pada tali-tali tersebut maka Teuku Raja Angkasah bersama Pasukannya melakukan penyerbuan dan menghabisi para Marsose tersebut.

4. Teuku Raja Angkasah bersama pasukannya menunggu di puncak bukit (Bukit Gading di Hulu Bakongan). Dikaki Bukit terletak sungai yang dilalui Belanda. Saat Belanda menyeberang sungai maka Teuku Raja Angkasah bersama pasukannya akan menyerbu dari atas sehingga membuat Pasukan Marsose Belanda kocar-kacir.

5. Berkoordinasi dengan pejuang lainnya diantaranya Teuku Cut Ali dan Teuku Datuk Raja Lelo untuk mengatur posisi secara menyebar sehingga menyulitkan pihak Belanda.

Syahid dan tewasnya Teuku Raja Angkasah lebih karena adanya suatu pengkhianatan karena provokasi yang dilakukan oleh pihak Belanda. Atas tekanan, ancaman dan bujukan pihak Belanda seorang masyarakat setempat berhasil memberikan informasi kepada Belanda tentang saat-saat lemah Teuku Raja Angkasah dan posisinya bersama pengikutnya di Bukit Gading.

Tewas syahidnya Teuku Raja Angkasah diawali dengan adanya seorang pengkhianat yang mengantarkan makanan. Kemudian pengkhianat ini dari belakang diikuti oleh Pasukan Marsose Belanda, saat Teuku Raja Angkasah bersama Panglimanya menyantap makanan yang diduga telah diracun untuk melemahkan badan, Pasukan Marsose Belanda melakukan penyergapan. Marsose Belanda dengan jumlah lebih banyak - puluhan orang - dan bersenjata lengkap menyerbu posisi kemah Teuku Raja Angkasah bersama 3 orang Panglimanya.

Dalam kondisi terdesak ini Teuku Raja Angkasah sempat menggunakan karabinnya (senapang tua). Karena terus ditembakan karabin itu menjadi sangat panas, kemudian Teuku Raja Angkasah membuka sorbannya untuk membalut karabin yang panas tersebut sambil mulutnya mengeluarkan sumpah serapah kepada Marsose Belanda. Sebetulnya beberapa peluru telah mengenai badan Teuku Raja Angkasah namun beliau masih bertahan. Saat dalam keadaan terdesak tersebut beliau masih terus melakukan perlawanan. Namun kemudian peluru habis dan beliau kemudian berteriak memaki Pasukan Marsose Belanda sambil mencoba menggunakan pedangnya untuk menyerbu Marsose. Pada saat inilah seorang penembak jitu dari Pasukan Marsose Belanda berhasil menembakan satu peluru menembus ke mulut beliau sehingga syahidlah Teuku Raja Angkasah. Gugurlah Teuku Raja Angkasah bersama 3 orang Panglimanya di Bukit Gading Bakongan Aceh, tepatnya pada 25 Oktober 1928.

Jumat, 04 September 2009

ANALISA MENGAPA TEUKU RAJA ANGKASAH BERPERANG MELAWAN BELANDA


Dalam blog ini penulis untuk ketiga kalinya menulis tentang TEUKU RAJA ANGKASAH - Pahlawan Pertempuran Bakongan yang tewas syahid melawan Belanda pada tanggal 25 Oktober 1928. Dari hasil penelusuran penulis terutama terhadap Ayahanda Penulis sendiri yaitu Teuku Ramli Angkasah yang juga adalah Putera Kandung dari Teuku Raja Angkasah dan hasil informasi dari sanak famili, beberapa penyebab Teuku Raja Angkasah bertempur melawan Belanda adalah :

1. Sikap Belanda yang mulai mencengkram wilayah Aceh.

2. Pendirian Tangsi Militer Belanda di Bakongan, terutama dengan menempatkan Pos Pasukan Khusus Belanda yaitu Marsose di Bakongan, sehingga Bakongan menjadi salah satu dari 6 Pos Marsose di Aceh.

3. Sikap Belanda yang mengadu domba keluarga Hulubalang Bakongan.

4. Terbunuhnya Ayahanda Teuku Raja Angkasah yaitu Teuku Abdurachman yang merupakan hasil provokasi dan konspirasi Belanda dengan antek-anteknya di Bakongan.

5. Belanda ingin memperkuat basis kekuasaannya di Bakongan dengan melemahkan peran Hulubalang.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Teuku Raja Angkasah mendeklarasikan perang terhadap Kompeni Belanda sampai akhirnya tewas syahid di Buket Gadeng Bakongan Aceh pada tanggal 25 Oktober 1928.

TEUKU RAJA ANGKASAH


Teuku Raja Angkasah adalah Pahlawan Aceh yang sahid dalam perang melawan Kompeni Belanda di Buket Gadeng Bakongan Aceh pada tanggal 25 Oktober 1928. Beliau pernah berperang tanding dengan menggunakan pedang dengan Komandan Marsose Belanda yang terkenal Kapten Paris yang dijuluki Singa Afrika karena pernah memimpin pasukan Belanda berperang di Afrika Selatan dan dikenal akan ketangguhannya bermain pedang. Sedangkan Teuku Raja Angkasah dijuluki oleh pihak Belanda sebagai Harimau Sumatera karena keperkasaannya. Teuku Raja Angkasah dikenal pula mahir dalam memainkan pedang terutama dalam mengayunkan pedang sambil meloncat, seolah-olah beliau sambil melayang saat mengayunkan pedang.

Pihak Belanda sering menyebutkannya sebagai Raja Angkasa karena kemahirannya meloncat seolah-olah melayang di udara sambil mengayunkan pedang tersebut. Dalam perang tanding satu lawan satu, Kapten Paris yang jago bermain pedang tersebut kewalahan menghadapi gaya meloncat dan melayang dari Teuku Raja Angkasah. Sehingga akhirnya Kapten Paris terluka parah namun tidak langsung dibunuh oleh Teuku Raja Angkasah, ia diberi kesempatan untuk memulihkan diri dan setelah sehat akan ditantang perang pedang kembali oleh Teuku Raja Angkasah. Namun karena tipu muslihat Belanda, Teuku Raja Angkasah tidak sempat bertanding pedang lagi dengan Kapten Paris. Tetapi, Teuku Raja Angkasah beserta tiga orang Panglimanya dijebak oleh Marsose Belanda di Buket Gadeng Bakongan Aceh, dalam kondisi terkepung oleh puluhan orang Marsose Belanda, Teuku Raja Angkasah beserta 3 Panglimanya dibombardir dengan tembakan bedil dan setelah tertembak oleh sejumlah peluru beliau masih mampu bertahan namun berikutnya salah satu peluru berhasil menembus mulut Teuku Raja Angkasah yang menewaskan dirinya.

Syahidlah Pahlawan dari Pantai Selatan Aceh ini bersama 3 orang Panglima Perangnya tepatnya pada tanggal 25 Oktober 1928. Salah satu Panglimanya hanyut terbawa arus sungai, sedangkan Teuku Raja Angkasah beserta 2 Panglimanya dimakamkan bersama satu liang di kaki Buket Gadeng Bakongan Aceh Selatan. Sesaat setelah tewas sebenarnya pihak Belanda ingin memenggal kepala Teuku Raja Angkasah untuk di bawa ke Kutaraja untuk diperlihatkan kepada Pejabat Kolonial Belanda, namun Raja Bakongan saat itu yang juga adalah pamannya (dalam bahasa Aceh disebut Ayahcut) berhasil mencegahnya, sehinggal ia dimakamkan langsung bersama Panglimanya di Buket Gadeng Bakongan Aceh.

Dalam perang Bakongan yang dipimpin Teuku Raja Angkasah ini banyak korban dari pihak Belanda yang saat itu diangkut dengan kapal yang bernama Kapal Putih. Kapal Putih mengangkut berkali-kali korban dari Perang Bakongan ini untuk dibawa ke Kutaraja (Banda Aceh) dan sebagian dimakamkan di Kerkoff, kompleks Perkuburan Prajurit Belanda di Banda Aceh.

Perang Bakongan yang dipimpin oleh Teuku Raja Angkasah ini membuktikan bahwa Perang Aceh melawan Belanda sesungguhnya tidak pernah berakhir meskipun Sultan Aceh telah tertangkap pada tahun 1904 oleh Belanda. Setelah tahun 1904 masih banyak terjadi peperangan melawan Belanda di Aceh diantaranya adalah Perang Bakongan yang menewaskan Teuku Raja Angkasah beserta dengan para Panglimanya. Jadi sesungguhnya Belanda tidak pernah menguasai Aceh. Yang terjadi adalah perang terus menerus antara Aceh dengan Belanda.

Teuku Raja Angkasah kadang-kadang disebut secara keliru dengan Teuku Angkasa atau Teungku Angkasa. Beberapa nama jalan terutama di kota-kota di Aceh mengabadikan namanya. Selain itu ada pula di Bandung nama jalan Teungku Angkasa atau Teuku Angkasa yang sesungguhnya adalah bernama Teuku Raja Angkasah. Semoga Pemerintah Kota Bandung dan kota-kota lainnya yang menggunakan nama beliau bisa menyesuaikan lagi penamaan jalan dengan nama beliau yang benar, yaitu Teuku Raja Angkasah.

Minggu, 11 Januari 2009

DR. SAID AZIZ, MSC CALON DPD NAD NO.25

Dr. Said Aziz, MSc adalah calon anggota DPD NAD nomor 25. Saat ini bekerja di bidang geologi dan memiliki sejumlah aktivitas didalam organisasi kemasyarakatan seperti Ketua Umum KAMABA (Keluarga Masyarakat Aceh Bandung) dan Ketua FOMAJA (Forum Masyarakat Aceh se-Jawa). Semasa mengambil program S3 di Belgia beliau sempat menjadi Ketua Mahasiswa Internasional di Eropa. Berbagai pengalaman, kiprah dan kompetensi beliau menunjukkan Dr. Said Aziz, MSc sebagai orang yang sangat tepat untuk menduduki salah satu posisi anggota DPD dari NAD.

Beliau memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masalah pembangunan di Aceh terutama berkaitan dengan sektor MIGAS. Beliau ingin Aceh memperoleh hak pengelolaan migas secara maksimal. Sangat diharapkan seluruh masyarakat Aceh untuk memilih beliau sebagai Anggota DPD NAD sehingga perjuangan Aceh untuk memperoleh hak pengelolaan migas secara maksimal dapat tercapai.

100 TOKOH ACEH TERKEMUKA


Hari ini Minggu 11 Januari 2009 pada pukul 15.00 di Jl. Cicendo Bandung dijadwalkan pertemuan Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Bandung Jawa Barat. Aku sendiri dalam kepengurusan MAA Jabar ditunjuk sebagai Sekretaris Komisi C Bidang Pelestarian Pusaka, Khasanah Adat dan Pemberdayaan Putroe Phang. Aku berencana untuk mengusulkan pembuatan buku tentang "100 TOKOH ACEH TERKEMUKA."

Gagasan pembuatan buku ini dilatarbelakangi oleh perlunya kita menghargai para tokoh Aceh yang telah berjasa berjuang maupun membangun Aceh. Juga sebagai upaya untuk melestarikan nilai-nilai kepahlawanan dan kecerdasan mereka, selain itu juga sebagai sumber inspirasi bagi pembangunan Aceh saat ini dan masa yang akan datang.

Beberapa format yang aku rencanakan adalah penulisan ini berdasarkan periodeisasi masa pra Islam, masa Islam atau berdasarkan pembagian tokoh sesuai dengan bidang seperti Agama, Adat Istiadat, kesusatraan, Pendidikan, Tokoh Wanita, dsb-nya atau dengan pendekatan waktu seperti periode sampai dengan abad 16, periode tahun 1600-1800, periode 1800-1945 dan periode pasca 1945 sampai dengan sekarang. Atau pembaca mempunyai usulan lain silakan disampaikan. Mudah-mudahan usulan ini dapat diterima oleh Pengurus MAA lainnya.

Agenda lain rapat MAA kali ini adalah membahas upaya pelacakan para Pahlawan Aceh yang ada di Tanah Jawa selain yang sudah dikenal selama ini. Diantaranya adalah pelacakan Makam Pahlawan Wanita Aceh Pocut Meurah Inseun di Blora. Mengenai Pahlawan Wanita Aceh yang diasingkan ke Blora ini pernah disebut didalam salah satu tetralogi Pramudya Ananta Toer. Tentu kewajiban kita untuk melacaknya, diantaranya direncanakan para Pengurus MAA akan mengunjungi Blora untuk melihat makam salah satu Pahlawan Aceh tersebut. Setelah itu direncanakan pula menelusuri berbagai Pahlawan Aceh yang konon banyak pula tersebar diberbagai kota di Pulau Jawa yang dulu memang ke Pulau Jawa karena berbagai alasan seperti untuk kepentingan dakwah maupun perjuangan atau memang karena diasingkan oleh penjajah Belanda.

GAMPONG ACEH at DAGO BANDUNG

Tadi malam tepatnya Sabtu malam tanggal 10 Januari 2009 aku mendapat undangan syukuran sekaligus peresmian Resto GAMPONG ACEH di Dago Bandung, tepatnya disamping Hotel Holiday Inn dan satu kompleks dengan markas Pemuda Pancasila. Luar biasa memang Bung Edy Azhary sang pemilik GAMPONG ACEH (GA). Sebelumnya GA terletak sedikit kearah simpang Dago dekat Edward Forrer, namun kemudian sempat tidak beroperasi dan pindah ke daerah Sarijadi dan Setiabudi.
Nah, saat ini Bung Edy mendapat tempat yang sangat strategis di kawasan Dago tempat kongkownya anak muda Bandung. Lokasi GA saat ini cukup mantap dengan design yg lebih baik dan space yang lebih besar. Pada saat peresmian tamu undangan cukup banyak, diantara yang hadir adalah Wakil Bupati Aceh Timur mewakili Gubernur NAD, Wakil dari Gubernur Jawa Barat, Para tokoh Pejabat & Pemuda Bandung dan tentu para tokoh Aceh seperti DR. Said Aziz, DR. Kamal Arif, Prof.Dr. Rusli Ghalib, Marzuki Abdullah (Eks Dirut Bio farma), Mahyuddin (tokoh informal perdamaian Aceh), Syahmira (Caleg DPR) dan masih banyak yang lainnya lagi.

Acara dimulai dengan sambutan Ketua KAMABA (Keluarga Masyarakat Aceh Bandung) DR. Said Aziz, MSc, kemudian Wakil Bupati Aceh Timur yang mewakili Gubernur NAD dan kemudian doa. Selanjutnya hadirin dipersilahkan mencicipi hidangan khas Aceh sepert Gulee Kameng, Gulai Kepala Ikan Kakap, Sie Itek, dsb-nya. Sambil santap malam hadirin dihibur dengan kesenian Aceh tari Saman, Likok Pulo yang dimainkan oleh Mahasiswa ITB asal Aceh (UKA ITB), kemudian lagu-lagu Aceh yang antara lain dikumandangkan oleh peserta Indonesian Idol dari Aceh yaitu Cut Cinta.

Malam minggu yang cukup ramai di Dago semakin dimeriahkan dengan kehadiran GAMPONG ACEH. Selamat Bung Edy ...... anda memang seorang entrepreneur yang tangguh .... anda layak mendapat julukan Saudagar Aceh ulung khususnya di bidang kuliner. Jadi kalau ingin mencicipi kuliner Aceh saat ini di Bandung sudah mulai banyak dan diantaranya yang terkemuka adalah yang dikelola oleh Bung Edy ............. ya apalagi kalau bukan GAMPONG ACEH.

Minggu, 02 November 2008

CUT NYAK DHIEN 100 TAHUN


Pada hari Sabtu pagi 1 November 2008 aku dikontak oleh salah satu tokoh masyarakat Aceh di Bandung. Di ajak ke Sumedang tepatnya ke Gunung Puyuh tempat bersemayamnya Srikandi Agung CUT NYAK DHIEN. Pada hari itu akan dilakukan peliputan oleh salah satu stasiun TV tentang kehidupan Cut Nyak Dhien bertepatan dengan 100 tahun wafatnya Cut Nyak Dhien. Beliau wafat di Sumedang pada tanggal 6 November 2008. Cut Nyak Dhien adalah srikandi tangguh, yang mampu menunjukkan bagaimana wanita dapat berperan sejajar dengan pria tanpa perlu menggembar-gemborkan konsep emansipasi yang terkadang salah kaprah tersebut. Ia juga tidak perlu berteriak tentang isu kesamaan jender, tetapi ia menunjukkan sikap yang sempurna untuk memperlihatkan bagaimana wanita pun memiliki kesamaan kemampuan dengan pria dalam berjuang bahu membahu melawan suatu kezaliman kolonialisme Belanda.

Berikut tentang profil Cut Nyak Dhien yang penulis peroleh dari sumber Wikipedia :

Cut Nyak Dhien (Lampadang, 18486 November 1908, Sumedang, Jawa Barat; dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Setelah wilayah VI Mukim diserang, ia mengungsi, sementara suaminya Ibrahim Lamnga bertempur melawan Belanda. Ibrahim Lamnga tewas di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 yang menyebabkan Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah hendak menghancurkan Belanda.
Teuku Umar, salah satu tokoh yang melawan Belanda, melamar Cut Nyak Dhien. Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak, tetapi karena Teuku Umar memperbolehkannya ikut serta dalam medan perang, Cut Nyak Dhien setuju untuk menikah dengannya pada tahun 1880 yang menyebabkan meningkatnya moral pasukan perlawanan aceh. Nantinya mereka memiliki anak yang bernama Cut Gambang.[1] Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, ia bersama Teuku Umar bertempur bersama melawan Belanda, namun, Teuku Umar gugur saat menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, sehingga ia berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Cut Nyak Dien saat itu sudah tua dan memiliki penyakut encok dan rabun, sehingga satu pasukannya yang bernama Pang Laot melaporkan keberadaannya karena iba.[2][3] Ia akhirnya ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh, disana ia dirawat dan penyakitnya mulai sembuh, namun, ia menambah semangat perlawanan rakyat Aceh serta masih berhubungan dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap, sehingga ia dipindah ke Sumedang, dan ia meninggal pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.

Minggu, 26 Oktober 2008

WALI NAGGROE BERTEMU WAPRES

Pada tanggal 24 Oktober 2008 Tgk. Hasan Di Tiro yang lazim dipanggil Wali Nanggroe bertemu dengan Wakil Presiden Yusuf Kalla (YK) dikediaman Wapres. Pertemuan tersebut dinyatakan sebagai ajang silaturahmi. Sesuai dengan informasi sebelumnya Wali direncanakan pula bertemu dengan Presiden SBY, namun krn Presiden ada agenda ke Beijing untuk menghadiri pertemuan ASEM maka pertemuan dengan Wali tersebut belum dapat terlaksana. Sebagaimana diketahui YK adalah tokoh sentral dibalik perjanjian Perdamaian RI-GAM di Helsinki. Demikian pula Wali adalah penentu terakhir dikalangan GAM dalam memutuskan penandatanganan Nota Damai tersebut.
Perdamaian tersebut adalah sesuatu yang sangat perlu disyukuri mengingat konflik telah berlangsung lama dan menimbulkan korban berbagai pihak. Saat sekarang yang terpenting adalah mengimplementasikan hal-hal yang telah diamanatkan dalam MoU Perdamaian tersebut.
Pertemuan antara Wapres dan Wali semakin menunjukkan semangat perdamaian telah merengkuh batas-batas psikologis dan secara personal hubungan antar pemimpin akan mampu memberi contoh bagi berbagai kalangan yang ada di bawahnya untuk mencontoh pemimpin mereka agar dapat membangun tali silaturahmi yang kokoh.
Perdamaian akan semakin kukuh terpatri apabila tokoh sentral menunjukkan sikap damai dan mau menjalin silaturahmi, kalau silaturahmi ini mampu dijalin dalam berbagai level pimpinan kita semakin optimis perdamaian akan semakin bersemi.

Rabu, 30 Juli 2008

RANCANGAN QANUN WALI NANGGROE


Pada tanggal 23 Juli 2008 aku diundang oleh DPR Aceh untuk menghadiri acara Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) tentang Rancangan Qanun Wali Nanggroe di Gedung Bulog Jl. Gatot Subroto Jakarta. Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Taman Iskandar Muda (TIM) Jakarta. RDPU dilakukan antara DPR Aceh dengan Tokoh-Tokoh Masyarakat Aceh se-Jawa. Hadir dalam kesempatan itu Ketua DPR Aceh Bpk. Sayed Fuad Zakaria beserta Tim dari DPR Aceh, Bpk. Ibrahim Syamsuddin KBS (Juru Bicara KPA), Dr. Hasballah M. Saad (Mantan Menneg HAM), Bpk. Jenderal (Pur) Bustanil Arifin, Bpk. Letjen (Pur) AR. Ramly, Bpk. Letjen (Pur) Tamlicha Ali, DR. Said Azis, M.Sc., (Ketua Fomaja), T. Safly Didoh (Ketua TIM), Prof.Dr. Ibrahim Abdullah (Utoh Him), Prof. Dr. Hakim Nyak Pha, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya.

Disebutkan dalam rancangan tersebut Wali Nanggroe adalah pemimpin lembaga adat nanggroe yang independen sebagai pemersatu masyarakat, berwibawa dan berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan kehidupan lembaga-lembaga adat, adat istiadat, pemberian gelar kehormatan dan derajat serta upacara-upacara Adat Aceh.

Dalam RDPU tersebut aku memberikan usulan agar Wali Nanggroe harus mengayomi seluruh masyarakat Aceh dan mereka yang mengaku sebagai orang Aceh dimanapun berada. Perlu dipertimbangkan batasan usia jangan diharuskan minimal 50 tahun, lebih baik dibuka saja dan biarkan hal tersebut berlangsung secara alamiah (jangan menjadi sebuah persyaratan administratif). Selain itu prakarsa waktu pelaksanaan pemilihan Wali Nanggroe maksimal 3 (tiga) bulan perlu dipertimbangkan lagi jangka waktunya. Masih banyak usulan lain yang disampaikan dalam forum tersebut dan DPR Aceh tampaknya cukup terbuka untuk mempertimbangkannya. Hal yang terpenting bahwa Lembaga Wali Nanggroe ini harus bermanfaat bagi masyarakat, mampu menjaga kelanggengan perdamaian serta mempromosikan pembangunan dan kesejahteraan untuk seluruh masyarakat Aceh.

Selasa, 08 Juli 2008

ACEH HUMAN RESOURCES DEVELOPMENT CENTER (AHRDC)


I. PENDAHULUAN

Aceh dikenal sebagai suatu wilayah yang memiliki sejarah panjang. Lokasinya yang cukup strategis diujung pulau Sumatera merupakan pintu gerbang dalam memasuki Selat Malaka, sebuah selat yang cukup strategis dan berdekatan dengan beberapa negara. Hal ini membuat Aceh secara ekonomi, sosial, politik dan budaya memberikan arti khusus sepanjang sejarah kawasan ini.

Pasang surut keberadaan Aceh dalam memainkan peran yang signifikan tidak terlepas dari berbagai dinamika yang terjadi, baik sejak jaman awal Islam masuk, era perlawanan dengan Portugis, era perlawanan dengan Belanda, dan pada saat setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, memberikan warna tersendiri dalam perjalanan historisnya.

Sumber Daya Manusia (SDM) Aceh dikenal memiliki keunggulan tersendiri. Hal ini berdampak pada kemampuan daerah ini untuk survive dalam menghadapi berbagai pergolakan yang ada. Namun, disadari bahwa perkembangan terakhir Aceh yang syarat konflik menguras enerji sedemikian rupa sehingga perhatian terhadap pengembangan SDM yang sistematis, terintegrasi dan terarah kurang optimal dilakukan.

Menyadari hal tersebut disadari perlunya suatu lembaga yang dapat melakukan upaya pengembangan SDM Aceh secara sistematis, terintegrasi dan terarah sehingga mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan daerah secara optimal.

Mengingat hal tersebut diatas, Aceh Human Resources Development Center adalah suatu lembaga yang diharapkan mampu menjadi solusi bagi problema pengembangan SDM di ACEH.

II. VISI

Visi AHRDC adalah :

Menuju masyarakat Aceh yang unggul, bermartabat, taqwa dan cendekia.

III. MISI

Misi AHRDC adalah :

Menggerakkan seluruh potensi masyarakat Aceh melalui :
a. Pemberdayaan Masyarakat
b. Pemberdayaan Birokrat
c. Pemberdayaan Tokoh Informal


IV. KEGIATAN

a. PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

1. Pembentukan Young Leader of Change (YLC), satu kecamatan diwakili oleh 3 orang.
2. Program Pengembangan YLC, berisi hal-hal sebagai berikut :
a. Program Pengembangan Kepribadian
b. Program Pengembangan Kepemimpinan
c. Program Pemantapan Agent of Change
3. Strategi Pemberdayaan Masyarakat

b. PROGRAM PEMBERDAYAAN BIROKRAT

1. Identifikasi Kompetensi Birokrat (melalui tehnik psikologi dan assessment).
2. Analisa Gap of Competencies.
3. Program Pengembangan Kompetensi (Competencies Development Program).
4. Performances Monitoring Program
5. Strategi Pemberdayaan Masyarakat
6. Technique of Conflict Resolution

c. PROGRAM PEMBERDAYAAN TOKOH INFORMAL

1. Strategi Membangun Kemitraan
2. Strategi Pemberdayaan Masyarakat
3. Technique of Conflict Resolution

Senin, 02 Juni 2008

KARAKTER ACEH

Pada suatu kesempatan aku pernah berbincang-bincang dengan Bpk. Mustafa Abubakar Kabulog/Dirut Bulog yang juga pernah menjabat sbg Pejabat Gubernur NAD. Kita berdiskusi panjang lebar tentang berbagai hal dan diantara yang menarik adalah tentang sifat-sifat orang Aceh. Kira-kira sebulan setelah itu, aku pun bertemu dan berdiskusi dengan Pak Azwar Abubakar yang juga pernah menjabat Wakil Gubernur dan Gubernur NAD dan sekarang aktif di Forbes Aceh. Mungkin mereka berdua tahu aku seorang psikolog sehingga mengajak berdiskusi masalah tersebut. Bahkan Pak Mustafa lebih jauh menawarkan kalau perlu buat suatu forum khusus membahas hal tersebut, apakah seminar, penelitian atau kegiatan lain yang sesuai, aku belum mengiyakannya.

Mengapa kita berdiskusi tentang sifat-sifat orang Aceh atau kusingkat saja karakter Aceh? Karena kita ingin kedepan Aceh lebih damai. Kalau kita tilik ke belakang, kilas balik Aceh masa lalu, harus kita akui kehidupan di Aceh tidak pernah sepi dari konflik. Apakah ini berkaitan dengan sifat-sifat orang Aceh? atau ada faktor lain? Beberapa kemungkinan terjadinya konflik Aceh bisa beberapa sebab (lihat buku karangan Anthony Reid tentang Asal Muasal Konflik Aceh). Beberapa sebab yang bisa kita pertimbangkan adalah :

1. Letak geografis Aceh yang sangat strategis, terletak diujung Pulau Sumatera, merupakan pintu masuk ke Selat Malaka dan gerbang masuk ke Asia Tenggara.

2. Rempah-rempah dan hasil bumi didaerah Aceh dan sekitarnya yang mengundang kekuatan kapitalis/kolonialis ingin menguasainya. Kemudian isu itu melebar akibat minyak dan gas bumi (ingat kawasan Timur Tengah yang kaya minyak juga tidak pernah sepi dari konflik).

3. Karakter orang Aceh yang dipengaruhi oleh sistem nilai yang mereka anut yaitu bersifat hanya mengakui kekuasan mutlak ditangan Allah jadi tidak mengakui kekuasan lain yang bersifat terpusat (berbeda dengan beberapa wilayah lain yang mengakui kekuasaan terpusat), independen, memegang teguh prinsip. Secara positif ini bagus. Namun, disisi lain bagi mereka yang kurang religius hal ini bisa berkembang menjadi sikap yang egois, ethnocentris bahkan chauvinism, bahkan kalau tidak hati-hati bisa berkembang menjadi sikap yang arogan. Jadi bagi mereka yang religius sikap ini bisa berkembang menjadi positif. Namun, apabila sikap ini dihadapi dengan cara yang tidak tepat maka yang religius pun akan menampilkan sikap keras yang berpotensi menimbulkan konflik (lihat bagaimana ulama kita melawan kolonialisme dan sikap kesewenang-wenangan pihak lain). Nah, apalagi bagi yang kurang religius tentu berpotensi menimbulkan konflik pula. Namun, secara umum diakui secara mendasar sifat orang Aceh adalah religius, meskipun terkadang ada pula sebagian pihak yang menyikapi sifat orang Aceh tersebut secara sinisme. Sifat-sifat ini terus berkembang baik dalam dimensi positif maupun negatif.

4. Kejayaan Aceh masa lalu selain menimbulkan kebanggaan juga menyisakan beban sejarah. Sebagian ingin melihat Aceh jaya seperti masa lalu, sebagian yang lain mengganggap kejayaan tersebut bisa diformulasikan dalam bentuk lain dalam konteks kekinian, sebagian lagi melihat jangan terlalu terpaku pada masa lalu tetapi lebih menyesuaikan terhadap perkembangan masa kini. Dalam menyikapi ketiga pandangan ini pun potensi konflik dapat muncul.

5. Adanya sekelompok pihak tertentu yang ingin terus memprovokasi Aceh dengan berbagai latar belakang kepenting baik politik, ekonomi maupun sosial.

Kelimapenyebab diatas memberika sumbangan bagi munculnya konflik di Aceh. Bagaimana positioning orang Aceh dalam permasalahan ini? Disinilah pentingnya mengkaji tentang Karakter Aceh. Seperti disebut diatas Karakter Aceh secara umum adalah religius dan sangat menghargai peran agama. Walalupun dalam perkembangannya bisa saja terjadi distorsi. Namun, sebagai bahan awal pengkajian kita bisa bertitik tolak dari hal ini. (bersambung).