Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Umum. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 November 2010

ANALISA TRAFIK BLOG HABAHATE

Dalam kurun waktu 3 tahun peluncurannya blog Habahate telah dikunjungi oleh 30.271 orang. Blog ini juga telah banyak membantu sejumlah orang baik pihak-pihak yang membutuhkan informasi tertentu atau mahasiswa yang sedang mengerjakan disertasi, tesis, skripsi atau membuat penelitian lainnya.

Beberapa komunikasi interaktif antara penulis dan pembaca terjadi, baik dalam bentuk konsultasi, bertukar pikiran bahkan konseling terlaksana berkat blog ini. Hal ini dilakukan memalui email, chatting dan sms kepada penulis.

Sampai dengan posisi 21 November urutan jumlah artikel yang paling banyak dibaca adalah sebagai berikut :

1. Apakah Sila ke-4 Pancasila masih dijadikan Pedoman : 503 pembaca.
2. Membuat Wawancara Terstruktur : 271 pembaca
3. Kepribadian Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) : 158 pembaca
4. Transformasi Organisasi : 148 pembaca
5. Perencanaan Karir : 101 pembaca
6. Pemetaan Karyawan dalam Perspektif Human Capital : 96 pembaca
7. Memahami dan menyehatkan Iklim kerja : 65 pembaca
8. Penggunaan Asosiasi Bebas untuk Memahami Kepribadian : 62 pembaca
9. Tugas Seorang Pemimpin : 52 pembaca
10. Manusia Makhluk Paling Perusak : 44 pembaca.

Jika mengamati jumlah artikel yang paling banyak dibaca, isu Pancasila tampaknya masih cukup menarik. Terutama dikaitkan dengan Sila ke-4 yang berbicara tentang demokrasi dalam konteks kerakyatan dan pemusyawaratan. Mengingat dalam kehidupan politik saat ini, pemilihan langsung terutama Pilkada sangat menguras energi, biaya, waktu terlebih-lebih banyaknya terjadi konflik yang disertai kekerasan dan berdampak pada disharmonisasi sosial. Dalam situasi seperti ini kita perlu menghayati kembali bagaimana pemaknaan terhadap Sila ke-4 tersebut dan tentunya bagaimana implementasi dalam sistem demokrasi.

Berikutnya artikel yang menarik adalah tentang figur Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memiliki tempat tersendiri dihati para pembaca blog Habahate. Tulisan tentang analisa kepribadiaannya cukup menarik untuk dibaca. Tidak heran SBY adalah figur penting saat ini sehingga mengundang pembaca untuk mengetahui sosoknya secara lebih mendalam terutama kepribadiannya. Kesuksesannya memenangkan Pemilihan Presiden menginspirasi banyak orang, sehingga perlu dipelajari bagaimana profil kepribadiannya sebagai sosok seorang yang sukses.

Selanjutnya yang menarik adalah topik-topik yang berkaitan dengan Manajemen SDM dan Psikologi cukup mewarnai artikel yang dipilih oleh para pembaca. Seperti Membuat Wawancara Terstruktur, Transformasi Organisasi dan Perencanaan Karir.

Penulis ingin sekali memperbaharui tulisan diblog ini setiap saat. Namun, keterbatasan waktu menjadi kendala. Sehingga tidak setiap hari artikel blog ini dapat diperbaharui. Mudah-mudahan ke depan blog ini senantiasa bermanfaat bagi pembaca. Untuk itu diperlukan masukan dan saran-saran konstruktif dari pembaca agar blog ini akan semakin meningkat kualitasnya dan sesuai dengan harapan kita semua.

Minggu, 14 November 2010

HILANG KOPER DI BARCELONA


Pada akhir Oktober yang lalu lebih kurang selama satu minggu penulis berkesempatan mengikut Employee Engagement Seminar di Barcelona Spanyol. Perjalanan dilakukan dengan menggunakan Maskapai Penerbangan KLM dengan rute Jakarta-Kuala Lumpur – Amsterdam – Barcelona.

Dengan bersatunya Eropa melalui Uni Eropa maka gerbang masuk ke Eropa cukup dikendalikan dari satu negara yang termasuk Masyarakat Ekonomi Eropa, kemudian perjalanan dapat dilanjutkan kenegara lain tanpa harus melalui pemeriksaan imigrasi. Demikian pula yang penulis alami. Pemeriksaaan imigrasi hanya dilakukan di Amsterdam Belanda kemudian setelah itu dapat langsung terbang ke Spanyol dan mendarat di Barcelona tanpa melewati pemeriksaan imigrasi oleh petugas di Spanyol.

Hal yang unik justru terjadi saat pengambilan bagasi, penulis tidak menemukan bagasi milik penulis. Sedangkan bagasi milik rekan seperjalan penulis ditemukan namun dalam keadaan kunci yang telah dirusak/dibongkar. Kami berdua menyampaikan komplain ke counter KLM di Barcelona Airport. Mereka menanggapi dengan simpatik.

Karena kehilangan koper penulis terpaksa harus berbelanja pakaian setiba di Barcelona. Padahal pakaian lengkap sudah dibawa dari Indonesia, apadaya sebagian uang yang seharusnya untuk dibelikan oleh-oleh dan jalan-jalan terpaksa direlakan untuk membeli pakaian.

Kopor penulis sendiri baru diantarkan malam hari ke Hotel (padahal sudah beli pakaian). Kondisi koper dalam keadaan kunci rusak dan sudah dibongkar, isi didalam sudah diacak-acak, untung pakaian masih lengkap. Atas kejadiaan ini penulis mendapat ganti rugi 25 Euro, yah hanya 25 Euro, padahal beli pakaian aja sudah habis 100 Euro belum lagi koper rusak dan penderitaan batin karena stress koper hilang.

Hal seperti ini pernah penulis alami di Amerika Serikat saat perjalanan dari Washington D.C ke Houston Texas. Saat mendarat di Houston Airport penulis tidak menemukan koper, terpaksa setelah tiba di hotel langsung keluar untuk berbelanja pakaian. Koper baru diantarkan malam hari ke hotel namun koper masih dalam keadaan baik tidak seperti kasus Barcelona dimana koper penulis dibongkar dan di acak-acak.

Di negara maju pun kasus seperti ini masih terjadi. Bagaimana di Indonesia?

Jumat, 23 Juli 2010

FINANCE ASIA : TELKOM THE BEST MANAGED COMPANY

Telkom berhasil menyabet lima penghargaan dalam kategori Best Managed Company, Best Corporate Governance, Best Investor Relation, Best Corporate Social Responsibility dan Most Committee to a Strong Dividend Policy versi Majalah Finance Asia. Pada kesempatan tersebut, COO Telkom, Ermady Dahlan menerima penghargaan yang diberikan oleh Rizal Gozali, selaku Managing Director PT Credit Suisse Securities Indonesia, di ballroom Shangri La Hotel Jakarta, Rabu (21/7).

Penghargaan ini merupakan penghargaan ketiga kali yang diraih Telkom dari ajang yang sama. Menurut pihak penyelenggara, Majalah Finance Asia memutuskan memberikan penghargaan kepada Telkom berdasarkan hasil polling dan wawancara kepada para investor dan analis yang berbeda dari masing-masing negara untuk memperoleh informasi dari tangan pertama. Tidak seperti metode polling lainnya yang menggunakan metode kuesioner, dalam Asias Best Companies Poll ini, Finance Asia langsung melakukan wawancara.

Selain itu, Finance Asia juga tidak melakukan wawancara kepada investor maupun analis yang memiliki hubungan langsung dengan perusahaan yang bersangkutan agar tidak terjadi konflik kepentingan sehingga membuat penilaian menjadi lebih independen.

Disebutkan, secara keseluruhan, polling dilakukan di sepuluh negara meliputi China, Hong Kong, India, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Korea Selatan, Taiwan, Thailand dengan melibatkan sekitar 250 investor dan analis. Untuk masing-masing Negara, terdapat tujuh kategori yang diberikan yaitu Best Managed Company, Best Corporate Governance, Best Investor Relations, Best CSR, Most Committed to a Strong Dividend Policy, Best Mid Cap dan Best Small Cap. (Sumber : news.telkom.co.id)

Rabu, 21 Juli 2010

GALILEO GALILEI

In 1583 Galileo Galilei .. a youth of nineteen attending prayers in the baptistery of the Cathedral of Pisa, was according to tradition, distracted by the swinging of the altar lamp. No matter how wide the swing of the lamp, it seemed that time it took the lamp to move from one end to the other was the same. Of course Galileo had no watch, but he ckecked the intervals of the swing by his own pulse. This curious everyday puzzle, he said, enticed him away from the study of medicine to which his father had committed him to the study of mathematics and physics. He had discovered ... that the time of a pendulum's swing varies not with the width of the swing but with the length of the pendulum.

(Daniel J. Boorstin, American Historian, 1914)

Sabtu, 17 Juli 2010

PAK NOTO & HILANGNYA PESAWAT TRIKE


Hari ini hampir 2 minggu lamanya Pak Noto Cipto Nartomo dan rekannya Panji hilang setelah pesawat Trike yang mereka kemudikan tidak terlacak saat menempuh perjalanan dari Nusawiru Pangandaran ke Lanud Sulaiman Bandung. Pesawat diperkirakan terjatuh diatas udara Pangalengan wilayah selatan kota Bandung. Pada gambar ini terlihat Pak Noto dan rekannya Panji dengan Pesawat Trike yang mereka kemudikan.

Beberapa hari setelah kehilangan beliau, penulis dengan sejumlah rekan sempat ke Pangalengan, penulis melihat begitu lebatnya hutan dengan tebing yang curam dimana diantara tebing tersebut terdapat jurang yang dalam. Menurut informasi hutan disekitar tersebut masih belum terjamah manusia dan masih ditemukan binatang liar didalamnya. Medannya memang sangat sulit dijangkau karena selain lebatnya hutan, juga tekstur permukaannya yang sangat rumit.

Pak Noto adalah rekan kerja penulis. Ia seorang dokter yang mendalami bidang manajemen SDM. Beberapa jabatan struktural dibidang pengelolaan SDM pernah dijabat olehnya. Terakhir beliau menjabat sebagai Assistant Vice President Compensation & Benefit dan saat ini beliau sedang memasuki Masa Persiapan Pensiun (MPP). Diwaktu senggangnya beliau menekuni hobby dibidang kedirgantaraan. Beliau memiliki pesawat sebuah pesawat jenis Trike dengan kode PKS-135 dan saat mengemudikan pesawat ini bersama rekannya Pandji beliau hilang diatas udara Pangalengan.

Pak Noto adalah orang yang santun dan berbicara hati-hati dengan struktur berbicara yang cukup teratur. Selalu tersenyum dan menyapa orang lain terlebih dahulu saat bertemu. Pengetahuannya dalam bidang manajemen SDM cukup baik dan ia pun memiliki pengalaman praktis dalam pengelolaan SDM.

Pak Noto sendiri telah berpengalaman terbang ke sejumlah wilayah. Ia pun memiliki kemampuan survival yang baik karena pernah mengikuti pelatihan survival dan Pak Noto mendapat predikat terbaik dalam pelatihan tersebut. Menurut informasi Pak Noto sangat menyukai lintasan penerbangan diatas Pangalengan karena di atas puncak tebing yang terjal ia melihat sebuah danau yang indah. Danau tersebut sampai saat ini belum dapat terjangkau dari darat karena medannya yang sulit sehingga tidak pernah dikunjungi orang sehingga hanya dapat disaksikan dari Udara. Menurut perkiraan disekitar hutan lebat dan danau inilah Pak Noto dan rekannya Pandji bersama pesawat Trike mereka jatuh, namun hasil pastinya masih belum jelas karena belum ada jejak apapun yang dapat menguatkan perkiraan tersebut.

Meskipun saat ini secara resmi proses pencarian formal telah dihentikan, namun sejumlah rekan dan simpatisannya masih terus melakukan pencarian. Pencarian masih dilakukan disekitar Gunung Kencana, Gunung Jampang, Gunung Arjuna dan kawasan Pakenjeng. Masih ada keyakinan Pak Noto dan rekannya masih survive. Dengan kemampuan fisik yang baik dan sudah terlatih dalam medan yang sulit mudah-mudahan Pak Noto dan rekannya masih mampu bertahan. Tentu disamping ikhtiar, doa dari seluruh kerabat, rekan dan simpatisan disampaikan agar Allah Yang Maha Kuasa memberikan yang terbaik kepada Pak Noto dan rekan. Kami seluruh rekannya masih teringat keramahan dan senyum hangat Pak Noto. Semoga Pak Noto dan rekannya Pandji diberikan kekuatan oleh Allah untuk terus bertahan dalam situasi yang berat tersebut dan segera dapat ditemukan.

Rabu, 14 Juli 2010

WISUDA (WILUJENG SUSAH DAMAL)

Pada tanggal 8 Juli 2010 penulis diminta memberikan pembekalan bagi para lulusan baru UNPAD di Kampus UNPAD Jl. Dipati Ukur Bandung. Hadir sejumlah 100-an lulusan sarjana baru. Acara di buka oleh Pembantu Rektor III UNPAD Prof. Dr. Trias.

Saat membuka acara tersebut DR. Trias mengungkapkan berbagai persiapan yang harus dilakukan para lulusan sarjana baru agar bisa memasuki dunia kerja yang sesuai dengan minat dan keahliannya. Disebutkan pula mungkin tidak semua mereka mampu menghadapi persaingan untuk berkiprah didunia kerja, untuk itu bekal pengetahuan dan mental sangat diperlukan. Hal menarik adalah saat beliau menyinggung kata WISUDA. Wisuda disini bukanlah suatu kegiatan pengakuan akademik untuk menabalkan seseorang sebagai sarjana, tetapi WISUDA disini diartikan WILUJENG SESAH DAMAL, yang kurang lebih berarti SELAMAT SUSAH MENCARI KERJA.

Memang benar bahwa tidak seluruh lulusan baru terserap oleh dunia kerja, sebagian mereka menjadi penganggurang, pengangguran intelek. Orientasi mencari kerja lebih besar daripada orientasi untuk menciptakan lapangan kerja. Ini sangat mungkin dikaitkan dengan sistem kependidikan kita yang kurang memberikan tempat pada inovasi, kreativitas dan alergi terhadap perbedaan pendapat dan sikap. Ini juga menjadi bagian dosa kita yang tidak memberikan kesempatan anak didik bersikap kritis, kurang bersahabat dengan sikap kompetitif dan kurang menghargai prestasi individu. Alhasil sistem pendidikan kita menghasilkan lulusan yang berebut mencari pekerjaan dan hanya segelintir mereka yang berupaya menciptakan pekerjaan.

Mereka yang menciptakan pekerjaan adalah yang berjiwa entrepreneur, berusaha secara jeli melihat peluang usaha dan senang akan tantangan serta selalu mengevaluasi diri untuk secara berkala meningkatkan kemampuan dirinya. Karakteristik seperti inilah yang dibutuhkan bagi mereka yang mampu menjawab tuntutan jaman, menjadi seorang pencipta lapangan kerja bukan sebagai pengekor pencari kerja. Di negera manapun pasti akan terjadi ledakan pengangguran apabila seluruh generasi mudanya atau para sarjana lulusan perguruan tinggi berbondong-bondong mencari kerja.

Jiwa kreativitas dan entrepreneur memang perlu ditumbuhkan dalam sistem pendidikan kita agar menghasilkan para lulusan yang mampu menciptakan peluang, menangkap peluang dan memanfaatkan peluang. Sistem pendidikan yang mengedepankan kreativitas memang akan tumbuh dalam suasana pendidikan yang demokratis, kondisi stara antara seluruh civitas academica terutama antara mahasiswa dan dosen.

Namun, kita menyadari pula kekeliruan tidak semata-mata ada di lembaga pendidikan tetapi terjadi di seluruh lembaga dan sistem yang berlaku dimasyarakat, termasuk kekeliruan yang terjadi dalam lembaga keluarga. Terutama pada keluarga menengah keatas terlihat sikap yang memproteksi berlebihan terhadap anak-anaknya. Kurang memberikan kesempatan mandiri terhadap anak akan menumbuhkan pribadi yang manja dan selalu tergantung pada orang lain. Tentu akan sulit kita harapkan pada pribadi yang tumbuh dalam situasi seperti ini untuk menjadi kreatif dan inovatif. Selain itu masyarakat yang terlalu mengagungkan kesarjanaan dengan berbagai perangkat gelar turut menumpulkan gairah orang untuk kreatif. Masyarakat kita adalah masyarakat gelar yang mengagung-agungkan status kesarjaan dibandingkan keahlian. Dengan iklim seperti ini semakin menyumbang kekeliruan penyelenggaran pendidikan yang ada. Akhirnya kita temukan lulusan yang sekedar bangga dengan gelarnya, berbondong-bondong berebut pekerjaan dan minim kreativitas serta inovasi. Hanya segelintir dari mereka yang kreatif dan inovatif yang kalau ditilik memang sejak dari kecil telah tumbuh dalam keluarga yang memang memanamkan nilai-nilai kemandirian, kreatif, inovatif, menghargai sebuah hasil yang baik memerlukan proses perjuangan bertahap. Mereka tumbuh dalam keluarga yang disiplin, berorientasi prestasi dan senantiasa menanamkan kemandirian dalam pengasuhan keluarga.

Sekedar catatan tambahan dari penulis, dari sekian lama hampir 20 tahun mengamati dan terlibat langsung dalam proses rekrutmen karyawan serta melihat bagaimana peforma mereka pasca rekrut menunjukkan bahwa prestasi akademik yang ditunjukkan melalui nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) tidak selalu menjamin keberhasilan seseorang saat bekerja. Prestasi akademis hanya sekedar menggambarkan kemampuan intelektualitas seseorang, namun belum secara utuh menggambarkan mereka sebagai calon karyawan yang baik. Seseorang dapat berkinerja baik apabila memiliki kemampuan inteletual, emosional, sosial, spiritual secara integratif dan balance. Bisa saja seseroang memiliki kemampuan intelektual rata-rata namun didukung oleh kemampuan emosional, sosial, spiritual yang baik maka akan memberikan modal untuk bekerja dan bekinerja secara baik pula.

Lembaga pendidikan yang hanya fokus pada aspek intelektual tidak bisa diharapkan dapat memberikan bekal yang cukup untuk kemampuan emosional, sosial dan spiritual. Kemampuan ini akan diperoleh melalui proses pengasuhan dalam keluarga dan melalui berbagai kegiatan lain yang ada dimasyarakat. Kegiatan-kegiatan ini juga akan dapat terasah melalui berbagai kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan berorganisasi baik didalam kampus maupun diluar kampus.

Jadi bagi anda yang baru lulus sarjana, kita ucapkan selamat WISUDA namun bukan wisuda yang berarti Wilujeng Sesah Damal.

Selasa, 15 Juni 2010

MASIH MIRIP ARIEL, LUNA, CUT TARI

Fenomena sosial yang menyeruak belakangan ini dan bahkan sudah menjadi realita, yaitu kasus video mesum mirip artis Ariel, Luna dan Cut Tari masih terus mencuri perhatian kita ditengah-tengah pesta pertandingan sepak bola dunia di Afrika Selatan. Fenomena atau realita ini menarik. Disebutkan video tersebut mirip karena 99% mirip dengan artis dimaksud, luar biasa kemiripannya tetapi tetap kita belum dapat memastikannya. Inilah kekuatan dari asas praduga tidak bersalah. Dari segi hukum setiap orang harus dilindungi sebelum keputusan pengadilan tetap mengatakan yang bersangkutan bersalah.

Todung Mulya Lubis dalam twitter menyebutkan bahwa kasus video ini pun sempat diangkat dalam pemberitaan di The New York Times. Sangat jarang orang Indonesia memperoleh pemberitaan di media tersebut, namun kasus video ini dianggap sangat bernilai (bernilai mesum tentunya) untuk diberitakan di The New York Times. Sayang pada saat media tersebut memberitakan tentang orang Indonesia maka yang diambil adalah kasus video mesum tersebut. Jadi harus banggakah kita atau mengurut dada dengan pemberitaan di media ternama itu?

Memang dalam dunia jurnalistik berlaku jargon "the bad news is the good news." Berita-berita yang buruk, mengiris hati, provokatif sering justru menjadi berita yang dikejar-kejar. Semakin kontroversial sebuah berita semakin menarik untuk dicermati. Lalu berita mirip Ariel kontroversial-kah? Seorang teman memprotes, kebenarannya mendekati 99% kok dianggap kontroversial? Jika 50-50 atau so-so layaklah disebut kontroversial. Atau jumlah pro dan kontra relatif sama bisalah disebut kontroversial. Jadi tentang berita mirip artis ini bagaimana kita memposisikannya? Mungkin dari segi opini bahwa ini masalah privat atau publik bisa jadi disebut kontroversial, tetapi dari segi pemberitaan jelas ini sangat spesial.

Sebetulnya kita harus lebih kuatir dengan daya sensitivitas masyarakat kita terhadap hal-hal yang dianggap tabu. Bayangkan kepingan CD video tersebut dijual dengan harga Rp.10.000,- atau hanya seharga 1 US Dollar lebih beberapa sen, hanya sekedar recehan bagi orang tertentu, dengan harga yang sangat-sangat terjangkau, setiap kalangan bisa menyaksikan adegan syur tersebut. Adegan mirip artis katanya, kemiripan yang 99% luar biasa memang, bahkan orang kembar pun belum tentu mirip 99%. Jadi memang mirip atau .....? Ingat-ingat asas praduga tak bersalah.

Kembali ke daya sensitivitas kita terhadap sesuatu yang dianggap tabu dikaitkan dengan norma dan nilai sosial yang berlaku. Tampaknya kita semakin bebal terhadap hal-hal seperti tersebut. Bahkan dikalangan tertentu hal itu dianggap biasa dan kalau sampai sebuah rekaman hubungan yang sangat privat tersebut tersebar, maka dianggap sebagai kesialan saja, bukan malapetaka yang luar biasa amat.

Tetapi reaksi yang masih sensitif terlihat pada sejumlah pejabat (atau pura-pura sensitif, ahh jangan berburuk sangka). Sejumlah pejabat bereaksi keras, bahkan sejumlah pejabat daerah tertentu menetapkan larangan bagi ketiga orang mirip artis tersebut untuk tampil di wilayah kekuasaannya. Sangat dan sangat sensitif tetapi sebetulnya ada positifnya juga untuk memberikan shock therapy bagi yang lainnya agar jangan ikut-ikutan berperilaku edan seperti itu.

Hal yang sangat mengkuatirkan juga apabila ada sejumlah orang yang mungkin bisa jadi mirip dengan ketiga orang mirip artis tersebut. Mirip dengan orang yang mirip artis, sedikit membingungkan ya. Katakan saja mirip artis tersebut. Jika sebelumnya mereka bisa berbangga hati karena mirip artis, mungkin berharap juga keberuntungannya mirip artis, nah mungkin sekarang ketar-ketir untuk tampil diruang publik, bisa-bisa dikejar-kejar orang sekampung, atau bahkan dikejar-kejar media untuk diwawancarai. Bisa ketiban sial atau ketiban pulung.

Saat menyimak sebuah harian yang memberitakan razia hp dikalangan pelajar, pada sejumlah hp ditemukan rekaman adegan mirip artis tersebut, hati kita sungguh miris. Bayangkan pelajar yang berusia belia telah menikmati adegan dewasa yang belum pantas ia saksikan. Bahkan mereka menganggap sebagai sesuatu yang biasa. Jika pelajar-pelajar yang menganggap adegan tersebut sebagai sesuatu yang biasa, bisa dibayangkan bagaimana jika suatu saat mereka menjadi pejabat di negeri ini. Apakah mereka akan bersikap sama dengan pejabat sekarang yang melarang ketiga orang artis itu tampil di wilayahnya. Jangan-jangan si pelajar tadi malah mengundangnya untuk memberikan testimoni. Jangan-jangan betul kata orang tua kita dunia sudah mendekati kiamat.

Kalau sampai kiamat bagaimana ya? padahal Obama belum datang (lho apa hubungannya dengan Obama). Yang jelas Partai Keadilan Sosial (PKS) akan melaksanakan hajatan Musyawarah Nasional PKS pada tanggal 16-20 Juni 2010. Hebatnya pada musyawarah kali ini PKS akan mengundang Duta Besar Amerika Cameron R. Hume untuk menjadi salah satu pembicara. Hebatnya lagi didalam musyawarah ini dilakukan lomba bagi anak-anak untuk membuat surat bagi Obama, dan kita tidak tahu persis apakah ada agenda untuk membahas adegan video porno mirip artis (lagi-lagi, lho apa hubungannya). Hal yang perlu diketahui pula bahwa hajatan ini di lakukan di hotel mewah, Ritz Carlton Hotel ..... wah wah wah .........

Tapi, anyway kita ucapkan selamat bagi PKS yang akan melaksanakan Musyawarah Nasional, mudah-mudahan sukses, siapa tahu bisa jadi modal kemenangan di tahun 2014 dan saat menang nanti tidak diobok-obok oleh kekuatan adidaya tersebut, khan sekarang sudah mulai bersahabat he he he

Minggu, 18 April 2010

ADAM MASIH DI SURGA

Seorang wanita berceramah dihadapan kaum pria & wanita. Setelah memuji-muji peranan dan jasa kaum wanita terhadap pria, ia berkata : "Coba Bapak-Bapak pikirkan , bagaimanakah kiranya nasib pria kalau tidak ada kaum wanita?"

Dengan tenang seorang pria menjawab : "Tentunya, Adam masih berada di surga."

Kamis, 24 Desember 2009

HATI-HATI MENG-KLIK

Dahulu orang tua sering menasehati anak-anaknya agar hati-hati berbicara. Kemudian jaman berkembang, media massa cetak dan elektronik berkembang, muncul nasehat untuk hati-hati menulis.

Jaman terus berkembang, merebak pula teknologi informasi yang memunculkan internet yang membuat sekian banyak orang dapat terhubung dalam dunia maya. Berkembang berbagai macam situs networking seperti facebook, twitter dan muncul pula blog. Disamping orang semakin bebas menulis maka dengan internet orang semakin bebas pula mengklik. Mungkin sekarang muncul nasehat baru hati-hati meng-klik.

Kasus Prita Mulyasari versus Omni International, kasus Chandra-Bibit dan terakhir kasus Luna Maya versus Infotainment merebak menjadi kasus hukum. Dengan berbagai kasus tersebut mungkin sekarang orang berpikir harus hati-hati menulis dan meng-klik. Sekali anda buat tulisan dan komentar kemudian anda klik, maka hal tersebut akan tersebar kemana-mana, dibaca jutaan orang, dikomentari banyak orang bahkan sangat mungkin tulisan anda ditindaklanjuti dengan menambah, mengurangi, memodifikasi dan seterusnya. Respon terhadap tulisan anda bisa berkembang kemana-mana.

Begitu banyak orang terlibat dalam suatu situs jaringan sosial terutama yang menyikapi berbagai situasi dan kasus sosial. Ambil contoh di facebook, terdapat beberapa grup facebookers yang melibatkan sedemikian banyak orang, contoh sebagai berikut :

1. Gerakan 1 juta facebookers dukung Chandra dan Bibit memiliki anggota 1.406.762.
2. Dukungan bagi Ibu Prita Mulyasari memiliki anggota 385.998.
3. Boikot Luna Maya memiliki anggota 1.794

Masih cukup banyak grup-grup lainnya seperti menolak pornografi, Bank Century, gugat PLN, ganyang Malaysia, tolak Patung Barrack Obama, dan sebagainya. Sebagian dari grup-grup tersebut cukup efektif menggerakkan massa dan membentuk opini dimasyarakat. Sebagian mampu menggalang solidaritas sosial dan tidak jarang pula menjadi awal merebaknya kasus hukum.

Undang Undang ITE merupakan salah satu pintu yang digunakan untuk kasus hukum berkaitan dengan internet dan teknologi informasi. Sebagaimana diketahui, undang-undang sesungguhnya dimaksudkan untuk mengatur, menertibkan dan melindungi. Namun, bagi pihak-pihak tertentu undang-undang dapat pula digunakan untuk menjerat pihak lain dalam kasus hukum. Kita tentunya sepakat undang-undang sangat diperlukan termasuk Undang Undang ITE, hanya dalam penerapannya perlu mengedepankan asas keadilan, melindungi kepentingan bersama dan jangan sampai membungkam kebebasan berpendapat.

Masyarakat Indonesia yang relasi sosialnya sangat intens tentu memiliki manfaat yang besar dengan kehadiran internet, termasuk dengan merebaknya berbagai situs jaringan sosial. Walaupun penetrasi internet di Indonesia masih rendah sekitar 13% dari 240 juta penduduk, namun peningkatan pengguna dari waktu ke waktu melihat kecenderungan semakin menaik. Peningkatan ini bergerak dengan sangat signifikan. Demikian juga pengguna blog yang telah menunjukkan angka sekitar 130.000 terus menunjukkan peningkatan. Artinya, kondisi melek internet ini akan semakin bertambah.

Tidak dapat dipungkiri jika sebuah aktivitas sosial yang berkembang sedemikian pesat maka memerlukan pengaturan untuk melindungi kepentingan bersama. Dalam konteks seperti inilah dapat dipahami perlunya kehadiran sebuah undang-undang, namun sekali lagi sebuah undang-undang mestinya memperhatikan asas keadilan, kepentingan bersama dan tidak membungkam kebebasan berpendapat.

Reformasi yang mendorong proses demokrasi di Indonesia memang terus berkembang dengan segala dinamikanya. Hal ini merambah pula kedalam dunia maya, orang semakin bebas berpendapat dan semakin bebas menyalurkan aspirasinya termasuk dalam situs jaringan sosial di internet. Namun, hendaknya kita pun secara seimbang ingin mengatakan bahwa para pengguna internet pun perlu memahami bahwa unsur saling menghargai, menghindari fitnah yang tidak mendasar harus menjadi pertimbangan saat kita menyampaikan pendapat pada berbagai situs yang ada.

Kedewasaan harus ditumbuhkan bagi segenap pihak, termasuk pemerintah sebagai regulator, penegak hukum, pengguna internet dan seluruh masyarakat luas.

Jadi .......... hati-hati-lah sebelum meng-klik. Selamat beraktivitas didunia maya yang semakin dinamis.

Selasa, 22 Desember 2009

REFLEKSI MENJELANG AKHIR TAHUN

Waktu yang sedemikian cepat berlalu membuat kita tanpa terasa telah hampir mengakhiri perjalanan tahun 2009. Sebentar lagi kita akan menyongsong tahun 2010. Apa yang telah kita capai pada tahun 2009? Apa yang ingin kita capai pada tahun 2010? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini umum terjadi pada diri kita.

Tanpa disadari sekarang kita telah menuju menjadi masyarakat target. Segala sesuatu dibuat target. Menjadi masyarakat obsesif dan ambisius. Keberhasilan diukur dengan pencapaian target-target. Dan tanpa terasa pula target telah menjadi beban hidup, menjadi sumber stress, depresi sampai dengan bunuh diri. Target telah membenamkan diri kita menjadi individu dan masyarakat yang lupa bersyukur. Inilah sumber permasalahan besar masyarakat modern, target, target dan target. Lalu dimana letaknya syukur? Dalam konteks seperti inilah kita ingin memaknakan pergantian tahun, tidak sekedar mengevaluasi target, tidak sekedar ingin membuat target baru, tetapi menempatkan syukur pada posisi yang mulia dalam kehidupan kita. Antara target dan syukur itulah terletak REFLEKSI!

Refleksi berarti anda melakukan kontemplasi, merenung, fokus pada energi mental untuk menghargai diri anda dan lingkungan (ingat untuk menghargai bukan mengevaluasi). Refleksi adalah proses memanusiakan diri anda, melihat berbagai kemungkinan positif yang ada dan melihat pencapaian-pencapaian yang sudah dilakukan, sekecil apapun pencapaian tersebut itu adalah sebuah prestasi.

Refleksi harus disertai fleksibilitas memaknai tujuan hidup, namun teguh pada keyakinan. Fleksibilitas dalam arti memilih jalan, namun teguh dalam arah akhir. Arah lebih dari sekedar target. Arah membuat kita lebih bermakna, sedangkan target akan membuat anda bagaikan robot. Arah memuliakan, target adalah tapak kecil untuk menuju arah, sehingga target tidak mesti kaku membelenggu kita. Temukan arah dan teguhlah untuk menuju kesana.

Sebuah ilustrasi dapat dipelajari dari cara semut berjalan untuk menuju suatu arah. Semut pada dasarnya berjalan menuju suatu arah. Dalam menuju arah ada target-target kecil yang bisa saja berubah. Dalam berjalan menuju arah, ketika semut berjumpa sesuatu yang menurutnya tidak dapat didaki, semut tidak akan bersikukuh untuk terus berjalan pada jalur yang sama, atau terus menerus membenturkan dirinya kejalan yang sama. Semut akan pindah jalur mencari jalan lain untuk melanjutkan perjalanan, namun tetap menuju arah akhir yang konsisten. Sebuah pembelajaran yang luar biasa. Anda bisa mengubah jalur atau target tetapi mesti harus tetap kukuh dengan arah.

Refleksi pada dasarnya adalah proses merenungi arah bukan mengevaluasi target. Dalam refleksi ada apresiasi, motivasi dan keteguhan untuk berjalan pada arah. Target sering sekali menekan, mengancam bahkan mematikan. Dalam refleksi sesungguhnya kita tidak pernah melihat kegagalan, tetapi lebih kepada pencapaian-pencapaian, sekecil apapun pencapaian tersebut. Selama kita hidup, sekecil apapun kita berkembang dan mencapai sesuatu. Inilah yang harus disyukuri. Jika kita bijak sesungguhnya oleh YANG MAHA KUASA, kita lebih banyak dianugerahi kenikmatan dibandingkan kesulitan. Mengapa kita tidak bersyukur?

Untuk memperteguh rasa syukur, menjelang akhir tahun dan menyongsong tahun baru dalam konteks refleksi, pemikiran Stephen R. Covey tentang THE 7 HABITS layak dikutip. Covey menyebutkan 7 kebiasaan yang mampu menuntun kita menjadi orang yang efektif, yaitu :

1. Jadilah proaktif
2. Merujuk pada tujuan akhir (tujuan akhir adalah arah bukan target yang hanya jangka pendek)
3. Dahulukan yang utama
4. Berpikir menang/menang
5. Berusahalah mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti
6. Wujudkan sinergi
7. Asahlah gergaji

Jadilah proaktif menggambarkan kebebasan memilih yang dimiliki oleh seseorang antara dorongan dan tanggapan. Ini merujuk pada keharusan individu untuk memiliki keinginan-keinginan melawan ketidakberdayaan.

Merujuk pada tujuan akhir ini adalah upaya untuk memberikan arah pada penggunaan imajinasi yang secara kreatif merumuskan apa yang diinginkan dalam jangka panjang. lebih dari sekedar target, tetapi arah akhir apa yang ingin dicapai.

Dahulukan yang utama menuntun kita untuk memiliki prioritas dalam hidup. Prioritas ini harus memperhatikan keseimbangan hidup antara kepentingan diri, keluarga, karir, sosial, religi dan sebagainya.

Sebagai makhluk sosial maka ketiga kebiasaan lain harus mewarnai perilaku kita yaitu berpikir menang/memang, berusaha mengerti orang lain dan wujudkan sinerji. Keberhasilan anda harus menjadi bagian keberhasilan orang lain, demikian pula sebaliknya. Dengan berusaha memahami dan mengerti orang lain akan mendorong orang lain untuk memahami dan mengerti diri anda pula. Sinerji akan memberikan hasil lebih dari sekedar 1+1=2, satu ditambah satu harus lebih dari dua, itulah konteks sinerji.

Kebiasaan yang ketujuh, asahlah gergaji, kembali kediri masing-masing namun dalam konteks untuk terus menerus meningkatkan kualitas dari enam kebiasaan yang ada. Intinya adalah membuat diri kita semakin mandiri dan mendorong saling ketergantungan yang efektif dan positif.

Bukankah anda telah memiliki 6 kebiasaan yang baik tersebut? Tinggal sekarang lakukan yang ke-7 ...... ASAHLAH GERGAJI ANDA .............. Sukses Tahun 2009 dan Selamat Tahun Baru 2010.

Rabu, 25 November 2009

BERGURU PADA ALAM DAN KEHIDUPAN : MENCERMATI KASUS CICAK DAN BUAYA

Banyak sekali peristiwa yang terjadi pada alam dan kehidupan ini yang dapat dijadikan pembelajaran. Namun, sering sekali kita sebagai manusia luput memperhatikannya. Bahkan pelajaran pun dapat diambil dari para makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan.

Kita menyaksikan bagaimana ilmu Kungfu yang berkembang di China berawal dari mencontoh gerakan hewan-hewan tertentu. Demikian pula dengan Fengshui yang memanfaatkan posisi alam dengan segala elemennya. Di India, Mesir dan Suku Indian Kuno seperti Maya dan Inca memanfaatkan pula segala peristiwa alam termasuk astronomi untuk memandu kehidupan manusia. Konon, ilmu alam yang berkembang di mereka pada dahulu kala jauh lebih maju dari perkembangan yang terjadi sekarang ini.

Demikianlah alam dan kehidupan memberikan pelajaran. Alam dan kehidupan biasanya bergerak dalam siklus yang teratur. Antara musibah dan bencana yang ditimbulkan oleh alam dan kehidupan senantiasa diikuti oleh kemakmuran yang baru. Meletusnya gunung berapi akan diikuti setelah itu oleh suburnya lahan disekitar gunung tersebut. Bahkan bencana besar tsunami di Aceh diperkirakan akan memicu munculnya sumber mineral baru yang melimpah didaerah tersebut.

Jadi apa yang disebut bencana dalam konteks alam dan kehidupan dapat dimaknai sebagai sebuah proses alami untuk memperbaharui kehidupan. Memperbaharui kehidupan ini tidak sekedar pada alam fisik, tetapi juga menyentuh aspek kehidupan sosial, budaya dan dimensi kehidupan manusia lainnya. Demikianlah yang kita saksikan pada bencana banjir besar Nabi Nuh, bencana Kaum Tsamud dan Aad, bencana besar Gunung Vesuvius, yang semuanya terkesan menghancurkan kehidupan manusia namun disebalik itu mendorong kehidupan baru yang lebih baik.

Berguru pada alam dan kehidupan sesungguhnya adalah memaknai hidup sebagai suatu siklus. Hidup selalu mencari keseimbangan dan hidup senantiasa memperbaharui diri dengan cara berproses sedemikian rupa termasuk berproses secara menyakitkan seperti musibah dan bencana.

Bencana pun dapat terjadi secara sosial dan politik, namun sebagaimana alam dan kehidupan kita pun meyakini ini adalah suatu proses untuk pembaharuan yang akan membuat situasi semakin baik.

Demikian pula apa yang berkembang selama ini yang sering disebut dengan Kasus Cicak versus Buaya. Presiden SBY pada Senin malam kemarin telah menyampaikan pandangan dan posisinya terhadap kasus Bibit dan Chandra yang cenderung akan diselesaikan secara out of court settlement. Jika kita menganggap peristiwa tersebut sebagai gonjang-ganjing hukum-sosial-politik, maka berguru pada alam dan kehidupan yang menganut prinsip cyclical akan membangkitkan sikap optimis bahwa kehidupan berdemokrasi dinegeri sedang berproses menuju arah yang lebih baik.

Suatu siklus akan terus berputar, dimana setiap perputaran akan semakin mematangkan dan menyempurnakan hasil. Demikianlah yang ditunjukan oleh alam dan kehidupan. Tentunya kita pun sangat berharap gonjang-ganjing yang terjadi akhir-akhir ini dinegeri ini merupakan bagian dari proses siklus kehidupan tersebut yang akan terus mematang proses demokrasi dinegeri ini utamanya melalui penegakan hukum, pemantapan kehidupan sosial dan pematangan proses berpolitik, sehingga menuju kearah kehidupan yang lebih baik.

Senin, 23 November 2009

KECERDASAN YAHUDI

Seorang rekan penulis pernah bertemu dengan tokoh nasional yang menyebutkan kalau ingin berhasil kita harus secerdas orang Yahudi. Benarkah? memang kita saksikan para jenius dunia seperti Albert Einsten, Sigmeund Freud dan banyak tokoh cerdas lainnya adalah keturunan Yahudi. Sebenarnya populasi orang Yahudi sendiri tidak terlalu banyak, namun mereka unggul dalam banyak hal.

Dalam berbagai Kitab Suci disebutkan bahwa mereka bangsa yang kritis dan cenderung rewel, bahkan terhadap apa yang sudah disampaikan oleh Tuhan dalam Kitab Suci pun dipertanyakan oleh mereka. Mereka mampu keluar dari berbagai tekanan, inovatif, kreatif dan juga sekaligus keras kepala. Mereka juga dikenal sering menimbulkan permasalahan baik karena keras kepalanya atau karena ada kelompok lain yang terganggu dengan kehadiran mereka.

Salah satu filosofi dari mereka adalah jangan pernah merasa nyaman dan jangan buat dirimu nyaman, teruslah berkreasi dan berpetualang secara mental dan fisik. Andalkan dirimu bersama keluargamu dan bertahanlah dalam kelompokmu, kemudian menyebarlah kemana-mana, menyesuaikan diri dengan lingkungan tinggal namun tetap mempertahankan identitas ke-Yahudian.

Memang kalau diamati bangsa-bangsa yang hidup secara diaspora selain Yahudi seperti China, India pun memiliki keunggulan. Mereka mampu bertahan di berbagai lingkungan dan hidup jauh dari daeral asalnya. Mungkin benar kata Charles Darwin bahwa pemenang itu bukanlah mereka yang kuat tetapi mereka yang bisa menyesuaikan diri. Apakah Yahudi pun bisa menyesuaikan diri?

Penulis tidak ingin terjebak pada sikap rasial. Untuk itu perlu membahas masalah Yahudi ini baik dari sisi keunggulannya maupun kelemahannya. Bukankah semua bangsa memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Penulis memiliki keyakinan bahwa salah satu keunggulan Bangsa Yahudi adalah kecerdasannya dan salah satu masalah yang sering ditimbulkan oleh mereka adalah sikap keras kepala dan menganggap bangsa lain bukanlah apa-apa.

Harus diakui selain ilmuwan, pengusaha, penemu, banyak para Nabi yang berasal dari Kaum Yahudi. Jelas ini menunjukkan bahwa mereka memang sebuah Bangsa yang Unggul. Keunggulan ini tampak terutama didukung oleh kecerdasan mereka.

Mengapa mereka bisa cerdas. Ada empat kemungkinan yaitu : Keyakinan, Genetik, Lingkungan dan pola/gaya hidup mereka. Keyakinan dipengaruhi oleh sikap mereka bahwa mereka yakin sebagai orang yang terbaik dimuka bumi, sebagai orang pilihan Tuhan. Hal ini mempengaruhi kepribadian mereka untuk senantiasa ingin unggul. Keyakinan ini berdampak pada seluruh perilaku dan usaha mereka untuk mencapai dan membuktikan keunggulan tersebut. Disisi lain hal ini cenderung membuat mereka meremehkan bangsa lain. Dalam hal ini termasuk keyakinan mereka terhadap tanah yang dijanjikan di Palestina bahwa itu adalah mutlak milik mereka sehingga ini terus menimbulkan konflik tanpa akhir dengan Bangsa Arab khususnya.

Faktor genetik dipengaruhi oleh hal-hal seperti keturunan, makanan dan aspek-aspek biologis lainnya. Berkaitan dengan lingkungan, mereka selalu hidup pada lingkungan yang menantang bahkan mengancam diri mereka, sehingga mereka harus selalu survive dan mencari jalan keluar secara kreatif terhadap permasalahan yang dihadapinya. Kondisi ini membuat mereka selalu berusaha menemukan cara baru untuk bertahan hidup, termasuk bertahan terhadap aksi pembasmian yang dilakukan Firaun dan Hitler.

Pola/gaya hidup mereka mencerminkan bahwa mereka orang yang sangat efisien dan efektif serta berpikir dalam perspektif jangka panjang. Mereka siap menderita untuk meraih tujuan jangka panjang. Mereka mampu mengorbankan apapun untuk meraih kepentingan jangka panjangnya. Pada titik ekstrim muncul paham Zionisme yang membawa misi jangka panjang untuk meneguhkan eksistensi Bangsa Israil yang nota bene Yahudi serta membawa misi mengklaim kepemilikan tanah yang dijanjikan yaitu palestina. Namun, paham Zionisme ini juga dikecam karena cenderung menghalakan segala cara untuk kepentingan Yahudi dan mengabaikan bangsa lainnya.

Melalui berbagai tantangan, cobaan, ancaman dan ambisi yang luar biasa Yahudi berusaha menggenggam dunia, untuk itu mereka sadari bahwa kecerdasan itu merupakan topangan utama. Untuk membangun kecerdasan ini, bagi Yahudi bidang pendidikan dan penelitian sangat penting, tidak heran jika ilmuwan dan penemu utama dunia lahir dari kalangan Yahudi.

Rabu, 09 September 2009

PENDULUM

In 1583 Galileo Galilei, a youth of nineteen attending prayers in the baptistery of the Cathedral of Pisa, was, according to tradition, distracted by the swinging of the altar lamp. No matter how wide the swing of the lamp to move from one end to the other was the same. Of course Galileo had no watch, but he checked the intervals of the swing by his own pulse. This curious everyday puzzle, he said, enticed him away from the study of medicine to which his father had committed him to the study of mathematics and physics. He had discovered, that the time of a pendulum’s swing varies not with the width of the swing but with the length of the pendulum.

(Daniel J. Boorstin, American historian, 1914 - ….)

Selasa, 25 Agustus 2009

KLAIM BUDAYA MALAYSIA

Malaysia baru-baru ini meluncurkan produk promosi wisatanya dengan menggunakan icon Tarian Bali yaitu Tari Pendet. Tindakan Malaysia ini kontan menimbulkan reaksi di tanah air. Ini bukan pertama kali Malaysia melakukan hal tersebut. Sebelumnya mereka pernah menggunakan lagu Rasa Sayange dari Maluku dan Reog Ponorogo dalam mempromosikan wisata mereka. Ada apa dibalik ini semua? Apakah sekedar faktor kebetulan atau sesuatu yang memang dilakukan “by design.” Pernah pula terlontar dari seorang pejabat Malaysia bahwa segala sesuatu produk budaya yang tumbuh di nusantara sangat mungkin digunakan oleh negara serumpun mengingat kedekatan budaya dan sejarahnya. Namun, dalam konteks kekinian tentunya tidak semudah itu sebuah negara menggunakan produk negara lainnya apalagi dalam kasus promosi wisata.

Sikap Malaysia tersebut sebenarnya tanpa disadari menunjukkan ketidakpercayaan diri mereka sendiri untuk menggunakan produknya dan sekaligus dapat mengangkat Budaya Indonesia dan memperteguh bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa.

Hal lain yang perlu dicermati adalah kecenderungan posisi Indonesia dan Malaysia yang paradoks. Disatu sisi sering disebut kedua bangsa ini sebagai bangsa serumpun, namun disisi lain sering terjadi perselisihan dan konflik-konflik baik dibidang sosial, ekonomi maupun pertahanan.

Kadang-kadang penulis berpikir apabila Tari Pendet, Reog Ponorogo dan lagu Rasa Sayange digunakan di Amerika atau Eropa apakah reaksi kita akan sama dibandingkan jika Malaysia yang menggunakannya? Ini bisa jadi menunjukkan adanya suatu Sibling Competition yang serius antara kedua bangsa yang katanya serumpun ini.

Dalam blog ini, saat penulis mengulas kasus Manohara dan Pangeran Kelantan, penulis sebutkan pula kondisi paradoks tersebut, khususnya dalam hal pandangan orang Malaysia terhadap Indonesia. Dalam beberapa kesempatan seminar dan training di luar negeri yang penulis ikuti pernah bertemu dengan orang Malaysia. Secara umum mereka cukup mengapresiasi Indonesia. Bahkan mereka merasa Indonesia sebagai bangsa dan negara yang besar. Banyak tokoh ilmuwan dan agawan/ulama Indonesia yang dijadikan panutan di Malaysia. Namun, pandangan negatif tersebut muncul saat mereka menyikapi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Sikap yang cenderung memandang rendah Indonesia yang mereka sebut Indon itu sangat dipengaruhi oleh keberadaan TKI disana.

Perlu pula diketahui banyak tokoh dan pejabat di Malaysia adalah keturunan Indonesia. Ini terjadi sejak puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu. Bolehlah disebut Indonesia seperti saudara tua bagi Malaysia, Jika melongok beberapa kerajaan besar Indonesia dulu seperti Sriwijaya, Majapahit dan Aceh, kekuasaan mereka menjangkau Malaysia. Hanya akibat kedatangan Portugis, Ingggris dan Belanda lah yang mencerai-beraikan kerajaan-kerajaan di nusantara ini.

Kembali kepada klaim budaya Malaysia terhadap beberapa produk Indonesia memang perlu diluruskan. Kita menghargai upaya Menteri Kebudayaan dan Parawisata Jero Wacik yang telah mengeluarkan nota protes terhadap Malaysia berkaitan kasus Tari Pendet tersebut. Namun, kedepan tampaknya Indonesia perlu melakukan peneguhan formal terhadap seluruh produk budaya yang ada dengan melakukan hak paten yang diakui secara internasional Selain itu komunikasi secara intensif dengan negara tetangga hendaknya tidak terbatas pada masalah politik, ekonomi dan pertahanan saja, komunikasi sosial dan budaya pun perlu digalakkan. Program seperti Titian Muhibah yang pernah ditayangkan oleh TVRI merupakan salah satu bentuk kegiatan yang perlu diintensifkan kembali. Kita pun sangat mengharapkan peran Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia yang harus mengantisipasi hal-hal tersebut sehinggal tidak menimbulkan kerikil dalam hubungan antara dua negara bertetangga ini. Hidup bertetangga memang rentan terhadap konflik, namun dengan pemahaman yang baik antara sesama disertai dengan sikap saling harga menghargai maka potensi konflik yang destruktif dapat dihindari.

Selasa, 11 Agustus 2009

BISAKAH KITA BERPIKIR?

Tulisan ini diilhami oleh oleh sebuah buku yang ditulis Kishore Mahbubani yang berjudul "Bisakah Orang Asia Berpikir?" Memang judul buku ini terkesan satire, tetapi ini justru dapat memprovokasi sikap mental bangsa-bangsa di Asia untuk merenungi makna yang terkandung didalam judul tersebut. Termasuk tentunya bangsa Indonesia hendaknya mengajukan pertanyaan serupa "Bisakah Orang Indonesia Berpikir?"

Seorang Profesor dari Universitas Waseda Jepang - Profesor Toshiko Kinoshita - mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak pernah berpikir panjang. Menurutnya masyarakat Indonesia hanya berorientasi mengejar uang untuk memperkaya diri sendiri dan tidak pernah berpikir panjang (terutama untuk negara).

Kedua pendapat diatas menunjukkan pandangan tentang perilaku masyarakat bangsa kita. Ini merupakan gejalan hedonis untuk mencari kesenangan semata-mata yang hanya bersifat jangka pendek dan egocentris, hanya menguntungkan diri sendiri.

Apakah perilaku koruptif yang sudah sedemikian mewabah dinegeri ini merupakan refleksi dari pemikiran diatas? Kemudian kasus teror bom mengindikasikan ketidakmampuan berpikir jangka panjang? Selanjutnya konflik-konflik yang terjadi selama ini apakah bersifat sosial, politis maupun ekonomi adalah gambaran dari perilaku tersebut?

Jika ditinjau dari segi sosi-kultur, jelas umumnya masyarakat kita bersifat paternalistik. Artinya, unsur keteladan disini sangat penting. Jadi permasalahan bangsa yang muncul merupakan refleksi dari perilaku pemimpin yang tidak tepat. Seorang pemimpin yang mestinya mampu berperan sebagai role-model tampak mengalami erosi keteladanan, tidak mampu digugu dan ditiru.

Jadi judul tulisan ini "Bisakah Kita Berpikir" jika dikristalisasi menjadi "Bisakah Pemimpin Kita Berpikir?" Lihatlah kasus Pemilu yang baru berlangsung. Saat pelaksanaan Pemilu berjalan tertin. Rakyat berbondong-bondong menuju TPS dengan wajah ceria, Kemudian melakukan pemilihan dengan mencontreng sesuai dengan tuntunan hati dan pikirannya masing-masing. Namun, setelah Pemilu usai kita saksikan bersama sekarang apa yang terjadi? Jadi sesungguhnya rakyat kita sudah arif bijaksana dan mendambakan suasana damai. Tentunya seluruh rakyat sangat berharap agar semua pemimpin juga dapat bersikap arif dan bijaksana.

Masalah berpikir tidak hanya menyangkut persoalan rasio semata, tidak sekedar masalah logika dan dialektika atau tidak sekedar tesa-sintesa-antitesa. Berpikir menunjukkan keluhuran budi manusia yang membuatnya berbeda dengan makhluk lainnya. Berpikir menunjukkan perenungan yang mendalam, proses kontemplasi yang masif dan menyatukan seluruh potensi manusia yang dimiliki.

Berpikir menandakan manusia sebagai makhluk beradab sebagai penompang penting untuk menjalankan tugas kekhalifahannya dimuka bumi. Jadi berpikir adalah bagian yang bisa terpisahkan dari kehidupan manusia. Berpikir laksana pelita yang menuntun kita berjalan dalam kegelapan.

Tapi apakah kita bisa berpikir? Terlebih-lebih apakah para pemimpin kita bisa berpikir, jawabannya bukan pada kata-kata, juga bukan pada janji-janji, tetapi tindakan nyatalah yang menjadi ukurannya. Berpikir tentunya untuk bangsa dan terlihat pada tindakan yang mengutamakan kepentingan bangsa.

Kita tentu akan menyanggah sekeras-kerasnya pandangan dari Kishore Mahbubani dan Profesor Toshiko Kinoshita. Atau mungkin mereka yang benar?

Jumat, 07 Agustus 2009

MENGENANG W.S. RENDRA

Mengiringi kepergian Tokoh Sastra dan Budaya, ingatkan kembali kenangan akan sajaknya :

SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTRINYA (WS. RENDRA, 1970)

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
Bekerja membalik tanah
Memasuki rahasia langit dan samoedra
Serta mencipta dan mengukir dunia

Kita menyandang tugas
Kerna tugas adalah tugas
Bukannya demi sorga atau neraka tetapi demi kehormatan seorang manusia
Kerna sesungguhnya kita bukan debu
Meskipun kita telah reyot, tua renta dan kelabu

Kata dalah kepribadian

Dan harga kita adalah kehormatan kita
Tolehlah lagi kebelakang
Ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapusnya ………………..

Gejolak bara hati Rendra terukir erat dalam bait-bait sajak-sajat diatas, yang menunjukkan kemauan keras, kekuatan mengarungi hidup dan menjunjung tinggi martabat diri.

Si Burung Merak yang lahir di Solo pada 7 November 1935 telah berpulang ke kekasih hati abadinya Sang Maha Pencipta pada malam Jumat pukul 22.10 tanggal 6 Agustus 2009 di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading.

Ia adalah sosok yang mengharu biru dunia sastra, budaya dan teater Indonesia. Hidup penuh dinamika dengan semangat tinggi dan bara api untuk melawan tirani.

Ia adalah pahlawan tanpa senjata, menyodorkan kata dan pena untuk menghantam kesewena-wenaan.

Suara dan sorot matanya menyalang meruntuhkan keangkuhan kekuasaan. Ia buat sastra dan budaya lebih bernyali dibandingkan ribuan meriam.

Selamat jalan Bung Pemberani berhati suci …… bersemayamlah dengan damai ditaman keabadian nun jauh disana dalam rangkulan kasih Sang Rabbi ………………

Kamis, 23 Juli 2009

MEROKOK DAPAT MENINGKATKAN KINERJA?

Sebelumnya dalam blog ini penulis pernah menulis tentang masalah rokok, bagaimana kerugiannya dan bagaimana harus menghentikannya. Namun, dalam beberapa diskusi dan observasi, selain kerugian, merokok pun memiliki beberapa keuntungan, meskipun ini sangat hipotetis, termasuk dugaan bahwa merokok dapat meningkatkan kinerja seseorang.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Winston Butts dari Vantage University mencoba membuktikan hal tersebut. Butts membuat penelitian dengan judul “Effect of Smoking on Management Performance.”

Menurut pengamatan Butts dalam beberapa tahun belakangan banyak perusahaan yang mencoba mengimplementasikan program untuk menghentikan/melarang merokok dilingkungan kerja (Ash). Program ini diharapkan dapat mengurangi biaya kesehatan dan juga sekaligus untuk menghormati hak-hak bagi karyawan yang tidak merokok (Butts).

Namun, beberapa penelitian terkadang menghasilkan kesimpulan yang berbeda, ada yang mengatakan merokok mengganggu produktivitas, ada pula yang menganggap merokok dapat meningkatkan produktivitas.

Butts melakukan penelitian dengan melibatkan 15 Manager sebagai responden. Delapan orang Manager merokok ditempat kerja dan tujuh bukan perokok. Sepuluh Manager adalah wanita dan lima pria. Usia rata-rata 36,3 tahun, responden termuda berusia 21 tahun dan tertua 65 tahun.

Waktu penelitian berlangsung 10 hari dimana para Manager tersebut diobservasi saat bekerja. Setiap seorang manager melakukan yang benar diberikan nilai, jika melakukan kesalahan nilainya dikurangi. Setelah 10 hari diobservasi dilihat jumlah total nilai yang diperoleh oleh setiap Manager.

Hasilnya menunjukkan bahwa kinerja para Manager berhubungan dengan status merokoknya. Hasil analisa menunjukkan korelasi koefisien 0,20. Secara statistik memang tidak begitu signifikan, tetapi tetap menunjukkan adanya suatu hubungan. Dengan kata lain para Manager yang merokok memiliki kinerja sedikit lebih baik dari yang tidak merokok. Namun, tampaknya agak sedikit sumir untuk mengatakan bahwa merokok dapat meningkatkan kinerja, karena perlu dipertimbangkan secara lebih seksama apakah variabel lain dikontrol secara ketat atau tidak.

Jika memang merokok dapat meningkatkan produktivitas itu mungkin disebabkan dengan merokok Manager bisa merasa lebih tenang saat menghadapi permasalahan sehingga menghasilkan kinerja yang lebih baik (Puffer). Atau bisa juga merokok merupakan suatu sinyal terhadap status dan kematangan seseorang (Burns) dan Manager merokok untuk meningkatkan citra dirinya.

Dengan nada sedikit satire, Butts menyimpulkan penelitiannya bahwa untuk meningkatkan kinerja tampaknya perusahaan perlu merekrut Manager yang merokok atau menganjurkan Manager yang bukan perokok untuk memulai merokok. Anda percaya?

Rabu, 22 Juli 2009

HANTU KOMUNIS DAN HANTU TERORIS

Pada hari Jumat 17 Juli 2009 disekitar pukul 07.47 terjadi ledakan dahsyat di Hotel JW Marriott dan Rizt Carlton. Ledakan bom tersebut terjadi setelah 4 tahun Indonesia relatif aman dari serangan bom. Ini sangat mengejutkan ditengah pesta demokrasi yang berlangsung dinegeri ini. Perbuatan biadab ini telah menimbulkan korban bagi orang-orang yang tidak berdosa dan menimbulkan luka dalam bagi keluarga dan masyarakat secara umum. Kita menyampaikan rasa duka yang mendalam terhadap korban dan keluarganya, semoga aparat keamanan segera menemukan pelaku yang sesungguhnya agar mereka dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kejadian ini sekaligus memupus harapan para pencinta bola negeri ini untuk menyaksikan kesebelasan Manchester United tampil di senayan. Muncul berbagai spekulasi mengenai peristiwa ini. Ada yang mengkaitkan dengan situasi perpolitikan dalam negeri, dikaitkan dengan jaringan teroris internasional, bahkan sampai dengan kemungkinan adanya motif bisnis. Semua ini tentu memerlukan pembuktian lebih lanjut dari pihak yang berwajib.

Siapakah pelakunya? Yang paling gampang menyebutnya mereka adalah teroris. Namun, siapakah teroris tersebut dan apa motifnya? Ini menjadi pertanyaan yang tidak mudah untuk menjawabnya. Teoris saat ini telah menjadi hantu, bagaikan komunis yang dulu pun pernah menjadi hantu dinegeri ini.

Hantu adalah obyek abstrak yang tidak jelas wujudnya namun dipakai untuk menakut-nakuti untuk kepentingan tertentu dan dilakukan oleh pihak tertentu. Pada jaman Orde Baru kata komunis sangat menakutkan kita, siapapun yang mendapat label ini sudah dipastikan hidupnya akan menderita, akan ditolak eksistensinya dan kehilangan berbagai hak yang seharus dimiliki oleh seorang warga negara. Nah, teroris tampaknya telah menjadi hantu pula. Bedanya, hantu komunis pada era Orde Baru lebih berdimensi domestik, maka hantu teroris berdimensi global, menjadi hantu dunia internasional. Siapapun yang telah dicap teroris, walaupun belum tentu ia melakukan pemboman, maka sudah dipastikan akan mengalami nasib yang sangat buruk.

Tentu kita sepakat untuk pelaku bom yang sesungguhnya harus dihukum seberat-beratnya. Namun, bagi mereka yang tidak melakukan pemboman, bahkan terkait pun tidak, namun dicurigai sebagai “teroris” karena ciri-ciri tertentu atau karena keyakinan tertentu atau karena aktivitas tertentu, maka penisbahan citra teroris tersebut sungguh sangat memprihatinkan.

Jika anda pernah pergi ke beberapa negara tertentu, maka anda dapat menyaksikan orang-orang dengan nama tertentu, berpenampilan tertentu dan dari negara tertentu akan mengalami proses imigrasi yang lebih lama dan lebih sulit karena mereka dicurigai punya hubungan dengan “teroris.” Menyakitkan, tetapi itulah yang terjadi, isu teroris menjadi jualan yang menarik sekaligus sebagai legitimasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang brutal sebagaimana yang teoris lakukan. Mereka ingin memberantas teroris dengan melakukan kegiatan seperti teroris dan menghabiskan nyawa sebagian besar orang yang tidak berdosa pula.

Kembali ke siapa yang teroris dan apa motifnya? Untuk ini sebaiknya kita serahkan sepenuhnya kepada yang berwajib untuk membekuk para pelaku pemboman tersebut. Kita berharap aparat keamanan bisa melakukan kegiatan yang terukur dan proporsional. Selama ini aparat kita telah terbukti mampu mengungkapkan dan menangkap para pelaku teror, kita pun berharap saat ini aparat kita mampu untuk mengungkapkannya.

Kamis, 25 Juni 2009

COMMUNIC ASIA SINGAPORE


Pada tanggal 15-18 Juni 2009 penulis berkesempatan untuk mengikuti kegiatan Communic Asia di Singapore. Kegiatan yang berisi exhibition dan conference berkenaan dengan perkembangan terakhir dibidang telekomunikasi dan informasi tersebut diikuti oleh berbagai perusahaan raksasa dunia yang bergerak dalam produk maupun jasa telekomunikasi dan informasi. Perusahaan-perusahan besar tersebut berasal dari manca negara Amerika, Eropa, Australia dan Asia. Dari Asia terlihat perusahaan dari Jepang, Korea, Malayasi, Singapore dan sebagainya, namun sayang menurut amatan penulis tidak terlihat perusahaan dari Indonesia.

Communic Asia dilakukan secara rutin bahkan agenda untuk tahun 2010 pun telah ditentukan. Dalam hal ini menarik untuk diamati kemampuan Singapore untuk mengorganisir berbagai event berskala internasional dalam berbagai bidang termasuk bidang olahraga seperti Formula-1. Dari berbagai event besar berskala internasional tersebut Singapore meraup keuntungan yang luar biasa, mendatangkan devisa bagi negara.

Singapore adalah sebuah negara pulau yang sangat kecil bila dibandingkan dengan Indonesia. Minim bahkan hampir tidak ada sumber daya alam. Air bersih pun didatangkan dari Malaysia. Demikian pula pasir diambil dari Indonesia. Semua bahan pangan didatangkan dari luar negara, namun ketersediaan pangan di Singapore sangat berlimpah, berbagai jenis buah membanjiri Singapore dengan kualitas prima.


Apa kunci kemajuan Singapore? menurut penulis setidaknya ada 3 :

1. Leadership
2. Brain & people
3. Profesionalism & work attitude

Leadership dimulai dari kepemimpinan Bapak Singapore yaitu Lee Kuan Yew. Selepas dari Malaysia pada tahun 1965, dibawah kepemimpinan Lee Singapore mulai menata diri dengan pertama-tama adalah menegakkan disiplin. Perilaku sederhana yang keliatan remeh temeh seperti meludah sembarangan, mengunyah permen karet, membuang sampah merokok, ditertibkan. Lee dengan segenap unsur pemerintahannya boleh dikatakan menerapkan tangan besi untuk menegakkan disiplin. Hal ini dimulai dengan contoh keteladanan (role model) dan kemudian menerapkan sistem reward dan punishment yang konsisten. Melalui disiplin dibentuk perilaku manusia. Perilaku manusia inilah menjadi modal Singapore membangun negerinya.

Kemudian faktor brain dan people menjadi penentu utama keberhasilan Singapore. Sektor pendidikan memiliki peran penting untuk membanguan kualitas sumber daya manusia-nya. Singapore sadar dengan ketiadaan sumber daya alamnya, manusia dan otaklah yang menjadi modal mereka.

Profesionalism dan work attitude menjadi faktor berikutnya yang cukup penting yang membuat Singapore maju seperti saat ini. Profesionalisme dan sikap kerja mereka menganggumkan. Inilah yang membuat diantaranya berbondong-bondongnya para WNI berobat ke Singapore. Mereka tidak semata-mata menyediakan teknologi, sarana dan prasana kesehatan atau pun rumah sakit yang canggih, tetapi terutama mereka membentuk sikap pelayanan yang prima sehingga setiap orang yang beribat disana merasa dilayani dengan sangat baik dan merasa "diorangkan."

Apakah kesemua tersebut tanpa ekses negatif? Tentu ada. Kompetisi yang ketat membuat tekanan hidup masyarakat Singapore semakin meningkat, sehingga terlihat pula kecenderungan peningkatan bunuh diri. Hidup yang sangat diatur dan dalam irama ketat terkadang dirasakan oleh mereka sebagai siksaan. Namun, ini dikalahkan oleh kesadaran mereka bahkan mereka hidup dinegara kecil yang minus sumber daya alam. Sehingga mereka sadar dengan kompetisi yang ketat akan mampu membuat mereka lebih "survive." Disiplin, peraturan yang ketat, kompetisi walaupun dirasakan tidak nyaman mereka sadari sebagai bagian untuk membuat mereka mampu bertahan dan memenangkan persaingan di kancah global.

Hanya orang yang merasakan adanya ancaman yang mampu mempersiapkan diri lebih baik. Only paranoid people can be survived.

Senin, 01 Juni 2009

WELCOME MANOHARA

Kemarin Minggu 31 Mei 2009 akhirnya Manohara kembali ke Indonesia setelah melalui pertemuan secara dramatis dengan ibunya di sebuah hotel di Singapura. Kisah Manohara cukup mengharu-biru pemberitaan media massa ditengah publikasi tentang Pemilu dan persiapan pemilihan Presiden. Welcome Manohara.

Kisah tentang Manohara telah banyak diketahui publik bahkan sampai terjadi komunikasi ditingkat pemerintahan, terutama melalui beberapa keterangan yang sempat disampaikan oleh Duta Besar Republik Indonesia di Malaysia, Dai Bachtiar. Berbagai upaya dilakukan untuk mempertemukan ibunda Manohara dengan Manohara, tetapi dengan berbagai alasan pula pihak Kesultanan Kelantan belum memenuhi permintaan tersebut. Alih-alih mempertemukan mereka, Kesultanan Kelantan berusaha mempengaruhi opini massa dengan menampilkan Manohara dalam berbagai kesempatan dan diliput media massa seolah-olah Manohara dalam keadaan baik-baik saja.

Terdapat dua persoalan penting terkait dengan Manohara. Yaitu pertama mengenai persepsi publik Malaysia terhadap Indonesia, kedua adalah persoalan psikologis dari Pangeran Kelantan Tengku Fachri yang tampaknya memiliki persoalan kepribadian tersendiri yang kemudian mempengaruhi perilakunya.

Persepsi publik Malaysia sendiri terhadap Indonesia tampak berada dalam dua ekstrim yang berbeda. Disatu sisi mereka merasa Indonesia jauh lebih besar dan senior namun disisi lain mereka memandang "sebelah mata" terhadap Indonesia. Persepsi terhadap Indonesia yang lebih besar dan dituakan lebih dipengaruhi oleh faktor sejarah. Sedangkan persepsi memandang sebelah terhadap Indonesia lebih karena persoalan ekonomi mereka yang saat ini lebih maju dan dengan keberadaan TKI di Malaysia. Inilah situasi "paradox of perception" Malaysia terhadap Indonesia.

Penulis sendiri dalam berbagai kesempatan pernah bertemu dengan warga Malaysia, baik dalam seminar-seminar, training atau kesempatan informal lainnya. Sebagian dari mereka tampak mengagumi Indonesia, mengakui kebesaran Indonesia. Namun, sebagian dari mereka juga mengeluhkan berbagai perilaku negatif yang ditunjukkan TKI di Malaysia. Sebagian orang Malaysia mengagumi tokoh-tokoh besar dari Indonesia, tetapi disisi lain mereka juga meremehkan keberadaan TKI disana.

Paradox of perception ini sedikitnya memberi pengaruh terhadap kasus Manohara, disamping pengaruh faktor psikologis diantara Pangeran Kelantan dengan Manohara. Pangeran Kelantan cenderung menganggap "rendah" Manohara namun ia memiliki kekaguman juga terhadap Manohara sehingga ia meperistri Manohara. Kondisi Paradox juga menghinggapi Kesultanan Kelantan dengan melakukan pembangunan opini di media massa dan mengutus pembantunya yang orang Indonesia untuk memberikan informasi. Artinya, Kesultanan Kelantan cukup memahami tingkat keseriusan masalah ini dan berusaha melakukan pembelaan.

Dalam kasus Manohara terlihat berbagai aspek saling terkait, yaitu psikologis, sosial-budaya, politik dan ekonomi. Disamping tentunya yang tidak dapat dikesampingkan adalah aspek hukum, baik terkait dengan status perkawinannya, dugaan kekerasan dalam rumah tangga dan jika tidak hati-hati dapat dipolitisasi kearah hubungan antara kedua negara mengingat hubungan Indonesia-Malaysia selalu dalam kondisi "naik-turun."