Selasa, 09 Februari 2010

RELATIONSHIP PROBLEMS

Permasalahan relasi (relationship problems) yang dimaksud disini adalah menyangkut relasi interpersonal antara 2 orang dewasa. Permasalahan tersebut meliputi perkawinan, cohabitation, heteroseksual, gay atau lesbian dan hubungan non tradisional lainnya. Masalah relasi disini menyangkut hal-hal yang terkait dengan permasalahan medis atau psikiatris, disfungsi seksual, masalah keuangan , kesulitan rumah tangga, tindakan kriminal atau ketidakadilan. Mengapa hal ini perlu dibahas ? karena banyak mereka yang perlu dibantu disebabkan oleh tekanan yang mereka hadapi.

JENIS MASALAH RELASI

Permasalahan relasi menyangkut dimensi yang cukup luas, meliputi :

1. Kesulitan komunikasi
2. Konflik kebutuhan, alienasi
3. Perselingkuhan
4. Masalah seksual
5. Konflik sebagai orang tua
6. Perubahan peran gender
7. Kekerasan
8. Penyalahgunaan hak
9. Cemburu

Beberapa dari mereka yang mengalami permasalahan mencari bantuan untuk dapat berhubungan secara lebih baik lagi dengan pasangannya. Hal ini kadang-kadang terjadi karena ketidakmampuan untuk mengkomunikasikan atau memecahkan beberapa aspek spesifik yang terjadi dalam proses relasi mereka dan dipersepsikan secara berbeda antara dirinya dengan pasangannya dan mempengaruhi sikap, nilai maupun tingkah laku mereka. Mereka beranggapan pasangannya tidak toleran. Untuk mengatasi ini mereka tidak jarang dalam rangka menjaga integritas personal memilih untuk mengakhiri relasi tersebut, perceraian misalnya. Relasi yang tidak stabil umumnya ditunjukkan oleh pasangan yang kurang memiliki moralitas religius.

Penyebab dari permasalahan relasi bisa muncul karena adanya ketidaksesuaian filosofis, dilema moral, permasalahan emosional, penyakit fisik atau konflik.

Kasus di Inggris menunjukkan semakin meningkatnya angka perceraian dari wak tu ke waktu. Pada tahun 1996 dari 279.000 perkawinan, 169.000 berakhir dengan perceraian yang terjadi di tahun tersebut juga. Pasangan yang membutuhkan konseling perkawinan mencapai 58%, wanita single yang melakukan konseling 29% sedangkan pria 13%.

SEBAB-SEBAB

Akar masalah dapat disebabkan oleh sikap yang dependent, permasalahan seksual, kegagalan dalam tahap perkembangan hidup, kegagalan dalam menjalankan fungsi sebagai pasangan atau orang tua. Kondisi keluarga, budaya dan sosioekonomi turut mempengaruhi bagaimana kemampuan mereka mengatasi masalah yang ada. Perlu dicermati pula bahwa suatu hal tidak tidak dianggap masalah, namun merupakan masalah bagi pasangannya. Ketidakmampuan mengkomunikasian hal ini secara tepat merupakan sumber permasalahan pula.

PENANGANAN

Khusus berkaitan dengan kehidupan rumah tangga, konseling perkawinan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan. Namun, hal ini sangat tergantung dari tingkat permasalahan yang dihadapi. Konseling ini dapat berupa pre-marital konseling, konseling masalah seksual, masalah ketidaksuburan, perceraian. Namun, permasalahan seringkali tidak tunggal, artinya adanya kombinasi atau gabungan dari berbagai permasalahan.

Sebelum dilakukan konseling perlu ditegaskan terlebih dahulu apakah hanya seorang atau kedua-duana\ya membutuhkan bantuan penanganan. Kontak awal antara klien dengan konselor sangat menentukan bagaimana proses konseling berikutnya akan berlangsung. Bisa saja kontak awal ini melalui telepon namun berikutnya dibutuhkan pertemuan langsung untuk mengsolusi permasalahannya.

Konseling dapat berfokus hanya pada seorang saja atau kedua-duanya. Proses dan lamanya konseling sangat ditentukan oleh orientasi teoritis konselor dan strategi yang digunakan oleh konselor. Namun, yang paling penting disini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi, tujuan dan acuan yang digunakan oleh klien sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan konseling.

Intensitas dan lamanya konseling berkaitan dengan tingkat masalah yang ada dan kondisi dari klien maupun pasangannya. Dalam pelaksanaannya dimungkinkan terjadi perubahan internal yang radikal dan mendorongan terjadinya konsolidasi pola-pola baru dalam berhubungan. Hal ini difokuskan untuk memecahkan persoalan yang ada dan mengatasi ancaman terhadap kelangsungan relasi. Konseling dapat berlangsung antara 1 s/d 30 sesi dengan rata-rata 5 sesi.

Efektivitas konseling sangat tergantung pada kerjasama dan kesediaan klien untuk mengatasi persoalannya. Jadi, efektivitas konseling tidak semata-mata dilihat dari metoda yang digunakan atau kepiawaian konselornya.

Perbedaan permasalahan relasi membutuhkan suatu kerangka prognosis yang menyeluruh. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mereka yang mengikuti konseling memiliki emosi yang lebih baik, dapat memahami dirinya lebih baik dan mampu menghargai dirinya yang pada akhirnya mampu membina relasi secara lebih baik. Pada dasarnya disini konselor membantu membuat keseimbangan antara kebutuhan individu dengan kebutuhan relasinya. Individu diarahkan untuk mampu berafiliasi, menghargai diri sendiri maupun pasangannya.

Konseling mendorong agar individu dn pasangannya dapat hidup secara lebih baik. Konselor bertugas untuk menolong setiap pasangan agar mampu berbagi secara maksimal dan memenuhi kebutuhan setiap individu dan pasangannya.

Prinsip penanganan meliputi hal-hal sebagai berikut :

1. Negosiasi kontrak untuk melakukan konseling, batasanya, maksud, metoda kerja dan lamanya.
2. Renegosiasi dari kontrak konseling untuk mengakomodasi perubahan kebutuhan individu maupun pasangannya.
3. Menjaga kerahasiaan dan privacy.
4. Menjaga kesinambungan relasi pasangan.
5. Bekerjasama dengan pasangan untuk meningkatkan kualitas relasi.
6. Bersikap seimbang, tidak berat sebelah terhadap individu dan pasangannya.
7. Menghindari sikap-sikap kontraproduktif dalam proses konseling.
8. Memberikan perhatian yang seimbang terhadap semua pihak.
9. Memperhatikan nilai-nilai yang diyakini oleh klien.
10. Mengantisipasi dan mencegah kemungkinan terjadinya tindak kekerasan dari pasangan atau hal-hal lain yang dapat merugikan klien.

Tidak ada komentar: