Habahate adalah kabar-hati, merupakan catatan kecil yang bersumber dari ungkapan pemikiran, pandangan, pengalaman dan harapan dari seorang penelusur kearifan dan kebijakan ..... sebuah catatan kecil untuk niat yang besar ...
Jumat, 07 Januari 2011
NEVER GIVE IN
never give in
never, never, never, never
in nothing great or small,
large or petty -
never give in ...
(Winston Churchill, British statesman, 1874-1965)
Kamis, 06 Januari 2011
BECOME AN EFFECTIVE LISTENER
- Looking at the person talking to you.
- Jotting things down if you are liable to forget.
- Asking question if you don’t understand.
- Reflecting back on what has been said to ensure you heard correctly.
DEVELOPING A POSITIVE APPROACH
A positive approach is areal asset. Some people can instinctively push unpleasant thoughts out of their mind, while others dwell on the negative. The key is to try to focus more and more on the good rather than the bad.
Attitude is something which other people notice and management comment upon, so build up a positive attitude by practising the following techniques :
- Practice being positive
Try to focus one aspect of your job at a time. By starting to make positive thoughts a habit it will be only a matter of time before you begin to reap rewards from your new attitude.
- Talk about positive things at work
A negative attitude winds up some people and is not appreciated by others. You colleagues will regard you as a negative person if you moan constantly abou the bad aspects of tour job.
- Search for the ‘good’ in others
Everyone has positive features and attributes, so look for these, and spread the good word about others. Think nice thoutghs about people and it is far more likely that this will be reflected in others.
- Focus on what you like about your job and company
is it the people, place, location, environment, culture, policies, or product? Begin to be proud of what you do and who you work for.
- Don’t let others distract you
Try to avoid letting other people’s negative thoughts affect you. Accept that you can only change yourself; if other people want to be negative, let them. At least then there is room for people to see the difference between you. Above all, preserve your own positive attitude.
(by Sarah Berry).
SEPUTAR PERANG BAKONGAN ACEH
Dikutip dari tulisan Lila Banguna
Teuku Raja Angkasah
Sejak tahun 1905 di wilayah Bakongan telah terjadi perlawanan Rambong Seunubok Keuranji. Perlawanan tersebut hanyalah merupakan lanjutan dari perlawanan pada masa-masa sebelumnya. Serdadu Belanda yang ditugaskan ke wilayah Bakongan banyak yang meneteskan air mata lebih dahulu sebelum berangkat kesana, karena harapan untuk kembali dari sana sangatlah tipis. Teuku Raja Angkasah juga melibatkan diri dalam pertempuran di Rambong Seunubok Keuranji. Dalam pertempuran di tahun 1925 tersebut pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan Donner dan sersan marsose Wongsokarijo mengalami kekalahan. Pada malam itu tanggal 12 Agustus 1925, yakni di kampung Rambong dekat Sibadeh, pasukan Letnan Donner diserbu oleh para pejuang. Akibat serangan tersebut Letnan Donner dan sersan Wongsokarijo tewas di cencang oleh para pejuang Aceh, dan 39 orang anak buah nya juga gugur dalam pertempuran di malam itu.
Beberapa tahun kemudian kembali terjadi pertempuran di hutan Rambong dekat Kampung Drien. Pada tengah malam tanggal 23 Oktober 1925 pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan J. Wiarda diserbu oleh pasukan Teuku raja Angkasah, pasukan Belanda dapat diporak-porandakan dengan menderita kerugian 2 orang tewas, 3 orang luka parah dan 7 orang luka ringan. Sedangkan 4 karaben milik Belanda berhasil dibawa kabur oleh Teuku Raja Angkasah dan pasukannya. Tetapi pada tanggal 10 November 1925, dalam pertempuran di Seunubok Keuranji. Teuku Raja Angkasah berhasil ditembak oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan W.A.M. Molenaar. Sehingga Teuku Raja Angkasah menemui syahid nya dan dimakamkan di pedalaman hutan Seunubok Keuranji, Buket Gadeng. Setelah beliau meninggal perlawanan semakin membara yang dilanjutkan oleh Teuku Maulud dan Teuku Cut Ali yang dibantu oleh Teuku Nago dan panglima Raja Lela.
- Teuku Maulud.
Beliau lah yang berhasil mempengaruhi Teuku Cut Ali untuk berjuang melawan melawan Belanda. Pada tanggal 1 Maret 1926 sebuah brigade infanteri marsose Belanda dari Singkil yang dipimpin oleh Sersan Gruneveld membuat bivak atau camp pertahanan di kampung Gunung Kapho ( Trumon ). pagar bivak tidak sempurna yang mana penjagaan nya terdiri dari dua buah pos dan tidak dijaga pula dengan prasangka bahwa daerah tersebut sedikit banyaknya tidak kacau. Suatu siang Teuku Maulud menyuruh salah seorang kepercayaan nya yang bernama Pang Paneuk dengan berpakaian seperti seorang nelayan melakukan pengintaian terhadap bivak Belanda di kampung Gunung Kapho. Malam harinya , kira-kira jam 22.00 WIB. Pasukan Belanda diserbu oleh pasukan Teuku Maulud yang diperkirakan berkekuatan 30 0rang bersenjatakan pedang dan kelewang. Akibat serangan tersebut pasukan Belanda yang dipimpin oleh sersan Gruneveld kehilangan 9 orang prajurit (tewas), 7 orang luka parah dan 2 orang marsose luka ringan. Teuku Maulud dan pasukannya berhasil merampas 16 pucuk karaben ( senanpan) milik Belanda. Sedangkan di pihak pejuang Aceh, 2 orang gugur sebagai syuhada. Tak lama setelah kemenangan ini Teuku Cut Ali pun menggabung kan diri dengan Teuku Maulud.
Pada tanggal 20 Maret 1926 pasukan Belanda yang terdiri dari Divisi 5 Marsose menyerang pertahanan pasukan Teuku Maulud di daerah Krueng Batee (Trumon), pasukan ini dipimpin oleh kapten Snell dan kapten J. Paris. Dalam pertempuran tersebut Teuku Maulud, Teuku Itam, Pang Paneuk serta 13 orang pejuang Aceh lainnya gugur sebagai syuhada. Dan 9 karaben yang hilang ketika pasukan sersan Gruneveld diserbu dapat direbut kembali oleh Belanda. Setelah Teuku Maulud meninggal perjuangan dilanjutkan oleh Teuku Cut Ali dengan dibantu oleh Teuku Nago dan Panglima Raja Lela ( Meulela ).
Panglima Raja Lela
Tadi diatas sudah disebutkan, bahwa Teuku Maulud menemui syahid nya setelah ditembak oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh kapten Snell dan kapten J. Paris. Kapten J. Paris lahir pada tahun 1889 di nieuwer Amstel. Pada tanggal 3 April 1926, para pejuang yang dipimpin oleh panglima Raja Lela melakukan serangan terhadap pasukan Belanda yang dipimpin oleh kapten J. Paris. Pada saat itu kapten J. Paris dan pasukannya dari brigade 9 divisi 5 marsose mendapatkan tugas ke daerah yang berawa-rawa dekat kampung Krueng Leumbang ( ditepi sungai Kluet antara kampung Sapek dan kampung Drien ). Ketika itulah pasukan nya mendapat serangan mendadak dari pasukan panglima Raja Lela. Menurut cerita kapten Paris selain fasih berbahasa Aceh juga memiliki ilmu kebal ( Kebal Intan ). Sehingga setelah bertempur sehari semalam, Panglima Raja Lela berhasil mengetahui kelemahan kapten Paris. Dalam perkelahian satu lawan satu, panglima Raja Lela pun menewaskan Kapten J. Paris. Tetapi sungguh malang karena Panglima Raja Lela kemudian tewas ditembak oleh anak buah kapten J. Paris. Dalam pertempuran tersebut dipihak Belanda 18 orang serdadu tewas. Sedangkan di pihak pejuang Aceh sebanyak 21 orang meninggal sebagai syuhada.
Teuku Nago
Selain panglima Raja Lela, Teuku Nago juga merupakan salah satu panglima perang Teuku Cut Ali. Yang selalu setia menyertai kemana pun Teuku Cut Ali pergi. Pada tanggal 10 Agustus 1926, pasukan Belanda yang dipimpin oleh kapten Bahrens letnan W.A.M. Molenaar membuat kemah di perkarangan sekolah di kampung Teurbangan Rayeuk. Sebelumnya beberapa tahun yang lalu letnan Molenaar berhasil menembak Teuku Raja Angkasah hingga syahid di Seunubok Keuranji. Pada jam setengah empat pagi, pasukan Belanda yang berkemah dikampung Teurbangan Rayeuk di serbu oleh pasukan Teuku Nago. Kapten Bahrens yang bersenjatakan kelewang dan Molenaar tanpa bersenjata apa-apa keluar dari kemah mereka dalam keadaan gelap. Seorang anggota pasukan Teuku Nago berhasil menewaskan Molenaar dengan rencongnya dan melukai 3 orang marsose lainnya. Sedangkan dipihak Teuku Nago 3 orang pejuang gugur sebagai syuhada.
Pada tanggal 25 Mei 1927, terjadi pertempuran seru di pedalaman hutan Alu Burang, dalam pertempuran tersebut pasukan Belanda yang dipimpin oleh kapten Gosenson berhasil menewaskan Teuku Nago, pada waktu yang bersamaan gugur pula Teuku Cut Ali, dan Imum Sabi. Selain itu istri Teuku Cut Ali yang bernama Fatimah juga meninggal bersama pembantunya yang juga seorang wanita.
Imum Sabi
Pada tanggal 2 Mei 1927, Teuku Cut Ali memerintah kan Imum Sabi untuk melakukan penyerangan terhadap bivak Belanda yang berada di Meungamat yang ada di Kluet Utara. Pasukan Belanda yang membuat bivak pertahanan di lembah Meungamat dipimpin oleh letnan F. Harting. Pasukan Aceh yang menyerbu Belanda pada malam itu berkekuatan 44 orang. Tengah malam kira-kira jam setengah empat pagi pasukan Imum Sabi sudah mengepung bivak Belanda. Imum Sabi selanjutnya memerintahkan 7 orang anggotanya untuk menyusup lebih dulu kedalam bivak, tetapi sayang ketujuh pejuang tersebut gugur sebagai syuhada.
Pada malam itu komandan brigade letnan F. Harting terbangun karena dikejutkan oleh letusan karaben, ia berhasil mengelak ketika salah seorang anak buah Imum Sabi mengayunkan kelewang kepadanya. Hampir saja letnan Harting tewas sekira tidak ditolong oleh kopral Lumantouw dan marsose Wewengkang dari Ambon. Dari pihak Belanda menderita kerugian sebanyak 9 orang serdadu terluka parah. Sedangkan dari pihak pejuang Aceh 7 orang gugur sebagai syuhada. Dan tiga orang pejuang menderita luka tembak, termasuk Imum Sabi. Tetapi Imum Sabi dan pengikutnya berhasil meloloskan diri didalam kegelapan malam. Imum Sabi mendapatkan tembakan peluru di dada di atas jantung yang tembus kebelakang punggung. Tetapi dengan kekuasaan Allah SWT, Imum Sabi masih bisa bertahan. Luka nya kemudian di obati dengan bubur lumpur. Lobang peluru dibagian dadanya sudah sembuh, tetapi pada bagian belakang (punggung) belum sembuh. Ia lalu mengayam sebuah keranjang rotan kecil yang cocok untuk luka dipunggungnya, yang digantungnya dengan tali-tali rotan tipis.
Walaupun begitu keadaan lukanya, namun tidak pula menghambat perjuangan Imum Sabi bersama Teuku Cut Ali dan Teuku Nago untuk melawan Belanda. Sampai beliau kemudian menemui syahid di pedalaman hutan Alu Burang bersama Teuku Cut Ali dan Teuku Nago, setelah berperang dengan pasukan Belanda yang dipimpin kapten Gosenson pada tanggal 25 Mei 1927.
Teuku Cut Ali
Teuku Cut Ali diperkirakan lahir pada tahun 1885, menurut riwayat beliau berasal dari daerah Trumon (berdasarkan catatan Zentgraaff ). Ketika melakukan perlawanan di tahun 1926 diperkirakan beliau berumur sekitar 41 tahun. Dan ketika syahid di pedalaman hutan Alu Burang, usia Teuku Cut Ali sekitar 42 tahun. Seperti yang telah disebutkan diatas, Teuku Cut Ali dan Teuku Raja Angkasah adalah panglima perang dan rekan seperjuangan dari Teuku Ben Mahmud Blangpidie yang pada akhir perjuangan nya dibuang ke Ambon. Selain Teuku Cut Ali dan Teuku Raja Angkasah. Teuku Peukan Manggeng, Sidi Rajab dan Haji Yahya adalah rekan seperjuangan dari Teuku Ben Mahmud juga, bedanya Teuku Peukan Manggeng dan kedua temannya tersebut berjuang di daerah Barat Daya dan sekitarnya. Teuku Cut Ali pernah juga berdamai bersama Teuku Ben Mahmud pada tahun 1908.
Pada waktu kapten Veltman pindah dari Tapak Tuan, Teuku Cut Ali pulang ke Trumon. Tetapi nasib buruk menimpa dirinya. Pada suatu hari, Teuku Cut Ali diberi malu oleh uleebalang yang diangkat Belanda dihadapan umum mengenai suatu hal yang pernah dilakukannya dua puluh tahun yang lalu. Akibatnya dia pun mulai memberontak dan angkat senjata lagi. Maka bersahabatlah dia dengan Teuku Maulod dan setelah gugur Teuku Maulod akibat peluru anggota pasukan kapten Snell tanggal 20 Maret 1926 di kampung Krueng Batee, Teuku Cut Ali menjadi pemimpin perlawanan yang bersemangat.
Pada tanggal 7 Maret 1926 brigade divisi 4 dan 5 dengan kekuatan yang sangat besar bergerak ke Trumon. Pasukan ini dipimpin oleh kapten Snell, yang selanjutnya membagi pasukannya menjadi beberapa patroli. Patroli yang dipimpin oleh letnan A.K.V. Heerde memergoki pasukan Teuku Cut Ali di Alue Laton di pucok Bakongan, dalam pertempuran tersebut letnan Heerde mendapat tetakan dan luka di lututnya tetapi berhasil diselamatkan oleh sersan marsose Kaligis. Sedangkan satu orang marsose tewas. Sementara itu 5 keraben yang hilang berhasil direbut kembali. Di pihak Aceh 6 orang gugur sebagai syuhada. Pada waktu itu Teuku Cut Ali sakit dan harus mendapatkan perawatan di Krueng Batee selama beberapa waktu, sementara pasukannya kembali ke Trumon.
Beberapa hari kemudian tepatnya pada tanggal 15 April 1926, pasukan Teuku Cut Ali menyerang brigade marsose yang dipimpin oleh sersan Pontoh di Ujong Pulo Rayek. Dalam serangan tersebut 4 orang marsose mengalami luka parah dan 4 orang lainnya luka ringan. Sedangkan dipihak pejuang Aceh 11 orang gugur menjadi syuhada. Pada tanggal 18 Mei 1926 pasukan Teuku Cut Ali kembali melakukan penyerangan terhadap pasukan marsose Belanda yang dipimpin oleh letnan H.J.M. Klaar di kampung Leumbang. Dalam pertempuran tersebut letnan Klaar hampir tewas disabet kelawang pasukan Teuku Cut Ali, tetapi untungnya berhasil diselamatkan oleh marsose Sarewating. Dipihak Belanda tewas 2 orang dan 7 orang mengalami luka parah, sedangkan di pihak pejuang Aceh 6 orang gugur sebagai kusuma bangsa.
Dalam merekrut para pejuang, Teuku Cut Ali tidak hanya memilih pejuang yang muda-muda saja yang masih berdarah perang saja, tetapi juga merekrut para pejuang yang berpengalaman tempur walaupun sudah setengah baya. Suatu undang-undang yang tidak tertulis menentukan, bahwa seorang tokoh yang membentuk kelompok perjuangan harus melakukan percobaan dan seleksi agar memperoleh hasil yang memuaskan. Cut Ali tidak menginginkan pejuang amatir yang kali ini ikut bertempur tetapi lain kali memihak kompeni Belanda. Perjuangan dijalan Allah adalah sesuatu yang indah sekali, untuk mereka yang syahid akan memperoleh surga dan kehormatan yang tinggi sekali serta bidadari yang menunggu di pintu surga. Penduduk kampung yang tidak ikut bertempur juga turut membantu pasukan Teuku Cut Ali dengan memberikan bantuan sumbangan uang dan makanan. Ketika seseorang sudah menyatakan siap bertempur melawan Belanda maka dia harus memutuskan segala hubungannya dengan urusan keduniawian. Pada bulan Mei dan Juni 1926 banyak rakyat yang turut bergabung dengan perlawanan Teuku Cut Ali, meskipun setelah Teuku Cut Ali syahid, lebih-lebih para pemuda yang memiliki semangat tempur yang menyala. Dimana-mana selalu ada sekelompok pemuda yang bersenjatakan pedang dan kelewang menghadang brigade tentara Belanda. Menurut Zeentgraaff, Cut Ali adalah salah satu pahlawan yang dikagumi oleh pihak Belanda. Bahkan menurut sebuah kisah ada seorang kapten marsose Belanda yang mendirikan bivak di Ladang Rimba, begitu kecut dan takut setelah mendengar nama Cut Ali. Kapten yang pengecut itu tidak pernah melakukan patroli, bahkan untuk melindungi dirinya sang kapten membuat pagar berlapis tiga dengan barisan ranjau. Yang menjadi kenangan buruk bagi pihak Belanda.
Cut Ali menulis surat kepada sang kapten dan menantangnya supaya keluar dari bivak untuk berkelahi, surat-surat tersebut berulang kali dikirimkan dan sangat memalukan pihak Belanda. Seorang tentara marsose yang bernama Patilapessy pernah terlibat perkelahian satu lawan satu dengan pengikut Cut Ali. Tentara marsose tersebut mengayunkan pedangnya ke tubuh anggota pasukan Cut Ali. Tetapi dia kemudian tercengang dan terkejut karena pedang atau kelewang yang di ayunkannya tidak dapat melukai dan menembus tubuh pejuang tersebut.
Ketika letnan Molenaar tewas di Teurbangan akibat serangan pejuang yang dipimpin oleh Teuku Nago. Kapten Bahrens pun kembali ke pangkalannya dengan mengangkut mayat letnan Molenaar, maka tiba-tiba datang kepadanya seorang penduduk membawa surat Cut Ali yang didalamnya dikatakan oleh Teuku Cut Ali “saya berada disini bersama 80 orang, jika tuan tidak datang dengan paling sedikit 120 orang pasukan, lebih baik tuan tinggal dirumah saja” begitulah kira-kira isi surat itu. Pasukan Belanda nampaknya kurang senang dengan kapten Bahrens, dan Bahrens pun tidak menanggapi undangan tersebut.
Pada bulan Mei 1926, kapten Gosenson ditugaskan ke Bakongan dan ditempatkan kedalam pasukan yang dipimpin oleh kapten Bahrens yang juga menjabat sebagai komandan marsose Belanda di wilayah Kluet, Trumon di bagian selatan daerah Aceh. Kapten Gosenson kemudian berangkat ke Trumon dalam waktu yang cepat dia berhasil mendesak pasukan Teuku Cut Ali disana, selanjutnya Teuku Cut Ali dan sebagian pasukannya hijrah ke pedalaman Alu Burang yang ada di Kluet timur. Kapten Gosenson mendapatkan bantuan dari seorang penduduk yang berkhianat. Meskipun banyak pengikutnya yang menjadi syuhada ataupun ditangkap oleh Belanda. Namun Teuku Cut Ali tidak berkurang semangatnya didalam menggempur dan menyerang pasukan Belanda.
Penghujung bulan Mei kapten Gosenson memperoleh informasi dari mata-mata yang dikirimnya ke daerah Kandang Kluet utara. Seorang lelaki yang sedang menebang kayu di Kandang telah melihat sekelompok kecil orang-orang Aceh. Berita itu disampaikan nya jam 10 malam dan pada malam itu juga kapten Gosenson berangkat kedaerah itu sebelum jejak mereka hilang ( daerah yang dimaksudkan adalah Alu Burang ). Dini hari pasukan marsose telah berada di tempat orang melihat pasukan Teuku Cut Ali untuk terakhir kali, hujan yang sangat lebat baru saja turun dan Gosenson memerintahkan orang-orangnya supaya mereka meju secara perlahan-lahan, dengan harapan akan menemukan jejak atau petunjuk.
Dengan memberikan isyarat seraya meneliti jejak-jejak pada bahagian atas dan bawah alur-alur yang didalamnya masih terdapat bekas-bekas telapak kaki yang mulai memudar. Rupanya pasukan Teuku Cut Ali mencoba menyembunyikan jejak-jejak mereka yang sebenarnya dengan memalsukan jejak kaki dengan mendaki dan menuruni bukit-bukit, tetapi usaha ini tidak berhasil karena dijumpai lagi jejak dekat alur. Jejak-jejak itu berasal dari pasukan Teuku Cut Ali yang sengaja mereka tinggalkan untuk mencari perbekalan.
Jejak-jejak tersebut terus diikuti dan pada jam 12 tengah hari dijumpailah di dalam hutan sebuah pondok tempat perhentian ( istrirahat ) pasukan Teuku Cut Ali. Pasukan marsose sangat gembira, terutama karena bekas-bekasnya masih baru sekali. Itu berarti pasukan Teuku Cut Ali belum berapa jauh meninggalkan tempat itu. Sorenya dijumpai lagi tempat perhentian seperti itu dan pengejaran terus dilakukan sampai malam hari, marsose kemudian membuat bivak dibawah beberapa helai tenda. Kepada anggota pasukan, kapten Gosenson mengizinkan untuk memasak sedikit karena malam gelap sekali sehingga tidak akan terlihat kepulan asapnya di udara.
Keesokan harinya pengejaran dilanjutkan kembali dan lebih jauh lagi memasuki pedalam hutan. Tiba-tiba dari semak-semak sebuah ketinggian terlihatlah kebawah sebuah pemandangan indah tempat mengalir dua buah alur bersama dua buah pondok darurat. Untuk sampai kesana harus didaki lagi sebuah bukit yang curam, tetapi untuk ini harus ditunda sebentar sampai Gosenson menceritakan kepada anggota pasukannya secara terperinci tentang penyelesaian rencana selanjutnya.
Dengan hati-hati sekali diteliti semak-semak untuk mengetahui keadaan di pondok itu, dalam sebuah pondok terdapat seorang laki-laki dan wanita, dalam pondok lain tidak terlihat apa-apa. Cepat-cepat pasukan marsose menuruni lereng bukit, sehingga pada kedua sisi pondok tersebut terdapat beberapa orang marsose. Waktu menurun, sebuah batu terlepas dari tanah dan jatuh kedalam alur. Pada saat itu lah lelaki yang berada didalam pondok itu terkejut, dan segeralah pasukan marsose maju seraya melepaskan tembakan ke pasukan Teuku Cut Ali yang dapat dilihat. Kejadian itu hanya berlangsung dalam beberapa menit saja.
Kapten Gosenson turun kedalam alur untuk melihat kalau-kalau masih ada pasukan Teuku Cut Ali disana. Tanpa melihatnya, Gosenson melontasi seorang lawan yang menderita luka parah sedang bersembunyi dibelakang sebatang pohon kayu. Anggota pasukan Teuku Cut Ali yang terluka itu melihat sang perwira dan segera ia mengenal sebuah luka parut yang besar melintang dimukanya. Akan tetapi ketika ia akan mengayunkan kelewang dengan menggunakan semua tenaga terakhir yang ada padanya, seorang marsose berteriak kepada Gosenson: “ Tuan, awas ada orang dibelakang!” penyerang yang mengayunkan kelewangnya kearah Gosenson tersungkur ketanah dengan sebuah tembakan didadanya.
Setelah itu selesailah penyerangan itu: enam mayat terbaring ditanah, diantaranya dua wanita yang diangkat dari dalam air kedarat. Kapten Gosenson yakin diantara mayat itu ada mayat Teuku Cut Ali, apalagi diantara yang syahid itu terdapat Imum Sabi yang masih juga menggantungkan keranjang rotan kecil pada lobang luka dibelakangnya. Disamping itu pada tubuhnya didapati “ rencong pusaka”. Rencong itu besar bentuknya dan memakai gagang khusus. Juga terdapat mayat seorang lelaki yang diperkirakan sebagai Teuku Nago. Kedua wanita yang tewas itu diantara nya adalah istri Teuku Cut Ali yang bernama Fatimah dan seorang pembantunya. Disamping mayat-mayat itu bertengger seekor ayam betina dan seekor beruk kecil, binatang-binatang itu merupakan benda-benda bertuah milik Teuku Cut Ali dan istrinya.
Setelah itu pasukan marsose segera kembali kesalah satu kampung yang terdekat dengan membawa semua senjata milik pasukan Teuku Cut Ali yang syahid. Anggota-anggota marsose menangkap ayam dan membiarkan beruk yang berdiri didekat sebatang kayu. Tetapi beberapa menit kemudian binatang itu menghilang mencari kembali mayat tuannya. Senjata-senjata yang dibawa oleh pasukan marsose, diperlihatkan kepada penduduk kampung terdekat yang dicapai pada keesokan harinya dan setiap penduduk menerangkan, bahwa diantara senjata itu terdapat milik Teuku Cut Ali. Kapten Gosenson belum lagi senang dengan pernyataan ini. Penduduk kampung Kluet dan Meungamat yang semuanya berjumblah 110 orang diperintahkannya untuk pergi ketempat terjadinya pertempuran itu untuk mengenali mayat-mayat dan kemudian menguburkannya.
Begitulah lebih kurang 100 orang penduduk menuju ketempat itu. Dan lagi-lagi diperlukan sehari lamanya untuk sampai kesana, ditempat itu kemudian marsose mendirikan bivak. Lalu mengangkut mayat Teuku Cut Ali, diatas mayat itu bertengger seekor beruk kecil. Binatang ini pun kemudian dibawa kekampung dan diserahkan kepada pasukan marsose yang memperoleh ayam. Menurut cerita, kapten Gosenson kemudian memenggal kepala Teuku Cut Ali dan mengarak nya keliling kampung. Selanjutnya kepala Teuku Cut Ali dimakamkan di tepi sungai Kandang desa Suak Bakong Kandang Kluet Selatan. Begitulah Teuku Cut Ali gugur sebagai seorang yang syahid tanggal 25 Mei 1927. tubuh Teuku Cut Ali dimakam kan langsung di Alu Burang, sesuai dengan pengertian orang Aceh yang terhadap seorang yang syahid. Pasukan marsose dan penduduk menggali kuburan dan menulis nama Teuku Cut Ali pad batu nisannya ( pada batu nisan itu tertulis: “ Tjoet Ali gesneuveld 25 Mei 1927= Cut Ali tewas tanggal 25 Mei 1927 ).
Dalam pikiran orang-orang Aceh yang melihat pusara itu, pastilah timbul sesuatu yang tidak menyenangkan bagi pihak Belanda. Pusara itu tidak akan menjadi penghalang bagi pejuang Aceh untuk memulai lagi pertempuran esok harinya. Namun keadaan itu telah memberi pengalaman, bahwa kaphe Belanda bersama Marsose-marsosenya mengetahui apa yang menjadi hak seseorang yang mati syahid. Dan kompeni selalu ada dimana-mana.
Syahidnya Teuku Cut Ali dirimba Alu Burang tidak menyurutkan semangat pejuang Aceh yang lain untuk terus melakukan serangan terhadap pos atau bivak marsose Belanda yang ada diseluruh Aceh Selatan. Seperti pada Pada tanggal 11 Juni 1927 sisa pasukan Teuku Cut Ali menyerang bivak yang ada di Ladang Rimba. Hal ini membuktikan bahwa perlawanan terhadap marsose Belanda di pesisir pantai selatan tidak pernah mengendur. Pada tanggal 12 Juli 1927 pasukan Teuku Cut Ali kembali menyerang patroli marsose Belanda yang dipimpin oleh letnan P.W.O. Screuders di dekat kampung Ie Mirah, dalam penyerangan tersebut 1 orang pasukan marsose tewas dan 3 orang luka parah. Sedangkan di pihak pejuang Aceh, 9 orang gugur sebagai syuhada. Begitulah pasukan Teuku Cut Ali tidak jera-jera terus menyerang tentara marsose Belanda, sampai mereka angkat kaki dari tanah Serambi Mekkah ini. Dan hingga sekarangpun orang-orang yang kini sudah lanjut usianya masih menceritakan kisah Teuku Cut Ali dengan perasaan penuh hormat.
Sekarang Teuku Cut Ali beristirahat untuk selama-lamanya di pedalaman Alu Burang. Dipucuk-pucuk pohon yang rindang berhembus angin dengan damai, menidurkan Teuku Cut Ali tenang dalam pelukan rimba Kluet tercinta. Tanpa terasa sekarang sudah 80 tahun lamanya Teuku Cut Ali gugur di pedalaman hutan Alue Burang, yang meninggalkan kesan indah dan menjadi kebanggaan masyarakat Aceh selatan
by : Lila Banguna dikutip dari ababil.org
PROMOSI DAN PERKEMBANGAN KARIR
Apakah anda termasuk orang yang selalu mengaitkan perkembangan karir dengan promosi? Atau melihat promosi sama dan sebangun dengan perkembangan karir? Berapa banyak kita mendengar keluhan bahwa karir saya mandeg, tidak bergerak dan tidak prospektif karena sudah begitu lama tidak promosi? Kita juga mungkin pernah mendengar mereka yang sudah bekerja diberbagai posisi, kewenangannya sudah bertambah, kesejahteraannya sudah bertambah, namun merasa karirnya belum berkembang semata-mata karena mereka belum naik pangkat atau naik jabatan.
Apa makna karir sesungguhnya? Apa pula makna perkembangan karir? Dan apa pula yang dimaksud dengan promosi? Mari kita lihat pendapat George T. Milkovich dan John W. Boudreau dalam bukunya Human Resource Management yang sering dijadikan rujukan dalam manajemen SDM, sebagai berikut :
“A career is the evolving sequence of a person’s work experiences over time.”
“Career development encompasses Career Management and Career Planning. Career planning is the process individual employees identify and implement steps to attain career goals. Career management is the process through which organizations select, assess, assign, and develop employees to provide a pool of qualified people to meet future needs.”
Istilah promosi sendiri kurang begitu digunakan dalam kajian manajemen SDM. Istilah ini lebih sering digunakan dalam konteks marketing. Namun, promosi dalam kaitan manajemen SDM secara umum dapat diartikan sebagai suatu pergerakan karir secara vertikal dan dapat dikatakan pula sebagai naik pangkat atau naik jabatan. Dalam kenyataannya pergerakan karir tidak harus selalu secara vertikal bisa pula secara horisontal.
Kembali ke pertanyaan sebelumnya apakah seseorang yang tidak promosi berarti karirnya tidak berkembang? Padahal ia sudah mendapat beberapa kali penugasan, kewenangan dan kompetensinya bertambah atau kesejahteraannya sudah bertambah?
Jika kita mencermati arti tentang karir diatas yaitu meliputi seluruh pengalaman kerja yang dilalui oleh seorang individu dalam suatu kurun waktu dan kemudian melihat pengertian tentang pengembangan karir bahwa karir berkembang terkait dengan semakin bertambahnya kemampuan seseorang dalam bekerja agar senantiasa sesuai dengan tuntutan pekerjaannya, maka promosi bukanlah satu-satunya indikasi untuk menilai bahwa karir sesorang berkembang.
Karir dapat dikatakan berkembang apabila kemampuan seseorang semakin meningkat, kewenangan meningkat, kesejahteraan meningkat dan yang paling penting nilai (value seseorang meningkat). Karir tidak bisa dikatakan tidak berkembang karena semata-mata anda tidak promosi, padahal dalam hal lain anda sudah berkembang. Anda baru dapat dikatakan mengalami kemandegan karir apabila kemampuan tidak meningkat, kewenangan tidak bertambah, tidak semakin sejahtera dan diri anda tidak mengalami peningkatan nilai.
Jika promosi dalam pengertian naik pangkat atau naik jabatan adalah satu-satunya indikator dalam perkembangan karir maka hal itu tidak sejalan dengan pemahaman pengembangan karir diatas. Bukankah organisasi itu umumnya bersifat piramida? Semakin keatas posisi semakin terbatas? Tidak mungkin semua yang ada dibawah naik semuanya keatas. Hanya sebagian kecil orang yang dapat meniti karirnya sampai dengan puncak piramida. Apakah mereka yang tidak mencapai puncak piramida dikatakan mengalami kegagalan dalam karir? Tentu tidak, karena hal ini menyalahi logika kehidupan organisasi. Mereka pun dapat berkembang karirnya tanpa harus mencapai puncak piramida. Mereka dapat dikatakan berkembang karirnya apabila mendapat berbagai kesempatan menjalani bidang penugasan atau mendapat pengayaan pengalaman kerja. Mereka dapat pula meningkat karirnya apabila kompetensi bertambah apakah penambahan dalam hal pengetahuan, keterampilan atau kemampuan “soft skill” nya. Karir juga dapat dikatakan berkembang apabila dalam bekerja anda semakin dihargai dengan semakin meningkatnya kesejahteraan anda.
Hal yang paling penting untuk tidak dilupakan adalah karir dapat juga dikatakan berkembang apabila anda mengalami peningkatan nilai. Ini adalah suatu kondisi yang lebih substansial, menyangkut aspek psikologis yang lebih mendalam. Hal ini bisa meliputi aspek kepuasan, engagement, connected dengan lingkungan kerja anda, kebanggaan akan organisasi dan status anda, dan suatu kondisi kebahagiaan yang tinggi apabila anda memperoleh kesempatan untuk berkontribusi secara optimal terhadap lingkungan kerja anda.
Jadi sudah saatnya kita merevisi pemahaman kita tentang promosi adalah satu-satunya indikator perkembangan karir. Karir anda dapat berkembang tanpa harus promosi. Meningkatnya kompetensi anda, bertambahnya pengalam kerja anda, meluasnya wewenang, semakin sejahtera dan semakin bernilai merupakan indikator lainnya bahwa karir anda pun sudah berkembang.
Menutup tulisan ini layak kita kutip ucapan dari Sally Hogshead seorang konsultan karir :
“You always have the power to reinvent your career. But with that power comes a significant responsibility : being accountable for your own success.”
Senin, 03 Januari 2011
THE MIND
The mind never need stop growing. Indeed, one of the few experiences which never pall is the experience of wacthing one’s own mind and how it produces new interest, responds to new stimuli, and develops new thoughts, apparently without effort and almost independently of one’s own conscious control.
(Gilbert Highet, Scottish-born American Classicist, 1906-1978)
Jumat, 31 Desember 2010
EVALUASI DIRI & MENYAMBUT KEHIDUPAN BARU
Berpikir tentang masa lalu sesungguhnya juga merupakan bagian yang penting untuk merancang masa depan. Uniknya, masa lalu tidak dapat diputar kembali seperti kaset atau CD. Waktu terus berjalan kedepan, entahlah jika suatu saat ditemukan time tunnel machine kita mungkin akan dapat bergerak ke masa lalu.
Hal terpenting dalam membicarakan waktu adalah pengalaman kita mengisi ruang-ruang diantaranya. Pengalaman tersebut bisa berupa kontribusi, aktivitas positif atau negatif, peran apresiatif atau destruktif bahkan bisa pula kita seorang yang a nothing person. Begitu waktu itu terlewati maka seluruh hal tadi menjadi catatan hidup yang tidak mungkin terhapus begitu saja, ia akan mewarnai, mempengaruhi dan memandu jalan kehidupan kita berikutnya.
John Henry Newman seorang theologist mengatakan "to live is to change, and to be perfect is to have changed often." Hidup yang baik itu memerlukan perubahan dan untuk semakin sempurna maka kita pun harus sering berubah. Pertanyaannya sejauh mana kita telah melakukan perubahan di tahun 2010? dan perubahan apa yang akan kita lakukan pada tahun 2011?
Johann Wolfgang von Goethe seorang pengarang Jerman menegaskan dengan mengatakan "we must always change, renew, rejuvenate ourselves; otherwise we harden." Wolfgang menegaskan kita harus berubah memperbaharui diri terus menerus jika tidak maka kita akan beku dan mati. Perubahan dan pembaharuan adalah kata kunci disini. Kemajuan hanya didapat melalui perubahan dan pembaharuan.
Dalam melakukan evaluasi diri maka ketiga hal tersebut menjadi kunci penilaian diri kita di tahun 2010. Yaitu apa yang berubah dalam diri kita, apa yang sudah kita perbaharui dan kemajuan apa yang sudah kita peroleh. Demikian pula untuk menyambut kehidupan baru di tahun 2011 apa yang kita ubah, apa yang ingin kita perbaharui dan kemajuan apa yang ingin kita capai.
Seorang pemuda yang baru menyelesaikan pendidikan tingginya melihat pada tahun 2010 ia telah berubah dari seorang mahasiswa menjadi sarjana, kompetensinya telah diperbaharui dan ia pun mengalami kemajuan dengan menguasai suatu disiplin ilmu tertentu. Kemudian ia merencanakan pada tahun 2011 untuk berubah menjadi sosok yang lebih mandiri, ia ingin menambah suatu kompetensi dengan mengikuti pelatihan tertentu dan ia ingin mendapat kemajuan dengan menjadi karyawan di salah satu perusaahaan terkemuka. Secara sederhana pemuda ini telah melakukan evaluasi diri dan merencanakan kehidupannya di tahun 2011.
Evaluasi dan perencanaan ini tidak hanya dapat dilakukan secara pribadi, hal inipun dapat dilakukan dalam keluarga, korporat, masyarakat dan bangsa/negara. Keluarga pun dapat melakukan evaluasi diri dengan berdiskusi bersama anggota keluarga untuk melihat pencapaian apa yang telah terjadi pada 2010 dan apa yang ingin diraih pada tahun 2011. Demikian pula dengan bangsa dan negara yang tentunya tanggung jawab utama ada di penyelenggara pemerintahan untuk mengevaluasi pencapaian apa yang telah diraih di tahun 2010 dan apa yang ingin diraih pada tahun 2011.
Beberapa pertanyaan dapat kita ajukan untuk mengevaluasi dan menyambut kehidupan baru :
1. Identifikasi perubahan, pembaharuan dan kemajuan apa yang telah kita capai di tahun 2010 dan bagaimana pada tahun 2011?
2. Menurut kita apakah pencapaian 2010 lebih baik atau tidak dibandingkan dengan 2009 dan analisa sebab-sebabnya.
3. Jika ada hal yang dianggap gagal maka kita harus memeriksa apakah tujuannya realistis? apakah metodanya tepat? apakah sumber dayanya mencukupi? atau ada hal -hal yang bersifat force mejeur? Dan bagaimana cara kita mengatasinya pada tahun 2011?
4. Jika 2010 kita anggap berhasif identifikasi faktor apa yang sangat berperan terhadap keberhasilan tersebut. Hal ini akan manfaat untuk mengulangi kesuksesan di tahun 2011. Meskipun demikian kita harus menyadari mungkin saja berkembang dinamika baru yang sifatnya berbeda antara satu tahun dengan tahun lainnya.
5. Jangan lupa untuk melakukan komparasi, benchmark antar individu, organisasi atau lembaga untuk melihat kita berada di posisi mana, agar kita dapat membuat perencanaan yang lebih kompetitif di tahun 2011.
Tentu sebagai makhluk Tuhan kita pun harus senantiasa bersyukur terhadap apa pun yang telah kita capai. Namun, disamping itu untuk meraih sesuatu yang lebih baik kita pun jangan cepat berpuas diri. Kita harus senantiasa tumbuh dan berkembang agar eksistensi kita lebih bermakna dalam kehidupan ini.
Menutup tulisan ini, sebuah pepatah dari bangsa Palestina layak kita renungi, sebagai berikut :
"who is not satisfied with himself will grow; who is not so sure of his own correctnes will learn many things."
SELAMAT TAHUN BARU 2011 SEMOGA KESUKSESAN SENANTIASA MENYERTAI KITA SEKALIAN .....
Minggu, 28 November 2010
HUMAN CAPITAL
and it will stay where it is well treated.
It cannot be driven: it can only be attracted.
(Walter Wriston - Former Chairman Citicorp/Citibank)
Minggu, 21 November 2010
ANALISA TRAFIK BLOG HABAHATE
Beberapa komunikasi interaktif antara penulis dan pembaca terjadi, baik dalam bentuk konsultasi, bertukar pikiran bahkan konseling terlaksana berkat blog ini. Hal ini dilakukan memalui email, chatting dan sms kepada penulis.
Sampai dengan posisi 21 November urutan jumlah artikel yang paling banyak dibaca adalah sebagai berikut :
1. Apakah Sila ke-4 Pancasila masih dijadikan Pedoman : 503 pembaca.
2. Membuat Wawancara Terstruktur : 271 pembaca
3. Kepribadian Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) : 158 pembaca
4. Transformasi Organisasi : 148 pembaca
5. Perencanaan Karir : 101 pembaca
6. Pemetaan Karyawan dalam Perspektif Human Capital : 96 pembaca
7. Memahami dan menyehatkan Iklim kerja : 65 pembaca
8. Penggunaan Asosiasi Bebas untuk Memahami Kepribadian : 62 pembaca
9. Tugas Seorang Pemimpin : 52 pembaca
10. Manusia Makhluk Paling Perusak : 44 pembaca.
Jika mengamati jumlah artikel yang paling banyak dibaca, isu Pancasila tampaknya masih cukup menarik. Terutama dikaitkan dengan Sila ke-4 yang berbicara tentang demokrasi dalam konteks kerakyatan dan pemusyawaratan. Mengingat dalam kehidupan politik saat ini, pemilihan langsung terutama Pilkada sangat menguras energi, biaya, waktu terlebih-lebih banyaknya terjadi konflik yang disertai kekerasan dan berdampak pada disharmonisasi sosial. Dalam situasi seperti ini kita perlu menghayati kembali bagaimana pemaknaan terhadap Sila ke-4 tersebut dan tentunya bagaimana implementasi dalam sistem demokrasi.
Berikutnya artikel yang menarik adalah tentang figur Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memiliki tempat tersendiri dihati para pembaca blog Habahate. Tulisan tentang analisa kepribadiaannya cukup menarik untuk dibaca. Tidak heran SBY adalah figur penting saat ini sehingga mengundang pembaca untuk mengetahui sosoknya secara lebih mendalam terutama kepribadiannya. Kesuksesannya memenangkan Pemilihan Presiden menginspirasi banyak orang, sehingga perlu dipelajari bagaimana profil kepribadiannya sebagai sosok seorang yang sukses.
Selanjutnya yang menarik adalah topik-topik yang berkaitan dengan Manajemen SDM dan Psikologi cukup mewarnai artikel yang dipilih oleh para pembaca. Seperti Membuat Wawancara Terstruktur, Transformasi Organisasi dan Perencanaan Karir.
Penulis ingin sekali memperbaharui tulisan diblog ini setiap saat. Namun, keterbatasan waktu menjadi kendala. Sehingga tidak setiap hari artikel blog ini dapat diperbaharui. Mudah-mudahan ke depan blog ini senantiasa bermanfaat bagi pembaca. Untuk itu diperlukan masukan dan saran-saran konstruktif dari pembaca agar blog ini akan semakin meningkat kualitasnya dan sesuai dengan harapan kita semua.
BODY LANGUAGE

Pada saat kita melakukan komunikasi tatap muka, menurut seorang ahli psikologi Judi James, kata-kata anda akan berdampak 7%, nada bicara 38% dan sisanya isyarat non verbal memiliki efek terbesar yaitu 55%. Jadi saat berinteraksi komunikasi memiliki peran yang besar, sedangkan dalam berkomunikasi faktor tubuh anda atau isyarat nonverbal mendominasi hasil dari sebuah interaksi. Faktor tubuh ini sering disebut dengan bahasa tubuh atau Body Language (BL).
Apa yang dimaksudkan dengan Body Language (BL)? Menurut Arthur S. Reber & Emily Reber BL adalah "the complex system whereby information about feelings and emotions is communicated through non-verbal channels involving gestures, body position, facial expressions and other paralinguistic devices."
Jadi pada saat anda berinteraksi dan berkomunikasi maka bahasa tubuh anda adalah faktor terpenting yang perlu diperhatikan agar mamupu membangun relasi yang baik dan menghasilkan apa yang diharapkan. Bahasa tubuh disini meliputi sebuah sistem yang kompleks tentang perasaan dan emosi, dimana hal ini disampaikan melalui isyarat non-vernal seperti gerakan, posisi tubuh, ekpresi wajah dan berbagai isyarat lain diluar bahasa verbal.
Banyak para pemimpin besar adalah seorang orator ulung dan juga berarti seorang komunikator ulung. Disamping kepandaian mereka menggunakan bahasa, memainkan nada bicara, maka faktor gerakan tubuh turut menentukan kualitas orasi dan komunikasi mereka.
Menurut Psikolog Judi James dalam bukunya Body Language agar bahasa tubuh harmonis dan dapat mendukung tujuan komunikasi secara efektif disarankan melakukan hal-hal sebagai berikut, yaitu :
1. Fokus pada sasaran ketika anda berbicara.
Untuk meningkatkan kemampuan komunikasi tidak ada salahnya mencoba merekam suara anda. Amati bagaimana naik turunnya nada suara, tempo suara dan tekanan-tekanan suara. Apakah sudah terdengar serasi atau perlu diperbaiki. Demikian pula berlatih berbicara didepan cermin dapat memberikan umpan balik terhadap harmonisasi gerakan tubuh anda saat berbicara. Selain itu dapat juga meminta bantuan orang lain untuk memberikan masukan tentang gaya anda berbicara. Jika diperlukan tidak ada salahnya meminta bantuan para ahli untuk meningkatkan kualitas komunikasi anda. Para Calon Presiden Amerika melakukan hal ini, anda pun bisa melakukannya tanpa perlu harus menjadi Calon Presiden Amerika tentunya.