Jumat, 23 April 2010

PRINSIP-PRINSIP KEMAJUAN

Mengapa sebuah bangsa bisa jauh lebih maju dibandingkan dengan bangsa lainnya? Demikian pula dengan masyarakat, keluarga maupun individu mengapa ada yang bisa lebih maju atau pun berhasil dibandingkan dengan yang lainnya? Pertanyaan ini sering mengusik benak kita, mengapa ada yang lebih sukses dibandingkan dengan yang lainnya?

Dari hasil observasi, penelaahan dan pendapat dari berbagai tokoh besar yang berhasil sukses, setidaknya menurut penilaian sebagian orang, maka ditemukan prinsip-prinsip kemajuan sebagai berikut :

1. Adanya visi jangka panjang terhadap apa yang ingin dicapai.
2. Adanya misi yang mendukung pencapaian visi tersebut.
3. Investasi terhadap sumber daya manusia yang besar berupa pendidikan dan pengembangan kompetensi.
4. Kemampuan untuk bertindak efisien dan efektif.
5. Jeli dalam melihat prioritas apa yang harus dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kepentingan (importancy) dan kesegeraan (urgency).
6. Membuat target, perencanaan, program yang realistis sekaligus menantang.
7. Senantiasa melakukan evaluasi terhadap program yang dilakukan dan melakukan perbaikan/peningkatan yang berkelanjutan (continous improvement).
8. Adanya "leadership" untuk memastikan ketujuh hal tersebut berjalan dengan baik.

Kedelapan hal diatas umumnya dilakukan oleh mereka yang dianggap maju dan berhasil, apakah itu sebuah bangsa, negara, masyarakat, keluarga maupun individu. Disamping kedelapan prinsip kemajuan diatas, dalam konteks negara dikenal pula dengan Human Development Index (HDI). Biasanya kemajuan sebuah negara dapat pula dilihat dari pencapaian Human Development Index (HDI).

Menurut Wikipedia HDI adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

Indeks ini pada 1990 dikembangkan oleh pemenang nobel india Amartya Sen dan Mahbub ul Haq seorang ekonom pakistan dibantu oleh Gustav Ranis dari Yale University dan Lord Meghnad Desai dari London School of Economics dan sejak itu dipakai oleh Program pembangunan PBB pada laporan IPM tahunannya. Digambarkan sebagai "pengukuran vulgar" oleh Amartya Sen karena batasannya, indeks ini lebih fokus pada hal-hal yang lebih sensitif dan berguna daripada hanya sekedar pendapatan perkapita yang selama ini digunakan. Indeks ini juga berguna sebagai jembatan bagi peneliti yang serius untuk mengetahui hal-hal yang lebih terinci dalam membuat laporan pembangunan manusianya.

IPM mengukur pencapaian rata-rata sebuah negara dalam 3 dimensi dasar pembangunan manusia:

• hidup yang sehat dan panjang umur yang diukur dengan harapan hidup saat kelahiran
• Pengetahuan yang diukur dengan angka tingkat baca tulis pada orang dewasa (bobotnya dua per tiga) dan kombinasi pendidikan dasar , menengah , atas gross enrollment ratio (bobot satu per tiga).
• standard kehidupan yang layak diukur dengan logaritma natural dari produk domestik bruto per kapita dalam paritasi daya beli.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip kemajuan tersebut, termasuk memperhatikan human development index diharapkan menjadi modal untuk meraih keberhasilan hidup, selebihnya keberuntungan dan nasib baik pun turut mempengaruhi kesuksesan hidup. Keberuntungan dan nasib baik adalah domain Yang Maha Kuasa, untuk itu kehidupan spiritual dan berdoa perlu pula dilakukan untuk mendukung semua usaha yang dilakukan.

Rabu, 21 April 2010

A- VERSUS B- LEVEL LEADERS

A- Level Leaders

A- level leaders continually focus on leveraging the firm’s competitive advantage by increasing value to customers and creating wealth for investors. Employees, especially those in strategic roles, are clearly aware of the firm’s strategy for winning in the marketplace. Work is constantly revised to find ways to add more strategic value to customers and to eleminate work (and bureaucracy) that no longer adds value. A- level leaders identify roles that add strategic value and demand they be filled by the best talent available in the labor market and will not settle for less than the best. Performance expectations are clear and consistently raised, employee performance is continually inspected againts these expectations and specific feedback is provided. Reward are disproportionate, reflecting the strategic contribution/performance of the employee. Considerable time is devoted to developing the strategic workforce to coaching, rotations and external training programs. Leaders are evaluated on their leadership capability based on a 90- degree instrument (i.e., from director reports) that assesses how strategically they manage their workforce.

B- Level Leaders

B- level leaders maintain the status quo rather than change. They focus the workforce internally, primarily on today’s work. Work is based on job description (how it was done in the past), rather than future value added to customers. Once created, few positions and little work are eliminated. The objectives of selecting employees is to fill the position, often based on political considerations, not rigorously seeking the best candidate (either inside or outside the firm). Performance expectations are often unclear (or based on job descriptions), and little feedback is provided during the performance period. There is little variance in performance ratings and many employees are highly rated. Rewards are about the same for everyone, irrespective of actual performance. Most “merit” variance can be explained by the employee’s base pay, rather than performance. Development is driven more by convenience, rather than by design, with many high potential candidates identified, regardlessof their strategic role in the firm. Manager’s competencies are assessed, in part, using a 360-degree instrument (often purchased from a consulting firm), where the manager often selects who provides the data. The 360-degree instruments are developmental-only tools, with the results provided only to the manager profiled.

(Source : The Differentiated Workforce by Brian E. Becker; Mark A. Huselid; Richard W. Beatty).

Minggu, 18 April 2010

ADAM MASIH DI SURGA

Seorang wanita berceramah dihadapan kaum pria & wanita. Setelah memuji-muji peranan dan jasa kaum wanita terhadap pria, ia berkata : "Coba Bapak-Bapak pikirkan , bagaimanakah kiranya nasib pria kalau tidak ada kaum wanita?"

Dengan tenang seorang pria menjawab : "Tentunya, Adam masih berada di surga."

HR TRANSFORMATION

Transformation atau transformasi adalah sebuah isu yang senantiasa up-to-date untuk diulas. Transformasi pada hakikatnya sangat terkait dengan perubahan. Perubahan adalah sesuatu yang pasti ada selama kehidupan ini masih berjalan. Banyak hal yang mengalami transformasi seperti budaya, masyarakat, organisasi, bangsa, negara, komunitas dan sebagainya. Dalam berbagai aspek transformasi, manusia menjadi titik sentralnya. Manusia sebagai motivator, penggerak, pengelola, subyek dan bahkan sebagai tujuan utama transformasi itu sendiri.

Namun, disamping berbagai aspek transformasi yang ada, maka dikenal pula HR Transformation, transformasi SDM, transformasi manusia. Jika pada aspek lainnya, manusia menjadi bagian dari transformasi yang lebih besar, maka HR Transformation menyangkut perubahan internal dalam aspek SDM itu sendiri. Jika dalam organisasi, maka HR Transformation adalah transformasi yang terjadi dalam lingkup HR itu sendiri termasuk Departemen HR.

Dave Ulrich, seorang pakar SDM terkemuka bersama sejumlah rekannya mencoba merumuskan HR Transformation dengan pendekatan “building human resources from the outside.” Pendekatan ini menekankan bagaimana melakukan transformasi SDM dengan melihat konteks SDM dan lingkungan eksternalnya, kemudian melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap kondisi internalnya.

Model untuk transformasi HR menurut Dave Ulrich adalah dengan mengajukan empat pertanyaan, yaitu :

1. Why
2. What
3. How
4. Who

Keempat pertanyaan tersebut menjadi dasar dalam merumuskan transformasi HR. Pertanyaan WHY berkaitan dengan BUSINESS CONTEXT. Pertanyaan WHAT berkaitan dengan OUTCOMES yang ingin dicapai dengan melakukan transformasi. Pertanyaan HOW berkaitan dengan bagaimana melakukan HR REDESIGN. Sedangkan pertanyaan WHO berkaitan dengan inti peran HR itu sendiri, yaitu HR ACCOUNTABILITY.

Terkait dengan empat pertanyaan diatas, Model Transformasi HR dilakukan melalui empat tahap, sebagai berikut :

Tahap-1 : Mempolakan konteks bisnis, ini menjadi alasan utama mengapa transformasi harus dilakukan. HR harus memiliki alasan yang jelas tentang mengapa transformasi harus dilakukan berdasarkan konteks bisnis yang ada. Hal ini menuntut pemahaman yang seksama tentang situasi bisnis dan bagaimana kita harus merancang suatu perubahan untuk menyesuaikan terhadap perkembangan yang terjadi.

Tahap-2 : Merumuskan outcome yang ingin dicapai. Hasil atau target apa saja yang harus diraih agar transformasi ini memiliki makna yang signifikan. Pada intinya tahap ini harus ditegaskan bahwa HR sebagai modal intangible untuk mendukung organisasi tetap eksis.

Tahap-3 : Melakukan perancangan ulang HR. Hal ini berkaitan dengan melakukan perubahan strategi pengelolaan HR, menyesuaikan kembali program-program HR dan yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan penyesuaian orang-orang yang ada dalam organisasi. Hal ini menyangkut perubahan HR dalam hal departement, people dan practises.

Tahap-4 : Melibatkan Line Manager dan pihak terkait lainnya untuk secara sinergis mendukung transformasi HR. Pada tahap ini sangat penting untuk melakukan ”transferring ownership” dari line management untuk mendukung strategi HR dalam melakukan transformasi dan meraih tujuan perubahan yang diharapkan.

Kesuksesan transformasi HR sangat ditentukan oleh bagaimana seluruh stakeholder HR mampu memberikan peran yang signifikan. Setidaknya ada enam stakeholder yang terlibat disini, yaitu :

1. Employees
2. Leaders
3. Customers
4. Regulators
5. Analysts/Investors
6. Community

Employees, harus senantiasa meningkatkan kompetensi untuk sekarang maupun untuk tuntutan pekerjaan dimasa depan. Harus memiliki keterikatan yang kuat dengan organisasi dan memiliki komitmen mendukung transformasi. Berorientasi pada produktivitas yang tinggi dan senantiasa terlibat aktif dalam proses perubahan.

Leaders, harus fokus pada pengelolaan talent dan memberikan dukungan untuk pemanfaatan talent secara optimal. Mampu mengidentifikasi kebutuhan organisasi dan menemukan kapabilitas yang tepat untuk memenuhi kebutuhan organisasi. Mampu menjabarkan strategi secara tepat dan membuat strategi tersebut dapat berjalan dengan baik. Hal penting pula adalah mampu menunjukkan kompetensi sebagai seorang leader.

Customers, diharapkan dapat memberikan umpan balik yang konstrukstif untuk mendukung susksesnya tranformasi HR. Keberhasilan transformasi HR ditandai pula dengan meningkatnya loyalitas dan kepuasan pelanggan.

Regulators, diharapkan memberikan dukungan dan meyakini tentang perlunya transformasi HR. Memberikan opini yang positif terhadap tuntutan transformasi yang ada. Melakukan masukan yang positif terhadap keselarasan transformasi dengan berbagai peraturan yang ada.

Analysts/Investors : Percaya bahwa transformasi diperlukan untuk meningkatkan kinerja. Mendukung strategi yang dilakukan bermanfaat untuk membuat organisasi lebih baik. Meyakini adanya keuntungan yang diperoleh dimasa yang akan datang jika transformasi dilakukan. Mempercayai kualitas leadership dapat membuat keputusan yang tepat dalam hal strategi, SDM, pelanggan dan operasi.

Community : Mengaku pentingnya transformasi dilakukan. Memberikan dukungan yang sepadan dengan harapan yang ingin dicapai. Memberikan masukan yang konstruktif tentang transformasi yang ada. Memberikan opni yang positih bahwa transformasi akan memberikan manfaat yang positif bagi semua pihak.

Keenam stakeholders tersebut memberikan peran yang sangat menentukan kesuksesan transformasi HR. Namun, kesuksesan transformasi HR sangat ditentukan pula oleh bagaimana manfaat positif dapat diasakan oleh para stakeholders tersebut. Bukanhkan transformasi HR bukan semata-mata untuk HR? Namun, harus memberikan hasil positif nyata bagi stakeholders dan lingkungannya. Inilah kunci keberhasilan Transformasi HR.

Jumat, 02 April 2010

THE PSYCHOLOGY OF SUCCESS

Sukses adalah satu kata yang sangat diminati oleh banyak orang. Semua orang pada dasarnya ingin sukses. Sukses sering diartikan sebagai tercapainya tujuan seseorang dan diakui oleh lingkungannya terhadap keberhasilannya tersebut. Namun, idealnya adalah tercapainya sebagian besar tujuan hidup seseorang. Hampir sangat jarang orang menggapai seluruh tujuan hidupnya.

Idealnya sukses meliputi keberhasilan dalam kehidupan keluarga, sosial dan karir. Basis untuk mencapai hal tersebut seseorang harus memiliki kesehatan yang baik, kemampuan atau kompetensi yang mendukung dan relasi sosial yang memungkinkan ia mencapai cita-citanya. Untuk meraih apa yang dicita-citakan seseorang harus memiliki modal personal dan modal sosial yang cukup, termasuk memiliki akses terhadap jalan menuju keberhasilannya.

Seorang psikolog dari Inggris Judith Leary Joyce mencoba merumuskan bagaimana seseorang bisa mencapai kesuksesan. Ia menjelaskan hal tersebut dalam buku yang berjudul The Psychology of Succes. Judith adalah seorang Gestal psychotherapist dan Managing Director sebuah lembaga pelatihan di London.

Menurut Judith berhasil bukanlah memperoleh apa yang kita impikan tentang pekerjaan atau sesuatu yang dianggap ideal. Keberhasilan adalah manakala kita mampu mengatasi tantangan, bukan hanya sekali, namun berbagai tantangan dari waktu ke waktu. Hal ini sangat terkait bagaimana kita mampu mengoptimalkan talenta yang kita miliki dan memanfaatkan setiap momentum yang ada untuk melakukan hal terbaik yang dapat kita lakukan.

Secara sederhana Judith menantang kita dengan tiga pertanyaan :

1. Apakah anda siap untuk meraih hal-hal yang melebihi impian anda?
2. Apakah anda mampu menemukan bakat/talenta anda yang sesungguhnya?
3. Apakah anda bersedia untuk mendorong diri anda untuk mencapai hal-hal melampaui apa yang dapat anda pikirkan?

Jawaban terhadap ketiga pertanyaan tersebut sangat menentukan bagaimana kita mendefinisikan sukses dan bagaimana kita mampuu meraih kesuksesan itu sendiri.

Ada lima fondasi untuk membangun kesuksesan, sebagai berikut :

1. Kenali diri sendiri
2. Kendalikan diri
3. Arahkan diri untuk mencapai keseimbangan hidup
4. Temukan bakat inti
5. Temukan dukungan untuk memenuhi kebutuhan anda

Setelah fondasi tersebut dimiliki, maka diperlukan sejumlah perilaku yang harus dimiliki pula agar seseorang mampu meraih kesuksesan. Ada tujuh perilaku yang mampu mengarahkan seseorang untuk meraih kesuksesan, yaitu :

1. Kesediaan untuk mengambil tanggung jawab
2. Kemampuan membangun relasi
3. Terbuka terhadap perubahan
4. Senantiasa mencari peluang
5. Memiliki semangat untuk maju
6. Senantiasa mawas diri dan melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan
7. Tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai

Kesuksesan pada dasarnya dibangun bertahap. Kesuksesan bukan seperti orang yang memenangkan lotere, tetapi ia adalah usaha yang sungguh-sungguh, direncanakan dan dilakukan melalui proses yang matang.

Bayangkan sebuah tujuan yang ingin dicapai laksana sebuah jalan panjang untuk mencapai suatu tempat tertentu. Anda bisa jalan secara bertahap atau melangkah secara cepat, bahkan berlari, namun semua jalan tersebut harus anda tapaki. Terus maju secara bertahap, jika anda tetap fokus maka suatu saat anda akan mencapai tujuan tersebut. Mungkin dalam berjalan anda akan menemukan rintangan, anda bisa berputar menghindari rintangan, atau mendaki mengatasi rintangan atau berbelok sedikit, namun setelah itu kembali lagi ke arah jalan yang benar dengan tetap fokus pada tujuan yang ingin anda capai.

Seperti kata Judith, kesuksesan adalah kemampuan untuk mengatasi sekian rintangan dari waktu ke waktu namun tetap berada pada arah jalan yang benar. Bergeser sedikit dimungkinkan, namun jangan sampai anda kehilangan arah. Tetap konsisten dengan tujuan yang ingin diraih. Dengan keteguhan dan semangat untuk tetap maju, anda akan mencapai apa yang anda cita-citakan.

TIME MANAGEMENT

Waktu adalah suatu sumber daya yang luar biasa. Dengan waktu kita bisa mengisi ruang kehidupan dan dengan waktu kita bisa mengukur suatu kemajuan. Waktu sendiri sesungguhnya bersifat netral. Namun mengisi waktu bisa bermakna lain. Seorang dikatakan produktif dan tidak produktif, gagal atau berhasil, maju, statis atau mundur sangat tergantung pada pemanfaatan waktu.

Sedemikian pentingnya waktu sehingga munculah peribahasa dalam bahasa Inggris "time is money." Orang Arab mengatakan waktu ibarat mata pedang yang kalau tidak hati-hati memanfaatkannya dapat memenggal kepala kita. Orang Cina pun menyebutkan waktu sebagai sumber keberuntungan dan kesialan.

Mantan CEO TELKOM yang fenomenal Almarhum Cacuk Sudaryanto menyebutkan keterbatasan waktu adalah musuhnya yang paling besar. Sehingga waktu harus dikelola dengan sangat baik agar mampu memberikan manfaat yang besar bagi kita.

Bagaimana memanfaatkan waktu secara baik? atau bagaimana megelola waktu (time management) secara baik? Ada yang menyebutkan perlunya membuat skala prioritas dengan menggunakan sisi pandang urgency dan importancy. Melihat dari kesegeraan dan kepentingan dari suatu kegiatan.

Urutannya prioritas pelaksanaannya sebagai berikut :

1. Penting dan segera
2. Segera tapi tidak penting
3. Penting tapi tidak segera
4. Tidak penting dan tidak segera (ini bisa diabaikan)

Apabila kita memiliki kegiatan yang sebegitu banyak sementara waktu sangat terbatas maka kita harus mengidentifikan seluruh kegiatan tersebut dari tingkat kesegeraan (urgency) dan kepentingannya (importancy). Setelah ditemukan maka kita dapat memberikan urutan prioritas terhadap kegiatan tersebut, mana yang didahulukan mana yang dikemudiankan.

Tidak jarang begitu banyak kegiatan yang harus segera dilakukan dan juga penting. Untuk itu anda perlu memberi bobot dari kegiatan tersebut. Melalu pembobotan ini anda dapat melakukan ranking dari seluruh kegiatan tersebut, mana yang amat sangat segera dan mana yang amat sangat penting.

Beberapa pertimbangan dalam melihat kepentingan :

1. Kepentingan jangka panjang seperti orientasi spiritualitas, investasi, kesehatan, hubungan keluarga, karir, peningkatan kompetensi.
2. Menyangkut hal yang lebih besar seperti menyangkut kepentingan masyarakat luas dan menyangkut hal-hal yang lebih hakiki.
3. Penting dalam pengertian normatif dan standar. Artinya dalam ukuran umum hal tersebut memang diyakini penting. Misalnya anda harus melanjutkan pendidikan dimana dalam pengertian umum itu memang penting, anda harus mencari nafkah atau anda harus menikah/berkeluarga yang memang secara norma umum itu penting.

Beberapa pertimbangan dalam melihat kesegeraan :

1. Tingkat kekritisan/kegawatan. Kesegeraan sangat terkait dengan waktu. Jadi hal pertama yang harus dipertimbangkan adalah tingkat kekritisannya, yaitu apabila tidak dilakukan akan mengganggu hidup anda secara signifikan. Hal ini misalnya berkaitan dengan kesehatan, apabila tidak ditangani segera akan menimbulkan dampak serius. Berikutnya berkaitan dengan keamanan. Tingkat kekritisan ini sangat terkait dengan kelangsungan hidup kita.
2. Momentum. Artinya pelaksanaan kegiataan sangat tergantung hanya pada waktu tertentu. Misalnya undangan pernikahan hanya berlangsung pada satu waktu tertentu sebaiknya kita hadiri dibandingkan dengan keharusan kita untuk membeli sebuah buku yang mungkin bisa ditunda dihari berikutnya.
3. Terkumpulnya sumber daya secara optimal. Artinya pada satu waktu tertentu sangat mungkin terkumpul semua sumber daya secara optimal maka sebaiknya pada saat itu harus dilakukan hal yang mestinya dilakukan. Misalnya dalam organisasi pada suatu saat seluruh manajemen puncak berkumpul maka pada saat itu juga merupakan saat yang tepat untuk menyampaikan suatu gagasan, maka sampaikanlah, jangan tunda.

Banyak pendekatan lain yang bisa dilakukan untuk membantu kita mengelola waktu secara efektif. Pendekatan diatas relatif sederhana dan mudah mendefinisikannya sehingga dapat dijadikan pedoman untuk menyusun prioritas kegiatan.

Sabtu, 27 Maret 2010

SOLO - KUALA LUMPUR - SINGAPORE


Dalam dua minggu terakhir ini penulis didera kesibukan luar biasa. Selain kegiatan kantor dan organisasi penulis juga harus melakukan perjalanan keluar kota yaitu ke Solo, Kuala Lumpur dan Singapore. Sebelumnya penulis juga mengikut beberapa pelatihan seperti Human Capital Management dan Leadership Course. Banyak tugas yang harus dikerjakan seperti membuat makalah dan bahan presentasi. Sehingga dalam satu bulan terakhir posting tulisan ke blog Habahate ini sangat minim karena berbagai kesibukan tersebut.

Perjalanan ke Solo dari tanggal 17 s/d 21 Maret 2010 mengikuti kegiatan Kongres Psikologi Indonesia. Kongres mengambil tema "Dalam Keberagaman Menuju Indonesia Yang Lebih Baik." Kongres dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Ibu Rustriningsih. Hal menarik saat membuka Kongres Wagub Jateng menyebutkan bahwa saat ini bangsa kita sedang mengalami krisis identitas, jati diri, krisis karakter dan krisis ideologi. Ia mengharapkan para psikolog bisa mencari solusi untuk mengatasi permasalahan diatas. Dalam Kongres tersebut banyak makalah dan hasil penelitian yang berkaitan dengan psikologi dipaparkan dan cukup memperkaya khasanah penelitian dan penulisan psikologi di Indonesia. Terutama masalah keberagaman di Indonesia yang bisa menjadi potensi pembangunan namun apabila tidak dikelola secara bijak berpotensi pula menimbulkan permasalahan. Pendekatan psikologi berupaya melihat keberagaman sebagai sebuah potensi positif bagi pembangunan bangsa.



Selanjutnya tanggal 22 Maret 2010 penulis ke Kuala Lumpur berkunjung ke Telcom Malaysia (TM) untuk membahas permasalahan berkaitan dengan Career Management. Di Telcom Malaysia penulis bertemu dengan DR. Zainal Vice president HR di TM, kami banyak berdiskusi tentang pengelolaan karir di TM. Selain berkunjung ke TM, saat di Malaysia penulis berkesempatan berkunjung kerumah mantan Menteri Informasi Malaysia Tan Sri Datuk Sulaiman Muhammad. Berdiskusi dengan beliau sangat menarik terutama berkaitan dengan kemajuan pembangunan Malaysia. Malaysia juga memiliki masalah keberagaman sebagaimana Indonesia. Keberagaman bisa menjadi potensi positif yang luar biasa namun sekaligus memiliki potensi permasalahan pula apabila tidak dikelola secara baik.

Pada tanggal 25 Maret 2010 perjalanan dilanjutkan ke Singapore berkunjung ke Singapore Telkom (SingTel) untuk membahas topik yang sama tentang karir. Saat di SingTel penulis bertemu dengan Director of Executive Resources SingTel untuk berdiskusi tentang pengelolaan karir eksekutif di Singapore Telcom. Banyak hal yang dibicarakan tentang career, talent, recruitment, HRM dan berbagai hal lainnya tentang pengelolaan SDM.

Penulis menyaksikan pembangunan di Malaysia dan Singapore berkembang sangat pesat, terutama hal yang berkaitan dengan akses transportasi dan akses informasi. Memang salah satu kunci keberhasilan pembangunan adalah ketersediaan akses, disamping ketersediaan energi, komunikasi dan tenaga kerja terampil. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah kualitas Leadership dari para pemimpinnya yang mampu memandu seluruh bangsa bergerak maju dan memiliki visi yang cukup brilian untuk masa depan bangsanya.

BERSAMA KESULITAN SESUNGGUHNYA ADA KEMUDAHAN

Tulisan ini diperoleh dari KATA-KATA HIKMAH yang diposting oleh Ogy Febri Adlha dan tulisan aslinya sendiri dari Muhammad Abduh Tuasikal. Judul aslinya berbunyi DIBALIK KESULITAN ADA KEMUDAHAN. Namun, dalam suatu kesempatan penulis pernah mendengarkan penjelasan dari Ustadz Quraish Shihab bahwa sesungguh makna dari ayat yang merujuk hal tersebut adalah BERSAMA KESULITAN ADA KEMUDAHAN, jadi bukan dibalik tetapi bersamaan dengan kesulitan itu sendiri ada kemudahan. Terlepas dari judul tersebut penulis tidak ingin terpaku pada perbedaan hal tersebut namun lebih kepada makna mendasar dari keyakinan kita bahwa adanya kemudahan didalam setiap kesulitan. Berikut cuplikannya :

Yakinlah! Di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan yang Begitu Dekat dan seringkali kita berputus asa tatkala mendapatkan kesulitan atau cobaan. Padahal Allah telah memberi janji bahwa di balik kesulitan, pasti ada jalan keluar yang begitu dekat. Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“ Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 5) Ayat ini pun diulang setelah itu,إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 6)Mengenai ayat di atas, ada beberapa faedah yang bisa kita ambil :

Pertama: Di balik satu kesulitan, ada dua kemudahan. Kata “al ‘usr (kesulitan)” yang diulang dalam surat Alam Nasyroh hanyalah satu. Al ‘usr dalam ayat pertama sebenarnya sama dengan al ‘usr dalam ayat berikutnya karena keduanya menggunakan isim ma’rifah (seperti kata yang diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Jika isim ma’rifah diulang, maka kata yang kedua sama dengan kata yang pertama, terserah apakah isim ma’rifah tersebut menggunakan alif lam jinsi ataukah alif lam ‘ahdiyah.” Intinya, al ‘usr (kesulitan) pada ayat pertama sama dengan al ‘usr (kesulitan) pada ayat kedua. Sedangkan kata “yusro (kemudahan)” dalam surat Alam Nasyroh itu ada dua. Yusro (kemudahan) pertama berbeda dengan yusro (kemudahan) kedua karena keduanya menggunakan isim nakiroh (seperti kata yang tidak diawali alif lam).

Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Secara umum, jika isim nakiroh itu diulang, maka kata yang kedua berbeda dengan kata yang pertama.” Dengan demikian, kemudahan itu ada dua karena berulang.[1] Ini berarti ada satu kesulitan dan ada dua kemudahan. Dari sini, para ulama pun seringkali mengatakan, “Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.” Asal perkataan ini dari hadits yang lemah, namun maknanya benar[2]. Jadi, di balik satu kesulitan ada dua kemudahan.Note: Mungkin sebagian orang yang belum pernah mempelajari bahasa Arab kurang paham dengan istilah di atas. Namun itulah keunggulan orang yang paham bahasa Arab, dalam memahami ayat akan berbeda dengan orang yang tidak memahaminya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaklah membekali diri dengan ilmu alat ini. Di antara manfaatnya, seseorang akan memahami Al Qur’an lebih mudah dan pemahamannya pun begitu berbeda dengan orang yang tidak paham bahasa Arab. Semoga Allah memberi kemudahan.

Kedua: Akhir berbagai kesulitan adalah kemudahan. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.”[3] Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran, “Badai pastilah berlalu (after a storm comes a calm), yaitu setelah ada kesulitan pasti ada jalan keluar.”

Ketiga: Di balik kesulitan, ada kemudahan yang begitu dekatDalam ayat di atas, digunakan kata ma’a, yang asalnya bermakna “bersama”. Artinya, “kemudahan akan selalu menyertai kesulitan”. Oleh karena itu, para ulama seringkali mendeskripsikan, “Seandainya kesulitan itu memasuki lubang binatang dhob (yang berlika-liku dan sempit, pen), kemudahan akan turut serta memasuki lubang itu dan akan mengeluarkan kesulitan tersebut.”[4] Padahal lubang binatang dhob begitu sempit dan sulit untuk dilewati karena berlika-liku (zig-zag). Namun kemudahan akan terus menemani kesulitan, walaupun di medan yang sesulit apapun. Allah Ta’ala berfirman,سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7) Ibnul Jauziy, Asy Syaukani dan ahli tafsir lainnya mengatakan, “Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan kelapangan.”[5] Ibnu Katsir mengatakan, ”Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya.”[6]Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً“Bersama kesulitan, ada kemudahan.”[7] Oleh karena itu, masihkah ada keraguan dengan janji Allah dan Rasul-Nya ini?

Rahasia Mengapa di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan yang Begitu DekatIbnu Rajab telah mengisyaratkan hal ini. Beliau berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Inilah hakekat tawakkal pada-Nya.

Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).”[8] Inilah rahasia yang sebagian kita mungkin belum mengetahuinya. Jadi intinya, tawakkal lah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang yang sabar dalam menghadapi setiap ketentuan-Mu. Jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang selalu bertawakkal dan bergantung pada-Mu. Amin Ya Mujibas Saa-ilin.Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.-Begitu nikmat setiap hari dapat menggali faedah dari sebuah ayat. Semoga hati ini tidak lalai dari mengingat-Nya

(Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal)

Minggu, 07 Maret 2010

CHANGE, PRINCIPLE & CHOICE

Hidup ini adalah fana, namun adakah yang abadi? Setidaknya dalam perspektif keduniaan adakah yang tetap? Dalam hidup didunia ini banyak orang yang mengatakan tidak ada yang tetap, satu-satunya yang tetap adalah perubahan. Namun, menurut Stephen R. Covey, tidak hanya perubahan yang tetap, setidaknya ada tiga hal yang tetap yaitu perubahan, prinsip dan pilihan (3P).

3P mewarnai kehidupan manusia. Manusia tidak akan pernah terlepas dari hal tersebut. Bukankah kita selalu tetap berubah? Lihatlah tubuh anda sendiri, semakin hari semakin berubah. Ada yang semakin gemuk, semakin keriput dan semakin banyak hal yang bertambah maupun berkurang. Berat badan anda mungkin bertambah, lemak di tubuh anda bertambah, uban bertambah dan berbagai pertambahan lainnya. Banyak pula yang semakin berkurang. Daya ingat anda mungkin semakin berkurang, jumlah rambut di kepala anda bisa semakin berkurang, kemampuan otot-otot anda semakin berkurang, semakin bertambah usia anda semakin melemah dan berbagai hal lain yang semakin berkurang.

Selain perubahan yang tetap, prinsip adalah hal lainnya yang tetap. Prinsip di alam ini berjalan secara tetap sebelum Yang Maha Kuasa mengubahnya. Matahari tetap terbit diufuk timur. Bulan tetap mengitari bumi dan bumi tetap mengitari matahari. Apel terlepas dari tangkainya akan jatuh kebumi, tidak melayang-layang ke angkasa karena hukum gravitasi menentukan demikian. Prinsip-prinsip alam berjalan secara tetap mengikuti hukum alam. Demikian pula prinsip-prinsip kehidupan yang berlaku universal, baik secara secara agama, sosial maupun budaya. Orang beragama yang mempercayai adanya hari akhir, hari kiamat, tetap akan mempercayainya. Setiap kebaikan diyakini akan berbalas kebaikan. Kejujuran yang merupakan nilai-nilai baik tetap diyakini demikian. Jika ada yang melawan prinsip-prinsip universal maka diyakini tidak akan berjalan langgeng. Kebenaran adalah kebenaran dan tidak bisa dipertukarkan dengan ketidakbenaran. Kebaikan adalah kebaikan dan tidak bisa dipertukarkan dengan kejahatan.

Hal ketiga yang tetap adalah pilihan. Sampai kapan pun manusia adalah bebas dan mempunyai pilihan yang ia kehendaki. Tidak ada satu orang pun yang bisa membatasi pilihan orang lain, sekali pun ia diktator. Pilihan merupakan hak yang paling hakiki bagi setiap manusia. Jika ada yang mencegahnya, hal itu hanya bersifat sementara, selanjutnya manusia bebas memilih kembali. Prinsip demokrasi didasarkan bahwa manusia bebas memilih, bebas menentukan pendapatnya, bebas menentukan masa depannya. Tidak ada yang bisa menghambat, jika ada - hal itu hanya membungkam sesaat, setelah itu energi kebebasan manusia akan mendorong manusia untuk menentukan pilihannya sesuai dengan kehendaknya sendiri.

Ketetapan tentang perubahan, prinsip dan pilihan adalah sesuatu yang melekat dalam nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Ketiga hal tersebut adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa kepada manusia yang ditabalkan-Nya sebagai Kalifah dimuka bumi, sebagai penguasa yang seharus bertindak sesuai dengan pedoman hidup yang digariskan-Nya melalui ajaran mulia agama, mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan dan mencegah terjadinya kerusakan dimuka bumi ini.

Namun, kita temukan pula banyak diktator dan penguasa zalim yang mengabaikan ketetapan hukum perubahan, prinsip dan pilihan. Mereka bertindak menghambat perubahan dan melanggengkan kekuasaannya, berusaha melawan prinsip-prinsip universal yang berlaku dan mengedepankan prinsip individualistik-hedonisnya sendiri, membatasi,mengekang bahkan membungkam kebebasan memilih. Apa yang terjadi? Mereka hancur lebur tergilas oleh perubahan, dihancurkan oleh prinsip-prinsip universal dan terbenam oleh pilihan kebebasan.

Sesungguhnya kedatangan Nabi dan Rasul menegaskan misi perubahan yang mereka emban untuk mengubah umatnya kearah yang lebih baik. Mereka terus mengingatkan umat akan prinsip-prinsip yang berlangsung secara kekal sampai dengan akhir jaman. Disamping itu mereka pun menghargai pilihan bebas manusia yang dituntun oleh nurani yang bersih. Tugas Nabi dan Rasul ini diteruskan oleh orang-orang mulia lainnya untuk terus mengingatkan manusia akan nilai-nilai perubahan, prinsip-prinsip universal dan kebebasan manusia untuk memilih.

Jadi apa pun bisa berubah kecuali CHANGE-PRINCIPLE-CHOICE.

Minggu, 28 Februari 2010

KEMAMPUAN ADAPTASI, ADJUSTMENT PEMIMPIN DAN EKSISNYA SEBUAH BANGSA (KASUS BANGSA KHAZAR)

Tulisan ini dibuat terinspirasi dari sebuah artikel di Harian Kompas Minggu 28 Februari 2010 tentang Bangsa yang Hilang. Dalam tulisan itu disebut Prof. Milorad Pavic. Profesor sejarah kesusastraan Universitas Beograd dan juga seorang penyair kenamaan Yugoslavia, menghadirkan kembali sebuah ingatan tentang hilangnya sebuah bangsa yang besar, yaitu bangsa Khazar. Ia melakukan berbagai penelitian dengan merujuk berbagai sumber tentang perseteruan dan konflik yang menimpa bangsa tersebut. Tulisan beliau berbaur dengan kisah fiksi dan terangkai dalam format sebuah novel, namun tetap mampu menampilkan sebuah kisah yang berangkat dari fakta sejarah tentang hilangnya sebuah bangsa yang pernah memiliki sejarah yang gemilang. Tulisan ini memberikan gambaran bagaimana pentingnya kemampuan adaptasi dan adjustment pemimpin untuk mempertahankan eksistensi sebuah bangsa.

Jika kita menilik sejarah berbagai bangsa besar dunia katakanlah Mesir Kuno, Romawi, India, China maupun kerajaan besar yang ada di Suku Indian sebagian besar musnah bukan karena agresi pihak luar, tetapi kemusnahan mereka lebih karena konflik dan perseteruan yang terjadi di internal mereka sendiri dan juga ditandai oleh kemampuan yang lemah dalam menyesuaikan diri terhadap perkembangan jaman, lemahnya kemampuan mereka untuk beradaptasi dan yang terpenting rendahnya kemampuan adjustment para pemimpin mereka.

Sekilas gambaran tentang bangsa Khazar, dalam bahasa Turki Kuno Khazar berarti pengembara. Pada abad ke-7 mereka mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Khaganat, sebuah kerajaan yang mandiri di Kaukasus Utara disepanjang Laut Kaspia. Pada masa kejayaan mereka menguasai sampai dengan Rusia Selatan, Kazakhstan, Ukraina dan sebagian besar Kaukasus seperti Dagestan, Azerbaijan dan Georgia serta daerah Krim. Catatan sejarah menyebutkan bahwa Bangsa Khazar pernah bersekutu dengan Bizantium untuk memerangi Bangsa Arab pada tahun 627 M. Keruntuhan Khazar selain dari berbagai konflik dan perseteruan internal, juga munculnya kerpercayaan/agama baru yang berkembang di masyarakat mereka yang kemudian tidak mampu diantisipasi oleh penguasa Khazar. Penguasa Khazar tidak mampu melakukan adjustment dan beradaptasi dengan perkembangan baru, bertindak konservatif dengan mempertahankan nilai-nilai lama yang tidak relevan. Gong kejatuhan Khazar ditandai dengan penaklukan oleh seorang Panglima Perang Rusia pada abad 10, yaitu Pangeran Svyatoslav, yang disebutkan menelan Imperium Khazar layaknya melahap sebuah apel tanpa perlu turun dari kudanya. Namun sesungguhnya, tindakan Pangeran Rusia ini dilakukan saat Imperium Khazar dalam keadaan lemah, tanpa daya oleh konflik internal dan lemahnya kemampuan adjustment para pemimpin mereka.

Beberapa bangsa yang senasib dengan Khazar memperlihatkan hal yang sama, pemimpin yang rendah daya adjustment dan kelemahan mereka beradaptasi sehingga membuat diri mereka runtuh, seperti Inca (1438-1533) di Peru, Aztek di Meksiko sekitar abad 12. Hal ini terjadi juga pada bangsa Mohenjodaro, Harappa dan Arya yang hidup di lembah Sungai Hindus Pakistan pada tahun 2000-1000 SM. Termasuk juga disini kerajaan-kerajaan besar di nusantara dimasa lalu seperti Sriwijaya, Majapahit, Aceh, Goa, Demak. Keruntuhan kerajaan tersebut selain karena konflik, perseteruan internal, lemahnya kemampuan adaptasi, banyaknya bencana alam dan lemahnya daya adjustment para pemimpin mereka.

Terkait dengan kemampuan adjustmen, adaptasi dan bertahannya (survive) sebuah komunitas, kita teringat dengan Teori Evolusi dari Charles Darwin yang menyebutkan bukanlah yang paling kuat yang akan mampu bertahan, tetapi mereka yang memiliki kemampuan adaptasi yang baiklah yang akan mampu bertahan. Dalam bahasa Teori Evolusi disebukan adaptasi sebagai “any structural or behavioural change that has survival value.”

Teori evolusi menyebutkan bahwa adaptasi sangat terkait dengan kemampuan untuk merubah struktural atau perilaku agar mampu untuk bertahan. Jatuhnya Khazar atau kerajaan maupun bangsa besar lainnya jelas karena ketidamampuan mereka untuk merubah struktur dan perilakunya dalam mengikuti perkembangan yang ada.

Arthur S. Reber dan Emily S. Reber mengatakan bahwa kemampuan adaptasi ini sebagai “a shift in sociological or cultural disposition. Thus, one is said to adapt to new environment.” Dalam pemahaman Reber jelas disebutkan bahwa adaptasi adalah kemampuan yang berkaitan dengan penyesuaian secara sosial maupun budaya terhadap perubahan lingkungan (lingkungan baru).

Runtuhnya berbagai kerajaan dan bangsa besar tersebut disebabkan secara sosial maupun budaya mereka tidak mau berubah, padahal di lingkungan telah terjadi perubahan yang massif. Mereka bertahan dengan nilai-nilai lamanya yang telah kuno dan usang dengan perkembangan jaman. Secara sosial-budaya pula mereka menghancurkan dirinya sendiri. Jika pun ada penakluk eksternal, mereka hanya melakukan penaklukan secara mudah, sebagaimana dilakukan Pangeran Svyatoslav dari Rusia yang menaklukan Bangsa Khazar dengan perumpamaan bagaikan melahap sebuah apel tanpa perlu turun dari kudanya.

Pemahaman tentang adaptasi secara spesifik dapat kita kutip dari pendapat seorang sosiolog, yaitu Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H, M.A., yang menyebutkan pengertian adaptasi sebagai berikut :

1. Proses mengatasi halangan-halangan dari lingkungan.
2. Memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk kepentingan lingkungan dan sistem.
3. Proses perubahan untuk menyesuaikan dengan situasi yang berubah.
4. Penyeseuaian dari kelompok terhadap lingkungan.
5. Penyesuaian pribadi terhadap lingkungan.
6. Penyesuaian biologis atau budaya sebagai hasil seleksi alamiah.

Menurut Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H, M.A adaptasi terkait erat dengan adjustment yang lebih kearah upaya untuk menyepadankan antara kondisi internal dengan eksternal. Prof. Soerjono menyebutkan pengertian adjustment sebagai berikut :

1. Mengubah agar sesuai dengan kondisi yang diciptakan.
2. Perubahan dalam suatu sistem sebagai tanggapan terjadinya perubahan lain dalam sistem yang sama.
3. Penyesuaian individual terhadap lingkungan sosial.
4. Penyesuaian individual untuk menyalurkan ketegangan.
5. Penyesuaian individual terhadap norma-norma yang ada.

Jika adaptasi lebih cenderung pada kemampuan sosial kelompok maka adjustment lebih condong pada kemampuan penyesuaian indvidual. Dalam sebuah masyarakat, adjustment terkait dengan kemampuan pemimpinnya. Kegagalan adjusment pemimpin pada kelompok akan mempengaruhi pula daya adaptasi kelompok tersebut terhadap perubahan lingkungan.

Menilik sejarah bangsa-bangsa dan kerajaan besar yang runtuh tersebuh tidak berlebihan jika kita mengatakan akibat lemahnya daya adaptasi bangsa tersebut dan terutama pula disebabkan oleh rendahnya kemampuan adjustmen para pemimpin mereka.

Bukankah sebuah bangsa yang besar juga karena ada pemimpin yang besar, demikian pula sebaliknya bangsa yang runtuh disebabkan pula oleh ketidakberdayaan pemimpin-pemimpin mereka. Pemimpin yang rendah daya adjustment akan menumpulkan kemampuan adaptasi masyarakatnya dan menjadi sumber malapetaka kehancuran sebuah bangsa.

Mudah-mudahan pemimpin seperti itu tidak ada disekitar kita.