Minggu, 31 Januari 2010

THE SPEED OF TRUST

Kondisi masyarakat kita akhir-akhir ini menunjukan gejala semakin saling tidak percaya, penuh curiga, intrik dan menonjolkan sikap permusuhan. Kondisi ini mengingatkan penulis akan sebuah buku yang ditulis oleh Stephen M.R. Covey bersama Rebecca R. Merrill yang berjudul THE SPEED OF TRUST. Buku tersebut pada intinya menunjukan pentingnya trust dan sikap saling percaya untuk membangun suatu masyarakat yang berkeadaban dan sejahtera.

Trust akan sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan berperan penting dalam pengelolaan konflik. Ketidakpercayaan akan menimbulkan sikap tertutup dan terjadi jarak antar berbagai kelompok masyarakat yang ujung-ujungnya melemahkan kohesivitas sosial. Kohesivitas sosial yang lemah akan melemahkan kinerja kelompok sosial dan membuat berbagai hambatan dalam proses interaksi.

Dalam buku tersebut diulas sebuah formula yang sederhana, sebagai berikut :

- Low-Trust = Low-Speed, High Cost
- High-Trust = High-Speed, Low Cost

Dalam formula tersebut terlihat bahwa kepercayaan yang rendah akan menimbulkan kelambatan dan biaya tinggi. Kepercayaan yang tinggi akan berdampak pada kecepatan dan biaya yang rendah. Dicontohkan setelah kasus 11 September 2001, ketidakpercayaan di Amerika Serikat meluas, terutama terhadap orang asing khususnya Islam dan Timur Tengah. Demi alasan keamanan, setiap penumpang pesawat harus datang lebih awal, melewati berbagai pemeriksaaan yang bertele-tele dan membuang waktu sekian lama. Hal ini memperpanjang waktu dan membuat kelambatan, sekaligus meningkatkan biaya.

Tampaknya hal ini mulai terjadi dinegeri ini, terutama dalam kehidupan politik. Ketidakpercayaan telah menimbulkan berbagai proses politik yang cukup menyita waktu dan sekaligus menimbulkan biaya tinggi. Mirip seperti yang ditunjukan dalam formula diatas.

Menurut M.R. Covey dan Rebecca R. Merrill setidaknya ada tiga tahap membangun trust yaitu :

1. Self Trust
2. Relationship Trust
3. Stakeholder Trus

Self trust harus dibangun melalui kredibilitas. Individu harus mampu menunjukkan kemampuan untuk tampil secara seimbang, sejalannya antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Individu juga harus memiliki kapabilitas yang cukup, memiliki agenda hidup yang jelas dan menunjukan hasil yang nyata dari perbuatannya.

Relationship trust berkaitan dengan perilakunya dalam berinteraksi di lingkungan sosial. Hal ini meliputi kemampuan untuk menunjukan respek kepada orang lain, transparan, menunjukan loyalitas, kemampuan untuk mendengar dan menerima orang lain.

Berikutnya adalah Stakeholder trust, meliputi organizational trust yang menuntut adanya alignment antara segenap komponen organisasi, market trust yang sangat berkaitan dengan reputasi dan social trust yang menuntut kontribusi positif dari seluruh komunitas sosial.

Jadi untuk membangun suatu masyarakat yang maju sangat diperlukan trust. Trust yang tinggi akan mempercepat proses dan meminimalkan biaya sehingga proses kehidupan masyarakat bisa berlangsung secara efektif dan efisien. Dan yang terpenting trust adalah prasyarat mutlak untuk menuju masyarakat yang berkeadaban.

NEKROFILIA POLITIK, BERCERMIN PADA KASUS BABE SI PEMBUNUH ANAK JALANAN

Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh kasus pembunuhan anak jalanan oleh sesorang yang bernama Babe. Babe pada awalnya dikenal sebagai seorang yang menyayangi anak-anak jalanan yang dikemudian merawatnya dan tinggal bersama dirinya dirumah sederhana yang ia tempati. Dari penyelidikan diketahui Babe juga melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak tersebut. Ia melakukan kegiatan seksual kepada anak-anak dan apabila menolak ia akan membunuhnya kemudian setelah menjadi mayat ia setubuhi/sodomi.

Babe adalah pengidap fedofilia sekaligus nekrofilia. Beberapa tahun sebelumnya kita juga mengenal Robot Gedek yang kelakuannya mirip Babe. Fedofilia dan nekrofilia adalah bentuk perilaku seksual yang menyimpang atau abnormal. Fedofilia dan nekrofilia berasal dari bahasa Latin ; faidos = anak, necros = mayat, philos = menyintai. Jadi sederhananya fedofilia berarti menyintai anak secara seksual dan nekrofilia menyintai mayat secara seksual.

Dalam pembahasan kali ini lebih difokuskan pada perilaku Nekrofilia, khususnya Nekrofilia Politik. Sebelum membahas nekrofilia politik, ada baiknya memahami dulu apa itu nekrofilia. Nekrofilia adalah fenomena untuk melakukan hubungan seksual dan menikmati orgasme dengan mayat. Penyebab perilaku menyimpang ini didasari oleh sikap inferior yang dimiliki oleh pelaku yang begitu hebat karena sebelumnya pernah mengalami trauma psikologis yang cukup serius berkaitan dengan kehidupan seksualnya.

Pada sebagian besar kasus pelaku juga pernah menjadi korban seksual pada masa kecilnya. Pelaku mengalami inferioritas dan tidak memiliki keyakinan diri untuk menjalani relasi sosial yang sehat dengan lawan jenisnya atau mengalami trauma untuk melakukan relasi sosial dengan orang yang masih hidup. Umumnya pelaku nekrofilia mengalami kecemasan dan ketakutan yang menetap dan tersimpan dendam yang berkaitan dengan kehidupan seksualnya.

Saat melakukan hubungan sesksual atau coitus dengan mayat kadang-kadang disertai pula dengan perilaku mutilasi, yaitu dengan merusak mayat. Nafsu seks yang menyimpang ini biasanya begitu intens dan berbaur pula dengan sifat psikotis. Perilaku mutilasi sangat terkait dengan dendam yang ia miliki sehingga dilampiaskannya dengan cara merusak mayat bahkan terkadang disertai perilaku kanibalisme, yaitu dengan cara memakan potongan mayat.

Jadi nekrofilia mengandung arti perilaku seksual yang menyimpang, inferior, agresif dan kanibal. Bisakah hal tersebut terjadi dalam politik? Sangat mungkin apabila perilaku menyimpang muncul dalam kehidupan politik, terutama penyimpangan terhadap hasrat kekuasaan. Jika mengambil pengertian nekrofilia, maka nekrofilia politik dapat berarti :

1. Hasrat politik yang menyimpang.
2. Sikap inferior yang kemudian dikompensasi dengan perilaku superioritas.
3. Agresif dengan menyerang pihak lawan atau pihak yang tidak disukai.
4. Kanibalisme dengan memangsa pihak lawan.

Nekrofilia politik mulai terlihat saat ini dilingkungan kita. Sejumlah orang atau pihak memiliki hasrat kekuasaan yang luar biasa bahkan penyalurannya bisa dilakukan dengan cara-cara menyimpang. Tidak peduli apakah yang dilakukannya sesuai dengan norma-norma yang berlaku atau tidak. Maka munculah perilaku koruptif, menghabisi pihak lawan, mendelegitimasi, men-de-eksistensi sampai dengan depersonalisasi orang-orang atau pihak yang tidak disukai.

Sikap inferioritas karena merasa kekurangan dan rendah diri, menurut seorang psikolog Alferd Adler akan menimbulkan ketidakseimbangan pada diri seseorang sehingga harus dilakukan kompensasi agar individu tersebut menjadi stabil. Proses stabilisasi ini dilakukan dengan cara tampil secara superior dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang dimiliki. Dalam konteks politik maka sikap inferior para politisi dikompensasi sedemikian rupa dengan memanfaatkan seluruh potensi dan sumber daya politik yang dimiliki. Setelah itu difokuskan pada kelemahan pihak lawan untuk mendelegitimasi dan menghancurkannya. Potensi dan sumber daya politik dimanfaatkan untuk menggoyang pihak lain yang secara politik berseberangan dengan dirinya.

Perilaku inferior tersebut disertai dengan perilaku agresif yang sedemikian rupa. Melakukan penyerangan terhadap pihak dan golongan lain yang berbeda secara politik bahkan sampai dengan proses depersonalisasi dengan cara meruntuhkan integritas kepribadian seseorang.

Agresivitas tersebut disertai pula dengan proses mutilasi politik dan kanibalisasi politik. Mutilasi dengan cara memporak-porandakan pihak lawan kemudian melakukan kanibalisasi dengan cara memangsa atau memanfaatkan potensi dan sumber daya politik pihak lawan.

Inilah esensi dari nekrofilia politik. Jadi jika perilaku Babe merusak individu-individu atau keluarga tertentu maka nekrofilia politik dapat menghancurkan kehidupan masyarakat dan bahkan jika tidak hati-hati akan menghancurkan integritas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita harus waspada dengan kemungkinan munculnya Babe-Babe lain. Namun, kewaspadaan yang lebih tinggi harus kita tunjukan pada Babe-Babe politisi yang memiliki syahwat politik yang menyimpang, yaitu pengidap Nekrofilia Politik.

Jumat, 22 Januari 2010

MODAL SECUKUPNYA MEMBERI YANG TERBAIK

Kemarin tanggal 21 Januari 2010 penulis berkesempatan megikuti HRMPA 1st Annual Conference di Jakarta Convention Center. HRMPA adalah Human Resorces Professional Association yang mewadahi komunitas profesional SDM. Pada konferensi yang pertama kali ini HRMPA mengambil topik "Leading Business Through Professional Human Resources." Banyak makalah yang dibahas dalam kegiatan tersebut dengan pembicara yang mumpuni.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengutip salah satu sesi yang menarik yaitu pada saat sesi penutup. Sesi ini menghadirkan pembicara Palgunadi T. Setiawan yang membawakan topik tentang spiritualitas. Ulasan beliau sangat menarik dan menggugah kesadaran spiritualitas kita.

Pak Palgunadi mengintrodusir pemaparannya dengan menceritakan sedikit kisah tentang pengalamannya di ASTRA. Hal yang menarik adalah saat beliau menceritakan tentang Alm. Michael D. Ruslin petinggi Astra yang baru saja berpulang pada hari Rabu sebelumnya. Beliau mengenang Michael sebagai pribadi rendah hati yang memiliki kecerdasan dan kemampuan yang luar biasa. Pribadi yang tidak berambisi terhadap jabatan namun lebih fokus pada karya apa yang bisa diberikan agar bermanfaat bagi orang lain. Ternyata Michael bebarapa hari sebelumnya telah menyiapkan sendiri kavling pemakamannya di San Diego Hill tanpa diketahui oleh keluarganya. Ia sebetulnya membeli kavling tersebut untuk keluarganya dan ternyata ia adalah pengguna yang pertama dari kavling pemakaman yang dipesannya.

Menurut Palgunadi, Michael memiliki pemikiran jauh kedepan, seorang yang mampu mengoptimalkan apa yang dimiliki namun selalu berpikir bagaimana berkarya yang mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi orang lain. Inilah menurut Palgunadi esensi spiritualitas yang sesungguhnya - bagaimana menjadi makhluk Tuhan yang bersyukur dan kemudian mengabdikan diri dan karyanya bagi orang banyak.

Palgunadi mengatakan hal ini berkaitan dengan konsep syukur. Kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki dengan cara salah satunya adalah merasa cukup. Apakah ini bertentangan dengan perilaku achiever? atau perilaku untuk membuat target yang menantang? Menurut Palgunadi tidak sama sekali. Kita harus mensyukuri dengan apa yang kita miliki dengan merasa cukup. Namun, dalam konteks memberi dan bermanfaat bagi orang lain harus senantiasa ditingkatkan, mungkinkah? Sangat mungkin.

Inilah fitrah sejati manusia. Manusia bukan mesin yang senantiasa harus diukur dengan konsep input-output. Manusia memiliki fitrah dengan kemampuan memproses segala sesuatu dengan dorongan spiritualitasnya dan hasilnya akan menjadi berlipat ganda. Jika anda makan cukup tiga kali maka anda anda berkarya dengan baik tanpa tergantung apakah anda harus makan lima kali atau sepuluh kali. Cukup disini maknanya adalah cukup dalam batas kewajaran, dalam batas kemanusiaan yang wajar.

Jadi esensi spiritualitas adalah kita paham sebagai makhluk Tuhan dan berkewajiban mengedepankan rasa syukur. Rasa syukur dengan cara merasa cukup namun harus meningkatkan nilai kemanfaatan kita bagi orang lain dan lingkungan. Kita harus merasa memiliki modal yang cukup, namun mampu memberi yang terbaik. Dan kita pun harus menyadari bahwa ketamakan manusia tidak pernah mengenal kata cukup. Ketamakan adalah antitesa dari rasa syukur. Jadi spiritualitas sangat tergantung dari rasa kebersyukuran yang dimiliki.

Senin, 04 Januari 2010

PAHLAWAN NASIONAL : GITU AJA KOK REPOT

Sepeninggalnya Gus Dur - Tokoh Besar Kemanusiaan dan Pluralisme - banyak usulan yang menginginkan beliau untuk diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Mayoritas rakyat negeri ini kiranya sepakat apabila Gus Dur memiliki sejumlah prestasi dan kontribusi bagi kemajuan negeri ini terutama dalam hal demokrasi dan penegakan hak asasi manusia.

Gus Dur dikenal pula sebagai tokoh pluralisme yang toleran dengan berbagai keyakinan yang berbeda dan mengedepankan kesetaraan bagi semua pihak. Gus Dur adalah pembuka kejumudan berpikir terutama yang berkaitan dengan toleransi terhadap keperbedaan keyakinan. Ia adalah pendobrak tradisi yang mampu membuka mata kita bahwa sesungguhnya perbedaan itu adalah rahmat dan kita diciptakan berbeda untuk saling mengenal.

Rasanya dengan segala pemikiran, perbuatan dan kiprahnya, Gus Dur sesungguhnya telah menjadi Pahlawan Nasional dibanyak hati masyarakat negeri ini. Dikukuhkan atau tidak dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional tidak akan pernah mengurangi derajat tokoh besar yang satu ini. Jadi sesungguhnya Gus Dur secara pribadi sangat diyakini tidak memerlukan berbagai gelar tersebut. Hanya mayoritas masyarakat dan tokoh dinegeri ini ingin memberikan suatu penghargaan yang pantas untuk beliau. Bukankah gelar Pahlawan Nasional adalah suatu gelar yang sangat terhormat dinegeri ini? Dan Gus Dur dipandang sangat layak untuk menyandangnya.

Jika ada berbagai perdebatan berkaitan dengan pemberian gelar tersebut tentunya tidak akan mengurangi sedikitpun penghormatan kita kepada Gus Dur. Dari berbagai pemberitaan dan kesan yang tertangkap mayoritas kita sangat menghormati Gus Dur dan menghendaki gelar Pahlawan Nasional tersebut dapat ditabalkan kepada beliau.

Seandainya kita masih bisa berdialog dengan Gus Dur dan saat kita bertanya kepada beliau tentang pemberian gelar Pahlawan Nasional tersebut mungkin dengan gayanya yang khas Gus Dur akan menjawab : "gitu aja kok repot ........................"

Memang benar Gus dinegeri ini sekarang kelihatan semuanya begitu merepotkan, yang berhak terkadang tidak memperoleh yang menjadi hak-nya, namun yang tidak berhak mungkin memperoleh apapun yang dikehendakinya.

Selamat jalan Gus semoga damai dialam keabadian sana ..........................

Jumat, 01 Januari 2010

MINDSET

Bagaimana seseorang memandang dunianya, memahami dan menyimpulkan kemudian memberikan reaksi sangat tergantung pada mindset. Mindset lebih dari sekedar pola pikir tetapi lebih kearah kerangka seseorang dalam memahami dunianya.

Mindset berasal dari kata mind dan set. Mind menurut Arthur S. Reber dan Emily Reber memiliki arti yang kadang bisa saling membingungkan, yaitu kecenderungan untuk mengartikan mind sebagai suatu metaphysical explanatory entity yang berbeda dengan sistem mekanistik. Arti lainnya merujuk kepada suatu sistem biologis, yaitu sistem neurofisiologis dari otak. Terdapat pula pemahaman mind dari konteks psikologis, yaitu sebagai suatu proses mental yang menentukan bagaimana seorang bertindak.

Mind secara psikologis bisa meliputi aspek sadar dan ketidaksadaran. Mind diartikan pula sebagai sebuah konsep intelegensia. Dalam perkembangannya minda dapat berarti sebuah karakter atau sifat dasar individu. Bahkan mind-pun diartikan sebagai psyche, soul dan self.

Dari semua pemahaman tersebut terlihat bahwa mind sebagai unsur dasar yang sangat mempengaruhi kepribadian seseorang. Mempengaruhi pola pikir, kehidupan emosi, relasi sosial dan perilaku kerjanya. Mind dapat pula disebut sebagai mediator antara unsur inner individu dengan dunia eksternalnya.

Mengapa ini penting dibahas, setidaknya ada tiga alasan, yaitu :

1. Bagaimana manusia berperilaku sangat tergantung mindset. Untuk memahami perilaku seseroang maka perlu memahami mindset-nya.
2. Orang tidak bisa berubah tanpa merubah mindset-nya.
3. Merencanakan masa depan harus dimulai dengan merancang mindset.

Contoh paling gamblang tentang mindset terlihat seperti ilustrasi yang disampaikan oleh John Naisbitt sebagai berikut :

”To a little boy with a hammer everything looks like a nail.”

Perumpamaan diatas jelas memberikan gambaran bagi kita bahwa dengan mindset tertentu maka kita pun akan melihat dunia sesuai dengan mindset tersebut. Dalam bahasa lain sering disebutkan bahwa mindset bagaikan ”kacamata jiwa.” Seluruh hal yang kita lihat tergantung pada kacamata jiwa tersebut.

Beberapa hal yang bisa membentuk mindset, yaitu :

1. Pola Asuh
2. Pola Didik
3. Role Model
4. Pengalaman yang signifikan, terutama tentang kegagalan dan keberhasilan.
5. Harapan Ideal

Khusus tentang yang kelima karena otoritas penuh ada pada tangan individu, menarik apa yang dikatan oleh John Naisbitt bahwa ”the future is embedded in the present.” Dalam ungkapan ini jelas menurut Naisbitt bahwa apa yang diharapkan secara ideal dimasa yang akan datang sebetulnya berawal bagaimana kita merancang hari ini dan bagaimana kita merancang hari ini sangat tergantung pada mindset kita. Namun, berikutnya secara dinamis mindset yang terbentuk saat ini akan menentukan masa depan dan ini akan terus berlangsung selama kurun hidup.

Kamis, 31 Desember 2009

RISK

Risk! ...... Risk anything! .....
Care no more for the opinion of others, for those voices.
Do the hardest thing on earth for you.
Act for yourself.
Face the truth.

(Katherine Mansfield, New Zealand-born British author, 1888-1923)

GUS DUR DAN KEMANUSIAAN

Kabar mengejutkan itu muncul dilayar televisi, tanggal 30 Desember 2009 pada pukul 18.45, salah satu putra terbaik dan orang besar Indonesia berpulang ke rahmatullah, Kiyai Haji Abdurachman Wachid atau yang yang lebih dikenal dengan Gus Dur. Terlalu banyak predikat yang disandang oleh insan istimewa ini, Presiden Republik Indonesia ke-4, Mantan Ketua Umum Nadhlatul Ulama, Pendiri PKB, Tokoh Agama, Tokoh, LSM, Tokoh Pendidik, Negarawan, Pemikir dan berbagai sebutan mulia lainnya layak disandangkan kepada beliau.

Ia adalah tokoh pluralisme terkemuka, seorang pejuang kesetaraan, pembela hak-hak minoritas, mungkin dapat pula disebut sebagai tokoh Liberte, Egalirte dan Fraternite- nya Indonesia.

Meskipun demikian ia dikenal sebagai tokoh jenaka yang menyukai humor dan terkadang juga tampil kontroversial. Sikap humor dan kontroversial tersebut tidak sampai mengurangi kemuliaan tokoh yang satu ini.

Dengan segala predikat yang ia miliki, dari gabungan semua sebutan dan penghormatan, maka untuk menyatukannya layaklah ia kita sebut sebagai tokoh kemanusiaan. Kemanusiaan dalam pengertian pembelaannya yang luar biasa terhadap nilai-nilai dan hak-hak dasar kemanusiaan, seperti kesetaraan, toleransi, perlindungan minoritas serta kebebasan berpendapat.

Ia juga seorang yang terdepan didalam melawan kelaziman dan tirani. Saat orang kuat Orde Baru Suharto berada pada puncak kekuasaan, Gus Dur adalah segelintir orang yang mampu bersikap kritis terhadapnya. Ia sangat konsisten dan tegar dalam melawan kesewenang-wenangan kekuasaan.

Ia juga menunjukkan sikap kontroversial dengan kesediaannya menjadi anggota sebuah lembaga di Israel dan melakukan komunikasi dengan Simon Peres. Tetapi, jika ditilik dengan kaca mata yang lebih luas sesungguhnya sikap Gus Dur tersebut lebih didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan dan berusaha menjalin relasi dengan semua pihak dalam rangka mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Sejalan dengan hal ini ia pun memiliki hubungan baik dengan berbagai Tokoh Arab. Hal ini terbukti dengan berbagai lobby yang ia lakukan di Timur Tengah memberikan hasil yang positif. Diantaranya adalah pembebasan dua wartawan Metro TV yang disandera di Irak dapat dilakukan berkat campur tangan Gus Dur.

Catatan fenomenal lainnya adalah saat menjabat Presiden RI ke-4 Gus Dur mengijinkan dirayakannya Tahun Baru Imlek dan menetapkan sebagai hari libur nasional. Ia pun menyetujui penggunaan huruf dan bahasa Tionghoa yang sebelumnya tabu untuk digunakan.

Melalui berbagai prestasi yang ia raih yang didukung oleh sikap dan pandangannya tentang kesetaraan manusia dan mempromosikan perdamaian, pantaslah Gus Dur disejajarkan dengan tokoh-tokoh kemanusiaan dunia seperti Mahatma Gandhi, Mandela dan Martin Luther King.

Terlalu banyak prestasi beliau yang tidak mungkin kita sebutkan satu per satu. Kita kehilangan tokoh besar. Selamat Jalan Gus .............. berbaringlah dengan tenang dan bahagia dialam yang lebih damai ................

Rabu, 30 Desember 2009

MENGAPA MEREKA BUNUH DIRI?

Akhir-akhir kita menyaksikan merebaknya berbagai kasus bunuh diri, terutama dengan cara melompat dari gedung-gedung tinggi yang menewaskan mereka. Kesannya ini sebuah sensasi dan ada unsur publisitas. Dilakukan ditempat terbuka sehingga diketahui banyak orang. Namun, tetap hasil akhirnya adalah ironis, mengorbankan sesuatu yang sangat berarti yaitu kehidupan mereka sendiri. Sebagian besar dari mereka berusia muda dan masih pada usia yang cukup produktif.

Dari berbagai pemberitaan diketahui bahwa latar belakang perbuatan nekad mereka banyak terkait dengan masalah ekonomi seperti hutang-piutang, kesulitan pekerjaan, disamping masalah keluarga, kesehatan sampai dengan gangguan kejiwaan.

Kesulitan ekonomi memang sangat mempengaruhi kondisi mental seseorang. Saat terjadi resesi dunia pada tahun 1930-an pun di Amerika kasus bunuh diri meningkat dengan tajam. Demikian pula pada saat krisis ekonomi tahun 1998, banyak terjadi kasus bunuh diri di Thailand, Korea dan beberapa negara lainnya. Ini membuktikan bahwa persoalan ekonomi memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap kondisi seseorang.

Bunuh diri sering dianggap secara keliru sebagai proses pembebasan diri seseorang dari kesulitan hidup. Bunuh diri dianggap sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan. Dengan bunuh diri dianggap persoalan selesai. Padahal bunuh diri akan menimbulkan dampak persoalan berikutnya terutama terhadap keluarga atau orang lain yang terkait. Belum lagi dari sisi keyakinan keagamaan bunuh diri memberikan konsekuensi negatif dikemudian hari. Meskipun diketahui pula bahwa ada kasus-kasus bunuh diri yang bermotifkan keyakinan keagamaan.

Masalah perekonomian yang kemudian mempengaruhi kejiwaan dan salah satunya adalah bunuh diri merupakan masalah kompleks yang bersifat multidimensi. Tidak hanya terkait dengan diri individu yang bersangkutan, namun terkait pula dengan keluarga, masyarakat dan pemerintah. Artinya semua pihak memiliki tanggung jawab untuk mencari solusi terhadap kasus-kasus bunuh diri yang merebak saat ini.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia yang sebagian rakyatnya masih mengalami kesulitan ekonomi? Dari 220 juta rakyat Indonesia diperkirakan 66 juta mengalami gangguan kejiwaan. Sedangkan dampak dari gangguan kejiwaan dapat menimpa lebih dari setengah jumlah penduduk.

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1990 yang menyebutkan bahwa dari 10 masalah kesehatan utama penyebab disabilitas, lima diantaranya berkaitan dengan masalah kesehatan jiwa, yaitu depresif, alkoholisme, gangguan bipolar, schizophrenia dan obsessif kompulsif.

Sebelumnya di blog ini penulis juga pernah mengulas kasus bunuh diri, tepatnya pada tanggal 5 Maret 2009, berikut ini cuplikan tentang hal tersebut :

”Menurut The Penguin Dictionary of Psychology, yang dimaksud bunuh diri adalah :

1. A person who intentionally kills himself or herself.
2. The act of taking one's life.

Emile Durkheim seorang ahli yang pertama sekali mempelajari masalah "suicide" secara sistematis membedakan bunuh diri dalam tiga jenis tergantung pada apa yang mendorong mereka untuk melakukan "self-destruction." Ketiga jenis teresebut adalah altruistic, anomic dan egoistic. Altruistic menyangkut suatu keyakinan yang dianggap benar, membela kehormatan dir atau keluarga, merasa malu atau merasa bertanggungjawab terhadap suatu kesalahan atau kegagalan seperti kasus harakiri. Anomic terjadi pada individu yang mengalami kesepian, merasa terisolasi dan kehilangan tumpuan sosial. Egoistic berkaitan dengan kegagalan, adanya unsur kehilangan harapan, individu putus asa karena tidak mencapai apa yang diinginkannya.

Sepanjang peradaban manusia motif bunuh diri cukup bervariasi, diantaranya adalah :

1. Motif yang bersifat spritual (sering terjadi secara masal).
2. Motif ekonomi dan keuangan.
3. Motif sosial dan budaya (seperti di Jepang ada faktor budaya, namun harakiri dan kamikaze dipengaruhi juga oleh konsep spiritualitas).
4. Motif personal.
5. Motif Keluarga
6. Motif disintegrasi kepribadian.

Namun, menurut penelitian berbagai pihak, kasus bunuh diri memiliki kaitan erat dengan depresivitas, kecuali untuk kasus yang bersifat spiritual. Sebagaimana disebutkan diatas kehilangan harapan dan kehilangan tumpuan merupakan sumber utama yang menjebak seseorang kedalam kondisi depresi.

Secara substantif, manusia adalah makhluk sosial dan sekaligus makhluk spiritual. Esensi dasar sosialitas dan spiritualitas adalah ketergantungan dan sekaligus harapan. Krisis sosial dan spiritualitas membuat tempat bertumpu dan berharap memudar bahkan menghilang. Kondisi ini membuat manusia kehilangan pegangan dan tumpuan, pada saat menghadapi tekanan yang bertubi-tubi individu menjadi goyah dan terjebak pada kondisi depresif. Kehilangan harapan ini menjadi salah satu sumber penting yang mendorong terjadinya bunuh diri.

Spiritulitas dalam kasus ini memang berada dalam posisi paradoks, disatu sisi dapat mencegah terjadinya bunuh diri, namun disisi lain dapat pula sebagai faktor pendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri (suicide)”.

Biasanya depresi merupakan gejala awal sebelum seseorang melakukan bunuh diri. Untuk itu perlu mengetahui ciri-ciri seseorang yang terkena depresi sehingga bisa dilakukan upaya pencegahan bunuh diri.

Ciri-cirinya seseorang terkena depresi sebagai berikut :

1. Individu merasa ada persoalan berat yang tidak bisa ia selesaikan.
2. Individu terlihat murung
3. Menarik diri dari pergaulan sosial
4. Kehilangan minat
5. Merasa diri tidak berguna dan atau merasa bersalah
6. Berpikir untuk bunuh diri

Ciri 1 harus diketahui betul masalahnya dan dicarikan jalan keluar terbaik. Ciri-ciri ke-2 s/d 4 dapat diatasi melalui terapi ringan, namun ciri-ciri ke-5 dan 6 memerlukan terapi yang intensif. Saat ini banyak orang mulai dari berbagai kalangan mengalami kondisi depresi yang mempengaruhi efektivitas perilakunya. Orang-orang terdekat harus peka terhadap situasi ini dan apabila menemukan indikasi diatas selayaknya memberikan penanganan yang tepat dan jika diperlukan terapi psikologis perlu meminta bantuan seorang psikolog.

Senin, 28 Desember 2009

TUGAS SEORANG PEMIMPIN

Apa sesungguhnya tugas seorang Pemimpin? Memberikan arah? Memotivasi? Sebagai role model?

Banyak buku dan teori yang mengulas tugas seorang pemimpin. Peter F. Drucker seorang Guru Manajemen dan juga ahli kepemimpinan menyebutkan empat kompetensi penting seseorang pemimpin yang sekaligus juga memberikangambaran tentang apa yang menjadi tugasnya, yaitu :

1. Memiliki kemampuan mendengarkan
2. Kemauan untuk sering berkomunikasi
3. Kemauan untuk bertanggung jawab
4. Kemauan untuk menempatkan kepentingan organisasi diatas kepentingan individu

Jika kita menilik pada tuntutan kompetensi tersebut diatas, jelas tugas utama seorang pemimpin adalah berkaitan dengan orang, orang dan orang. Pemimpin berurusan dengan manusia bukan dengan benda. Apakah itu menggerakkan orang, memberikan harapan, mendorong, merangkul, mendengarkan dan berdiri paling depan dalam menghadapi resiko dan mengambil tanggung jawab.

Menurut Warren Bennis pengarang On Becoming a Leader, para pemimpin yang sukses adalah mereka yang dapat menyelami dan kemudian mengekspresikan dirinya sendiri. Ini adalah penghargaan terhadap keyakinan psikologi manusia. Jika dikaitkan dengan Teori Maslow hal ini pada konteks kebutuhan akan aktualisasi diri. Bennis juga mengatakan bahwa kualitas hidup kita tergantung pada kualitas para pemimpin kita. Demikian besarnya tanggung jawab seorang pemimpin, sehingga mereka yang menyadari secara sungguh-sungguh hal ini sering menghindari peran sebagi pemimpin.

Dalam budaya Minangkabau sering disebutkan seorang pemimpin bagaikan atap sebuah rumah yang mampu melindungi pengikutnya terhadap hujan maupun panas. Ia menaungi seluruh penghuni atau pengikutnya dan memberikan ketentraman bagi mereka.

Berkaitan dengan uraian diatas setidaknya pemimpin memiliki lima tugas utama :

1. Ia bagaikan Kapten kapal yang memberikan arah tujuan kapal.
2. Memastikan semua SDM mampu berperan optimal selaras dengan arah organisasi.
3. Mengambil tanggung jawab apabila diperlukan.
4. Memberikan perlindungan bagi pengikutnya.
5. Dan terakhir namun sangat penting yaitu menyiapkan kader-kader penerus kepemimpinan.

Sabtu, 26 Desember 2009

GOOD MARRIAGE

There is no more lovely, friendly, and charming relationship, communion or company than a good marriage.

(Martin Luther, 1483-1546)